071109 Vendor Ponsel Lokal Minta Stimulus yang Nyata

JAKARTA–Vendor ponsel lokal meminta pemerintah untuk menyediakan stimulus yang nyata dan bisa diimplementasikan agar pelaku usaha berani menanamkan investasi lebih besar.

“Pemerintah harus bisa memberikan stimulus yang reachable dan diimplementasi. Bukan sesuatu yang sangar di atas kertas, tetapi tidak ada apa-apanya di lapangan,” ujar Presiden Direktur Metrotech Jaya Komunika Martono Jaya Kusuma di Jakarta, Jumat, (6/11).

Metrotech adalah salah satu pemain besar di ponsel dengan merek lokal. Perusahaan ini mengimpor ponsel dari negeri China. Konten lokal hanyalah pada fitur yang menyesuaikan dengan dinamisme pasar dan oprator yang digandeng.

Menurut Martono, regulasi yang ada khususnya terkait pengembangan produk lokal terlihat memberikan kesan mendukung pengusaha anak negeri, misalnya ketentuan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) atau mengharuskan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) memprioritaskan produk dalam negeri saat pengadaan barang dan jasa.

“Tetapi kenyataan di lapangan itu berbeda. Misalnya masalah TKDN, untuk impor komponen saja bea masuknya bisa mencapai 5-15 persen. Itu baru impor komponen, belum biaya tenaga kerja dan lainnya. Kalau begini, tentu pengusaha lebih memilih impor langsung,” katanya.

Martono mengungkapkan, selain belum adanya stimulus yang nyata, faktor lain pengusaha ponsel lebih senang mengimpor adalah belum adanya kestabilan kuantitas di pasar.

“Memang kesannya sekarang ponsel merek lokal sedang tinggi permintaan. Tetapi jika hanya sesaat dan belum ada kontinuitas, agak susah meminta rekanan dari China untuk buka pabrik di Indonesia,” katanya.

Dikatakannya, Metrotech sendiri menargetkan mampu menjual ponsel sebanyak dua juta unit. Aksi menggandeng empat operator (Telkomsel, Flexi, Indosat, dan XL) sejak tujuh bulan lalu adalah terjualnya satu juta ponsel jenis QWERTY.

“Tak dipungkiri ponsel jenis QWERTY mendongkrak merek lokal. Saat ini ada 20 merek lokal bermain di jenis ini dengan harga sekitar satu jutaan rupiah. Ke depan bisa saja jumlah pemain ini menciut seiring seleksi alam,” katanya.

Martono memperkirakan, fenomena ponsel lokal dengan tipe QWERTY akan tetap menarik perhatian pasar hingga akhir tahun nanti. “Buktinya bundling terbaru Nexian dengan Telkomsel yang menawarkan produk NX-G522 yang dibanderol 599 ribu rupiah belum satu hari sudah laku 2.500 unit,” jelasnya.

Masih menurut Martono, potensi dari ponsel QWERTY tersebut sekitar 10 persen dari total 120 juta pelanggan seluler atau mencapai 12 juta orang. “Sekarang paling tergarap sekitar dua juta jiwa. Jadi, hingga tahun depan masa depan ponsel merek lokal masih cerah,” jelasnya.

Pada kesempatan sama, Manager Brand Management KartuAs Telkomsel, T. Ferdi Febrian mengakui hadirnya ponsel merek lokal mampu mengangkat jumlah pelanggan operator.

“Kita gandeng Nexian karena cocok dengan profil pelanggan kartu AS yang berada di segmen C dan D serta berada di area rural,” jelasnya.

Ferdi mengungkapkan, meskipun segmen pelanggan kartuAs adalah menengah bawah tetapi memiliki keinginan untuk akses data yang tinggi. “Inilah alasan digandeng Nexian. Mereka mampu menawarkan produk dengan harga terjangkau,” jelasnya.

Ferdi menjelaskan, konsentrasi dari Telkomsel saat ini adalah menjaga 21 juta pelanggan kartu AS untuk tetap menunjukkan pertumbuhan positif hingga akhir tahun nanti.

Hal ini karena pada tahun lalu KartuAs menunjukkan negative growth akibat segmen yang disasar sama dengan kartu prabayar lainnya dari Telkomsel yaitu, Simpati.

“Tiga bulan belakangan ini bisa didapatkan 1,5 juta pelanggan baru. Karen itu kami all out memenuhi semua keinginan pelanggan termasuk memberikan ponsel dengan kemampuan akses data yang murah,” tegasnya.[Dni]