071109 KPPU: Pelepasan Saham untuk Ciptakan Persaingan Sehat

JAKARTA—Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menegaskan keluarnya keputusan yang meminta PT Carrefour Indonesia (Carrefour) untuk melepas seluruh kepemilikan sahamnya di  PT Alfa Retailindo Tbk (Alfa) guna menciptakan persaingan sehat di pasar ritel.

”Bukti dari pemeriksaan sangat kuat menyatakan setelah Alfa diakuisisi, pangsa pasar upstream Carrefour membesar. Jika saham di Alfa dilepas kepada pihak tidak terafiliasi, maka ini setidaknya mengembalikan keadaan kepada kondisi semula,” ujar Direktur Komunikasi KPPU A.Junaidi di Jakarta, Jumat (6/11).

Junaidi mengungkapkan, masalah permintaan pelepasan saham tersebut bukan yang pertama dilakukan oleh KPPU kala memutuskan perilaku monopoli oleh pelaku usaha. ”Dalam kasus Temasek dan JICT, KPPU juga meminta pelepasan saham. Bahkan keputusan itu diperkuat oleh Mahkamah Agung (MA). Jadi, ini bukan yang pertama kali,” katanya.

Junaidi pun menegaskan, lembaganya tidak bimbang atau bermain kata-kata dalam memutuskan perkara, terutama dalam kalimat pelepasan saham. ”Kami sudah tegaskan berulang kali lembaga ini tidak menggunakan Pasal 28 UU No 5/99  dalam menjerat Carrefour. Dasar pelepasan saham adalah Pasal 47 ayat c UU No 5/99,” katanya.

Dijelaskannya, pasal 47 ayat c tidak memiliki hubungan dengan pasal-pasal tertentu dalam UU No 5/99 layaknya pasal 47 ayat e. “Jika memakai ayat e, itu baru mengacu pada pasal 28. Padahal pasal 28 kita drop untuk menjerat Carrefour,” katanya.

Berkaitan dengan berpeluangnya para pemasok yang merasa dirugikan oleh Carrefour untuk melakukan tuntutan perdata setelah adanya keputusan hukum tetap (inkracht) oleh lembaga peradilan, Junaidi mengatakan, hal itu memang didukung oleh hukum formal.

“Tidak ada maksud kami menghasut. Kita hanya memaparkan sesuai formalitas,” katanya.

Sebelumnya, Kuasa Hukum Carrefour Ignatius Andy mengancam akan mensomasi KPPU seandainya terjadi penuntutan ganti rugi oleh patra pemasok.

“Tidak pantas lembaga seperti KPPU mengipas suasana menjadi panas. Jika benar pernyataan itu dikeluarkan oleh KPPU, kami akan somasi,” tegasnya.

Ignatius pun menilai, KPPU hanya bermain dengan kata-kata dalam putusan pelepasan saham Alfa. ”Sudah jelas KPPU menggunakan pasal 28. Pasal yang menyatakan amsalh merger itu kan hanya ada di pasal 28,” katanya.

Menurut Ignatius, jika ujung-ujungnya meminta Carrefour melepas saham Alfa tentu sama saja dengan tidak adanya akuisisi. ”Pernyataan yang berkelit itu menunjukkan KPPU salah menerapkan sanksi. Untuk berkelit mulailah bermain dengan kata-kata,” katanya.

Untuk diketahui, Dalam putusan perkara dugaan monopoli yang dilakukan oleh Carrefour setelah mengakuisisi Alfa, KPPU memutuskan perusahaan tersebut bersalah dan terbukti melakukan perilaku anti persaingan tidak sehat di pasar upstream. Pasar upstream adalah pasar pasokan barang di hypermarket, supermarket, dan supermarket di seluruh wilayah Indonesia.

KPPU menghukum Carrefour melepaskan kepemilikannya di  Alfa  ke pihak tidak terafiliasi dalam jangka waktu satu tahun ke depan dan mengenakan denda sebesar 25 miliar rupiah yang harus disetor ke kas negara sebagai setoran pendapatan denda pelanggaran di bidang persaingan usaha departemen perdagangan.

Pasal-pasal  dari UU tersebut yang dilanggar oleh Carrefour adalah pasal 17  dan 25.  Pasal 17 berisi tentang pelarangan menguasai alat produksi dan penguasaan barang yang bisa memicu terjadinya praktik monopoli.
Sedangkan  pasal 25 ayat 1 berisi tentang posisi dominan dalam menetapkan syarat-syarat perdagangan dengan tujuan untuk mencegah dan atau menghalangi konsumen memperoleh barang dan atau jasa yang bersaing, baik dari segi harga maupun kualitas.

Berdasarkan hitungan dari KPPU akibat perilaku monopoli yang dilakukan oleh Carrefour selama setahun setelah mengakuisisi Alfa terdapat kerugian yang diderita oleh pemasok sekitar 1,422 triliun rupiah. Carrefour sendiri selama periode 2008 mencatat total penjualan sekitar 9,827 triliun rupiah.[dni]