051109 Yang Masih Meredup dan Sinyal Merger

Paparan kinerja dari para operator yang didapuk menjadi penguasa pasar memang memberikan kabar gembira bagi industri telekomunikasi. Sinyal telah munculnya keseimbangan baru pasca penurunan biaya interkoneksi semakin menguat.

 

Tetapi, ada dua  hal yang patut menjadi catatan selama sembilan bulan pertama tahun ini. Pertama, Indosat yang tidak membaik kinerjanya sejak masuknya Qatar Telecom. Kedua, sinyal merger yang semakin menguat di industri.

 

Marilah ditelaah fenomena pertama. Indosat  mulai melakukan pembersihan pelanggan tidak produktif sejak awal tahun lalu. Banyak kalangan beranggapan langkah ini dilakukan oleh Indosat setelah pemilik sebelumnya, Singapore Technologies Telemedia (STT), menggelembungkan jumlah pelanggan agar perseroan terlihat seksi ketika dijual ke Qatar Telecom.

 

Akibat  penggelembungan yang terlalu besar, maka penghapusan pun dilakukan secara bertahap. Akhirnya berdampak kepada kinerja perseroan hingga kuartal ketiga tahun ini.

 

“Sebenarnya kalau dicermati, perfoma indosat khususnya  di selular sudah menurun hingga semester pertama lalu. Sulit untuk mengatakan program pemasarannya yang salah. Tetapi ada keanehan saja, Indosat memiliki tiga produk seluler (IM3, Mentari, dan Matrix), namun yang menonjol hanya satu yakni IM3,” kata Praktisi Telematika Ventura Elisawati kepada Koran Jakarta, Rabu (4/11).

 

Ventura menyarankan, melihat tren jasa selular milik Indosat yang masuk ke titik mature, maka operator ini harus bisa mengoptimalkan pasar data. “Jasa datanya meningkat terus. Walaupun kontribusinya kecil, tetapi ini sudah menunjukkan arah yang baik,” katanya

 

Sedangkan praktisi telematika lainnya, Suryatin Setiawan menilai belum keluarnya Indosat dari kubangan performa negatif sebagai kombinasi dari  less agressive marketing  dan keinginan dari   manajemen baru yang berancang-ancang membuat good story di tahun depan.

 

Pernyataan ini mungkin ada benarnya. Program pemasaran Indosat banyak yang merupakan hasil modifikasi dari para pesaing. Bahkan, untuk layanan BlackBerry dimana Indosat merupakan pelopornya di Indonesia dalam berinovasi tidak selincah Telkomsel dan XL.

 

Menanggapi hal itu, Kepala Pemasaran dan Merek Indosat Teguh Prasetya menjelaskan, perseroan sedang mencari value based customer. “Kami akan genjot kembali akuisisi pelanggan,” katanya.

 

Sinyal Merger

Fenomena kedua adalah menguatnya sinyal merger. Aksi ini diperkirakan akan terjadi di PT Mobile-8 Telecom Tbk (Mobile-8). Kabar beredar sedang terjadi negosiasi antara Global Mediacom dan Jerash Investment dengan Sinar Mas Grup. Diperkirakan titik temu akan terjadi minggu depan dengan nilai transaksi mencapai 250 miliar rupiah.

 

Berdasarkan data BEI, struktur pemegang saham Mobile-8 per 30 Desember 2008, yakni Jerash Investment Ltd sebanyak (32%), PT Global Mediacom Tbk sebesar (19%), UOB Kay Hian Provate Limited sebanyak (13,29%), PT Bhakti Asset Mangement sebanyak (7,28%,) dan Qualcomm Incoporated sebanyak (5,01%).

 

Sinar Mas Grup yang merupakan pemilik Smart Telecom rencananya akan membeli saham dari Global Mediacom. “Masuknya Sinar Mas melalui holding (Global Mediacom). Jadi tidak terjadi itu merger antara Smart dan Mobile-8,” ungkap sumber Koran Jakarta.

 

Aksi ini dilakukan oleh keduanya (Global Mediacom dan Sinar Mas) diperkirakan karena tidak mau dituding oleh publik sebagai bagian dari jual beli frekuensi. Kabar beredar, Mobile-8 memiliki hutang pembayaran Biaya Hak Penyelenggaraan (BHP) frekuensi sebesar 60 miliar rupiah ke negara. Sedangkan Smart Telecom memiliki hutang BHP mencapai 200 miliar rupiah.

 

“Sebenarnya hutang Smart itu mencapai 600 miliar rupiah. Kabarnya ada perubahan perhitungan, jadinya angka berubah,” masih menurut sumber tersebut.

 

Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Nonot Harsono mengatakan, jika akan ada merger dan akuisisi sebaiknya frekuensi dikembalikan dulu ke negara. “Frekuensi itu sumber daya alam terbatas. Jadi itu aset negara, tidak bisa dipindahtangankan tanpa sepengetahuan empunya,” tegasnya.

 

Sedangkan Suryatin menilai, konsoidasi sangat diperlukan bagi para operator di luar tiga pemain besar. “Smart membeli Mobile-8  bukan konsolidasi karena secara teknis kemungkinan ke sana kecil,” katanya.

 

Ventura mengakui masalah konsolidasi itu tidak bisa dielakkan. “Cepat lambat pasti terjadi. Bahkan kabarnya Axis akan roaming nasional di jaringan XL,” ungkapnya.

 

Pada kesempatan lain,  Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah mengaku kaget akan cepatnya terjadi merger. “Tadinya diperkirakan empat tahun lagi jumlah operator   menyusut menjadi   lima sampai enam. Ternyata lebih cepat. Telkom sendiri  tidak akan mengakuisisi operator, kita lebih tertarik kepada perusahaan  IT services saja,” katanya.[dni]

 

 

051109 Evaluasi Kuartal III: Primadona Baru Mulai Bersinar

Tiga operator besar di tanah air minggu lau mengeluarkan laporan keuangannya untuk kuartal ketiga tahun ini. Ketiga operator tersebut adalah PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom), PT Indosat Tbk (Indosat), dan PT Excelcomindo Pratama Tbk (XL).

 

Kinerja dari ketiga incumbent ini bisa dikatakan sebagai cerminan dari kondisi riil sektor telekomunikasi Indonesia. Hal ini karena ketiganya menguasai 80 persen dari pangsa pasar jasa telekomunikasi.

 

Telkom sebagai penguasa pasar berhasil membukukan laba bersih sebesar 9,3 triliun rupiah atau naik 4,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar  8,92 triliun rupiah. Sementara itu, pendapatan usaha mencapai  47,11 triliun rupiah atau naik sekitar 5,5 persen dari periode sama tahun sebelumnya  44,65 triliun rupiah.

Divisi seluler melalui Telkomsel  pada kuartal ketiga ini mengalami kenaikan pendapatan usaha sebesar  15,1 persen menjadi  21,041 triliun rupiah dari sebelumnya  18,280 triliun rupiah. Pendapatan dari data, internet, dan jasa teknologi informatika mengontribusi paling besar, yakni  12,42 triliun rupiah.

 

Sementara XL membukukan pendapatan usaha 9,8 triliun rupiah atau tumbuh 7 persen dibandingkan periode sama tahun lalu. Seiring pertumbuhan pendapatan, XL meraih pertumbuhan tiga persen EBITDA (laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi) 4,2 triliun rupiah, dengan margin EBITDA 43 persen.

 

Jika XL dan Telkom meraih hasil positif, tidak demikian dengan Indosat. Anak usaha Qatar Telecom ini masih belum bisa menunjukkan kinerja positif meskipun kapten kapal telah diganti.

 

Pendapatan usaha  Indosat   selama sembilan pertama tahun ini mencapai 13,4 triliun rupiah atau  turun sebesar 1,8 persen  dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

 

Tidak hanya pendapatan usaha, Indosat juga mengalami penurunan untuk laba bersih perusahaan di sembilan bulan 2009. Di bawah kepemimpinan Harry Sasongko,  perseroan hanya membukukan laba bersih 1,45 triliun rupiah atau melemah  1,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

 

Primadona Baru

Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah mengungkapkan, kinerja selama kuartal ketiga menunjukkan perseroan sudah mulai stabil menghadapi keseimbangan baru setelah biaya interkoneksi terkoreksi sejak April tahun lalu.

 

“Jika pada kuartal kedua menunjukkan sinyal positif, maka di kuartal ketiga ini sinyal itu berubah menjadi cahaya yang semakin terang. Apalagi operator sudah menemukan jasa baru yang siap menjadi primadona untuk menjadi sumber pendapatan,” ungkapnya di Jakarta, belum lama ini.

Primadona yang dimaksud oleh Rinaldi adalah  broadband internet atau pasar data. Berdasarkan catatan, jasa broadband milik Telkom, Speedy menghasilkan pendapatan sekitar  1,850 miliar rupiah atau meningkat signifikan   91.7 persen dibandingkan periode  yang sama tahun lalu.

 

“Internet akan menjadi masa depan dari bisnis Telkom, selain tentunya seluler. Di internet Telkom memiliki Speedy, Flash, dan wimax. Ini tinggal dicari momentum yang tepat untuk membesarkanya,” katanya.

 

Direktur Utama XL Hasnul Suhaimi  menjelaskan,   saat ini penggunaan telepon selular telah bergeser dari basic telephony (Suara dan SMS) menjadi sebuah media untuk berselancar di dunia maya baik untuk akses informasi maupun bersosialisasi dengan komunitas mereka melalui media-media jejaring sosial.

 

“Kami menjawab kebutuhan tersebut dengan program pemasaran yang tepat. Akibatnya terjadi peningkatan pelanggan Revenue Generating Base (RGB) 17 persen dari 21,5 juta pada September 2008 menjadi 25,2 juta pelanggan pada September 2009,” jelasnya sambil menambahkan  RGB adalah pelanggan aktif yang menggunakan layanan XL.

 

Hasnul menambahkan, selain kinerja di bisnis inti yang membaik, bisnis non inti juga menunjukkan kemajuan seperti penyewaan menara. “Bisnis inti itu bagus untuk   pendapatan. Sedangkan laba bersih banyak terbantu oleh non bisnis inti,” katanya.

 

Sementara Presiden Direktur/CEO Indosat Harry Sasongko menjelaskan, turunnya kinerja Indosat tidak bisa dilepaskan dari strategi mencari pelanggan berkualitas. “Sejak triwulan pertama dilakukan pembersihan nomor. Kami kehilangan 20 persen pelanggan seluler jika dibandingkan tahun lalu. Tetapi jika dilihat kinerja per kuartal dan layanan data, semua mengalami peningkatan,” katanya.

 

Matang

Menurut Praktisi Telematika Ventura Elisawati berdasarkan kinerja  kuartal ketiga terlihat  pasar telekomunikasi bergerak terutama untuk jasa suara  sudah mencapai titik matang atau mature. “Dalam kondisi seperti ini pertumbuhan sudah tidak tinggi lagi atau tidak signifikan. Artinya,  dalam situasi seperti ini, jika ada operator yang tumbuh pangsa pasarnya  maka ada yang turun,” katanya.

 

Masih menurut Ventura, beralih ke mainan baru merupakan langkah yang tepat dilakukan oleh operator besar untuk mengantisipasi mulai turunnya jasa suara. “Telkom sudah tepat mentransformasi diri.  Walau di awal kontribusi pendapatan dari sektor data masih kecil, namun masa depan ada di sana.   Masalahnya, siapkah manajemen Telkom mengubah budaya  untuk mengikuti tren itu karena   yang memberi service juga harus memahami dan mengikuti kebutuhan pelanggan,” katanya.

 

Praktisi telematika lainnya, Suryatin Setiawan  memprediksi, bagi pemimpin pasar sekelas Telkomsel selanjutnya tentu akan memperkuat pondasi dasar berupa kapasitas, jangkauan, dan kualitas untuk memenangkan persaingan. Sedangkan bagi penantang seperti Xl akan semakin agresif karena merasa langkah yang diambil selama ini telah membuahkan hasil berupa kinerja yang positif.

 

“Sedangkan Telkom memang perlu mengembangkan jasa non suara untuk mengompenssi turunnya bisnis suara. Tapi sebaiknya kemampuan serat optik   yang lebih diandalkan,” katanya.

 

Berkaitan dengan prediksi yang akan terjadi pada kuartal keempat, keduanya optimistis operator akan mampu mempertahankan tren positif yang diraih. “Masalahnya di kuartal keempat itu selalu tidak sebesar kuartal ketiga. Diperkirakan ada yang bertahan atau kemungkinan terjadi pertumbuhan,” jelas keduanya.

 

Sedangkan  Direktur Niaga Telkomsel Leong Shin Loong mengaku yakin bisa mencapai target perseroan pada tahun ini yakni mempertahankan pertumbuhan pendapatan high single digit dan meraih pelanggan sekitar 84 juta. “Kami optimistis dengan target tersebut,” katanya.

 

Sementara Hasnul mengaku belum berani memperkirakan kondisi kuartal keempat,”Satu hal yang pasti, operator dengan kemampuan mendapatkan hati pelanggan, itu yang akan bertahan di kompetisi ini”.[dni]

 

 

 

 

Kinerja Operator pada Kuartal III 2009

Nama Pangsa Pasar Pelanggan Pendapatan ARPU (ribu) MOU (menit)
1. Telkom

 

Telkomsel

 

Flexi

Speedy

Pontap

 

2. Indosat

(Seluler)

 

Fixed Data

 

 

Fixed Voice

 

 

3. XL

 

 

 

 

 

47 %

 

 

 

 

 

18%

 

 

 

 

 

 

 

 

15%

 

 

79,8 juta

 

14,9 juta

979 ribu

8,7 juta

 

28,7 juta

 

 

 

 

 

 

 

 

26,6 juta

 

 

Rp 21,041 triliun

 

 

 

 

Rp 10,01 triliun

 

Rp 1,98 triliun

 

Rp 1,3 triliun

 

 

Rp 9,8 triliun

 

 

Rp  48

 

Rp  23

Rp  263

Rp  112

 

Rp 38

 

 

 

 

 

 

 

 

Rp 35

 

 

100,8 miliar

 

12,4 miliar

 

 

 

99.2 miliar

 

 

 

 

 

 

 

 

63,4 miliar

Diolah dari berbagai sumber

051109 Indocomtech Incar Transaksi Rp 180 Miliar

Jakarta – Ajang pameran komputer  terbesar di Tanah Air, Indocomtech 2009, mengincar  nilai transaksi sebesar 180 miliar rupiah.

Ketua Pelaksana Indocomtech 2009 Chris Irwan Japari mengatakan, target itu mengalami peningkatan jika dibandingkan tahun lalu yang mencapai 150 miliar rupiah.

“Dari sisi jumlah perusahaan yang ikut serta, area yang disediakan serta target pengunjung juga melonjak ketimbang 2008,” katanya di Jakarta, Rabu (4/11).

Diungkapkannya, pada tahun lalu ada 240 perusahaan yang ikut serta dan menempati 20.000 meter persegi area Indocomtech. Sementara untuk tahun  ini, panitia menyediakan area 22.000 meter persegi yang telah dijejali 326 perusahaan yang menjajakan produknya.

“Jadi pertumbuhannya cukup signifikan. Tahun lalu ada 96 ribu pengunjung yang datang, maka untuk tahun ini kami menargetkan 120 ribu pengunjung,” tuturnya.

Nada optimistis itu juga dipertegas dengan kondisi stabilitas ekonomi dan nilai tukar rupiah yang sedikit menguat terhadap dolar.

Belanja TI
Pada kesempatan sama, Menkominfo Tifatul Sembiring mengungkapkan, belanja teknologi informasi (TI) Indonesia sepanjang tahun lalu mencapai 100 triliun rupiah.

“Sayangnya belanja itu  hampir semuanya didominasi 100 persen produk asing,” katanya.

Dikatakannya,  pemerintah akan terus mendorong peningkatan kandungan lokal dalam produk peranti keras dan peranti lunak teknologi informasi.“Sangat disayangkan apabila nilai bisnis sebesar itu lari semua ke luar negeri. Pemerintah berjanji akan menelorkan kebijakan-kebijakan yang mendukung industri manufaktur lokal,” ujarnya.

Masih menurutnya, pemerintah sebenarnya sudah mulai memperhatikan industri manufaktur lokal, diantaranya dengan menerapkan kewajiban kandungan dalam negeri pada penyelenggaraan telekomunikasi seluler generasi ketiga (3G) dan boradband wireless access (BWA) atau WiMax.

Selain mengembangkan manufaktur teknologi informasi lokal, pemerintah juga segera mewujudkan Indonesia interconnection pada 2014 berupa keterhubungan yang sinergis antara infrastruktur dan layanan telekomunikasi di seluruh tanah air.

Salah satu cara untuk mencapai tujuan tersebut adalah melalui pembangunan jaringan serat optik Palapa Ring tahap ke-2 yang menghubungkan daerah-daerah di wilayah timur Indonesia.“Saat itu lah masyarakat bisa berkomunikasi di mana saja dan kapan saja dengan harga yang terjangkau.
Saat ini pemerintah menilai penetrasi di sektor TI dan telekomunikasi masih sangat rendah,” tuturnya.

Berdasarkan catatan Departemen Komunikasi dan Informatika, penetrasi komputer di seluruh Indonesia baru sekitar 1,4 persen dari jumlah penduduk, adapun penetrasi Internet hanya sekitar 16 persen.

Yayasan Apkomindo Indonesia (dulu Asosiasi Pengusaha Komputer Indonesia/Apkomindo) mendukung program pemerintah yang ingin meningkatkan penetrasi komputer dan Internet di Indonesia.

Salah satunya adalah bersedia mendukung dalam hal pengadaan komputer murah untuk program 1 kecamatan 1 komputer.[Dni]

051109 Telkomsel Targetkan HSPA+ Hadir di 24 Kota

JAKARTA–Penguasa pasar seluler nasional, Telkomsel, menargetkan hingga tahun depan akan ada 24 kota di seluruh Indonesia yang menikmati teknologi High Speed Packet Access (HSPA+).

HSPA+ adalah teknologi wireless broadband dengan kecepatan akses data mencapai 21 Mbps.

“Untuk tahap awal HSPA+ tersedia di Jakarta, selanjutnya hingga akhir tahun nanti akan hadir di Yogyakarta, Semarang, Medan, dan Surabaya. Teknologi ini diprioritaskan bagi pengguna pascabayar Kartu Halo,” ungkap Direktur Utama Telkomsel Sarwoto Atmosutarno di Jakarta, Rabu (4/11).

Dijelaskannya, hadirnya HSPA+ tak bisa dilepaskan dari keinginan perseroan membidik pasar mobile broadband di masa depan.

“Saat ini layanan mobile broadband  Telkomsel Flash digunakan 1,4 juta pelanggan. Tahun depan potensi pengguna mobile broadband itu bisa mencapai 5-6 juta pelanggan. Ini yang kami incar,” ungkapnya.

Diungkapkannya, untuk mengantisipasi hype dari mobile broadband, Telkomsel telah menyiapkan infrastruktur berupa 4 ribu BTS 3G (Node B) yang mampu melayani 16 juta pelanggan. Perseroan juga telah mendapatkan tambahan 5 MHz untuk  3G.

Diluncurkannya layanan yang menyerap 10 persen dari total 13 triliun rupiah belanja modal Telkomsel itu,  menjadikan operator ini yang pertama mengomersialkannya di Indonesia.

Bahkan rencananya operator ini akan melakukan uji coba Long Term Evolution (LTE) pada tahun depan.

Sebelumnya, Indosat baru sebatas melakukan uji coba dan berencana mengomersialkan di Jabotabek pada akhir tahun nanti.

Secara terpisah, praktisi telematika Raherman Rahanan menjelaskan,  HSPA+ hanyalah gimmick pemasaran karena banyak keterbatasan dalam mengaksesnya.

” Servicenya tidak bisa di generalisasi karena beberapa kendala, ” jelasnya.

Keterbatasan itu antara lain disisi terminal (modem), jangkauan Node B, traffic control di Packet Core Network, Extended QoS profile di HLR, dan bandwidth limitation RNC ke Node B.[Dni]