041109 Indonesia Hanya Butuh Satu Hub Port

JAKARTA--Indonesia diperkirakan hanya membutuhkan satu pelabuhan pengumpul (Hub
Port) guna meningkatkan daya saing ekspor-impor dan efisiensi biaya transportasi.

"Saya perkirakan hingga sepuluh tahun ke depan kita hanya butuh satu hub port.
Langkah yang penting itu adalah secepatnya merealisasikan hadirnya hub port," ujar
Direktur Utama Pelindo II R.J. Lino di Jakarta, Selasa (3/11).

Menurut Lino, pelabuhan yang paling cocok dijadikan sebagai Hub Port adalah Tanjung
Priok karena terminal tersebut telah didukung oleh infrastruktur dan fasilitas yang
modern.

"Kita tidak bisa membuat hub port dimana-mana. Itu justru membuat terjadinya
inefisiensi," jelasnya.

Dikatakannya, pembangunan hub port tidak bisa hanya melihat kepada letak geografis
dari satu pelabuhan. Misalnya, pelabuhan Bitung yang dianggap dekat dengan Hong
Kong. 

"Walaupun dekat, tetapi pasti pengiriman akan lebih murah jika melalui Singapura,"
katanya.

Diungkapkannya, kenyataan di lapangan saat ini terjadi ketidakseimbangan neraca
perdagangan untuk pasar domestik di Indonesia. 

Hal itu dimana kapasitas kapal dari Jakarta ke daerah besar, tetapi sebaliknya hanya
terisi setengah.

"Di bisnis pelabuhan itu tidak hanya masalah letak tetapi volume. Nah, volume itu
yang lebih dominan," katanya.

Lino menyarankan, untuk memaksimalkan Tanjung Priok sebagai hub port maka mulai
sekarang baiknya dari pelabuhan di sekeliling Tanjung Priok mengumpulkan barang ke
terminal tersebut untuk selanjutnya dibawa ke luar negeri.

"Biayanya akan jauh lebih murah ketimbang dari pelabuhan daerah langsung dibawa ke
luar negeri," katanya.

Selanjutnya Lino mengungkapkan, 
Pelindo II telah merencanakan pengembangan Tanjung Priok untuk menjadi hub port
dengan mengembangkan.  pelabuhan di sekitarnya seperti Kalibar, Marunda dan Sunda
Kelapa. 

Lino juga menyatakan segera membebaskan 300hektar tanah di Ancol Timur untuk
keperlun tersebut. 

"Untuk membangun semuanya butuh investasi 6 triliun rupiah. Dananya bisa dari kas
internal, hutang, atau obligasi," katanya.

Selain itu Pelindo II rencananya pada tahun depan akan menanamkan dana sebesar 150
juta dollar AS untuk mengembangkan fasilitas pelabuhan yang berada di wilayahnya. 

"Kita ingin pelabuhan daerah itu memiliki fasilitas yang maju. Ini akan memudahkan
pelayanan," jelasnya.

Berkaitan denga mahalnya Terminal Handling Charge (THC) di Tanjung Priok yang
membuat nilai kompetitifnya kalah dengan pelabuhan milik negara tetangga, Lino
menjelaskan, setiap pelabuhan memiliki tarif yang berbeda-beda.

 "Ini kan tergantung volume. Jika volume besar akan lebih murah," jelasnya.

Pada kesempatan sama, Ketua Umum Asosiasi Pemilik Kapal Indonesia (Insa) Johnson W
Panjaitan mengakui, memang sudah waktunya Indonesia memiliki hub port.

"Saat ini hampir semua produk unggulan Indonesia diekspor melalui pelabuhan luar
negeri. Ini tentu membuat adanya devisa yang lari keluar," katanya.

Dijelaskannya, secara fasilitas sebenarnya Tanjung Priok sudah mampu menjadi hub
port karena memiliki infrastruktur dasar dan komersial.

"Saat ini dari 530 juta ton ekspor impor dengan nilai uang 230 miliar dollar AS
hanya tujuh persen yang dinikmati kapal Indonesia. Ini kan kecil sekali," katanya.

Johnson meminta, jika hub port terealisasi maka regulasi harus dipangkas sehingga
tidak ada lagi biaya ekonomi tinggi.

"Sekarang banyak pengusaha pengumpan (feeder) mengeluh karena biaya ekonomi tinggi
untuk membawa barang ke Jakarta," jelasnya.

Sebelumnya, Dirjen Perhubungan Laut Sunaryo mengungkapkan, pelabuhan peti kemas Batu
Ampar akan diajukan menjadi salah satu. hub port peti kemas di Indonesia. 

"Kami sudah menilai bahwa ada beberapa pelabuhan yang layak untukdijadikan hub peti
kemas. Belawan (Medan), Tanjung Priok (Jakarta)dan Batam akan diajukan karena telah
memenuhi syarat menjadi hub,"katanya.  

Untuk diketahui, selama ini, jalur pengiriman kontainer dari Indonesia ke luar
negeri di arahkan ke pelabuhan Singapura atau Port Klang dan Pelabuhan Tanjung
Pelepas di Malaysia selaku pelabuhan penghubung dari Tanjung Priok, Belawan, Tanjung
Perak (Surabaya) dan Tanjung Emas (Semarang).

Padahal, bila pelabuhan pengumpul tersebut bisa di dalam negeri,maka biaya
pengapalan akan bisa lebih murah dan pendapatan jasa pengiriman ke luar negeri atau
dari luar negeri pun bisa lebih banyak didapatkan di dalam negeri.

Syarat untuk menjadi pelabuhan penghubung adalah perairan yang bisa dilewati oleh
kapal besar di atas 60.000 ton yang bisa memuat ratusan peti kemas. 

Sementara kedalaman perairan minimal 14 meter. 

"Untuk Tanjung Priok bisa asalkan perairan dikeruk, sementara di batam sendiri telah
memenuhi syarat itu,"ujar Sunaryo.

Sunaryo meminta,   semua pihak jangan terlalu gegabah menentukan pelabuhan mana yang
akan dikembangkan menjadi hub port.

Hal ini karena akan melibatkan dana yang sangat besar dan bermacam-macam pihak yang
memiliki kepentingan. 

"Semuanya harus duduk bersama dulu. Kita bahas dalam seminar dulu, dan butuh
pertemuan lain untuk menentukannya," tandasnya. 

.Dijelaskannya, nantinya akan ditentukan apakah Indonesia hanyamembutuhkan satu saja
hub port atau mungkin lebih banyak lagi. 

Hal ini tergantung dari kebutuhan, karena semakin berkembang perekonomian bangsa
maka kebutuhannya akan semakin banyak.[Dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s