191009 2014, Telkom Bidik 60% Pendapatan Industri “New Wave”

JAKARTA—PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) dalam waktu lima tahun ke depan membidik 60 persen pendapatan dari industri new wave akan dikuasai oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tersebut.

New wave adalah bisnis baru di industri Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang tidak hanya mengandalkan sektor telekomunikasi tetapi beralih kepada konten, portal, media, dan solusi teknologi informasi dimana infrastruktur telekomunikasi dijadikan sebagai tulang punggungnya.

“Saat ini new wave business itu baru berkontribusi sekitar 20 persen bagi total pendapatan perseroan. Kontributornya dari anak usaha seperti Sigma Cipta Caraka atau Indonusa. Kontributor terbesar tetap sektor telekomunikasi sebesar 60 persen,” jelas Direktur Utama Rinaldi Firmansyah di Jakarta, akhir pekan lalu.

Dijelaskannya, di industri TIK sendiri secara total new wave masih kecil nilai bisnisnya dibandingkan kontribusi sektor telekomunikasi. “Kami sedang melakukan riset pasar nilainya. Tetapi belum sebesar sektor telekomunikasilah,” katanya.

Selanjutnya Rinaldi mengungkapkan, untuk mencapai target perseroan dalam lima tahun ke depan tersebut, manajemen mulai melakukan transformasi bisnis dari hanya perusahaan yang bergerak di bidang telekomunikasi, melebarkan sayapnya ke bisnis Telekomunikasi, IT services, Media dan Edutainment (TIME).

Diungkapkannya, konsekuensi dari transformasi ini adalah kemungkinan perseroan akan melepas anak usaha yang tidak sesuai dengan roadmap atau mengakuisisi perusahaan untuk merealisasikan target.

“Ada tiga startegi yang dilakukan. Pertama injeksi dana. Kedua, akuisisi, atau ketiga beraliansi dengan perusahaan eksisting yang telah lama bermain di media dan edutainment. Kami lemah di dua itu. Kalau telekomunikasi dan IT Services, kita sudah oke,” katanya.

Anak usaha yang mungkin akan dilepas oleh Telkom adalah Patrakom dan CSM. Sedangkan dua perusahaan konten tengah dibidik oleh operator pelat merah ini.

“Kami juga memperkuat infrastruktur dengan segera menyelesaikan akusisi penyedia menara Solusi Kreasindo Pratama (SKP). Sebenatr lagi proses akuisisi akan selesai,” katanya.

Menurut Rinaldi, Telkom memutuskan melakukan transformasi bisnis
secara menyeluruh dan mendasar disebabkan adanya kebutuhan pasar yang mendesak.

“Sehingga kami harus merubah strategi, dimana diikuti dengan
perubahan logo dan tagline perusahaan. Kami punya moto The World is in Your Hand,” ungkapnya.

Sayangnya, Rinaladi enggan mengungkapkan dana yang dibutuhkan untuk menjalankan transformasi tersebut dalam lima tahun  kedepan.  “Kalau tahun depan minimal sama dengan tahun ini investasinya sekitar 2-2,1 miliar dollar AS,” tambahnya.

Direktur Enterprise & Whole Sale Telkom Arief Yahya menambahkan, salah satu strategi yang akan dilakukan dalam bisnis TIME ini adalah direalisasikannya pembuatan  super portal seperti Yahoo dan Google.

“Super portal ini, pendapatannya mungkin kecil, tetapi nilai pasarnya sangat tinggi. Sedangkan di sisi Media dan Edutainment, rencananya
Telkom akan segera meluncurkan  Internet Protocol TV.
(IPTV),” ungkapnya.

Arief optimistis , adanya  transformasi bisnis ini, perusahaan yang akan  menjadi pelanggan Telkom  mencapai 6.500 perusahaan. “Ini angka yang cukup besar dan tentunya bisa mendorong pendapatan Telkom yang lebih besar lagi,” tambahnya.

Secara terpisah, Pengamat Telematika Bayu Samudiyo menilai diversifikasi usaha Telkom ke bisnis Time salah satu momentum penting bagi Telkom untuk  berubah menjadi perusahaan yang lebih “cepat tanggap” terhadap perubahan jaman dan kebutuhan pasar dengan tidak mengandalkan telekomunikasi sebagai core income .

“Ini adalah langkah besar dan berani karena  investasi untuk Time ini cukup mahal,” katanya.

Bayu mengingatkan,  kunci sukses dari transformasi itu adalah  di eksekusi. Bila realisasinya bisa seperti yang direncanakan yaitu “Pengalaman baru dg layanan yang lebih baik dari operator mana pun”,  itu artinya sebuah revolusi  dalam tubuh organisasi Telkom itu sendiri dan akan menjadikan Telkom sebagai salah satu perusahaan dengan pelayanan terbaik.

“Ini bukan hal mudah dicapai. Namun bila benar-benar  terwujud, ini akan menjadi sebuah prestasi besar untuk direksi Telkom dan akan membuat harga saham Telkom melambung tinggi kelak,” katanya.[dni]

191009 Belum Mau Bikin Sendiri

Istilah telepon seluler (ponsel) merek lokal mulai berkembang di pasar  Indonesia  pada tahun lalu.

Istilah itu digunakan untuk menghindari nama ponsel China karena para pemilik merek merasa ponsel yang dijualnya masih memiliki sumbangan lokal.

Di  China sendiri terdapat dua kategori ponsel yakni buatan pabrikan besar dan OEM alias home industry. Ponsel keluaran pabrikan yang bisa disebut adalah ZTE, Huawei, dan Haier.  Produsen ini menguasai industri dari hulu ke hilir, sehingga mutunya terjamin.

Sementara untuk home industry, memungkinkan setiap perusahaan dari luar negeri menempelkan mereknya sendiri di ponsel tersebut. Pemesanan  minimum sebanyak 5.000 unit perangkat lunak tersebut dengan desain sesuai keinginan dari pemesan.

Untuk bisa berdagang dengan cara tersebut biasanya pemilik modal mengeluarkan dana sebesar  25 miliar rupiah  untuk mendapatkan lisensi dari pengusaha negeri tirai bambu tersebut.

Pengiriman produk dikirim bersamaan dengan asesori seperti charger, handsfree, dan kabel data. Sedangkan proses packagingnya dikerjakan di Indonesia dengan membuat sendiri dus pembungkus, buku manual, stiker, dan  kartu garansi.

”Biasanya  untuk pemesanan pertama minimal 1.000 unit. Saya ketika masuk pertama kali ke salah satu tempat home industry itu tak percaya. Benar-benar rumahan,” ungkap seorang sumber Koran Jakarta yang biasa bermain di sentra ponsel Jakarta.

Di industri ponsel dunia sendiri memiliki sebuah khitah yang telah disepakati untuk dikatakan sebuah produk sebagai imitasi dari produknya. Khittah tersebut mengatakan, sebuah produk boleh meniru desain satu merek terkenal, tetapi harus memiliki perbedaan untuk lima item.

Lima item-nya sendiri tidak ditentukan oleh industri. Karena itu jangan kaget jika ada BlackBerry merek lokal yang mirip dengan keluaran Research In Motion (RIM) jika dilihat sekilas. Tetapi dilihat dengan seksama maka akan ada perbedaan pada ukuran speaker atau letak kamera.

Praktisi Telematika Faizal Adiputra mengakui hadirnya ponsel merek lokal memberikan  sisi positif bagi pengguna karena ada alternatif   pilihan. “Namun di sisi lain yang perlu di perhatikan adalah layanan purna jual. Jangan sampai harga yang menarik malah mengorbankan layanan purna jual sehingga pelanggan yang menanggung akibatnya,” katanya.

Juru Bicara Depkominfo  Gatot S Dewo Broto menjelaskan, banyaknya ponsel China masuk ke Indonesia tak bisa dilepaskan dari celah  yang memanfaatkan kelonggaran memperoleh sertifikasi produk di Postel ketika menjual produknya.

”Di Postel kalau tidak salah ada 100 merek ponsel China yang terdaftar. Masalahnya untuk melakukan sertifikasi, kami hanya mengambil sampel dua atau tiga model sejenis. Di sinilah kelonggaran yang dimanfaatkan para pedagang tersebut,” katanya.

Dikatakannya, temuan yang didapat oleh kepolisian belum lama ini dimana ditemukenali berkarung-karung ponsel re-kondisi yang umumnya dari China, membuat Postel bergerak untuk melakukan pemeriksaan langsung di pasar. ”Dua tahun lalu kami pernah melakukan ini. Dan ditemukan dua merek yang patut dipertanyakan,” katanya.

Menurut Gatot, jika terbukti menyalahgunakan sertifikasi yang diberikan regulator, para pedagan tersebut dapat dituntut secara hukum karena melanggar Undang-undang Telekomunikasi No 36/99.

Melihat fenomena yang terjadi sekarang, banyak pihak mengkhawatirkan, jika pelaku bisnis di Indonesia tetap intens mengimpor ponsel dari China, maka mimpi untuk mewujudkan adanya ponsel asli buatan dalam negeri tak akan pernah terwujud.

Pertengahan tahun lalu, secercah harapan disiratkan oleh Departemen Perindustrian yang sedang melakukan kajian bersama Direktorat Bea dan Cukai, dan  Asosiasi Importir Telepon Seluler Indonesia. Departemen tersebut telah mencium ulah dari investor ponsel di Indonesia  yang  enggan menanamkan investasinya secara langsung di Indonesia.

Untuk itu dibuatlah regulasi tentang tata niaga ponsel. Beleid tersebut akan mengatur tentang impor ponsel. Nantinya aktifitas impor ponsel hanya diperbolehkan untuk importir terdaftar.   Rencananya akhir tahun 2008  regulasi itu selesai dibahas dan tahun ini diimplementasikan. Sayangnya hingga sekarang tidak terdengar lagi gaung regulasi tersebut.

Sementara Media Relation Officer Nexian, Ratna Adjie menegaskan, Nexian sejak dua tahun lalu telah memiliki pabrik. “Karena ketentuan kandungan lokal hanya 20 persen, maka itu sebatas untuk packaging dan buku manual saja,” katanya.

Sedangkan GM Sales dan Marketing Micxon Mobile Indonesia, Miming menegaskan, belum ada niat untuk membangun pabrik di Indonesia karena membutuhkan investasi yang besar.

“Semua produk kita impor dari China. Ini justru lebih murah ketimbang bikin sendiri. Tetapi masalah desain itu ditentukan oleh pemilik merek dan dibuatkan oleh pemasok di China,” katanya.[dni]

191009 Geliat Ponsel Merek Lokal

Belum lama ini para pelaku di industri seluler terkaget dengan data yang disajikan oleh salah satu ponsel merek lokal tentang prestasi penjualan produk yang diklaim meek lokal  selama bulan lalu.

“Saat ini ponsel merek lokal telah menguasai 50 persen dari penjualan setiap bulannya ponsel di Indonesia. Sebelumnya pangsa pasar dari ponsel lokal ini hanya 20 persen,” ungkap Presiden Direktur IMO, Sarwo Wargono di Jakarta, belum lama ini.

IMO adalah salah satu dari 25 merek ponsel lokal yang wara-wiri di pasar Indonesia sejak tiga tahun lalu. Para pemain besar di ponsel merek lokal ini adalah Nexian, IMO, Micxon, dan lainnya.

Sebelumnya, pada kuartal pertama tahun ini lembaga riset GfK mengungkapkan   ponsel merek lokal  telah menguasai secara total  pangsa pasar Indonesia  hingga 9 persen.

Ponsel yang diusung oleh produsen ini dinamakan merek lokal oleh banyak kalangan karena hanya mereklah yang identik dengan aroma lokal. Sedangkan perangkat lunak dan kerasnya hampir seluruhnya diimpor dari China.

Sarwo menjelaskan, biasanya setiap bulannya penjualan ponsel di Indonesia mencapai satu juta unit. Angka itu mengalami penurunan sejak dua bulan lalu, dimana masih bisa terjaul sekitar 2,1 juta unit ponsel setiap bulannya. Sedangkan pada akhir tahun nanti diperkirakan akan terjual 21 juta unit ponsel di Indonesia.

“Riset terbaru memperlihatkan adanya penurunan penjualan ponsel. Tetapi pangsa pasar ponsel lokal dengan harga mulai satu juta unit menunjukkan peningkatan,” katanya.

Diungkapkannya, IMO sebagai salah satu merek lokal sejauh ini telah mampu menguasai sebesar 10 persen dari pangsa pasar ponsel lokal. “Kita memiliki 20 lini produk. Rencananya akan ditambah 4  atau lima lagi. Target kita ini akan mampu menjadikan penguasaan pasar meningkat menjadi 15 persen,” jelasnya.

Fenomena QWERTY

GM Sales dan Marketing Micxon Mobile Indonesia Miming menjelaskan, melesatnya penjualan ponsel merek lokal tentunya tak bisa dilepaskan dari dua hal.

Pertama fenomena dari BlackBerry. Kedua keranjingannya masyarakat dengan situs jejaring sosial seperti Facebook dan chatting dengan Yahoo Messenger.

“Harga BlackBerry itu masih mahal, sekitar tiga jutaan rupiah ke atas. Sementara permintaan dari pasar lumayan tinggi untuk menggunakan BlackBerry. Ceruk inilah yang ingin dimanfaatkan merek lokal,” ujarnya.

Dijelaskannya, ponsel merek lokal ingin menawarkan produk untuk segemen menengah bawah dimana harganya juga lebih ramah ke segmen pasarnya.

“Harga ponsel merek lokal tak lebih dari satu juta rupiah. Dengan desainya yang QWERTY, maka diburulah oleh pasar,” katanya.

QWERTY adalah susunan keyboard yang mirip dengan smartphone yang mengacu pada tata letak huruf seperti di komputer.

Sarwo menambahkan, fenomena berkembangnya ponsel merek lokal   tak bisa dlepaskan juga dari kelengahan merek-merek ternama menangkap booming-nya BlackBerry dan situs jejaring sosial.

“Ponsel merek terkenal tidak memasukkan fenomena itu dalam roadmap-nya.  Produknya memang tidak ke arah sana. Inilah celah yang diisi oleh merek lokal,”jelasnya.

Ponsel merek terkenal yang dimaksud adalah Nokia, Sony Ericsson, Samsung, Motorolla, dan LG. Nokia masih menjadi pemimpin pasar untuk merek terkenal, diikuti oleh Sony Ericsson di Indonesia.

Praktisi Telematika Bayu Samudiyo mengatakan, untuk kategori ponsel China yang berjaya saat ini adalah Nexian dengan produk NexianBerry.

“Namun, sekarang produk itu banyak mendapat tantangan dari produk China lainnya yang mengeluarkan produk serupa. Tren seperti ini akan berlanjut hingga akhir tahun nanti,” katanya.

Varian Nexian yang dimaksud adalah Nexian G900. Ponsel ini muncul sejak Juni lalu.  Dalam waktu sebulan ponsel ini terjual   70 ribu unit ponsel Nexian Berry laku terjual. Kabar beredar sekarang ponsel jenis ini telah terjual hingga  400 ribu unit.

Praktisi Seluler Herman TKK mengakui,   kejelian menyasar segmen yang tak dilirik vendor global berupa strategi bundling dengan operator dan   penawaran harga murah berkualitas merupakan obat mujarab suksesnya ponsel China di Indonesia.

Jika pada  tahun lalu   yang dijual adalah   TV analog dan   dual mode dual on alias mampu mendukung dua teknologi berbeda (GSM dan CDMA) dalam satu ponsel, maka sekarang adalah QWERTY dengan aplikasi jejaring sosial.

”Produsen ponsel global tak berani segila merek lokal menawarkan fitur.   Gilanya lagi, ponsel tersebut hanya dijual di bawah angka satu jutaan rupiah,” katanya.

Kepala Pemasaran Smart Telecom Tom Alamas Dinharsa mengatakan, masyarakat sekarang mulai percaya pada ponsel  dari China. ”Ponsel ini diposisikan   sebagai suplemen alias ponsel tambahan.  Dan Anda jangan anggap sepele ponsel dari China, Haier dan ZTE itu sudah meraksasa di dunia. Mereka sudah bisa membuktikan dirinya mampu bersaing,” katanya.

Pada kesempatan lain, VP Direct Sales XL Junaedy Hermawanto mengungkapkan, hadirnya ponsel merek lokal memberikan keuntungan bagi operator khususnya dalam penjualan jasa akses  data.

“Meningkatnya penggunaan akses data  belakangan ini tak bisa dilepaskan dari adanya ponsel-ponsel murah yag memiliki kemampuan akses terhadap jasa tersebut,” katanya

Dikatakannya, masyarakat saat ini sedang mengalami hype kepada aplikasi situs jejaring sosial yang membutuhkan koneksi data. “Masalahnya semua lapisan menginginkan terkoneksi dengan Facebook saat ini. Ini pasar yang lumayan,” katanya.

Junaedy mengatakan, untuk operator sekelas XL bekerjasama dengan para vendor tidak mengeluarkan dana untuk mensubsidi harga ponsel. “Kami simbiosis mutualisme saja. Apalagi XL sudah memiliki basis pelanggan yang besar. Jadi, saling membutuhkan,” katanya.

Sedangkan praktisi telematika  Ventura Elisawati mengingatkan,  operator harus berhati-hati dengan kedok bundling ponsel data bersama ponsel merek lokal.

“Operator jangan terlalu terpesona dengan penjualan ponsel bundling karena di masyarakat ada kecenderungan untuk berganti-ganti nomor meskipun ponsel sudah dikunci.

”Bukan rahasia lagi jika tidak suka dengan layanan operator tinggal dibawa ke sentra ponsel, maka nomor pun bisa berganti. Kalau sudah begini kasihan operator yang melakukan subisidi harga ponsel. Bagi vendor tentunya happy saja karena barangnya laris,” katanya.[dni]

171009 Lion Air Bidik Penerbangan Haji

JAKARTA–Maskapai swasta nasional, Lion Air, akan membidik penerbangan haji untuk musim ibadah tahun depan seiring perseroan telah memiliki ijin rute penerbangan dari pemerintah Saudi Arabia pada pekan lalu.

“Kami tentu mengharapkan dapat melayani angkutan haji. Tetapi masalah haji ini kan melibatkan banyak departemen, kita harus melihat dulu arah kebijakannya,” ungkap Direktur Umum Lion Air Edward Sirait di Jakarta, Jumat (16/10).

Dikatakannya, jika pemerintah membuka tender pengangkutan jemaah haji untuk kuota Indonesia, maka Lion akan ikut serta tetapi dengan strategi hanya menggarap jemaah per sektoral.

“Kita tidak akan membidik semua jemaah. Misalnya, kita akan memilih wilayah Banjarmasin saja untuk angkutan hajinya,” katanya.

Sedangkan untuk jangka pendek, dalam rangka memanfaatkan keluarnya ijin rute penerbangan (Landing permit) ke Jeddah, Edward mengungkapkan, hingga akhir tahun ini Lion akan melayani rute Jakarta-Jeddah (PP) sebanyak dua kali seminggu dengan dua armada B 744-400 mulai 7 November nanti.

“Kami mendapatkan jatah dari pemerintah Arab Saudi terbang tujuh sekali seminggu. Tetapi hingga akhir tahun nanti baru dimanfaatkan dua kali seminggu. Ini sebagai bagian dari langkah mempelajari pasar,” ujarnya.

Dijelaskannya, untuk rute tersebut Lion membidik segmen pebisnis, jemaah umroh, dan Tenaga Kerja Indonesia (TKI). “Satu pesawat berkapasitas 506 kursi. Sebanyak 24 kursi disediakan buat kelas bisnis. Diperkirakan pasar ini akan dikuasai oleh jemaah Umroh sebanyak 80 persen,” katanya.

Diungkapkannya, untuk memenangkan persaingan dalam rute Jakarta-Jeddah tersebut, manajemen akan mengandalkan tarif murah dengan memaketkan rute penerbangan domestik.

“Hanya ada tiga maskapai yang terbang langsung ke Jeddah yaitu Lion, Garuda, dan Saudi Airlines. Nanti, kami akan mengoneksikan penumpang dari Jeddah atau daerah Indonesia dengan 32 rute domestik lokal yang dimiliki Lion,” jelasnya.

Edward mengharapkan, hadirnya Lion meramaikan rute Jakarta-Jeddah dapat merebut pasar rute internasional dari dominasi maskapai asing. “Jumlah penumpang yang menggunakan rute ini diluar angkutan haji per tahun sebanyak 1,5 juta jiwa. Sayang sekali kalau hanya ada satu maskapai lokal. Banyaknya pemain lokal akan membuat devisa tidak lari ke luar negeri,” jelasnya.

Untuk diketahui, rencana Lion ke Jeddah seperti terowongan gelap yang tidak jelas kapan berakhir ujungnya. Awalnya, maskapai ini akan terbang ke Jeddah pada Juni lalu, tetapi mundur karena armada belum siap.

Setelah armada siap, pada bulan lalu masalah dokumen yang belum lengkap dinilai otoritas penerbangan Arab Saudi. Akhirnya tiga minggu lalu manajemen Lion terlihat putus asa dan memperkirakan tidak dapat melayani rute tersebut pada tahun ini.

Namun, kabar gembira datang minggu lalu dengan dikeluarkannya landding permit oleh otoritas Arab Saudi bagi Lion Air ke negeri itu.[Dni]

171009 XL Optimistis Pendapatan Tumbuh 7%

JAKARTA–PT Excelcomindo Pratama Tbk (XL) optimistis pendapatannya pada akhir tahun nanti tumbuh sebesar 7 persen jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Tercatat, pada tahun lalu perusahaan yang sahamnya dikuasai oleh Axiata Group tersebut meraih pendapatan sebesar 12,1 triliun rupiah. Sedangkan pada akhir tahun ini diprediksi bisa meraih pendapatan melebihi 13 triliun rupiah.

“Kami optimistis bisa mempertahankan pertumbuhan pendapatan. Bahkan kita optimistis bisa berada di posisi kedua secara industri pada akhir tahun ini,” ungkap Presiden Direktur XL Hasnul Suhaimi di Jakarta, Jumat (16/10).

Dijelaskannya, pertumbuhan pendapatan bisa dipertahankan positif karena XL berhasil meraih jumlah pelanggan diatas dobel digit.

“Sekarang pelanggan XL sekitar 26 juta nomor. Jumlah pelanggan yang besar itu didukung oleh revenue generator subscriber (RGS) yang besar,” katanya.

RGS adalah pelanggan yang aktif menggunakan jasa XL. Saat ini tercatat 21,8 persen naik 9 persen dibandingkan periode sebelumnya.

Berkaitan dengan rencana right issue dari saham pereseroan, Hasnul mengungkapkan, mulai dibahas pada Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) 16 November nanti.

“Kita rencanakan right issue akan dilakukan pada Desember nanti atau tahun depan. Penasihat keuangan kita gunakan Mandiri Sekuritas,” jelasnya.

Diharapkan dari right issue tersebut akan didapatkan dana segar sebesar 300 juta dollar AS. “Dana tersebut bisa menutup belanja modal tahun ini sebesar 600 juta dollar AS. Soalnya kita baru close mendapatkan hutang dari sindikasi BNI sebesar 1,6 triliun rupiah,” jelasnya.

Penyerapan dari belanja modal sendiri, ungkap Hasnul, telah mencapai 100 persen seiring telah dibangunnya sekitar 18.128 BTS.

“Rencananya tahun depan XL akan menambah frekuensi 3G sebesar 5 Mhz dengan belanja modal 2010. Penambahan ini untuk mengantisipasi naiknya pengguna akses data,” katanya.

Sebelumnya, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom)  memproyeksikan pendapatan konsolidasi pada 2009 hanya tumbuh sekitar 5 persen.

Hingga September 2009 jumlah pelanggan seluler telah mencapai 84 juta nomor, meningkat tajam dibanding akhir tahun 2008 sekitar 65,3 juta nomor.

Sedangkan untuk anak usahanya,  PT Telkomsel, pendapatannya diprediksi akan tumbuh sekitar 6,8 persen dibanding pendapatan tahun 2008.

Pertumbuhan pendapatan Telkomsel lebih rendah dibanding pertumbuhan pelanggan karena kecenderungan penurunan rata-rata penggunaan seluler pelanggan (ARPU) per bulan.[Dni]

161009 Harga Tiket Dipastikan Bisa Melambung Tinggi

JAKARTA—Harga tiket angkutan udara dipastikan bisa melambung tinggi seandainya regulator memasukkan beban biaya tambahan bahan bakar (Fuel Surcharge) kedalam komponen tarif penerbangan.

“Dapat dipastikan harga tiket akan melambung tinggi karena maskapai harus mengantisipasi naik dan turunnya harga avtur yang fluktuatif. Jika sudah begini tujuan pemerintah menjadikan angkutan udara sebagai alat transportasi massal tidak akan tercapai,” ungkap Pengamat Penerbangan Hanna Simatupang kepada Koran Jakarta, Kamis (15/10).

Dijelaskannya, sebenarnya harga tiket di Indonesia termasuk yang paling murah di dunia dengan sistem yang ada sekarang ini.”Seharusnya Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) dan regulator melihat serta mempelajari tren pasar minyak dunia. Mana mungkin maskapai membuat harga secara semena-mena,” katanya.

Menurut Hanna, jika regulator akhirnya memasukkan fuel surcharge ke komponen tarif, maka harus juga membuat pemisahan pengaturan harga antar maskapai berbasis full service dan low cost mengingat keduanya memerlukan komponen harga yang berbeda.

“Selain itu perlu didorong operator di bandara menurunkan tarif karena biaya menggunakan jasanya lumayan tinggi dan membebani maskapai,” tegasnya.

Sekjen Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Danang Parikesit mengungkapkan, sejak dulu  persoalan fule surcharge  selalu dekat dengan praktek kartel kalau tidak di awasi dengan baik mengenai struktur dan pendanaannya.

“Saya kira kasus Garuda di Australia juga memberi pelajaran penting tentang bagaimana kompetisi bisa terhambat masalah dugaan kartel melalui fuel surcharge,” jelasnya.

Menurut Danang, sudah tepat langkah dari KPPU untuk melakukan pengawasan masalah fuel surcharge agar industri penerbangan domestik memiliki daya saing. “Ini bagian dari tata kelola industri. Jadi, tidak perlu ada resistensi,” katanya.

Danang menyarankan, regulator  tidak perlu melakukan penetapan tarif, tetapi memberikan kontrol atas standar pelayanan minimal (SPM) sebagai pengganti aturan tarif batas bawah dan menghindarkan adanya praktek kartel guna mengganti  aturan tarif batas atas. “  SPM diatur dan diawasi oleh Dephub, sedangkan praktek kartel diawasi oleh KPPU. Kalau sudah begini  semua komponen biaya  dimasukkan secara eksplisit sehingga tidak ada lagi hidden cost,” jelasnya.

Masih menurut Danang, perhitungan tarif yang benar akan mengedukasi penumpang dan operator. “Penumpang angkutan  udara sebenarnya tidak elastis permintaanya.  Jadi bagi operator ini persoalan mentransfer harga ke konsumen
dan kemampuan regulator menjamin safety dan menghilangkan praktek kartel,” katanya.

Secara terpisah, Direktur Teknis PC Aero Edwin Soedarmo  menambahkan, jika dilihat praktik di lapangan indikasi adanya kartel tarif memang kuat.

“Maskapai lokal berada dalam tekanan untuk untung. Maslahnya, banyak investor dari maskapai itu berjiwa pedagang. Mereka ingin untung cepat. Padahal, sewajarnya maskapai baru balik modal setelah beroperasi enam tahun,” jelasnya.

Tekanan yang kuat itulah, lanjutnya, bisa membuat    maskapai lokal melakukan kesepakatan tarif. “Apalagi peluang berkumpul kan besar dengan adanya asosiasi,” katanya.

Sebelumnya, Menteri Perhubungan Jusman Syafi’i Djamal mengatakan, penerapan biaya fuel surcharge akan dimasukan dalam komponen tarif penerbangan dan penetapannya akan diberlakukan mekanisme batas atas sesuai dengan pergerakan harga avtur yang dijual oleh PT Pertamina.

“Jadi sesuai dengan rekomendasi KPPU saja, jadi dimasukan dalam tarif,” katanya.

Dikatakannya, pihaknya akan menetapkan ketentuan ini dalam waktu dekat sehingga para maskapai bisa mengikuti ketentuan batas atas tersebut.

Diharapkannya, mengharapkan penyelidikan KPPU yang saat ini sedang berlangsung bisa segera menjadi pertimbangan sebagai bentuk perubahan perilaku maskapai.

“Fluktuasi itu akan dibatasi, jadi mengikuti dari Pertamina. Nanti di batas atas itu ada semacam batasan untuk fuel surcharge, jadi tidak terlalu liar. Kalau turun akan turun,” katanya.

Untuk diketahui, belum lama ini KPPU mengumumkan akan memanggil  sebanyak 13 maskapai lokal karena melanggar pasal 5 UU No 5/99.  Sanksi denda yang mengadang ketigabelas maskapai itu adalah sebesar 25 miliar rupiah, diluar biaya ganti rugi bagi pengguna.

Ketiga belas maskapai yang terancam denda karena melanggar pasal 5  UU No 5/99 tentang anti monopoli itu  adalah PT  Garuda Indonesia, PT Sriwijaya Air, PT Mandala  Airlines, PT Merpati Nusantara Airlines, PT Lion  Mentari Airlines, PT Riau Airlines, PT Travel  Express Aviation Services, PT Kartika Airlines,  PT Linus Airways, PT Wings Abadi Airlines, PT Metro Batavia, dan PT Trigana Air Services.

KPPU menduga ketiga belas maskapai  telah melakukan  penetapan harga  penerapan fuel surcharge tidak  sesuai peruntukan. Indikasinya adalah  kenaikan fuel surcharge  tidak sebanding dengan kenaikan harga avtur yang  berlaku.

Kondisi itu membuat    seolah-olah 13  perusahaan maskapai itu sudah tidak lagi menghiraukan berapa besaran kenaikan harga avtur dengan penetapan fuel surcharge.[dni]

151009 BlackBerry Developer: Agar Pengguna Tak Lari ke Lain Hati

BlackBerry-Gemini-thumb-500x373-88818Magis perangkat besutan Research in Motion (RIM), BlackBerry, seakan tidak habis-habisnya mempesona masyarakat seluler Indonesia.

Saat ini BlackBerry (BB)  tidak hanya sekadar  alat komunikasi, tetapi sudah menjadi bagian dari gaya hidup bagi penggunanya

Layaknya perangkat yang telah menjadi gaya hidup, tentunya kemampuan BB harus terus ditingkatkan. “BB sebagai alat komunikasi yang mampu melakukan basic telephony atau surat elektronik, dan browsing, itu sudah biasa. Sekarang sedang dipikirkan bagaimana membuat perangkat ini semakin mengikat penggunanya,” ujar Praktisi telematika Faizal Adiputra kepada Koran Jakarta, Rabu (14/10).

Dijelaskannya,  salah satu cara untuk mengikat pengguna adalah dengan mengembangkan aplikasi-aplikasi lokal sesuai kebutuhan pengguna yang bisa dijalankan di perangkat tersebut. “Bisnis awal dari layanan BB adalah memberikan koneksi internet dan surat elektronik. Nah, sekarang perlu dikembangkan value adedd services (VAS) untuk BB yakni aplikasi yang kreatif,” jelasnya.

Faizal menjelaskan, meskipun layanan dasar (email, browsing, chatting) dari BB masih dalam taraf pertumbuhan, tidaklah salah memulai sejak dini menggarap pasar VAS-nya karena sejak awal perangkat ini telah diposisikan sebagai life style product.

“BB berbeda dengan smartphone lainnya yang menonjolkan kemampuan basic telephony. Akhirnya ketika produk itu menawarkan VAS, yang terjadi jalan di tempat. Kalau BB memang sejak awal sudah menggarap life style sehingga pengguna sudah biasa dengan aplikasi tambahan,” katanya.

Peluang Pemain Lokal

Faizal menjelaskan, dibukanya peluang untuk menggarap aplikasi bagi BB akan menjadi peluang bagi industri kreatif lokal untuk bermain. “Kekuatan Indonesia itu di pasar kreatif. Banyak animator lokal menjual produknya ke luar negeri dengan harga murah. Bayangkan kalau dikelola sendiri, uang akan banyak berputar di Indonesia,” katanya.

Menurut Faizal, terdapat dua cara untuk menggarap pasar aplikasi BB. Pertama, menjadi alliance member dari RIM. Kedua, bekerjasama dengan alliance member untuk memasok konten.

Sedangkan strategi untuk masuk ke pasar adalah fokus kepada komunitas dan membiarkan produk mengkreasi pasar. “Baiknya tahap awal diberikan gratis dulu pengguna untuk mencoba. Ketika dirasakan ada manfaatnya baru ditarik bayaran. Soalnya pengguna BB itu sudah melek aplikasi,” jelasnya.

Direktur Utama Better B Kemal Arsjad menjelaskan, bukanlah hal yang mudah untuk   menjadi alliance member dari RIM. “Kami saja membutuhkan waktu 8 bulan dengan persyaratan yang ketat. Bagi pemain baru lebih baik memasok konten saja,” ungkapnya.

Better B adalah salah satu alliance member lokal yang diakui RIM. Perusahaan ini telah menggarap XL BlackBerry Mall beberapa waktu lalu. XL BlackBerry Mall semacam application store yang dimiliki Apple.

Kemal mengungkapkan, sejak diluncurkan application store yang dibesutnya berhasil menjaring 50 persen dari total 160 ribu pengguna BlackBerry XL. Sedangkan active download per hari mencapai tiga ribu aplikasi. Harga per aplikasi mulai 5 hingga 15 ribu rupiah. Jika diperkirakan secara kasar, maka Better B bisa menangguk keuntungan sekitar 15 juta rupiah perhari.

“Tetapi tidak semua pendapatan diambil application developer. Harus dibagi dengan operator dan pemasok konten. Pola pembagiannya tergantung negosiasi,” jelasnya.

GM Sales XL Handono Warih mengakui, memang ada pola pembagian antara Better B dan XL sebagai pihak yang menjalankan “Mall”. “Sebenarnya yang dicari XL adalah bagaimana bisnis ini jalan dulu. Karena itu kami berinisiatif membangun Mall-nya dulu. Nanti tinggal “peyewa toko” mengisi tempat. Soalnya bagaimana pola bisnis VAS dari BB sendiri masih meraba-raba di Indonesia,” jelasnya.

Faizal mengharapkan, jika operator menginginkan bisnis aplikasi maju, maka tidak perlu lagi meminta bagian dari penjualan ke developer atau pemilik konten. “Operator cukup menikmati saja dari sisi trafik. Aplikasi kan bisa mendorong trafik, dan itu sudah memberikan keuntungan. Di sisi lain, aplikasi bisa juga membuat pelanggan tidak pindah operator, sekarang mempertahankan lebih susah daripada mendapatkan. Apalagi pengguna BB di Indonesia 90 persen prabayar,” katanya.

Hambatan

Selanjutnya Kemal mengungkapkan, hambatan bagi developer aplikasi untuk berkembang saat ini adalah masalah keterbatasan dana untuk promosi. “Kami terpaksa mengandalkan pola komunikasi getok tular melalui jejaring sosial atau digital media,” jelasnya.

Warih menambahkan, masalah lain adalah tentang kepastian dari regulasi bertransaksi melalui perangkat elektronik. “Sudah mulai dikembangkan aplikasi agar bisa bertransaksi di BB. Masalahnya, pengguna masih belum merasa secure. Ini harus dicermati,” katanya.

Akses Terbatas

Pada kesempatan lain, Wakil Ketua Komite Tetap Informatika Kadin, Iqbal Farabi mengakui,  bisnis pengembangan aplikasi sedang menunjukkan   trend yang positif karena  penetrasi handset dan teknologi wireless yang berkembang.

“Ini membuat lahan bagi developer aplikasi untuk berkreasi. Apalagi  operator membuka peluang bagi   developer untuk   sharing  produk dan pendapatan,” jelasnya.

“Namun yang menjadi hambatan utama itu adalah akses yang masih terbatas dimiliki para developer. Khususnya untuk menembus operator besar,” jelasnya.

Menanggapi hal itu, Kepala Pemasaran dan Merek Indosat Teguh Prasetya membantah keras. “Indosat memiliki sejenis application store yang dinamakan i-go. Kami membuka peluang seluas-luasnya bagi pemain lokal,” tegasnya.

Sementara itu,  menurut pengamat telematika Ventura Elisawati, RIM harus bisa menggandeng developer lokal sebagai mitranya. “Para developer itu banyak start up company. Bisa jadi dua hingga lima tahun ke depan perusahaan ini akan lebih besar ketimbang perusahan penyedia konten untuk GSM. Tetapi bisa jadi hanya euoforia sesaat,” katanya.

Peran RIM sebagai prisipal diharapkan mampu mengarahkan karena ini akan menjadi citra yang baik bagi perusahan. “Menggandeng mitra lokal sejalan dengan  keinginan pemerintah agar vendor asing seperti RIM juga melibatkan peran lokal dalam pengembangkan pasarnya,” katanya.

Ventura mengingatkan, mengandalkan lifestyle dan jejaring sosial saja tidak akan cukup membuat BB menjadi primadona karena pasar di Indonesia sangat dinamis. “Vendor asing semacam RIM harus lebih jeli dalam mengembangkan aplikasi lokal sesuai kebutuhan berbagai segmen di pasar domestik,” katanya.[dni]

151009 Regulasi Menanti Sang Bintang

rim-blackberry-logoBlackBerry tidak hanya menjadi andalan dari Research In Motion (RIM) untuk menangguk keuntungan, tetapi juga para mitranya.

Tak percaya? Simak   kinerja  kuartal kedua tahun fiskal dari perusahaan asal Kanada tersebut. Hingga dengan kuartal tersebut, pelanggan RIM telah berjumlah  32 juta di seluruh dunia.
Pada periode itu  pendapatan  perusahaan asal Kanada tersebut    mencapai  3,53 miliar dollar AS atau  meningkat 37 persen dibandingkan periode sama tahun fiskal lalu sebesar  2,58 miliar dollar AS.
Keberhasilan RIM meraih pendapatan  sebesar itu lebih banyak dikontribusi melalui hasil penjualan perangkat, yang mencapai 81 persen dari total keseluruhan pendapatan. Sedangkan kontribusi dari layanan dan software, masing-masing hanya memiliki kontribusi 14 persen dan 2 persen.
Di Indonesia, RIM sendiri diperkirakan memiliki sekitar 480 ribu pelanggan yang berasal dari empat operator yakni Telkomsel, Indosat, XL, dan Axis.  Selain empat operator itu, RIM juga memiliki  importir dan distributor lainnya yakni  PT Indosat Mega Media (IM2), PT Malifax Indonesia, dan PT Erajaya Swasembada.

Bagi operator yang menjadi mitra dari RIM, hadirnya BlackBerry (BB) bisa dikatakan sebagai penyelamat dari kondisi terus turunnya Average Revenue Per Users (ARPU) basic telephony.

Jika dihitung secara kasar, rata-rata ARPU pengguna BB mencapai 150 ribu rupiah per bulan. Angka itu diluar berlangganan jasa suara dan SMS. Bandingkan dengan ARPU basic telephony yang sekarang berkisar sekitar 40 ribuan rupiah.

Namun, sepertinya sang bintang tidak bisa seenaknya bersinar terang tak lama lagi. Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) mulai mencermati sepak terjang sang bintang dari Kanada ini.

Simak saja  aksi regulator  pada pertengahan tahun ini dimana   bersikeras meminta RIM untuk membuka layanan purna jual atas nama penegakkan regulasi. Ancaman larangan impor akhirnya membuat RIM mengalah dan membuka juga purna jual di Indonesia.

Terakhir, BRTI sedang membidik masalah pembayaran pajak dari layanan BlackBerry Messenger (BBM) milik RIM yang berjalan di BlackBerry Internet Services (BIS) atau BlackBerry Enterprise Service (BES).

BIS dan BES adalah aplikasi yang menjadikan pengguna bisa terkoneksi terus dengan internet dan surat elektronik. Sedangkan BBM adalah fasilitas chatting yang dikembangkan RIM bagi pengguna BB.

Di Indonesia, pengguna BB jenis BIS  menguasai sekitar 80-90 persen pangsa pasar. Sedangkan di luar negeri yang terjadi justru sebaliknya.

“Kami sudah meminta laporan keuangan para operator mitra RIM  terkait pola pembayaran mereka ke perusahaan tersebut. Khususnya masalah pemotongan yang dilakukan untuk RIM. Apakah dibayarkan operator atau dipotong dulu dari RIM,” jelas Anggota Komite BRTI Nonot Harsono kepada Koran Jakarta, Rabu (14/10).

Nonot mengungkapkan, hingga sekarang operator belum mampu  menjawab permintaan dari regulator. “Walaupun berbasis Internet Protocol (IP) layanan itu tetap melewati originasi dari  Indonesia. Kalau begitu harusnya bayar Biaya Hak Penyelenggaraan (BHP). Masak pajak buat negara dibawa lari perusahaan asing,” tegasnya.

Menanggapi hal itu, Kepala Pemasaran dan Merek Indosat Teguh Prasetya menjelaskan, dalam membeli kapasitas ke RIM operator melakukannya secara bulk atau gelondongan.

“Penyelenggaraan layanan pun dilakukan secara harian, mingguan, atau bulanan. Dan yang kami bayar ke RIM adalah BIS atau BES, bukan per aplikasi. Kalau dipisah-pisah susah itu,” jelasnya.

Teguh meminta regulator harus memahami pola bisnis dari RIM sebelum membuat suatu regulasi. “Jangan sampai Indonesia ini seolah-olah menentang dunia sendirian,” katanya.

Sementara itu, Wakil Ketua Komite Tetap Informatika Kadin,  Iqbal Farabi menyetujui jika RIM diberikan regulasi yang ketat di Indonesia.

“Sekarang indonesia menjadi pasar empuk buat produsen gadget. Saham RIM  naik berlipat-lipat salah satunya karena analis melihat terjadi pertumbuhan penjualan BB yang luar biasa di Indonesia. Rasanya keenakan perusahaan itu menjadikan Indonesia sebagai pasar terus,” katanya.

Menurut Iqbal, merupakan hal yang wajar jika RIM ditarik BHP karena untuk menjalankan aplikasinya menggunakan jaringan operator sebagai akses.

”Jika  di regulasi SMS Premium menyebutkan praktik seperti itu terkena BHP, harusnya regulator memperlakukan hal yang sama buat RIM. Regulator jangan beraninya sama anak negeri sendiri, sama pemain asing justru melempem,” tandasnya.

Pada kesempatan lain, Direktur Utama Direktur Utama Better-B Kemal Arsjad mengaku tidak terkena BHP dalam menjalankan XL BlackBerry Mall. “Kami hanya membangun “gedung”. Masalah BHP diurus XL,” katanya.

Sedangkan GM Sales XL Handono Warih mengungkapkan, Better-B diberikan short code khusus sebagai mitra. “Kalau tidak ada short code bagaimana penagihannya,” katanya.

Melihat fakta  terbaru yang diungkap Better-B tersebut, tentunya akan menarik menunggu ronde berikutnya pertarungan antara regulator dengan RIM. Kita lihat saja nanti.[dni]

151009 Telkomsel Jamin Kartu Co-Branding

JAKARTA— PT Telekomunikasi Seluler (Telkomsel) menjamin kartu co-branding dengan dunia perbankan yang ditawarkannya tidak akan memperjualbelikan data milik pelanggan sehingga membuat para pengguna menjadi terganggu dengan penawaran pemasaran dari pihak yang tidak bertanggungjawab.

“Kami menjamin data dari pengguna tidak akan dibocorkan. Hal ini karena Telkomsel atau bank yang diajak kerjasama memiliki telesales khusus. Apalagi kita melakukan profiling dulu untuk kesamaan pasar, baru data diberikan,” tegas GM Pemasaran Telkomsel Nirwan Lesmana di Jakarta, Rabu (14/10).

Nirwan mengakui, fenomena adanya penyalahgunaan data banyak terjadi jika operator bekerjasama dengan pihak ketiga sehingga membuat pelanggan terganggu kenyamanannya.

“Kami tidakmenutup mata adanya fenomena tersebut. Tetapi Telkomsel selalu memilih mitra yang dapat dipercaya. Salah satunya Citibank,” jelasnya.

Menurut Nirwan, kartu co-branding dengan perbankan umumnya menggarap pasar pascabayar. Saat ini pelanggan pascabayar Telkomsel sekitar dua juta nomor.

“Angka itu tentu menggiurkan dibandingkan jumlah pemegang kartu satu bank yang masih ratusan ribu. Karena itu kami harus hati-hari dengan database, karena ini adalah potensi pasar,” katanya.

Diungkapkannya, untuk kerjasama dengan Citibank, pihaknya telah mengusung produk Citi Telkomsel Card kurang lebih empat tahun. Average Revenue Per Users (ARPU) dari kartu co branding ini sekitar 300 ribu rupiah.

“Rasanya dengan potensi sebesar itu tidak mungkin Telkomsel mudah saja memberikan data pelanggannya,” jelasnya.

VP Product Marketing Telkomsel Mark Chambers menambahkan,  fasilitas unggulan yang diberikan bagi pemegang Citi Telkomsel Card adalah nama TALK+ yang memungkinkan pelanggan untuk dapat menelepon berkali-kali ke sesama pelanggan Telkomsel selama 60 menit atau 3.600 detik hanya dengan lima ribu rupiah.

Selanjutnya Nirwan menambahkan, untuk mempertahankan pelanggan, Telkomsel juga memperkaya Value Adedd Service (VAS) dengan menggandeng grup band Super Bedjo melalui mobile content Super Bejo di Dunia Seleb *600#.

“Sebanyak 25 persen dari 80 juta pelanggan kami aktif men-download konten. Karena itu terus kami perkaya dengan menggandeng penyedia konten,” katanya.[Dni]

151009 XL Jamin Kualitas Jaringan Tak Terganggu

JAKARTA–PT Excelcomindo Pratama Tbk (XL) menjamin kualitas jaringannya tidak akan terganggu meskipun saat ini sedang menggelar tarif promosi murah ala Code Division Multiple Access (CDMA) dan menjual BlackBerry seri terbaru, Gemini.

“Kami jamin tidak ada masalah dengan jaringan walau dua program itu berpotensi membuat jaringan bekerja lebih keras,” tegas VP Direct Sales XL Djunaedy Hermawanto di Jakarta, Rabu (14/10).

Dijelaskannya, perseroan telah merealisasikan peningkatan kapasitas dengan menyelesaikan pembangunan site baru sehingga bandwitdh kembali menjadi lebih lebar. “Trafik suara belum kongesti walau program tarif ala CDMA itu banyak digunakan pengguna,” tegasnya.

Sedangkan untuk layanan BlackBerry, jelasnya, telah ditingkatkan kapasitas ke server Research In Motion (RIM) mencapai 110 Mbps melalui dua link yakni Ancient dan Tata. “Data kami mencatat trafik tertinggi untuk BlackBerry itu hanya sekitar 70 Mbps. Jadi, masih banyak ruang kosongnya,” katanya.

Berkaitan dengan realisasi dari preorder Gemini yang mencapai dua ribu pemesan, Djunaedy memperkirakan, sebanyak 80 persen akan melakukan pembelian langsung. “Harga resmi untuk produk ini senilai 3,999 juta rupiah. Bagi 500 pelanggan akan mendapatkan potongan harga sebesar 700 ribu rupiah,” jelasnya.[Dni]