291009 Teknologi LTE: Mencari Keseimbangan Antara Trafik dan Pendapatan

Lembaga Informa’s Global Content & Services Traffic Forecast belum lama ini mengeluarkan data tentang pola trafik internet dalam lima tahun ke depan melalui mobile broadband.

Menurut lembaga tersebut di dunia selama satu tahun lalu telah terjadi kenaikan trafik internet mencapai 100 persen dengan menggunakan teknologi High Speed Packet Access (HSPA).

Namun, Seiring datangnya teknologi High Speed Packet Access+ (HSPA+) dan Long Term Evolution (LTE) mulai 2010, maka trafik internet melalui akses mobile broadband akan melonjak dua kali lipat. Pada 2013 saja diperkirakan lonjakan trafik internet di dunia akan mencapai 1683 persen yang diakses melalui  telepon seluler dan laptop.

Sayangnya, meski trafik diperkirakan melonjak tetapi tidak demikian halnya dengan kantong dari operator penyelenggara. Jika pada 2013 pertumbuhan trafik bisa mencapai ribuan persen, maka pendapatan operator saat itu terjadi hanya sekitar 188 persen.

Di Indonesia, pengguna jasa mobile broadband  sekitar 10 juta pelanggan. Diperkirakan pada 2012 nanti, tingkat penetrasi dari broadband bisa mencapai 20 persen dari total  populasi. Saat ini jasa tersebut hanya berkontribusi di bawah 5 persen bagi total pendapatan dari satu operator.

“Ada ketidakseimbangan dari pola trafik dan pendapatan yang diterima oleh operator jika melihat tren yang akan terjadi,” ungkap Head Of Sales & Marketing Radio Access Nokia Siemens Network (NSN) Markus Borchert, di Jakarta belum lama ini.

Ketidakseimbangan itu terjadi karena pelanggan banyak mengakses situs yang memiliki bandwitdh besar sehingga membebani jaringan dari para operator.

“Tentunya untuk mengatasi keterbatasan kapasitas operator akan berinvestasi di jaringan. Nah, jika salah memilih teknologi atau masih mempertahankan teknologi lama, bisa jadi prediksi bahwa pendapatan operator tidak akan sebesar trafik itu terjadi,” jelasnya.

Menurut Markus, operator yang menyelenggarakan mobile broadband harus mulai dari sekarang menimbang untuk menerapakan lanjutan dari teknologi 3G yaitu Long Term Evolution (LTE) guna mengantisipasi tren layanan di masa depan yakni pasar data. LTE  adalah siklus terakhir pengembangan teknologi data seluler  dengan standar  IEEE 802.20 yang diproyeksikan menemukan momentumnya pada 2010 nanti.

NSN sendiri telah berhasil mengujicobakan panggilan komersial melalui LTE  dan menjual BTS yang menunjang teknologi tersebut belum lama ini. Rencananya pada bulan depan LTE akan diujicoba di Indonesia dan pada tahun depan akan dikomersialkan secara global.

Markus menjelaskan, teknologi LTE memiliki keunggulan pada kemampuan  untuk meningkatkan kapasitas dan kecepatan akses data. Selain itu, kebutuhan spektrum bisa dijalankan di alokasi yang sudah dimiliki oleh operator. “Biaya investasi jaringan bisa dipangkas hingga 70 persen jika menggunakan teknologi ini,” jelasnya.

Indonesia Butuh
VP Product and Marketing Telkomsel Mark Chamber mengakui, industri telekomunikasi Indonesia akan membutuhkan kehadiran  LTE di masa depan guna mengantisipasi lonjakan trafik data dari pengguna internet.

“Indonesia tentunya akan membutuhkan LTE di masa depan. Hal ini jika menilik kepada penggunaan jasa pita lebar bergerak (mobile broadband) yang mengalami eksponensial selama setahun ini,” ujarnya.

Menurut Mark, masyarakat Indonesia saat ini dalam tahap edukasi tentang kegunaan dari broadband. Hal itu bisa dilihat dari kecenderungan mengakses pada situs jejaring sosial atau fasilitas chatting.

“Itu hal yang biasa dalam tahap awal pengenalan teknologi. Setelah itu akan muncul kreatifitas mengembangkan aplikasi. Nah, ketika aplikasi lokal ini berkembang  dibutuhkan mobile broadband dengan kecepatan yang lumayan tinggi. LTE bisa menjadi jawaban dari kebutuhan itu nantinya,” jelasnya.

Mark menjelaskan, teknologi broadband tidak hanya dibutuhkan oleh para operator tetapi negara. Hal ini dapat dilihat dari survei yang dilakukan belum lama ini dimana menunjukkan setiap 10 persen penetrasi basic telephony bisa meningkatkan GDP negara sebear 0,6 persen. tetapi, jika broadband tumbuh sebesar 10 persen dampaknya ke GDP lebih dahsyat yakni sekitar 1,2 persen.

Software Policy Director Business Software Alliance (BSA) Asia Pasifik Claro Parlade menambahkan, meningkatkan penggunaan broadband juga dapat menaikkan daya  saing Teknologi Informasi  suatu negara.

“Saat ini Indonesia berada di peringkat 59 dari 66 negara. Kesenjangan daya saing ini bisa semakin lebar bagi negara yang lemah dalam mengadopsi jaringan broadband,” jelasnya.

Mark mengungkapkan, operator di Indonesia saat ini sedang serius mengembangkan jaringan mobile broadband miliknya. “Kendala di Indonesia saat ini adalah ketersediaan infrastruktur. Sekarang operator terus menggelar jaringan. Tentunya jika LTE bisa memenuhi kebutuhan operator akan digunakan,” jelasnya.

Praktisi telematika Suryatin Setiawan menjelaskan, masalah infrastruktur bisa diatasi jika pemerintah memiliki komitmen untuk membangun masyarakat berbasis broadband. “Semua aspek administrasi dari pemerintah harus di-online-kan. Itu akan menimbulkan kebutuhan dan stimulus bagi operator,” jelasnya.

Jika kondisi tersebut diciptakan, maka operator akan mengoptimalkan fitur Enhanced Data rates for GSM Evolution (EDGE) yang telah ada di jaringannya selama ini.

EDGE adalah teknologi evolusi dari GSM dan IS-136 dengan  kecepatan datanya sebesar 384 kbps, dan secara teori dapat mencapai 473,6 kbps.

”Kalau layanan data selular mau disediakan dengan kecepatan antara 0,5 sampai 2 Mbps maka fitur EDGE yang umumnya sudah ada di mesin selular GSM dapat diaktifkan bersamaan dengan konfigurasi jaringan radio dan transmisinya. Ini membuat publik segera mendapat layanan data yang lebih baik dari GPRS  dan tidak perlu menunggu operator menyediakan layanan 3G di seluruh wilayah. Kalau sudah begini pasar broadband akan lebih cepat matang di Indonesia,” jelasnya.

Model Bisnis
Pada kesempatan lain, Direktur Utama Indosat Mega Media (IM2) Indar Atmanto menjelaskan, tidak berimbangnya antara trafik dan pendapatan yang diraih oleh operator dalam menyelenggarakan mobile broadband saat ini karena belum ditemukan model bisnis yang ideal oleh operator.

”Indosat mencatat dalam satu hari saja ada tujuh miliar hit ke situs Facebook dari Indonesia. Ini salah satu jumlah yang terbesar di dunia. Pertanyaannya, operator dapat apa dari hit yang tinggi itu,” katanya.

Guna mengantisipasi lonjakan trafik, Indosat menghadirkan teknologi HSPA+ yang memiliki  kecepatan downlink 21 Mbps dan uplink 5.8 Mbps.  Pada tahap awal  teknologi ini  akan diterapkan untuk pelanggan di Jabodetabek.

Indar mengungkapkan, pihak yang menikmati keuntungan saat ini adalah pengembang aplikasi karena melalui hasil kreatifitasnya bisa menangguk keuntungan berupa iklan. ”Lihatlah Facebook, semua kegiatan dilakukan di situ. Pengembangnya dapat iklan, operator tidak dapat apa-apa. Jika diibaratkan, kami ini kan hanya membangun jalan tol, sementara mobil yang mau berhenti di ”rest area” kan tidak bisa diatur,” katanya.

Indar menyarankan, harus bisa dibangun secepatnya ekosistem antara operator dan pengembang aplikasi untuk mengembangkan mobile broadband. ”Jika tidak operator yang berdarah-darah, para pengembang bisa terus menangguk keuntungan. Mungkin bisa dipikirkan pola pembagian berdasarkan trafik yang masuk atau solusi lainnya. Sejatinya dari bisnis ini harus saling berbagi,” katanya.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s