291009 Dari Penurunan Kecepatan hingga Pemotongan Kuota

Teknologi broadband mulai marak menjadi alat “perang”  bagi operator untuk memenangkan persaingan di Indonesia terjadi sejak dua tahun lalu.

Awalnya, teknologi  pipa  lebar untuk koneksi internet  itu belum dimaksimalkan oleh operator walaupun inovasi  3G sudah hadir di pertengahan 2006.

Teknologi 3G yang dipercaya bisa memberikan kecepatan akses hingga 2 Mbps, oleh operator awalnya  lebih ditonjolkan fitur video calling-nya. Namun, sejak hadirnya modem berupa USB donggle, maraklah perang menjual akses  broadband ke pelanggan, baik itu berbasis mobile atau fix.

Di kategori fix broadband nama yang patut diapungkan adalah Speedy milik Telkom dan Fastnet dari Firstmedia. Sedangkan di mobile broadband tentunya nama TelkomselFlash, XL, dan IM2 merupakan tiga nama besar yang saling bersaing. Terbaru, pesaing dari ketiga ini adalah Smart Telecom.

Saat pertama berjualan teknologi ini, hampir semua operator menawarkan paket dengan harga murah yang mengusung kecepatan akses  benar-benar “broadband” alias di atas 256 kbps dan kuota mencapai 3 GB. Tetapi, seiring pelanggan bertambah dan kapasitas jaringan mulai terisi, operator mulai melakukan  pembatasan kecepatan atau menurunkan kuota bandwitdh bagi pelanggan.

Untuk operator berbasis nirkabel (Speedy atau Fastnet)  yang mendorong dilakukan itu dari sisi jaringan adalah  pada  kapasitas gateway internasional dan transport atau backbone domestik. Namun, pada operator  wireless bukan hanya gateway dan backbone domestik,  tetapi kapasitas BTS (akses) juga memiliki keterbatasan.

Munculnya kasus pemotongan kuota bandwitdh milik pelanggan TelkomselFlash belum lama ini tentu menjadi pelajaran penting bagi pemain lainnya dalam berjualan akses mobile broadband.
Sekadar pengingat,  Telkomsel per 1 September 2009 memberlakukan kebijakan baru berupa penurunan kuota bandwidth Telkomsel Flash secara sepihak.
Kebijakan baru ini membuat kuota Paket Basic turun menjadi 500 MB dengan kecepatan maksimum 256 kbps, Paket Advance turun menjadi 1 GB dengan kecepatan maksimum 512 kbps, serta Paket Pro tetap 2 GB dengan kecepatan maksimum 3,6 Mbps. Sebelumnya, kuota yang diberikan untuk ketiga paket tersebut sama-sama 2 GB.

Bila penggunaan melebihi kuota, pelanggan memang tetap tidak dikenakan biaya tambahan, hanya saja, secara otomatis kecepatan maksimum akan berubah. Paket Pro menjadi 128 Kbps dan Paket Basic, serta Advance menjadi 64 Kbps.

Kebijakan terakhir dari Telkomsel ini menuai kritikan dari penggunanya karena telah diikat satu tahun berlangganan dengan kuota mencapai 2GB. Akhirnya Telkomsel mengalah dan menunda kebijakan pemotongan bandwitdh.

Banyak kalangan menilai, Telkomsel salah memperhitungkan perilaku pengguna kala menjual jasa broadband karena merujuk pada pola mengakses data melalui ponsel.  Akses internet dari ponsel penggunaannya  tidak akan melebihi 200 MB per bulan karena konten untuk ponsel  umumnya memang kecil.

Tetapi kenyataan di lapangan berbicara lain. Pengguna Telkomsel Flash banyak menggunakan modemnya di laptop atau desktop yang berujung bisa diunduhnya aplikasi yang membutuhkan bandwitdh besar. Padahal, kapasitas BTS High Speed Data packet Access (HSDPA) hanyalah n x 3,6 Mbps (n = jumlah carrier).

“Kami mengambil kebijakan tersebut untuk memberikan keadilan bagi pengguna lainnya. Realita di lapangan, banyak pelanggan unlimited menyalahgunakan kuota yang diberikan dengan mengunduh aplikasi diluar kewajaran. Akhirnya, pelanggan yang benar-benar ingin mengakses data tidak mendapat kesempatan,” jelas VP Marketing dan Product Telkomsel Mark Chamber kepada Koran Jakarta, belum lama ini.

Ketua  Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI) Dian Siswarini menjelaskan, tidak mudah memberikan kecepatan yang stabil bagi pengguna mobile broadband mengingat  jaringan nirkabel  menggunakan teknologi  sharing resources.

Hal itu membuat  kapasitas yang ada digunakan secara bergantian dengan besarnya kapasitas yang harus di-install ditentukan berdasarkan perhitungan statistik  memakai asumsi jumlah dan distribusi pelanggan tertentu. Hal ini berbeda dengan wireline dimana  jaringan aksesnya dedicated.

Semua itu  menyebabkan jaminan untuk memberikan trhoughput atau kecepatan tertentu untuk data service agak sulit dilakukan, kecuali jika margin kapasitas di semua lokasi cukup besar dan dapat menampung perubahan trafik yang mendadak. Margin kapasitas tersebut memerlukan investasi yang besar yang pada akhirnya bisa membebani pelanggan karena harga lebih tinggi.

“Operator tentu saja selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi pengguna. Tetapi ada hal-hal yang membatasi, misalnya harga frekuensi 3G  yang relatif mahal.  Jika memang inigin kecepatan dan kuota yang stabil tentu semua stake holder harus duduk bersama mencari solusi,” katanya.

Head Of Sales & Marketing Radio Access Nokia Siemens Network (NSN) Markus Borchert, menyarankan, menawarkan harga layanan berbasis pada paket kuota atau kecepatan dengan persyaratan yang jelas adalah solusi bagi operator agar tidak dikomplain oleh pelanggan.

“Mobile broadband itu menggunakan frekuensi radio yang dibagi. Hal yang biasa jika kecepatan menurun ketika jaringan diduduki bersamaan. Solusinya ditawarkan saja berlangganan dengan paket kecepatan dan kuota tertentu,” katanya.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s