241009 Semester I 2010, Seluruh Maskapai Diterima UniEropa

Jakarta — Departemen Perhubungan (Dephub)  menargetkan akan mengusulkan puluhan maskapai penerbangan lokal  untuk masuk dalam pencabutan daftar hitam penerbangan oleh Uni Eropa.

“Hingga semester I 2010 nanti, kita harapkan  seluruh maskapai di Indonesia akan diizinkan terbang ke langit Eropa,” ujar Direktur Jenderal Perhubungan Udara  Herry Bakti Singayudha Gumay, di Jakarta, Jumat (23/10).

Dijelaskannya, usulan akan dilakukan saat  pertemuan Aviation Security Commitee (ASC) Uni Eropa pada Januari 2010. Sedangkan sisanya akan diusulkan pada pertemuan ASC berikutnya pada Mei 2010.

“Mudah-mudahan pada pertengahan tahun depan seluruh maskapai telah masuk daftar maskapai yang dicabut pelarangan terbangnya oleh Uni Eropa,” katanya.

Secara terpisah, Direktur Umum Lion Air mengaku telah melakukan resertifikasi sertifikat  Air Operator Certificate (AOC) milik maskapainya sesuai anjuran regulator agar bisa diusulkan untuk dicabut dari daftar hitam Uni Eropa.

“Resertifikasi telah diterima bulan lalu. Sekarang Lion Air menuggu bola saja dari Dephub dan Uni Eropa,” katanya.

Diharapkannya, Uni Eropa mencabut larangan terbang ke Uni Eropa bagi semua maskapai lokal karena ini menyangkut dengan azas kesetaraan dan kepercayaan. “Lion sendiri belum ada niat untuk ke Uni Eropa, tetapi ini bagi kami adalah citra Indonesia. Karena itu kita minta semuanya dicabutlah,” katanya.

Berdasarkan catatan, saat ini baru empat maskapai yang telah diperbolehkan terbang memasuki kawasan Eropa yaitu dua maskapai penerbangan berjadwal, Garuda Indonesia dan Mandala Airlines, serta dua perusahaan penerbangan kargo Airfast dan Premi Air. Garuda Indonesia dipastikan bakal terbang ke Eropa pada 1 Juni 2010 dengan penerbangan Jakarta-Amsterdam.[dni]

241009 Indonesia membutuhkan LTE

JAKARTA—Industri telekomunikasi Indonesia akan membutuhkan kehadiran teknologi Long Term Evolution (LTE) di masa depan guna mengantisipasi lonjakan trafik data dari pengguna internet.

LTE adalah siklus terakhir pengembangan teknologi data seluler  dengan standar  IEEE 802.20 yang diproyeksikan akan diluncurkan secara komersial di dunia  pada 2010 nanti.

Dalam ujicoba operator seluler terbesar di Jepang, NTT DoCoMo, pada Februari 2008, terungkap bahwa kecepatan downlink LTE bisa mencapai 250 Mbps sementara uplink berkisar 50 Mbps.

Bagi operator pengusung teknologi GSM, LTE  dipergunakan  untuk meningkatkan kapasitas dan kecepatan akses data.  Hal ini karena  dari aspek ketersediaan spektrum, LTE dapat  digunakan pada alokasi yang tersedia.

“Indonesia tentunya akan membutuhkan LTE di masa depan. Hal ini jika menilik kepada penggunaan jasa pita lebar bergerak (mobile broadband) yang mengalami eksponensial selama setahun ini,” ujar VP Product and Marketing Telkomsel Mark Chamber kepada Koran Jakarta, Jumat (23/10).

Berdasarkan catatan,  mobile broadband  di Indonesia digunakan  sekitar 10 juta pelanggan. Diperkirakan pada 2012 nanti, tingkat penetrasi dari broadband bisa mencapai 20 persen dari total  populasi.

Menurut Mark, masyarakat Indonesia saat ini dalam tahap edukasi tentang kegunaan dari broadband. Hal itu bisa dilihat dari kecenderungan mengakses pada situs jejaring sosial atau fasilitas chatting.

“Itu hal yang biasa dalam tahap awal pengenalan teknologi. Setelah itu akan muncul kreatifitas mengembangkan aplikasi. Nah, ketika aplikasi lokal ini dikembangkanlah dibutuhkan broadband dengan kecepatan yang lumayan tinggi. LTE bisa menjadi jawaban dari kebutuhan itu nantinya,” jelasnya.

VP Public Relations and Marketing Communication Telkom Eddy Kurnia menambahkan, guna mengantisipasi broadband dijadikan kendaraan untuk pengembangan aplikasi lokal, Telkom mendorong para kreator lokal dalam Indigo Award.

Indigo Award merupakan event tahunan sebagai ajang apresiasi dari seluruh kategori industri kreatif yang dinilai berhasil dan memberikan manfaat bagi masyarakat, lingkungan, dan dapat mendorong serta menciptakan peluang bisnis baru.

“Telkom sedang mentransformasi diri menjadi perusahaan berbasis  Telekomunikasi, Informasi, Media, dan Edutainment (TIME). Menampung para kreator ini salah satu implementasi dari Time,” jelasnya.
Menurut Eddy, alasan lain dipilihnya industri kreatif  karena perseroan menyakini sektor tersebut  mampu menumbuhkan kembali perekonomian Indonesia.

“Pasar dan sumber SDM kreatif di Indonesia sangat besar, yaitu sekitar 47 persen dari penduduk Indonesia. Industri kreatif juga diprediksi akan menciptakan lapangan kerja sekitar 5,4 juta lapangan kerja serta berkontribusi pada PDB sekitar 6,3 persen,” jelasnya..

Sementara itu, Head Of Sales & Marketing Radio Access Nokia Siemens Network (NSN) Markus Borchert mengungkapkan, mulai bulan depan perusahaannya akan melakukan uji coba teknologi LTE di Indonesia.

“Kami telah berhasil melakukan panggilan komersial pertama dengan LTE beberapa waktu lalu di laboratorium. Sebelumnya kita juga sudah menjual perangkat pemancar LTE ke beberapa operator. Saya rasa momentum LTE diluncurkan secara komersial tahun depan akan tercapai,” katanya.

Markus menjelaskan, dalam  lima tahu ke depan operator dimana pu akan menghadapi kondisi dimana trafik dari data akan meningkat secara eksponensial, tetapi tidak diikuti oleh melajunya pendapatan dari jasa tersebut.

“Setiap tahunnya pertumbuhan trafik itu bisa mencapai 300 persen, tetapi pendapatan berbanding terbalik. Jika dibiarkan ini akan membuat kondisi keuangan operator berdarahdarah karena investasi tidak kembali,” katanya.

Menurut Markus, jika operator memilih LTE untuk solusi peningkatan akses data maka bisa menghemat biaya investasi untuk pengembangan jaringan hingga 70 persen. “Tentunya ini akan membuta operator menjadi tidak khawatir untuk terus mengembangkan teknologi pita lebar,” katanya.[dni]

241009 Telkom Investasi Rp 3,2 Miliar untuk Logo Baru

JAKARTA—PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) menginvestasikan dana sebesar 3,2 miliar rupiah guna mengganti logo perusahaannya.

“Dana yang dikeluarkan sebesar itu tidak sekadar mengganti logo, tetapi juga menciptakan identitas merek baru dan mengganti semua logo lama di plasa Telkom. Kami menggunakan konsultan Brand Union untuk menggarap logo baru ini,” ujar Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah di Jakarta, Jumat (23/10).

Dijelaskannya, penggantian logo dari perusahaan yang berulang tahun ke 153 pada 23 Oktober ini  sebagai simbol transformasi bisnis Telkom dari InfoCom menjadi berbasis  Telecommunication, Information, Media and Edutainment (Time).

Ditambahkannya, hadirnya protfolio bisnis baru tersebut  sejalan dengan positioning baru Telkom yakni Life Confident dengan  tag line ‘the World in Your Hand’ yang bermakna keahlian dan dedikasi perushaaan  pada kemajuan akan memberikan keyakinan bagi semua pelanggan kami untuk mendukung kehidupan mereka di mana pun berada.

Hadirnya logo baru juga akan disertai budaya ataupun nilai-nilai baru yang kini tengah diinternalisasikan kepada seluruh pegawai meliputi expertise (mencerminkan tradisi pengetahuan dan pengalaman Telkom yang dalam dan luas dalam industrinya), empowering (memberdayakan pelanggan untuk mearih cita-cita mereka), assured (memberikan keyakinan pada pelanggan untuk bisa mengandalkan Telkom dalam industri telekomunikasi yang senantiasa berubah), progressive (menyiratkan pergerakan menuju teknologi yang lebih canggih dan menjauhi budaya yang terkait kepemerintahan),  dan heart (mewakili sikap kepedulian Telkom dalam bekerja sama dengan para pelanggan).

Menurut Rinaldi, transformasi kali ini adalah yang paling besar sepanjang sejarah Telkom, karena bersifat fundamental, menyeluruh dan terintegrasi yang menyentuh empat aspek dasar perusahaan, yakni transformasi bisnis, transformasi infrastruktur, transformasi sistem dan model operasi, serta transformasi human resources.

“Transformasi bisnis di tubuh Telkom merupakan sesuatu yang tak terelakkan. Di mana pun di dunia layanan wireline yang berbasis  Public Switch Telephone Network (PSTN)) sedang menghadapi fase menurun (decline) seiring berubahnya gaya hidup (lifestyle) masyarakat, dan karenanya perlu direvitalisasi,” jelasnya.

Itu sebabnya, Telkom lalu melakukan transformasi bisnisnya dengan merujuk konsep Time  demi menjaga pertumbuhan kompetitifnya secara berkesinambungan. Untuk mengantisipasi gaya hidup masa depan.  “Telkom beralih dari Separate Providers menuju Single Provider,” katanya.

Diungkapknnya, upaya Telkom dalam mempertahankan bisnis tradisionalnya dilakukan dengan mengoptimalkan jaringan legacy saluran kabel tetap (fixed wireline), melakukan penyelarasan terhadap layanan seluler dan fixed wireless access (FWA) dan memisahkan FWA sebagai unit bisnis tersendiri, serta merampingkan portofolio anak perusahaan (streamline subsidiary portfolio).

Diharapkannya, mulai fokusnya Telkom berbasis Time akan membuat  60 persen pendapatan dari industri new wave akan dikuasai oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tersebut.

New wave adalah bisnis baru di industri Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang tidak hanya mengandalkan sektor telekomunikasi tetapi beralih kepada konten, portal, media, dan solusi teknologi informasi dimana infrastruktur telekomunikasi dijadikan sebagai tulang punggungnya.

Saat ini new wave business  baru berkontribusi sekitar 20 persen bagi total pendapatan perseroan. Kontributornya dari anak usaha seperti Sigma Cipta Caraka atau Indonusa. Sedangkan kontributor terbesar tetap dari  sektor telekomunikasi sebesar 60 persen. [dni]