231009 Pendapatan Usaha Indosat Turun 1,8%

JAKARTA–Pendapatan usaha PT Indosat Tbk (Indosat) selama sembilan pertama tahun ini mencapai 13,4 triliun rupiah atau  turun sebesar 1,8 persen  dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Tidak hanya pendapatan usaha, Indosat juga mengalami penurunan untuk laba bersih perusahaan di sembilan bulan 2009.

Tercatat,  dalam 9 bulan pertama perseroan hanya membukukan laba bersih 1,45 triliun rupiah atau melemah  1,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

President Director dan CEO Indosat Harry Sasongko, menjelaskan, perseroan tetap akan menjalankan strategi mencari pelanggan berkualitas karena  mulai memperlihatkan hasil yang positif jika mengacu pada kinerja pertriwulanan.

“Pendapatan selular tumbuh di atas 5 dalam triwulan ketiga ini jika dibandingkan triwulan sebelumnya. Ini bisa didapat walaupun basis pelanggan kami berkurang hampir 20 persen dibandingkan tahun lalu,” jelasnya di Jakarta, Kamis (22/10).

Berdasarkan catatan, Indosat saat ini memiliki pelanggan mencapai jumlah sebesar 28,7 juta nomor.

Berkaitan dengan kinerja keuangan perseroan secara detail, Harry mengatakan, sedang menunggu hasil konsolidasi keuangan dari induk usaha, Qatar Telecom.

“Nanti jika sudah selesai konsolidasi akan ada pemaparan lebih detail,” jelasnya.[Dni]

231009 Kontribusi PNBP Depkominfo Ditargetkan 10 %

JAKARTA–Kontribusi Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari Departemen Komunikasi Informatika (Depkominfo) ditargetkan bisa mencapai 10 persen pada tahun depan.

Pada tahun ini PNBP dari Depkominfo sekitar 6 triliun rupiah atau berkontribusi sekitar 6,4 persen bagi total PNBP negara.

“Saya dengar kontribusi departemen ini mencapai 6,4 persen tahun ini. Jika bisa ditingkatkan menjadi 7 sampai 10 persen dan ada peluangnya tentu akan dikerjakan,” ujar Menkominfo Tifatul Sembiring di Jakarta, Kamis (22/10).

Dijelaskannya, peluang untuk meningkatkan PNBP bisa diraih melalui peningkatan konten lokal dan penggunaan manufaktur lokal oleh industri Telekomunikasi, Informasi, dan Komunikasi (TIK).

“Belanja TIK pertahunnya mencapai 70 triliun rupiah. Sayangnya, besaran dana tersebut dihabiskan untuk membeli perangkat ke luar negeri. Jika bisa didorong penggunaan manufaktur lokal tentu akan banyak penyerapan tenaga kerja lokal dan devisa bagi negara,” jelasnya.

Menurutnya, mendorong investasi di sektor TIK juga akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi negara.”Saya dengar investasi satu persen di sektor ini akan meningkatkan tiga persen pertumbuhan ekonomi. Ini harus bisa direalisasikan” jelasnya.

Berkaitan dengan program yang akan dikerjakan oleh Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu di Depkominfo, prioritasnya adalah mendorong teknologi informasi (TI) ke pendidikan, bisnis, dan birokrasi.

“Kita menargetkan ke depan tidak ada lagi urusan birokrasi diselesaikan dengan adanya uang kas dipegang pejabat pemerintah. Semua harus paper less berbasis TI,” katanya.

Sedangkan untuk program mikro yang akan dilakukan adalah program 100 desa komputer dalam waktu tiga bulan. Dan dalam lima tahun ke depan akan ada 10 ribu desa dengan komputer.

“Saya juga ingin menggalakkan penggunaan perangkat ramah teknologi. Misalnya BTS menggunakan kotoran sapi sebagai sumber energi. Ini nantinya akan bekerjasama dengan departemen pertanian,” katanya.

Sementara itu, Wakil Ketua Bidang Telematika Kadin, Anindya N Bakrie meminta Tifatul tetap melanjutkan koordinasi dengan sektor riil.

” Kadin sudah menyiapkan roadmap dari TIK untuk lima tahun ke depan. Semoga ini bisa menjadi awal diskusi yang baik dengan pemerintah membangun industri TIK,” harapnya.

Anindya mengharapkan, fokus dari menkominfo baru adalah mengisi keberhasilan pembangunan konektifitas yang berhasil dibangun pejabat lama.

“Lima tahun belakangan ini teledensitas sudah naik dari 12 persen menjadi sekitar 56 persen. Sekarang bagaimana mengisi konektifitas tersebut dengan jasa data,” jelasnya.

Menurut Anindya, pengisian jasa data tersebut akan didominasi oleh pengusaha dengan modal kecil karena yang diandalkan adalah kreatifitas.

“Nah, permasalahnnya di pengusaha ini adalah pemodalan. Kita harapkan pemerintah bisa merealisasikan ICT Fund bagi industri TIK,” katanya.

Masih menurut Anindya, jika 10 persen dari dana pungutan industri sebesar 7 triliun diberikan dalam bentuk ICT Fund, itu akan membantu para pengusaha kecil di sektor aplikasi dan perangkat lunak. “Kalau ini bisa direalisasikan maka dalam waktu 3 tahun jasa data ini penetrasinya akan menyamai teledensitas basic telephony,” jelasnya.[Dni]