201009 Transformasi Telkom: Pertaruhan Incumbent di Masa Depan

PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) pada 23 Oktober nanti akan berusia 153 tahun. Angka tersebut tentunya menunjukkan  usia yang sangat tua bagi  perusahaan yang menjadi andalan  dalam menyumbang dividen dan pajak bagi negara itu.

Namun, layaknya orang tua yang tengah berulang tahun, tentu selalu ada kejutan yang diberikan bagi kerabat yang merayakan. Hal ini juga yang ingin ditampilkan oleh Telkom bagi pasar telekomunikasi.

Telkom menegaskan dalam usia yang sudah tua masih mampu bersaing dengan melakukan transformasi bisnis dari perusahaan berbasis  InfoCom menjadi operator berbasis Telekomunikasi, IT services, Media, dan Edutainment (TIME). Penegasan itu juga ditandai dengan diluncurkannya logo baru milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tersebut.

Berdasarkan catatan, mentransformasi diri bagi Telkom bukanlah yang pertama dilakukan. Transformasi fase I dilakukan periode 1988-1997 dengan melakukan perubahan fundamental yakni mengubah budaya perusahaan.

Transformasi fase II dilakukan mulai 2002 hingga sekarang. Tujuh tahun lalu transformasi diarahkan dari perusahaan berbasis aset menjadi berfokus pada pelanggan. Setelah itu diubah dari perusahaan telekomunikasi menjadi infoCom. Terakhir, Time menjadi incaran oleh Telkom.

“Sebagai perusahaan Telkom sangat sehat kinerja keuangannya. Jika dilihat dari teori siklus perusahaan, Telkom sedang berada di posisi mature. Nah, untuk mengantisipasi agar tidak masuk ke titik penurunan, transformasi merupakan hal yang mutlak dilakukan,” ujar Direktur Enterprise & Whole Sale Telkom Arief Yahya di Jakarta, belum lama ini.

Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah menjelaskan, langkah transformasi ini juga sebagai jalan keluar yang diambil oleh perseroan untuk jasa telepon kabel yang terus menunjukkan penurunan kinerjanya.

“Jasa telepon kabel tidak hanya turun dari sisi pendapatan tetapi juga pelanggan. Time ini jawabannya, karena media dan edutainment bisa berjalan di infrastruktur kabel seperti Internet Protocol TV (IPTV),” jelasnya.

Rinaldi optimistis, jika transformasi berjalan lancar maka dalam  lima tahun ke depan  60 persen pendapatan dari industri new wave akan dikuasai  oleh Telkom karena pasar telah dikuasai dengan sekitar 100 juta pelanggan.

Angka itu terdiri dari 80 juta pelanggan seluler, 14 juta pelanggan Fixed Wireless Access (FWA), dan 8 juta pelanggan telepon kabel.

New wave adalah bisnis baru di industri Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang tidak hanya mengandalkan sektor telekomunikasi tetapi beralih kepada konten, portal, media, dan solusi teknologi informasi dimana infrastruktur telekomunikasi dijadikan sebagai tulang punggungnya.

Saat ini new wave business itu baru berkontribusi sekitar 20 persen bagi total pendapatan perseroan. Kontributornya dari anak usaha seperti Sigma Cipta Caraka atau Indonusa. Kontributor terbesar tetap sektor telekomunikasi sebesar 60 persen.

Rinaldi mengungkapkan, untuk memuluskan langkah menjadi perusahaan berbasis Time secara infrastruktur telah disiapkan backbone dan backhaul yang kuat agar bandwitdh tersedia lumayan besar. Sedangkan dari sisi Sumber Daya Manusia (SDM), sebanyak 9 ribu dari 25 ribu pegawai telah dilatih untuk siap menyambut era Time.

“Di portfolio Time ini masalah bandwitdh adalah utama karena nanti akan banyak konten yang berlalu-lalang. Inilah alasannya Telkom terus menambah backbone seperti ambil bagian di proyek Palapa Ring dan Asia America Gateway,” jelasnya.

Terlambat

Secara terpisah, Pengamat telematika Ventura Elisawati menilai langkah Telkom melakukan transformasi bisnis merupakan  hal yang normal karena perusahaan ini adalah pemimpin di pasar.

“Sebenarnya bagi perusahaan sekelas Telkom,  langkah ini  sudah terlambat.  Mungkin pimpinan Telkom baru melihat saat ini, ketika di sub sektor (media dan edutainment) yang akan dibidik sudah ada “raja-raja kecilnya” seperti   detik.com atau kompas.com,” katanya.

Menurut Ventura, kunci sukses dari transformasi   adalah pada kemampuan internal mengimplementasikan rencana manajemen puncak. “Kalau orang luar hanya ingin melihat hasilnya saja. Di internal harus benar-benar kompak untuk menuju Telkom berbasis Time. Jika tidak, ini akan jalan di tempat dan hanya merupakan ganti logo saja,” katanya.

Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi (BRTI) Heru Sutadi mengatakan, masalah SDM memang menjadi catatan penting dalam transformasi Telkom karena ini akan langsung berdampak kepada layanan ke pelanggan.

“Mental biasa dilayani harus diubah menjadi melayani pelanggan. Jika tidak,   inovasi cuma sekadar simbol,” ketusnya.

Heru juga meminta Telkom mulai melirik  pasar internasional karena tak lama lagi pasar domestik  akan jenuh.

“Rasanya aneh, perusahaan asal Malaysia atau Qatar yang secara aset kalah dari Telkom bisa bermain di Indonesia. Kenapa Telkom tidak berani melakukan hal yang sama di luar negeri?. Padahal sudah diakui oleh dunia internasional pasar Indonesia paling keras kompetisinya dan Telkom selamat dari perperangan itu,” katanya.

Pesaing Mengintip

Menanggapi langkah yang dilakukan oleh Telkom, Wakil Direktur Utama Bidang Pemasaran Bakrie Telecom Erik Meijer menjelaskan, dalam melihat masa depan masing-masing operator memiliki strategi yang berbeda, sehingga implementasi dan konsepnya berbeda pula.

“Satu hal yang pasti,  industri dan terutama kebutuhan konsumen berubah terus sehingga semua pemain di pasar harus menyesuaikan. Inilah alasan operator berpindah mencari “laut” baru untuk diarungi,” jelasnya.

Erik menegaskan, Bakrie Telecom dalam menghadapi perubahan di industri tidak akan mengubah konsepnya sebagai budget operator karen 75 persen dari  230 juta penduduk Indonesia masih tetap mencari budget operator.

“Soal inovasi itu  bisa dilakukan dalam berbagai hal. Ada yang mau jauh-jauh  ke “laut” lain, tetapi  ada yang cukup memberbaiki “laut” yg ada. salah satu inovasi yang akan dilakukan Bakrie Telecom adalah   mulai mengintegrasikan jasa multimedia dalam kelompok usahanya,” kilahnya.

Sementara Presiden Direktur XL Hasnul Suhaimi mengakui, sebagai perusahaan telekomunikasi tidak bisa selamanya mengandalkan pada jasa suara dan SMS. “Dua jasa itu akan jenuh tak lama lagi. Secara bertahap XL akan menggarap jasa data. Ini sudah dimulai dengan BlackBerry atau akses data 3G,” jelasnya.

Hasnul menegaskan, mulai tahun depan sebagai bentuk komitmen mengembangkan jasa data, XL akan menambah lebar pita frekuensi 3G sebesar 5 MHz walaupun harus merogoh kocek sebesar 160 miliar rupiah.

“Tahun ini kami menahan diri karena program peningkatan kapasitas sedang berjalan. Tetapi tahun depan, XL harus menambah frekuensi. Harapan kami, harganya bisa turun, jika pemerintah menginginkan harga internet makin murah,” katanya.[dni]

3 Komentar

  1. Pandangan saya tentang transformasi ke T.I.M.E bukanlah melihat Telkom sebagai pesaing pemain yang sudah ada, tetapi akan membuka infrastruktur distribusi baru karena distribusi konten dan media masih jauh dari potensi yang ada.

    Ini adalah tulisan saya tentang ini: Geliat Telkom Gerakkan Dunia Media, Informasi dan Digital Entrepreneur http://bit.ly/16xiMM

    • Saya sudah baca artikel Bapak. Sangat menarik dan very optimistic. Tapi masalah Telkom, ini adalah eksekusi dan SDM. Jika dua ini tidak tepat diawasi, maka akan jadi ejakulasi dini bagi perusahaan ini.

  2. Saya setuju. In the end it’s all about execution. Model yang saya sampaikan di atas pasti akan dilakukan oleh pelaku industri, bisa saja itu Telkom, bisa pula kompetitornya. Mari kita berharap yang terbaik bahwa jika platform ini muncul, terlepas bahwa itu disediakan oleh Telkom atau kompetitornya, maka akan menumbuh kembangkan bisnis konten karena ketersediaan platform.

    Regards,

    Andi S. Boediman


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s