201009 Berharap Pada E-Commerce

Keinginan dari Telkom untuk mentransformasi diri dan fokus di bidang Telekomunikasi, IT services, Media dan Edutainment (TIME) sepertinya tidak main-main.
Pada tahun depan saja sudah disiapkan dana sebesar dua hingga 2,1 miliar dollar AS untuk memuluskan langkah tersebut. Anak usaha yang tidak sejalan dengan bisnis Time pun rencananya akan dilepas. Tercatat dua anak usaha dalam proses pelepasan yakni Patrakom dan Citra Sari Makmur (CSM). Kedua perusahaan ini bergerak di jasa Very Small Aperture Terminal (VSAT).
“Telkom lemah di media dan edutainment. Rencananya akan ada dua perusahaan konten yang  diakuisisi. Sedangkan untuk infrastruktur akan diperkuat dengan menyelesaikan akusisi Solusi Kreasindo Pratama (SKP),” ungkap Direktur Utama Telkom Rinaldi di Jakarta, akhir pekan lalu.
SKP adalah perusahaan penyedia menara dengan merek dagang Indonesian Tower. Telkom sendiri salah satu pemimpin di pasar menara dengan memiliki 1.600 menara dan menghasilkan pendapatan 280 miliar rupiah bagi perseroan tahun ini.

Rinaldi menjelaskan, perseroan telah menyiapkan  tiga strategi untuk menutupi kelemahan di sektor media dan edutainment yaitu   injeksi dana, akuisisi, atau  beraliansi dengan perusahaan eksisting yang telah lama bermain di kedua sektor itu.

Direktur Enterprise & Whole Sale Telkom Arief Yahya menambahkan, di industri jika dilihat secara valuasi bisnis maka sebuah portal memiliki nilai pendapatan sebesar 7,8 kali, media (1,5 kali), sedangkan telekomunikasi (0,9 kali).

“Walaupun secara uang yang didapat dari  telekomunikasi itu besar, tetapi dimasa depan   portal dan konten yang akan menjadi primadona,” jelasnya.

Arief mengungkapkan, saat ini Telkom sedang menyiapkan  pembuatan  super portal seperti Yahoo dan Google yang akan menawarkan multi konten, aplikasi, community tools, dan e-commerce.

“Aplikasi yang diandalkan dari super portal itu nantinya  adalah e-commerce. Hal ini karena akan bersinggungan dengan jasa lain yang dikembangkan Telkom seperti Internet Protocol TV (IPTV) yang juga memiliki aplikasi home shopping,” ungkap Chief Executive Officer Bubu Internet, Shinta Witoyo Dhanuwardoyo, di Jakarta, akhir pekan lalu.

Shinta kebetulan didapuk oleh Telkom sebagai profesional yang akan menjalankan super portal tersebut nantinya. Super portal itu akan menjadi perusahaan baru  yang dimiliki Telkom melalui anak usaha  Metranet. Rencananya super portal akan diluncurkan secara resmi tahun depan.

Menurut Shinta, langkah Telkom untuk bermain di konten harus diapresiasi karena akan menumbuhkan konten lokal sehingga bandwitdh tidak lari ke luar negeri. “Telkom nantinya akan memberikan fasilitas untuk mengembangkan konten. Ini kan bagus, Jadinya, para pengusaha kecil yang mau menjual barangnya memiliki toko virtual dengan fasilitas Telkom,” jelasnya.

Shinta optimistis, e-commerce yang digelar Telkom akan dilirik pasar karena diselenggarakan oleh merek terkenal dengan dukungan pengamanan yang ketat.

“Kita akui pasar e-commerce memang kecil. Tetapi lihat saja fenomena di jejaring sosial seperti facebook yang banyak dimanfaatkan untuk berjualan produk. Sayang sekali kalau bisa dijalankan di portal lokal, kenapa harus diambil pemain luar,” jelasnya.

Secara terpisah, Pengamat Telematika Ventura Elisawati mengakui, mengembangkan e-commerce tidaklah akan mudah karena  melibatkan banyak pihak yang terkait. Hal itu bisa dilihat dari  model otorisasinya, clearing, sampai bentuk exchange-nya. “Belum lagi masalah  security dan  regulasinya. Jadi ini memang pekerjaan rumah  untuk  semua pihak terkait,” katanya.

Sementara Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi menyakini,     e-commerce perlahan akan tumbuh di Indonesia  khususnya,  mobile money dan e-banking. “Sekarang orang bisa pesan sepeda, beli kerajinan, furniture, sampai hamster lewat internet. Ini masalah membuatnya menjadi budaya saja karena masyarakat masih suka melihat barang secara langsung sebelum membeli,” katanya.

Heru pun meminta,  para pemain di industri konten tidak curiga dengan langkah Telkom masuk ke bisnis konten. “Jangan curiga dulu kalau Telkom akan mencaplok ladang pengembang konten. Kalau sudah curiga dulu, bisa jadi industri konten tidak akan berkembang di Indonesia,” ujarnya.

Heru menyakini Telkom tidak akan melakukan langkah yang sama sebagai Network Access Provider (NAP) yang juga memiliki lisensi Internet Sevices Provider (ISP) dengan masuk hingga ke tingkat hilir dalam industri jasa internet. “Rasanya Telkom akan hanya menjadi fasilitator dan menikmati trafik,” jelasnya.

Heru menyarankan dalam mengembangkan konten Telkom melakukan  partnership dimana yang besar  membina dan merangkul mitranya untuk menjadi   inkubator. “Sebab tidak semua bisa dilayani dan dihasilkan operator besar seorang diri. Hal ini karena dalam industri ICT selalu ada  saling membutuhkan dan masing-masing memiliki  segmentasi,” jelasnya.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s