201009 BHP Berbasis Pita Berdampak Positif

Penarikan Biaya Hak Penggunaan (BHP) frekuensi berbasis pita dinilai akan berdampak positif bagi industri telekomunikasi karena memberikan keadilan bagi para operator.

“Ini akan memberikan keadilan bagi operator telekomunikasi terutama terhadap kewajiban dan haknya seperti yang diatur dalam lisensi modern,” ujar Direktur Utama Telkomsel Sarwoto Atmosutarno di Jakarta, Senin (19/10).

Menurut Sarwoto, penarikan berbasis pita akan mendorong operator untuk efektif dan efisien dalam mengelola frekuensi karena berkaitan dengan pembayaran BHP ke negara. “Tidak ada lagi namanya frekuensi dibiarkan menganggur. Jika itu yang terjadi, operatornya rugi karena BHP dibayar secara gelondongan,” jelasnya.

Sementara  Direktur Utama  Mobile-8 Telecom Merza Fachys mengingatkan, meskipun penarikan secara pita itu memberikan keuntungan bagi negara, tetapi diharapkan bisa  mencermati adanya asas keadilan dan kesetaraan terhadap nilai frekuensi di tiap-tiap alokasinya. “Perubahan penarikan BHP ini akan memberatkan operator kecil,” katanya.

Sebelumnya, pemerintah berniat mengubah pola perhitungan BHP  frekuensi untuk jaringan seluler dan telepon tetap nirkabel dari berbasis izin stasiun radio (ISR) ke basis lebar pita.

Perubahan pola itu dimaksudkan untuk mendorong optimalisasi penggunaan frekuensi oleh penyelenggara telekomunikasi seluler dan fixed wireless access (FWA) atau telepon tetap nirkabel.

Langkah ini diambil   karena spektrum frekuensi adalah suatu sumber daya alam yang terbatas, sangat vital dan merupakan aset nasional yang memerlukan kehati-hatian dalam mengaturnya.

Pemerintah bermaksud memperkenalkan regulasi BHP pita untuk diterapkan kepada para pengguna pita spektrum frekuensi radio sesuai amanat Peraturan Menteri Kominfo No.17/2005 tentang Tata Cara Perizinan Dan Ketentuan Operasional Penggunaan Spektrum Frekuensi Radio paling lambat 2010.

Secara terpisah, Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi mengatakan,  secara logika dengan perhitungan berbasis lebar pita, maka makin banyak operator menguasai frekuensi, semakin besar BHP yang harus dikeluarkannya.

“Perhitungan BHP memang diarahkan berbasis ebar pitaagar pemanfaatan frekuensi menjadi lebih optimal dan secara administratif pengawasannya lebih mudah,” ujarnya.[dni]

201009 NSN Gandeng Juniper Network

JAKARTA—Nokia Siemens Network (NSN) menggandeng  Juniper Network  untuk menghadirkan solusi end-to-end carrier ethernet kepada para pelanggan.

Carrier ethernet adalah pengembangan dari ethernet tradisional sehingga teknologi ini bisa digunakan tidak sekadar untuk jaringan lokal (LAN) melainkan juga untuk jaringan yang lebih luas seperti Wide Area Network (WAN).

Biasanya, dari sisi  jangkauan ethernet tradisional hanya mampu menghubungkan komputer-komputer dalam satu gedung, sementara carrier ethernet bisa menjangkau komputer-komputer dalam satu kota, satu negara, bahkan lain negara.

Sementara bila ethernet biasa hanya menggunakan kabel Cat5, Fiber atau nirkabel dalam teknologi transportnya, sementara carrier ethernet bisa mengunakan teknologi transport lain seperti T1/ E1, T3/E3 atau SONET/SDH.

“Kami sepakat   melakukan joint venture untuk menyediakan solusi carrier ethernet untuk mobile backhaul, layanan bisnis, maupun jaringan broadband untuk perumahan,” ujar Global Alliance Director Juniper Networks Ben Jacobson, di Jakarta, Senin (19/10).

Dijelaskanya, carrier ethernet  dipercaya menawarkan fungsi komprehensif dalam hal skalabilitas, kualitas layanan, keandalan serta ketersediaan jaringan serta layanannya pada layanan IP/ MPLS, yang diklaim mampu memberikan penghematan biaya hingga 30 persen.

“Solusi kami memberikan sistem manajemen jaringan ‘point and click’ kepada operator untuk memastikan tercapainya quality of service,” ujarnya.

Menurut dia, solusi tersebut menggabungkan keahlian Juniper di bidang perangkat jaringan dengan keahlian NSN dalam  teknologi optik. Ia memadukan teknologi IP routing Juniper pada produk MX Series Ethernet Services Routers dengan teknologi optik Nokia Siemens, melalui produk A-Series Carrier Ethernet Switches.

Router-router Juniper, seperti MX960, MX480, MX240 menyediakan kemampuan hi port -density routing dan switching yang memungkinkan penghematan daya listrik, ruang, serta biaya pendinginan hingga 50 persen.

Sementara produk A-series Carrier ethernet switching milik NSN  menyediakan jalur evolusi dari jaringan TDM (Time Division Multiplexing) ke generasi teknologi transportasi ethernet berikutnya (sekelas SDH).

“Jadinya,   solusi ini dipercaya akan mampu membawa trafik suara dan data dengan volume yang lebih tinggi, dengan biaya yang lebih rendah.Berbeda dengan kebanyakan jaringan yang ada saat ini dibuat khusus untuk mentransmisikan informasi suara ,” katanya.[dni]

201009 Berharap Pada E-Commerce

Keinginan dari Telkom untuk mentransformasi diri dan fokus di bidang Telekomunikasi, IT services, Media dan Edutainment (TIME) sepertinya tidak main-main.
Pada tahun depan saja sudah disiapkan dana sebesar dua hingga 2,1 miliar dollar AS untuk memuluskan langkah tersebut. Anak usaha yang tidak sejalan dengan bisnis Time pun rencananya akan dilepas. Tercatat dua anak usaha dalam proses pelepasan yakni Patrakom dan Citra Sari Makmur (CSM). Kedua perusahaan ini bergerak di jasa Very Small Aperture Terminal (VSAT).
“Telkom lemah di media dan edutainment. Rencananya akan ada dua perusahaan konten yang  diakuisisi. Sedangkan untuk infrastruktur akan diperkuat dengan menyelesaikan akusisi Solusi Kreasindo Pratama (SKP),” ungkap Direktur Utama Telkom Rinaldi di Jakarta, akhir pekan lalu.
SKP adalah perusahaan penyedia menara dengan merek dagang Indonesian Tower. Telkom sendiri salah satu pemimpin di pasar menara dengan memiliki 1.600 menara dan menghasilkan pendapatan 280 miliar rupiah bagi perseroan tahun ini.

Rinaldi menjelaskan, perseroan telah menyiapkan  tiga strategi untuk menutupi kelemahan di sektor media dan edutainment yaitu   injeksi dana, akuisisi, atau  beraliansi dengan perusahaan eksisting yang telah lama bermain di kedua sektor itu.

Direktur Enterprise & Whole Sale Telkom Arief Yahya menambahkan, di industri jika dilihat secara valuasi bisnis maka sebuah portal memiliki nilai pendapatan sebesar 7,8 kali, media (1,5 kali), sedangkan telekomunikasi (0,9 kali).

“Walaupun secara uang yang didapat dari  telekomunikasi itu besar, tetapi dimasa depan   portal dan konten yang akan menjadi primadona,” jelasnya.

Arief mengungkapkan, saat ini Telkom sedang menyiapkan  pembuatan  super portal seperti Yahoo dan Google yang akan menawarkan multi konten, aplikasi, community tools, dan e-commerce.

“Aplikasi yang diandalkan dari super portal itu nantinya  adalah e-commerce. Hal ini karena akan bersinggungan dengan jasa lain yang dikembangkan Telkom seperti Internet Protocol TV (IPTV) yang juga memiliki aplikasi home shopping,” ungkap Chief Executive Officer Bubu Internet, Shinta Witoyo Dhanuwardoyo, di Jakarta, akhir pekan lalu.

Shinta kebetulan didapuk oleh Telkom sebagai profesional yang akan menjalankan super portal tersebut nantinya. Super portal itu akan menjadi perusahaan baru  yang dimiliki Telkom melalui anak usaha  Metranet. Rencananya super portal akan diluncurkan secara resmi tahun depan.

Menurut Shinta, langkah Telkom untuk bermain di konten harus diapresiasi karena akan menumbuhkan konten lokal sehingga bandwitdh tidak lari ke luar negeri. “Telkom nantinya akan memberikan fasilitas untuk mengembangkan konten. Ini kan bagus, Jadinya, para pengusaha kecil yang mau menjual barangnya memiliki toko virtual dengan fasilitas Telkom,” jelasnya.

Shinta optimistis, e-commerce yang digelar Telkom akan dilirik pasar karena diselenggarakan oleh merek terkenal dengan dukungan pengamanan yang ketat.

“Kita akui pasar e-commerce memang kecil. Tetapi lihat saja fenomena di jejaring sosial seperti facebook yang banyak dimanfaatkan untuk berjualan produk. Sayang sekali kalau bisa dijalankan di portal lokal, kenapa harus diambil pemain luar,” jelasnya.

Secara terpisah, Pengamat Telematika Ventura Elisawati mengakui, mengembangkan e-commerce tidaklah akan mudah karena  melibatkan banyak pihak yang terkait. Hal itu bisa dilihat dari  model otorisasinya, clearing, sampai bentuk exchange-nya. “Belum lagi masalah  security dan  regulasinya. Jadi ini memang pekerjaan rumah  untuk  semua pihak terkait,” katanya.

Sementara Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi menyakini,     e-commerce perlahan akan tumbuh di Indonesia  khususnya,  mobile money dan e-banking. “Sekarang orang bisa pesan sepeda, beli kerajinan, furniture, sampai hamster lewat internet. Ini masalah membuatnya menjadi budaya saja karena masyarakat masih suka melihat barang secara langsung sebelum membeli,” katanya.

Heru pun meminta,  para pemain di industri konten tidak curiga dengan langkah Telkom masuk ke bisnis konten. “Jangan curiga dulu kalau Telkom akan mencaplok ladang pengembang konten. Kalau sudah curiga dulu, bisa jadi industri konten tidak akan berkembang di Indonesia,” ujarnya.

Heru menyakini Telkom tidak akan melakukan langkah yang sama sebagai Network Access Provider (NAP) yang juga memiliki lisensi Internet Sevices Provider (ISP) dengan masuk hingga ke tingkat hilir dalam industri jasa internet. “Rasanya Telkom akan hanya menjadi fasilitator dan menikmati trafik,” jelasnya.

Heru menyarankan dalam mengembangkan konten Telkom melakukan  partnership dimana yang besar  membina dan merangkul mitranya untuk menjadi   inkubator. “Sebab tidak semua bisa dilayani dan dihasilkan operator besar seorang diri. Hal ini karena dalam industri ICT selalu ada  saling membutuhkan dan masing-masing memiliki  segmentasi,” jelasnya.[dni]

201009 Transformasi Telkom: Pertaruhan Incumbent di Masa Depan

PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) pada 23 Oktober nanti akan berusia 153 tahun. Angka tersebut tentunya menunjukkan  usia yang sangat tua bagi  perusahaan yang menjadi andalan  dalam menyumbang dividen dan pajak bagi negara itu.

Namun, layaknya orang tua yang tengah berulang tahun, tentu selalu ada kejutan yang diberikan bagi kerabat yang merayakan. Hal ini juga yang ingin ditampilkan oleh Telkom bagi pasar telekomunikasi.

Telkom menegaskan dalam usia yang sudah tua masih mampu bersaing dengan melakukan transformasi bisnis dari perusahaan berbasis  InfoCom menjadi operator berbasis Telekomunikasi, IT services, Media, dan Edutainment (TIME). Penegasan itu juga ditandai dengan diluncurkannya logo baru milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tersebut.

Berdasarkan catatan, mentransformasi diri bagi Telkom bukanlah yang pertama dilakukan. Transformasi fase I dilakukan periode 1988-1997 dengan melakukan perubahan fundamental yakni mengubah budaya perusahaan.

Transformasi fase II dilakukan mulai 2002 hingga sekarang. Tujuh tahun lalu transformasi diarahkan dari perusahaan berbasis aset menjadi berfokus pada pelanggan. Setelah itu diubah dari perusahaan telekomunikasi menjadi infoCom. Terakhir, Time menjadi incaran oleh Telkom.

“Sebagai perusahaan Telkom sangat sehat kinerja keuangannya. Jika dilihat dari teori siklus perusahaan, Telkom sedang berada di posisi mature. Nah, untuk mengantisipasi agar tidak masuk ke titik penurunan, transformasi merupakan hal yang mutlak dilakukan,” ujar Direktur Enterprise & Whole Sale Telkom Arief Yahya di Jakarta, belum lama ini.

Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah menjelaskan, langkah transformasi ini juga sebagai jalan keluar yang diambil oleh perseroan untuk jasa telepon kabel yang terus menunjukkan penurunan kinerjanya.

“Jasa telepon kabel tidak hanya turun dari sisi pendapatan tetapi juga pelanggan. Time ini jawabannya, karena media dan edutainment bisa berjalan di infrastruktur kabel seperti Internet Protocol TV (IPTV),” jelasnya.

Rinaldi optimistis, jika transformasi berjalan lancar maka dalam  lima tahun ke depan  60 persen pendapatan dari industri new wave akan dikuasai  oleh Telkom karena pasar telah dikuasai dengan sekitar 100 juta pelanggan.

Angka itu terdiri dari 80 juta pelanggan seluler, 14 juta pelanggan Fixed Wireless Access (FWA), dan 8 juta pelanggan telepon kabel.

New wave adalah bisnis baru di industri Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang tidak hanya mengandalkan sektor telekomunikasi tetapi beralih kepada konten, portal, media, dan solusi teknologi informasi dimana infrastruktur telekomunikasi dijadikan sebagai tulang punggungnya.

Saat ini new wave business itu baru berkontribusi sekitar 20 persen bagi total pendapatan perseroan. Kontributornya dari anak usaha seperti Sigma Cipta Caraka atau Indonusa. Kontributor terbesar tetap sektor telekomunikasi sebesar 60 persen.

Rinaldi mengungkapkan, untuk memuluskan langkah menjadi perusahaan berbasis Time secara infrastruktur telah disiapkan backbone dan backhaul yang kuat agar bandwitdh tersedia lumayan besar. Sedangkan dari sisi Sumber Daya Manusia (SDM), sebanyak 9 ribu dari 25 ribu pegawai telah dilatih untuk siap menyambut era Time.

“Di portfolio Time ini masalah bandwitdh adalah utama karena nanti akan banyak konten yang berlalu-lalang. Inilah alasannya Telkom terus menambah backbone seperti ambil bagian di proyek Palapa Ring dan Asia America Gateway,” jelasnya.

Terlambat

Secara terpisah, Pengamat telematika Ventura Elisawati menilai langkah Telkom melakukan transformasi bisnis merupakan  hal yang normal karena perusahaan ini adalah pemimpin di pasar.

“Sebenarnya bagi perusahaan sekelas Telkom,  langkah ini  sudah terlambat.  Mungkin pimpinan Telkom baru melihat saat ini, ketika di sub sektor (media dan edutainment) yang akan dibidik sudah ada “raja-raja kecilnya” seperti   detik.com atau kompas.com,” katanya.

Menurut Ventura, kunci sukses dari transformasi   adalah pada kemampuan internal mengimplementasikan rencana manajemen puncak. “Kalau orang luar hanya ingin melihat hasilnya saja. Di internal harus benar-benar kompak untuk menuju Telkom berbasis Time. Jika tidak, ini akan jalan di tempat dan hanya merupakan ganti logo saja,” katanya.

Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi (BRTI) Heru Sutadi mengatakan, masalah SDM memang menjadi catatan penting dalam transformasi Telkom karena ini akan langsung berdampak kepada layanan ke pelanggan.

“Mental biasa dilayani harus diubah menjadi melayani pelanggan. Jika tidak,   inovasi cuma sekadar simbol,” ketusnya.

Heru juga meminta Telkom mulai melirik  pasar internasional karena tak lama lagi pasar domestik  akan jenuh.

“Rasanya aneh, perusahaan asal Malaysia atau Qatar yang secara aset kalah dari Telkom bisa bermain di Indonesia. Kenapa Telkom tidak berani melakukan hal yang sama di luar negeri?. Padahal sudah diakui oleh dunia internasional pasar Indonesia paling keras kompetisinya dan Telkom selamat dari perperangan itu,” katanya.

Pesaing Mengintip

Menanggapi langkah yang dilakukan oleh Telkom, Wakil Direktur Utama Bidang Pemasaran Bakrie Telecom Erik Meijer menjelaskan, dalam melihat masa depan masing-masing operator memiliki strategi yang berbeda, sehingga implementasi dan konsepnya berbeda pula.

“Satu hal yang pasti,  industri dan terutama kebutuhan konsumen berubah terus sehingga semua pemain di pasar harus menyesuaikan. Inilah alasan operator berpindah mencari “laut” baru untuk diarungi,” jelasnya.

Erik menegaskan, Bakrie Telecom dalam menghadapi perubahan di industri tidak akan mengubah konsepnya sebagai budget operator karen 75 persen dari  230 juta penduduk Indonesia masih tetap mencari budget operator.

“Soal inovasi itu  bisa dilakukan dalam berbagai hal. Ada yang mau jauh-jauh  ke “laut” lain, tetapi  ada yang cukup memberbaiki “laut” yg ada. salah satu inovasi yang akan dilakukan Bakrie Telecom adalah   mulai mengintegrasikan jasa multimedia dalam kelompok usahanya,” kilahnya.

Sementara Presiden Direktur XL Hasnul Suhaimi mengakui, sebagai perusahaan telekomunikasi tidak bisa selamanya mengandalkan pada jasa suara dan SMS. “Dua jasa itu akan jenuh tak lama lagi. Secara bertahap XL akan menggarap jasa data. Ini sudah dimulai dengan BlackBerry atau akses data 3G,” jelasnya.

Hasnul menegaskan, mulai tahun depan sebagai bentuk komitmen mengembangkan jasa data, XL akan menambah lebar pita frekuensi 3G sebesar 5 MHz walaupun harus merogoh kocek sebesar 160 miliar rupiah.

“Tahun ini kami menahan diri karena program peningkatan kapasitas sedang berjalan. Tetapi tahun depan, XL harus menambah frekuensi. Harapan kami, harganya bisa turun, jika pemerintah menginginkan harga internet makin murah,” katanya.[dni]

201009 Axis Garap Akses Data

JAKARTA–Pemain baru di dunia seluler, Axis, semakin serius menggarap pasar akses data.

“Kami melihat potensi pasar data lumayan besar. Axis ingin menawarkan akses ini dengan tarif terjangkau,” ujar Chief Marketing Officer Axis Johan Buse di Jakarta, belum lama ini.

Dijelaskannya, Axis membanderol harga paket datanya secara harian,mingguan, dan bulanan  dengan biaya lebih murah hingga 60 persen dibanding tarif layanan data milik operator lain.

Misalnya saja untuk tarif data harian, Axis membanderol harga 1.500 rupiah  untuk pemakaian data dengan kuota hingga 2MB.

Sedangkan paket mingguan dikenakan 8 ribu rupiah  untuk kuota 10MB. Bagi paket data bulanan 100 MB dikenakan biaya 40 ribu rupiah,  untuk 500 MB per bulan dikenakan 100 ribu rupiah, dan paket data unlimited dikenakan biaya 400 ribu rupiah   per bulan.

Menurut dia, dengan paket layanan data Axis, para pelanggan dapat memutuskan berapa jumlah data yang akan digunakan dan memanfaatkan semaksimal mungkin perangkat telepon tanpa perlu mengkhawatirkan masalah biaya, dengan catatan penggunanaan wajar pada  paket layanan data tanpa batas adalah 5GB per bulan.

“Kami juga mulai berjualan BlackBerry Gemini dengan banderol harga 3,5 juta rupiah yang dipaketkan bersama Axis Worry Free mulai 15 Oktober lalu. Penjualan Gemini ini tentu bisa mendongkrak penggunaan akses data Axis,” katanya

Secara terpisah, Direktur Utama XL Hasnul Suhaimi mengungkapkan, guna   mempermudah pelanggan  memilih sendiri berbagai layanan bertarif murah dari XL, pihaknya  Single Access *123#.

Diakuinya,   *123# memang bukan hal yang baru. Namun, kini pelanggan akan bisa memperolebih banyak layanan XL melalui kode akses *123#. Setiap pelanggan bisa memilih sendiri layanan yang dikehendaki, baik paket-paket layanan, selain juga untuk sekadar untuk mengecek sisa pulsa atau mengetahui hot offer yang tersedia.

“Program promosi kami sangat banyak misalnya tarif CDMA ala XL atau paket internetan. Kalau dihapal masing-masing kan susah, makanya cukup akses short code tersebut,”jelasnya.[dni]