191009 2014, Telkom Bidik 60% Pendapatan Industri “New Wave”

JAKARTA—PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) dalam waktu lima tahun ke depan membidik 60 persen pendapatan dari industri new wave akan dikuasai oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tersebut.

New wave adalah bisnis baru di industri Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang tidak hanya mengandalkan sektor telekomunikasi tetapi beralih kepada konten, portal, media, dan solusi teknologi informasi dimana infrastruktur telekomunikasi dijadikan sebagai tulang punggungnya.

“Saat ini new wave business itu baru berkontribusi sekitar 20 persen bagi total pendapatan perseroan. Kontributornya dari anak usaha seperti Sigma Cipta Caraka atau Indonusa. Kontributor terbesar tetap sektor telekomunikasi sebesar 60 persen,” jelas Direktur Utama Rinaldi Firmansyah di Jakarta, akhir pekan lalu.

Dijelaskannya, di industri TIK sendiri secara total new wave masih kecil nilai bisnisnya dibandingkan kontribusi sektor telekomunikasi. “Kami sedang melakukan riset pasar nilainya. Tetapi belum sebesar sektor telekomunikasilah,” katanya.

Selanjutnya Rinaldi mengungkapkan, untuk mencapai target perseroan dalam lima tahun ke depan tersebut, manajemen mulai melakukan transformasi bisnis dari hanya perusahaan yang bergerak di bidang telekomunikasi, melebarkan sayapnya ke bisnis Telekomunikasi, IT services, Media dan Edutainment (TIME).

Diungkapkannya, konsekuensi dari transformasi ini adalah kemungkinan perseroan akan melepas anak usaha yang tidak sesuai dengan roadmap atau mengakuisisi perusahaan untuk merealisasikan target.

“Ada tiga startegi yang dilakukan. Pertama injeksi dana. Kedua, akuisisi, atau ketiga beraliansi dengan perusahaan eksisting yang telah lama bermain di media dan edutainment. Kami lemah di dua itu. Kalau telekomunikasi dan IT Services, kita sudah oke,” katanya.

Anak usaha yang mungkin akan dilepas oleh Telkom adalah Patrakom dan CSM. Sedangkan dua perusahaan konten tengah dibidik oleh operator pelat merah ini.

“Kami juga memperkuat infrastruktur dengan segera menyelesaikan akusisi penyedia menara Solusi Kreasindo Pratama (SKP). Sebenatr lagi proses akuisisi akan selesai,” katanya.

Menurut Rinaldi, Telkom memutuskan melakukan transformasi bisnis
secara menyeluruh dan mendasar disebabkan adanya kebutuhan pasar yang mendesak.

“Sehingga kami harus merubah strategi, dimana diikuti dengan
perubahan logo dan tagline perusahaan. Kami punya moto The World is in Your Hand,” ungkapnya.

Sayangnya, Rinaladi enggan mengungkapkan dana yang dibutuhkan untuk menjalankan transformasi tersebut dalam lima tahun  kedepan.  “Kalau tahun depan minimal sama dengan tahun ini investasinya sekitar 2-2,1 miliar dollar AS,” tambahnya.

Direktur Enterprise & Whole Sale Telkom Arief Yahya menambahkan, salah satu strategi yang akan dilakukan dalam bisnis TIME ini adalah direalisasikannya pembuatan  super portal seperti Yahoo dan Google.

“Super portal ini, pendapatannya mungkin kecil, tetapi nilai pasarnya sangat tinggi. Sedangkan di sisi Media dan Edutainment, rencananya
Telkom akan segera meluncurkan  Internet Protocol TV.
(IPTV),” ungkapnya.

Arief optimistis , adanya  transformasi bisnis ini, perusahaan yang akan  menjadi pelanggan Telkom  mencapai 6.500 perusahaan. “Ini angka yang cukup besar dan tentunya bisa mendorong pendapatan Telkom yang lebih besar lagi,” tambahnya.

Secara terpisah, Pengamat Telematika Bayu Samudiyo menilai diversifikasi usaha Telkom ke bisnis Time salah satu momentum penting bagi Telkom untuk  berubah menjadi perusahaan yang lebih “cepat tanggap” terhadap perubahan jaman dan kebutuhan pasar dengan tidak mengandalkan telekomunikasi sebagai core income .

“Ini adalah langkah besar dan berani karena  investasi untuk Time ini cukup mahal,” katanya.

Bayu mengingatkan,  kunci sukses dari transformasi itu adalah  di eksekusi. Bila realisasinya bisa seperti yang direncanakan yaitu “Pengalaman baru dg layanan yang lebih baik dari operator mana pun”,  itu artinya sebuah revolusi  dalam tubuh organisasi Telkom itu sendiri dan akan menjadikan Telkom sebagai salah satu perusahaan dengan pelayanan terbaik.

“Ini bukan hal mudah dicapai. Namun bila benar-benar  terwujud, ini akan menjadi sebuah prestasi besar untuk direksi Telkom dan akan membuat harga saham Telkom melambung tinggi kelak,” katanya.[dni]

191009 Belum Mau Bikin Sendiri

Istilah telepon seluler (ponsel) merek lokal mulai berkembang di pasar  Indonesia  pada tahun lalu.

Istilah itu digunakan untuk menghindari nama ponsel China karena para pemilik merek merasa ponsel yang dijualnya masih memiliki sumbangan lokal.

Di  China sendiri terdapat dua kategori ponsel yakni buatan pabrikan besar dan OEM alias home industry. Ponsel keluaran pabrikan yang bisa disebut adalah ZTE, Huawei, dan Haier.  Produsen ini menguasai industri dari hulu ke hilir, sehingga mutunya terjamin.

Sementara untuk home industry, memungkinkan setiap perusahaan dari luar negeri menempelkan mereknya sendiri di ponsel tersebut. Pemesanan  minimum sebanyak 5.000 unit perangkat lunak tersebut dengan desain sesuai keinginan dari pemesan.

Untuk bisa berdagang dengan cara tersebut biasanya pemilik modal mengeluarkan dana sebesar  25 miliar rupiah  untuk mendapatkan lisensi dari pengusaha negeri tirai bambu tersebut.

Pengiriman produk dikirim bersamaan dengan asesori seperti charger, handsfree, dan kabel data. Sedangkan proses packagingnya dikerjakan di Indonesia dengan membuat sendiri dus pembungkus, buku manual, stiker, dan  kartu garansi.

”Biasanya  untuk pemesanan pertama minimal 1.000 unit. Saya ketika masuk pertama kali ke salah satu tempat home industry itu tak percaya. Benar-benar rumahan,” ungkap seorang sumber Koran Jakarta yang biasa bermain di sentra ponsel Jakarta.

Di industri ponsel dunia sendiri memiliki sebuah khitah yang telah disepakati untuk dikatakan sebuah produk sebagai imitasi dari produknya. Khittah tersebut mengatakan, sebuah produk boleh meniru desain satu merek terkenal, tetapi harus memiliki perbedaan untuk lima item.

Lima item-nya sendiri tidak ditentukan oleh industri. Karena itu jangan kaget jika ada BlackBerry merek lokal yang mirip dengan keluaran Research In Motion (RIM) jika dilihat sekilas. Tetapi dilihat dengan seksama maka akan ada perbedaan pada ukuran speaker atau letak kamera.

Praktisi Telematika Faizal Adiputra mengakui hadirnya ponsel merek lokal memberikan  sisi positif bagi pengguna karena ada alternatif   pilihan. “Namun di sisi lain yang perlu di perhatikan adalah layanan purna jual. Jangan sampai harga yang menarik malah mengorbankan layanan purna jual sehingga pelanggan yang menanggung akibatnya,” katanya.

Juru Bicara Depkominfo  Gatot S Dewo Broto menjelaskan, banyaknya ponsel China masuk ke Indonesia tak bisa dilepaskan dari celah  yang memanfaatkan kelonggaran memperoleh sertifikasi produk di Postel ketika menjual produknya.

”Di Postel kalau tidak salah ada 100 merek ponsel China yang terdaftar. Masalahnya untuk melakukan sertifikasi, kami hanya mengambil sampel dua atau tiga model sejenis. Di sinilah kelonggaran yang dimanfaatkan para pedagang tersebut,” katanya.

Dikatakannya, temuan yang didapat oleh kepolisian belum lama ini dimana ditemukenali berkarung-karung ponsel re-kondisi yang umumnya dari China, membuat Postel bergerak untuk melakukan pemeriksaan langsung di pasar. ”Dua tahun lalu kami pernah melakukan ini. Dan ditemukan dua merek yang patut dipertanyakan,” katanya.

Menurut Gatot, jika terbukti menyalahgunakan sertifikasi yang diberikan regulator, para pedagan tersebut dapat dituntut secara hukum karena melanggar Undang-undang Telekomunikasi No 36/99.

Melihat fenomena yang terjadi sekarang, banyak pihak mengkhawatirkan, jika pelaku bisnis di Indonesia tetap intens mengimpor ponsel dari China, maka mimpi untuk mewujudkan adanya ponsel asli buatan dalam negeri tak akan pernah terwujud.

Pertengahan tahun lalu, secercah harapan disiratkan oleh Departemen Perindustrian yang sedang melakukan kajian bersama Direktorat Bea dan Cukai, dan  Asosiasi Importir Telepon Seluler Indonesia. Departemen tersebut telah mencium ulah dari investor ponsel di Indonesia  yang  enggan menanamkan investasinya secara langsung di Indonesia.

Untuk itu dibuatlah regulasi tentang tata niaga ponsel. Beleid tersebut akan mengatur tentang impor ponsel. Nantinya aktifitas impor ponsel hanya diperbolehkan untuk importir terdaftar.   Rencananya akhir tahun 2008  regulasi itu selesai dibahas dan tahun ini diimplementasikan. Sayangnya hingga sekarang tidak terdengar lagi gaung regulasi tersebut.

Sementara Media Relation Officer Nexian, Ratna Adjie menegaskan, Nexian sejak dua tahun lalu telah memiliki pabrik. “Karena ketentuan kandungan lokal hanya 20 persen, maka itu sebatas untuk packaging dan buku manual saja,” katanya.

Sedangkan GM Sales dan Marketing Micxon Mobile Indonesia, Miming menegaskan, belum ada niat untuk membangun pabrik di Indonesia karena membutuhkan investasi yang besar.

“Semua produk kita impor dari China. Ini justru lebih murah ketimbang bikin sendiri. Tetapi masalah desain itu ditentukan oleh pemilik merek dan dibuatkan oleh pemasok di China,” katanya.[dni]

191009 Geliat Ponsel Merek Lokal

Belum lama ini para pelaku di industri seluler terkaget dengan data yang disajikan oleh salah satu ponsel merek lokal tentang prestasi penjualan produk yang diklaim meek lokal  selama bulan lalu.

“Saat ini ponsel merek lokal telah menguasai 50 persen dari penjualan setiap bulannya ponsel di Indonesia. Sebelumnya pangsa pasar dari ponsel lokal ini hanya 20 persen,” ungkap Presiden Direktur IMO, Sarwo Wargono di Jakarta, belum lama ini.

IMO adalah salah satu dari 25 merek ponsel lokal yang wara-wiri di pasar Indonesia sejak tiga tahun lalu. Para pemain besar di ponsel merek lokal ini adalah Nexian, IMO, Micxon, dan lainnya.

Sebelumnya, pada kuartal pertama tahun ini lembaga riset GfK mengungkapkan   ponsel merek lokal  telah menguasai secara total  pangsa pasar Indonesia  hingga 9 persen.

Ponsel yang diusung oleh produsen ini dinamakan merek lokal oleh banyak kalangan karena hanya mereklah yang identik dengan aroma lokal. Sedangkan perangkat lunak dan kerasnya hampir seluruhnya diimpor dari China.

Sarwo menjelaskan, biasanya setiap bulannya penjualan ponsel di Indonesia mencapai satu juta unit. Angka itu mengalami penurunan sejak dua bulan lalu, dimana masih bisa terjaul sekitar 2,1 juta unit ponsel setiap bulannya. Sedangkan pada akhir tahun nanti diperkirakan akan terjual 21 juta unit ponsel di Indonesia.

“Riset terbaru memperlihatkan adanya penurunan penjualan ponsel. Tetapi pangsa pasar ponsel lokal dengan harga mulai satu juta unit menunjukkan peningkatan,” katanya.

Diungkapkannya, IMO sebagai salah satu merek lokal sejauh ini telah mampu menguasai sebesar 10 persen dari pangsa pasar ponsel lokal. “Kita memiliki 20 lini produk. Rencananya akan ditambah 4  atau lima lagi. Target kita ini akan mampu menjadikan penguasaan pasar meningkat menjadi 15 persen,” jelasnya.

Fenomena QWERTY

GM Sales dan Marketing Micxon Mobile Indonesia Miming menjelaskan, melesatnya penjualan ponsel merek lokal tentunya tak bisa dilepaskan dari dua hal.

Pertama fenomena dari BlackBerry. Kedua keranjingannya masyarakat dengan situs jejaring sosial seperti Facebook dan chatting dengan Yahoo Messenger.

“Harga BlackBerry itu masih mahal, sekitar tiga jutaan rupiah ke atas. Sementara permintaan dari pasar lumayan tinggi untuk menggunakan BlackBerry. Ceruk inilah yang ingin dimanfaatkan merek lokal,” ujarnya.

Dijelaskannya, ponsel merek lokal ingin menawarkan produk untuk segemen menengah bawah dimana harganya juga lebih ramah ke segmen pasarnya.

“Harga ponsel merek lokal tak lebih dari satu juta rupiah. Dengan desainya yang QWERTY, maka diburulah oleh pasar,” katanya.

QWERTY adalah susunan keyboard yang mirip dengan smartphone yang mengacu pada tata letak huruf seperti di komputer.

Sarwo menambahkan, fenomena berkembangnya ponsel merek lokal   tak bisa dlepaskan juga dari kelengahan merek-merek ternama menangkap booming-nya BlackBerry dan situs jejaring sosial.

“Ponsel merek terkenal tidak memasukkan fenomena itu dalam roadmap-nya.  Produknya memang tidak ke arah sana. Inilah celah yang diisi oleh merek lokal,”jelasnya.

Ponsel merek terkenal yang dimaksud adalah Nokia, Sony Ericsson, Samsung, Motorolla, dan LG. Nokia masih menjadi pemimpin pasar untuk merek terkenal, diikuti oleh Sony Ericsson di Indonesia.

Praktisi Telematika Bayu Samudiyo mengatakan, untuk kategori ponsel China yang berjaya saat ini adalah Nexian dengan produk NexianBerry.

“Namun, sekarang produk itu banyak mendapat tantangan dari produk China lainnya yang mengeluarkan produk serupa. Tren seperti ini akan berlanjut hingga akhir tahun nanti,” katanya.

Varian Nexian yang dimaksud adalah Nexian G900. Ponsel ini muncul sejak Juni lalu.  Dalam waktu sebulan ponsel ini terjual   70 ribu unit ponsel Nexian Berry laku terjual. Kabar beredar sekarang ponsel jenis ini telah terjual hingga  400 ribu unit.

Praktisi Seluler Herman TKK mengakui,   kejelian menyasar segmen yang tak dilirik vendor global berupa strategi bundling dengan operator dan   penawaran harga murah berkualitas merupakan obat mujarab suksesnya ponsel China di Indonesia.

Jika pada  tahun lalu   yang dijual adalah   TV analog dan   dual mode dual on alias mampu mendukung dua teknologi berbeda (GSM dan CDMA) dalam satu ponsel, maka sekarang adalah QWERTY dengan aplikasi jejaring sosial.

”Produsen ponsel global tak berani segila merek lokal menawarkan fitur.   Gilanya lagi, ponsel tersebut hanya dijual di bawah angka satu jutaan rupiah,” katanya.

Kepala Pemasaran Smart Telecom Tom Alamas Dinharsa mengatakan, masyarakat sekarang mulai percaya pada ponsel  dari China. ”Ponsel ini diposisikan   sebagai suplemen alias ponsel tambahan.  Dan Anda jangan anggap sepele ponsel dari China, Haier dan ZTE itu sudah meraksasa di dunia. Mereka sudah bisa membuktikan dirinya mampu bersaing,” katanya.

Pada kesempatan lain, VP Direct Sales XL Junaedy Hermawanto mengungkapkan, hadirnya ponsel merek lokal memberikan keuntungan bagi operator khususnya dalam penjualan jasa akses  data.

“Meningkatnya penggunaan akses data  belakangan ini tak bisa dilepaskan dari adanya ponsel-ponsel murah yag memiliki kemampuan akses terhadap jasa tersebut,” katanya

Dikatakannya, masyarakat saat ini sedang mengalami hype kepada aplikasi situs jejaring sosial yang membutuhkan koneksi data. “Masalahnya semua lapisan menginginkan terkoneksi dengan Facebook saat ini. Ini pasar yang lumayan,” katanya.

Junaedy mengatakan, untuk operator sekelas XL bekerjasama dengan para vendor tidak mengeluarkan dana untuk mensubsidi harga ponsel. “Kami simbiosis mutualisme saja. Apalagi XL sudah memiliki basis pelanggan yang besar. Jadi, saling membutuhkan,” katanya.

Sedangkan praktisi telematika  Ventura Elisawati mengingatkan,  operator harus berhati-hati dengan kedok bundling ponsel data bersama ponsel merek lokal.

“Operator jangan terlalu terpesona dengan penjualan ponsel bundling karena di masyarakat ada kecenderungan untuk berganti-ganti nomor meskipun ponsel sudah dikunci.

”Bukan rahasia lagi jika tidak suka dengan layanan operator tinggal dibawa ke sentra ponsel, maka nomor pun bisa berganti. Kalau sudah begini kasihan operator yang melakukan subisidi harga ponsel. Bagi vendor tentunya happy saja karena barangnya laris,” katanya.[dni]