151009 BlackBerry Developer: Agar Pengguna Tak Lari ke Lain Hati

BlackBerry-Gemini-thumb-500x373-88818Magis perangkat besutan Research in Motion (RIM), BlackBerry, seakan tidak habis-habisnya mempesona masyarakat seluler Indonesia.

Saat ini BlackBerry (BB)  tidak hanya sekadar  alat komunikasi, tetapi sudah menjadi bagian dari gaya hidup bagi penggunanya

Layaknya perangkat yang telah menjadi gaya hidup, tentunya kemampuan BB harus terus ditingkatkan. “BB sebagai alat komunikasi yang mampu melakukan basic telephony atau surat elektronik, dan browsing, itu sudah biasa. Sekarang sedang dipikirkan bagaimana membuat perangkat ini semakin mengikat penggunanya,” ujar Praktisi telematika Faizal Adiputra kepada Koran Jakarta, Rabu (14/10).

Dijelaskannya,  salah satu cara untuk mengikat pengguna adalah dengan mengembangkan aplikasi-aplikasi lokal sesuai kebutuhan pengguna yang bisa dijalankan di perangkat tersebut. “Bisnis awal dari layanan BB adalah memberikan koneksi internet dan surat elektronik. Nah, sekarang perlu dikembangkan value adedd services (VAS) untuk BB yakni aplikasi yang kreatif,” jelasnya.

Faizal menjelaskan, meskipun layanan dasar (email, browsing, chatting) dari BB masih dalam taraf pertumbuhan, tidaklah salah memulai sejak dini menggarap pasar VAS-nya karena sejak awal perangkat ini telah diposisikan sebagai life style product.

“BB berbeda dengan smartphone lainnya yang menonjolkan kemampuan basic telephony. Akhirnya ketika produk itu menawarkan VAS, yang terjadi jalan di tempat. Kalau BB memang sejak awal sudah menggarap life style sehingga pengguna sudah biasa dengan aplikasi tambahan,” katanya.

Peluang Pemain Lokal

Faizal menjelaskan, dibukanya peluang untuk menggarap aplikasi bagi BB akan menjadi peluang bagi industri kreatif lokal untuk bermain. “Kekuatan Indonesia itu di pasar kreatif. Banyak animator lokal menjual produknya ke luar negeri dengan harga murah. Bayangkan kalau dikelola sendiri, uang akan banyak berputar di Indonesia,” katanya.

Menurut Faizal, terdapat dua cara untuk menggarap pasar aplikasi BB. Pertama, menjadi alliance member dari RIM. Kedua, bekerjasama dengan alliance member untuk memasok konten.

Sedangkan strategi untuk masuk ke pasar adalah fokus kepada komunitas dan membiarkan produk mengkreasi pasar. “Baiknya tahap awal diberikan gratis dulu pengguna untuk mencoba. Ketika dirasakan ada manfaatnya baru ditarik bayaran. Soalnya pengguna BB itu sudah melek aplikasi,” jelasnya.

Direktur Utama Better B Kemal Arsjad menjelaskan, bukanlah hal yang mudah untuk   menjadi alliance member dari RIM. “Kami saja membutuhkan waktu 8 bulan dengan persyaratan yang ketat. Bagi pemain baru lebih baik memasok konten saja,” ungkapnya.

Better B adalah salah satu alliance member lokal yang diakui RIM. Perusahaan ini telah menggarap XL BlackBerry Mall beberapa waktu lalu. XL BlackBerry Mall semacam application store yang dimiliki Apple.

Kemal mengungkapkan, sejak diluncurkan application store yang dibesutnya berhasil menjaring 50 persen dari total 160 ribu pengguna BlackBerry XL. Sedangkan active download per hari mencapai tiga ribu aplikasi. Harga per aplikasi mulai 5 hingga 15 ribu rupiah. Jika diperkirakan secara kasar, maka Better B bisa menangguk keuntungan sekitar 15 juta rupiah perhari.

“Tetapi tidak semua pendapatan diambil application developer. Harus dibagi dengan operator dan pemasok konten. Pola pembagiannya tergantung negosiasi,” jelasnya.

GM Sales XL Handono Warih mengakui, memang ada pola pembagian antara Better B dan XL sebagai pihak yang menjalankan “Mall”. “Sebenarnya yang dicari XL adalah bagaimana bisnis ini jalan dulu. Karena itu kami berinisiatif membangun Mall-nya dulu. Nanti tinggal “peyewa toko” mengisi tempat. Soalnya bagaimana pola bisnis VAS dari BB sendiri masih meraba-raba di Indonesia,” jelasnya.

Faizal mengharapkan, jika operator menginginkan bisnis aplikasi maju, maka tidak perlu lagi meminta bagian dari penjualan ke developer atau pemilik konten. “Operator cukup menikmati saja dari sisi trafik. Aplikasi kan bisa mendorong trafik, dan itu sudah memberikan keuntungan. Di sisi lain, aplikasi bisa juga membuat pelanggan tidak pindah operator, sekarang mempertahankan lebih susah daripada mendapatkan. Apalagi pengguna BB di Indonesia 90 persen prabayar,” katanya.

Hambatan

Selanjutnya Kemal mengungkapkan, hambatan bagi developer aplikasi untuk berkembang saat ini adalah masalah keterbatasan dana untuk promosi. “Kami terpaksa mengandalkan pola komunikasi getok tular melalui jejaring sosial atau digital media,” jelasnya.

Warih menambahkan, masalah lain adalah tentang kepastian dari regulasi bertransaksi melalui perangkat elektronik. “Sudah mulai dikembangkan aplikasi agar bisa bertransaksi di BB. Masalahnya, pengguna masih belum merasa secure. Ini harus dicermati,” katanya.

Akses Terbatas

Pada kesempatan lain, Wakil Ketua Komite Tetap Informatika Kadin, Iqbal Farabi mengakui,  bisnis pengembangan aplikasi sedang menunjukkan   trend yang positif karena  penetrasi handset dan teknologi wireless yang berkembang.

“Ini membuat lahan bagi developer aplikasi untuk berkreasi. Apalagi  operator membuka peluang bagi   developer untuk   sharing  produk dan pendapatan,” jelasnya.

“Namun yang menjadi hambatan utama itu adalah akses yang masih terbatas dimiliki para developer. Khususnya untuk menembus operator besar,” jelasnya.

Menanggapi hal itu, Kepala Pemasaran dan Merek Indosat Teguh Prasetya membantah keras. “Indosat memiliki sejenis application store yang dinamakan i-go. Kami membuka peluang seluas-luasnya bagi pemain lokal,” tegasnya.

Sementara itu,  menurut pengamat telematika Ventura Elisawati, RIM harus bisa menggandeng developer lokal sebagai mitranya. “Para developer itu banyak start up company. Bisa jadi dua hingga lima tahun ke depan perusahaan ini akan lebih besar ketimbang perusahan penyedia konten untuk GSM. Tetapi bisa jadi hanya euoforia sesaat,” katanya.

Peran RIM sebagai prisipal diharapkan mampu mengarahkan karena ini akan menjadi citra yang baik bagi perusahan. “Menggandeng mitra lokal sejalan dengan  keinginan pemerintah agar vendor asing seperti RIM juga melibatkan peran lokal dalam pengembangkan pasarnya,” katanya.

Ventura mengingatkan, mengandalkan lifestyle dan jejaring sosial saja tidak akan cukup membuat BB menjadi primadona karena pasar di Indonesia sangat dinamis. “Vendor asing semacam RIM harus lebih jeli dalam mengembangkan aplikasi lokal sesuai kebutuhan berbagai segmen di pasar domestik,” katanya.[dni]

151009 Regulasi Menanti Sang Bintang

rim-blackberry-logoBlackBerry tidak hanya menjadi andalan dari Research In Motion (RIM) untuk menangguk keuntungan, tetapi juga para mitranya.

Tak percaya? Simak   kinerja  kuartal kedua tahun fiskal dari perusahaan asal Kanada tersebut. Hingga dengan kuartal tersebut, pelanggan RIM telah berjumlah  32 juta di seluruh dunia.
Pada periode itu  pendapatan  perusahaan asal Kanada tersebut    mencapai  3,53 miliar dollar AS atau  meningkat 37 persen dibandingkan periode sama tahun fiskal lalu sebesar  2,58 miliar dollar AS.
Keberhasilan RIM meraih pendapatan  sebesar itu lebih banyak dikontribusi melalui hasil penjualan perangkat, yang mencapai 81 persen dari total keseluruhan pendapatan. Sedangkan kontribusi dari layanan dan software, masing-masing hanya memiliki kontribusi 14 persen dan 2 persen.
Di Indonesia, RIM sendiri diperkirakan memiliki sekitar 480 ribu pelanggan yang berasal dari empat operator yakni Telkomsel, Indosat, XL, dan Axis.  Selain empat operator itu, RIM juga memiliki  importir dan distributor lainnya yakni  PT Indosat Mega Media (IM2), PT Malifax Indonesia, dan PT Erajaya Swasembada.

Bagi operator yang menjadi mitra dari RIM, hadirnya BlackBerry (BB) bisa dikatakan sebagai penyelamat dari kondisi terus turunnya Average Revenue Per Users (ARPU) basic telephony.

Jika dihitung secara kasar, rata-rata ARPU pengguna BB mencapai 150 ribu rupiah per bulan. Angka itu diluar berlangganan jasa suara dan SMS. Bandingkan dengan ARPU basic telephony yang sekarang berkisar sekitar 40 ribuan rupiah.

Namun, sepertinya sang bintang tidak bisa seenaknya bersinar terang tak lama lagi. Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) mulai mencermati sepak terjang sang bintang dari Kanada ini.

Simak saja  aksi regulator  pada pertengahan tahun ini dimana   bersikeras meminta RIM untuk membuka layanan purna jual atas nama penegakkan regulasi. Ancaman larangan impor akhirnya membuat RIM mengalah dan membuka juga purna jual di Indonesia.

Terakhir, BRTI sedang membidik masalah pembayaran pajak dari layanan BlackBerry Messenger (BBM) milik RIM yang berjalan di BlackBerry Internet Services (BIS) atau BlackBerry Enterprise Service (BES).

BIS dan BES adalah aplikasi yang menjadikan pengguna bisa terkoneksi terus dengan internet dan surat elektronik. Sedangkan BBM adalah fasilitas chatting yang dikembangkan RIM bagi pengguna BB.

Di Indonesia, pengguna BB jenis BIS  menguasai sekitar 80-90 persen pangsa pasar. Sedangkan di luar negeri yang terjadi justru sebaliknya.

“Kami sudah meminta laporan keuangan para operator mitra RIM  terkait pola pembayaran mereka ke perusahaan tersebut. Khususnya masalah pemotongan yang dilakukan untuk RIM. Apakah dibayarkan operator atau dipotong dulu dari RIM,” jelas Anggota Komite BRTI Nonot Harsono kepada Koran Jakarta, Rabu (14/10).

Nonot mengungkapkan, hingga sekarang operator belum mampu  menjawab permintaan dari regulator. “Walaupun berbasis Internet Protocol (IP) layanan itu tetap melewati originasi dari  Indonesia. Kalau begitu harusnya bayar Biaya Hak Penyelenggaraan (BHP). Masak pajak buat negara dibawa lari perusahaan asing,” tegasnya.

Menanggapi hal itu, Kepala Pemasaran dan Merek Indosat Teguh Prasetya menjelaskan, dalam membeli kapasitas ke RIM operator melakukannya secara bulk atau gelondongan.

“Penyelenggaraan layanan pun dilakukan secara harian, mingguan, atau bulanan. Dan yang kami bayar ke RIM adalah BIS atau BES, bukan per aplikasi. Kalau dipisah-pisah susah itu,” jelasnya.

Teguh meminta regulator harus memahami pola bisnis dari RIM sebelum membuat suatu regulasi. “Jangan sampai Indonesia ini seolah-olah menentang dunia sendirian,” katanya.

Sementara itu, Wakil Ketua Komite Tetap Informatika Kadin,  Iqbal Farabi menyetujui jika RIM diberikan regulasi yang ketat di Indonesia.

“Sekarang indonesia menjadi pasar empuk buat produsen gadget. Saham RIM  naik berlipat-lipat salah satunya karena analis melihat terjadi pertumbuhan penjualan BB yang luar biasa di Indonesia. Rasanya keenakan perusahaan itu menjadikan Indonesia sebagai pasar terus,” katanya.

Menurut Iqbal, merupakan hal yang wajar jika RIM ditarik BHP karena untuk menjalankan aplikasinya menggunakan jaringan operator sebagai akses.

”Jika  di regulasi SMS Premium menyebutkan praktik seperti itu terkena BHP, harusnya regulator memperlakukan hal yang sama buat RIM. Regulator jangan beraninya sama anak negeri sendiri, sama pemain asing justru melempem,” tandasnya.

Pada kesempatan lain, Direktur Utama Direktur Utama Better-B Kemal Arsjad mengaku tidak terkena BHP dalam menjalankan XL BlackBerry Mall. “Kami hanya membangun “gedung”. Masalah BHP diurus XL,” katanya.

Sedangkan GM Sales XL Handono Warih mengungkapkan, Better-B diberikan short code khusus sebagai mitra. “Kalau tidak ada short code bagaimana penagihannya,” katanya.

Melihat fakta  terbaru yang diungkap Better-B tersebut, tentunya akan menarik menunggu ronde berikutnya pertarungan antara regulator dengan RIM. Kita lihat saja nanti.[dni]

151009 Telkomsel Jamin Kartu Co-Branding

JAKARTA— PT Telekomunikasi Seluler (Telkomsel) menjamin kartu co-branding dengan dunia perbankan yang ditawarkannya tidak akan memperjualbelikan data milik pelanggan sehingga membuat para pengguna menjadi terganggu dengan penawaran pemasaran dari pihak yang tidak bertanggungjawab.

“Kami menjamin data dari pengguna tidak akan dibocorkan. Hal ini karena Telkomsel atau bank yang diajak kerjasama memiliki telesales khusus. Apalagi kita melakukan profiling dulu untuk kesamaan pasar, baru data diberikan,” tegas GM Pemasaran Telkomsel Nirwan Lesmana di Jakarta, Rabu (14/10).

Nirwan mengakui, fenomena adanya penyalahgunaan data banyak terjadi jika operator bekerjasama dengan pihak ketiga sehingga membuat pelanggan terganggu kenyamanannya.

“Kami tidakmenutup mata adanya fenomena tersebut. Tetapi Telkomsel selalu memilih mitra yang dapat dipercaya. Salah satunya Citibank,” jelasnya.

Menurut Nirwan, kartu co-branding dengan perbankan umumnya menggarap pasar pascabayar. Saat ini pelanggan pascabayar Telkomsel sekitar dua juta nomor.

“Angka itu tentu menggiurkan dibandingkan jumlah pemegang kartu satu bank yang masih ratusan ribu. Karena itu kami harus hati-hari dengan database, karena ini adalah potensi pasar,” katanya.

Diungkapkannya, untuk kerjasama dengan Citibank, pihaknya telah mengusung produk Citi Telkomsel Card kurang lebih empat tahun. Average Revenue Per Users (ARPU) dari kartu co branding ini sekitar 300 ribu rupiah.

“Rasanya dengan potensi sebesar itu tidak mungkin Telkomsel mudah saja memberikan data pelanggannya,” jelasnya.

VP Product Marketing Telkomsel Mark Chambers menambahkan,  fasilitas unggulan yang diberikan bagi pemegang Citi Telkomsel Card adalah nama TALK+ yang memungkinkan pelanggan untuk dapat menelepon berkali-kali ke sesama pelanggan Telkomsel selama 60 menit atau 3.600 detik hanya dengan lima ribu rupiah.

Selanjutnya Nirwan menambahkan, untuk mempertahankan pelanggan, Telkomsel juga memperkaya Value Adedd Service (VAS) dengan menggandeng grup band Super Bedjo melalui mobile content Super Bejo di Dunia Seleb *600#.

“Sebanyak 25 persen dari 80 juta pelanggan kami aktif men-download konten. Karena itu terus kami perkaya dengan menggandeng penyedia konten,” katanya.[Dni]

151009 XL Jamin Kualitas Jaringan Tak Terganggu

JAKARTA–PT Excelcomindo Pratama Tbk (XL) menjamin kualitas jaringannya tidak akan terganggu meskipun saat ini sedang menggelar tarif promosi murah ala Code Division Multiple Access (CDMA) dan menjual BlackBerry seri terbaru, Gemini.

“Kami jamin tidak ada masalah dengan jaringan walau dua program itu berpotensi membuat jaringan bekerja lebih keras,” tegas VP Direct Sales XL Djunaedy Hermawanto di Jakarta, Rabu (14/10).

Dijelaskannya, perseroan telah merealisasikan peningkatan kapasitas dengan menyelesaikan pembangunan site baru sehingga bandwitdh kembali menjadi lebih lebar. “Trafik suara belum kongesti walau program tarif ala CDMA itu banyak digunakan pengguna,” tegasnya.

Sedangkan untuk layanan BlackBerry, jelasnya, telah ditingkatkan kapasitas ke server Research In Motion (RIM) mencapai 110 Mbps melalui dua link yakni Ancient dan Tata. “Data kami mencatat trafik tertinggi untuk BlackBerry itu hanya sekitar 70 Mbps. Jadi, masih banyak ruang kosongnya,” katanya.

Berkaitan dengan realisasi dari preorder Gemini yang mencapai dua ribu pemesan, Djunaedy memperkirakan, sebanyak 80 persen akan melakukan pembelian langsung. “Harga resmi untuk produk ini senilai 3,999 juta rupiah. Bagi 500 pelanggan akan mendapatkan potongan harga sebesar 700 ribu rupiah,” jelasnya.[Dni]

151009 Daya Saing TI Indonesia Turun Peringkat

JAKARTA–Daya saing industri Teknologi Informasi (TI) Indonesia mengalami penurunan peringkat pada tahun ini.

Jika pada tahun lalu daya saing TI Indonesia berada di peringkat 58, pada tahun ini berada di nomor 59 dari 66 negara  berdasarkan kajian Economist Intelliegent Unit (EIU).

Software Policy Director Business Software Alliance (BSA) Asia Pasifik Claro Parlede menjelaskan,
di Asia Pasifik sendiri  posisi Indonesia tidak terlalu memuaskan, karena hanya menempati posisi ke-15 dan meraih skor 22,8 di hasil riset yang disponsori BSA itu.

“Sebenarnya hasil yang diraih Indonesia ini selaras dengan hasil yang diraih rata-rata negara di Asia Pasifik yang mengalami tren penurunan,” tuturnya di Jakarta,  Rabu (14/10).

Dijelaskannya, penelitian ini sendiri sudah memasuki tahun ketiga dengan membandingkan perkembangan TI di 66 negara. Ada 19 negara dari 20 negara peringkat atas dalam daftar tahun lalu yang kembali masuk dalam 20 besar.

Lima negara dengan tingkat TI paling kompetitif di Asia Pasifik adalah Australia, Singapura, Jepang, Taiwan dan Korea Selatan.

Adapun posisi puncak ditempai oleh Amerika Serikat. Negara adidaya ini sukses meraih skor 68,7 sekaligus mempertahankan gelar yang sama tahun lalu

Kepala Perwakilan BSA Indonesia Donny A. Sheyoputra mengatakan, untuk meningkatkan daya saing TI Indonesia, pemerintah harus mulai meningkatkan penetrasi layanan broadband dan jasa mobile telekomunikasi.

“Dua hal ini memiliki skor yang lumayan tinggi dalam menilai daya saing satu perusahaan,” jelasnya.

Donny mengharapkan,  pemerintah beserta operator secepatnya merealisasikan pembangunan serat optik Palapa Ring di Kawasan Timur Indonesia agar Indonesia memiliki backbone di area tersebut.

“Untuk wilayah Indonesia Timur masih rendah tingkat penetrasi broadband. Hadirnya Palapa Ring bisa meningkatkan penetrasi,” jelasnya.

Selain itu, sarannya, pemerintah harus menjaga momentum penetrasi mobile telekomunikasi karena dua tahun lalu sektor ini belum masuk dalam perhitungan penilaian. “Tingkat penetrasi mobile telekomunikasi sudah mencapai 70 persen. Ini harus ditingkatkan,” katanya.[Dni]