141009 Mobile-8 Mulai Buka Diskusi dengan Calon Investor

JAKARTA —PT Mobile-8 Telecom mulai membuka diskusi dengan calon investor yang ingin memasukkan dana segar ke perusahaannya untuk menyelematkan pemilik dagang Fren tersebut dari krisis keuangan.

“Sedang ada pembicaraan intensif antara pemegang saham dengan beberapa investor potensial. Di antara investor itu ada operator berbasis teknologi Code Division Multiple Access (CDMA), Smart Telecom,” ungkap Direktur Utama Merza Fachys kepada Koran Jakarta , Selasa (13/10).

Namun, Merza menegaskan, sebagai manajemen tidak bisa memastikan arah pembicaraan karena itu adalah domain dari pemegang saham. “Namanya sedang diskusi, bisa saja ada titik temu, bisa tidak. Kita lihat saja nanti,” tegasnya.

Sebelumnya, Deputy CEO Smart telecom BT Lim menegaskan, PT Smart Telecom tidak tertarik lagi untuk mengakuisisi saham dari PT Mobile-8 Telecom Tbk (Mobile-8) karena lebih ingin fokus kepada pengembangan pasar data miliknya.

“Sekarang Smart lebih fokus pada pengembangan pasar. Masalah aksi korporasi itu sudah dilupakan,” ujar Deputy CEO Smart Telecom, BT Lim kepada Koran Jakarta, Rabu (20/5).

Diakuinya, beberapa waktu lalu ada ketertarikan untuk melakukan aksi korporasi terhadap beberapa operator, namun melihat perkembangan pasar, realisasi untuk merger dan akuisisi belum waktunya dilaksanakan dalam waktu dekat.

“Merger atau akuisisi itu baru terlaksana dua tahun ke depan. Sekarang lebih baik mengembangkan pasar data,” katanya.

Sebelumnya beredar kabar Smart dan Bakrie Telecom adalah operator yang tertarik untuk mengakuisisi Mobile-8.

Menurut sumber tersebut, alotnya pembelian Mobile-8 dengan peminatnya karena transparansi masalah hutang perusahaan itu belum berjalan. “Mobile-8 terbelit hutang diantaranya dengan vendor ZTE dan MNC grup. Angkanya ratusan miliar rupiah,” katanya.[dni]

141009 Juni 2010, Garuda Buka Rute ke Eropa

JAKARTA—PT Garuda Indonesia akan membuka rute penerbangan ke Erop mulai 1 Juni 2010.

Juru bicara Garuda Pudjobroto mengungkapkan, rute yang akan pertama dibuka adalah  setiap hari  dari  Jakarta – Amsterdam.

Jadwal untuk rute tersebut adalah berangkat dari Jakarta (CGK) pukul 21.00 WIB (GA88), tiba di Dubai (DXB) pukul 02.09 LT, berangkat kembali pukul 03.15 LT, dan tiba di Amsterdam (SPL) pukul 08.00 LT.

Kebarangkatan dari Amsterdam (SPL) pukul 10.00 LT (GA89), tiba di Dubai (DXB) pukul 18.30 LT, berangkat kembali pukul 19.45 LT, tiba di Jakarta (CGK) pukul 07.10 WIB.

Penerbangan ke Amsterdam tersebut akan dilayani oleh pesawat jenis A330-200 dengan satu persinggahan di Dubai, Uni Emirat Arab. Pesawat A330-200 dapat mengangkut sebanyak 222 penumpang terdiri dari 36 penumpang di kelas bisnis dan 186 penumpang di kelas ekonomi. Pesawat tersebut dapat menempuh jarak hingga 12.500 km. Penumpang di kelas bisnis dapat merebahkan tempat duduknya hingga 180 derajat.

”Ini bagian dari strategi perseroan memenuhi tingginya kebutuhan wisata dan bisnis antar kedua negara,” ujarnya di Jakarta, Selasa (13/10).[dni]

141009 GMF Tak Penuhi Target Pendapatan 15%

Jakarta—PT Garuda Maintenance Facility (GMF) memperkirakan    pendapatan usahanya tahun ini tidak akan mencapai target sebesar 15 persen atau hanya sebesar 165 juta dollar AS. Sedangkan target perseroan pada tahun ini meraih pendapatan sebesar 195 juta dollar AS.

Direktur Utama GMF, Richard Budihadiyanto menjelaskan, tidak terealisasinya target perseroan  karena jumlah maskapai yang dirawat mengalami  penurunan akibat  krisis global.

“Maskapai banyak yang   memilih meng-grounded pesawatnya dari pada mengoperasikannya. Hal ini dilakukan karena jumlah penumpang turun signifikan, sehingga biayanya lebih besar. Biaya operasi pesawat lebih besar dibanding grounded,” ujarnya di Jakarta , Selasa (13/10).

Padahal, hingga saat ini 65 persen penghasilan perseroan   berasal dari reparasi pesawat milik Garuda Indonesia . Sedangkan 35 persen lainnya kebanyakan adalah pesawat milik maskapai asing.

Diungkapkannya, hingga September lalu pendapatan GMF telah mencapai 150 juta dollar. Sedangkan  untuk  sisa waktu yang masih tersisa  tahun ini,   penambahan perawatan sudah tidak banyak lagi, sehingga diperkirakan sepanjang tahun pendapatan kotor bengkel pesawat milik Garuda Indonesia itu sekitar 165 juta dollar.

Selanjutnya dijelaskan, meski pendapatan tak mencapai target, tetapi untuk keuntungan bersih tetap akan tercapai.  Bila pada 2008 lalu keuntungannya mencapai  67 miliar rupiah, tahun ini diperkirakan bisa mencapai  90 miliar rupiah.

“Hingga September, keuntungan bersih telah mencapai  60 miliar rupiah. Kita terus melakukan efisiensi dan mudah-mudahan target akan tercapai,” tuturnya.

Ekspansi

Berkaitan dengan aksi korporasi yang dilakukan oleh perseroan dalam waktu dekat, Richard mengungkapkan, akan membangun satu hangar lagi senilai 50 juta dollar AS dalam dua tahun mendatang.

Hanggar yang memiliki fasilitas maintenance repair and overhaul (MRO) itu akan diperuntukkan bagi pesawat jenis Airbus.   Fasilitas diantaranya terdiri dari hangar pesawat yang mampu menampung 16 pesawat narrow body (berbadan sempit) sebanyak satu line dan dua line untuk pesawat berbadan lebar (wide body).

Langkah tersebut diambil seiring perseroan mendapatkan pengakuan dari Federal Aviation Administration (FAA) atau Otoritas Penerbangan Amerika Serikat  mampu mereparasi pesawat jenis Airbus.

FAA memberikan sertifikat safety kepada GMF setelah mangaudit kemampuan bengkel pesawat tersebut. GMF dianggap telah mampu melakukan maintenance repair and overhaul (MRO) hingga C-Check terhadap Airbus tipe A310, A319 dan A20.

Acting Assistant Manager Singapore FAA Catherine Vanassche mengatakan, sertifikat diberikan kepada GMF karena telah memiliki kemampuan merawat pesawat Airbus secara sempurna.

“Kemampuannya sangat baik, sehingga FAA harus memberikan sertifikat,” kata Catherine.

Berdasarkan catatan, kapitalisasi pasar perawatan pesawat di tanah air sendiri saat ini mencapai 750 juta dolar AS per tahun dan begkel perawatan pesawat Indonesia baru mampu menyerap 30 persen.

Sementara itu, pangsa pasar PT GMF sendiri di Indonesia sudah mencapai 70 persen dan regional baru 10 persen. Dalam lima tahun ke depan, pada kawasan regional, kapitalisasi pasar perawatan pesawat akan tumbuh 3-8 persen per tahun.

Masih di Peringkat II

Pada kesempatan sama, Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal mengakui hingga saat ini   FAA masih memasukkan Indonesia di kategori dua sejak 2007.

Kategori I dalam FAA adalah negara yang telah memenuhi persyaratan Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO). Sedangkan kategori II belum memenuhi persyaratan ICAO dalam masalah keselamatan penerbangan.

Menurut  Jusman, kategori II bagi dunia penerbangan Indonesia diterapkan karena FAA menilai, banyak temuan yang masih harus diperbaiki.

“Kondisi ini mengakibatkan, jika pun ada penerbangan Indonesia ke Amerika, mereka belum mengizinkan mengangkut penumpang dari negara itu, tetapi hanya menurunkan saja,” katanya.

Dikatakannya,  pemerintah Indonesia mulai tahun depan meminta Amerika Serikat untuk melakukan audit langsung ke Indonesia .[dni]