101009 Maskapai Indonesia Harus Didorong Naik ke Peringkat I

JAKARTA–Maskapai lokal harus¬† didorong untuk secepatnya naik ke peringat I dalam kategori Federal Aviation Administration (FAA) Amerika agar bisa meningkatkan nilai bisnis industri penerbangan Indonesia.

“Saat ini seluruh maskapai lokal masih berada di peringkat II. Ini membuat industri penerbangan Indonesia tidak kompetitif,” ujar COO PC Aero Chappy Hakim di Jakarta, Jumat (9/10).

Menurut Chappy, mengembalikan posisi Indonesia ke peringkat I harus menjadi prioritas kerja dari regulator penerbangan. “Kita sudah berhasil mencabut larangan terbang dari Uni Eropa, itu memang kabar menggembirakan. Tetapi ada yang lebih penting, bagaimana mengembalikan Indonesia ke peringkat I di FAA layaknya dua tahun lalu,” ujarnya.

Chappy mengaku, lembaganya siap untuk membantu maskapai lokal dan regulator dalam menuju peringkat I. “Lembaga kami memiliki tenaga profesional di bidang ini,” katanya
Kategori I di FAA adalah maskapai yang memenuhi aturan asosiasi penerbangan sipil internasional (ICAO). Sedangkan kategori II adalah maskapai yang belum memenuhi aturan ICAO.

Direktur Teknis PC Aero Edwin Soedarmo  menambahkan, beradanya maskapai lokal di peringkat kedua membuat biaya operasional dari satu maskapai menjadi meningkat.

“Saya tidak memiliki angka yang pasti kenaikannya. Tetapi bisa diambil contohnya untuk pembayaran asuransi,” jelasnya.

Dikatakannya, premi asuransi maskapai Indonesia oleh perusahaan asuransi internasional dikenakan lebih tinggi ketimbang maskapai luar karena dinilai beresiko. “Akhirnya perusahaan asuransi itu main patok angka tanpa bisa dinegosiasi. Kalau begini kita kalah daya tawarnya,” jelasnya.

Padahal, lanjutnya, masalah asuransi ini salah satu faktor untuk memicu harga tiket murah bagi penumpang. “Kalau bayar asuransinya mahal tentu akan dibebankan ke penumpang,” katanya.

Selanjutnya dijelaskan, jika masyarakat menginginkan tarif tiket yang murah, maka maskapai harus mulai memikirkan efisien memilih armada dan rute. “Tidak perlu pakai banyak jenis pesawat karena itu menimbulkan biaya tinggi dari sisi perawatan,” katanya.

Faktor lain adalah maskapai harus berani menghilangkan kemewahan yang hanya menjadi asesoris untuk dipelihara. “Bisnis penerbangan ini adalah masalah keselamatan. Jika itu sudah dilaksanakan, multiplier effect-nya pasti didapatkan secara bisnis. Penekanan biaya asesoris itu bisa menekan biaya operasional hingga 40 persen,” katanya.

Sebelumnya, Dephub mengungkapkan sedang berusaha mengangkat kategori maskapai Indonesia di FAA dari II menjadi I.

Jika inisiatif datang dari pemerintah maka auditor dibayar oleh Indonesia. Sedangkan jika maskapai lokal yang mengajukan maka auditor akan dibayar oleh FAAm[dni]