081009 Layanan Telkom Grup Pulih

JAKARTA—Pasca gempa 7,6 SR di Sumatera Barat, hari ini (7/10) layanan telekomunikasi Telkom relatif sudah berjalan normal. Hal yang sama berlaku untuk  layanan seluler Telkomsel yang di hari-hari pertama peristiwa gempa bumi sempat terganggu.

Vice President Public and Marketing Communication Telkom Eddy Kurnia menyatakan berdasarkan laporan terakhir kondisi infrastruktur Telkom sudah normal. Hal itu tercermin dari laporan tentang kondisi Transport, Service Node, Akses, Civil-Mechanical-Electrical (CME).

Dari sisi Trasport, dilaporkan bahwa link Jasuka (Jawa-Sumatera-Kalimantan) dalam kondisi normal. Demikian pula link FO yang menghubungkan Padang Centrum dan Bungus yang beberapa waktu lalu sempat terputus di Km 11,2 dan Km 15,8 dan menyebabkan matinya 636 SST di STO Bungus, sudah kembali normal. Terkait infrastruktur satelit, dilaporkan bahwa VSAT di 2 lokasi (Bungus dan Payakumbuh) yang mengalami gangguan akbiat gempat kini sedang dalam perbaikan.

Mengenai infrastruktur jaringan kabel (PSTN, Public Switch Telephone Network), Eddy Kurnia menyebutkan Sentral SLJJ (Trunk) dan Sentral Lokal dalam keadaan normal. Demikian juga, sebanyak 132 Digital Line Unit (semacam sentral tandem) juga beroperasi normal. Untuk infrastuktur Wireless (TELKOMFlexi) dilaporkan, dari 85 BTS, hampir semuanya (84 BTS) sudah dalam kondisi ON.

Infrastruktur Civil Mechanical Electrical (CME) yang meliputi Genset, Rectifier, Baterre, sebagian besar dilaporkan sudah beroperasi normal kecuali beberapa unit baterre yang masih mengalami kerusakan dan sedang diupayakan relokasi.

Infrastruktur Akses seperti Digital Line Circuit (DLC) sudah sepenuhnya normal. Seluruh DLC yang berjumlah 58 tercatat dalam kondisi ”ON”. Jumlah pelanggan Speedy yang tercatat masih mengalami gangguan sudah tinggal 5 pelanggan.

“ Master Switching Center) (MSC) Telkomsel dilaporkan sudah beroperasi normal,” di Jakarta, Rabu (7/10).[dni]

081009 Fixed Broadband : Jalan Bagi Akses Berkualitas

Lembaga konsultan Frost & Sullivan belum lama ini mengeluarkan data tentang  jasa fixed broadband di  Asia-Pacific. Diperkirakan pada akhir tahun nanti jasa tersebut di kawasan tersebut akan mencapai pendapatan sebesar 44,9 miliar dollar AS atau meningkat 13,3 persen ketimbang tahun lalu.

Peningkatan pendapatan tersebut karena jumlah pengguna mencapai 182 juta orang atau meningkat    17.3 persen  dibandingkan tahun lalu.  Sedangkan pada 2010 diperkirakan pengguna fixed broadband di Asia Pasifik  menembus angka  212.6 juta pelanggan.

Istilah broadband bagi pengguna internet diartikan  pipa yang lebar untuk koneksi internet, sehingga memberikan akses yang jauh lebih cepat hingga 10-20 kali lipat  dibandingkan  modem dial-up yang hanya mampu menghantarkan kecepatan dikisaran  30 hingga 50 kilobits per second (Kbps).

Fixed broadband sendiri bisanya diusung oleh dua teknologi yakni melalui xDSL (kabel tembaga) dan Fiber To The Home (FTTH) (serat optik). xDSL adalah istilah untuk menyebut semua tipe teknologi digital subscriber lines. Dua jenis yang utama adalah ADSL dan SDSL. Dua jenis lainnya adalah High-data-rate DSL (HDSL) dan Very high DSL (VDSL)

Country Director  Frost & Sullivan  Eugene van de Weerd mengungkapkan, fixed broadband tetap akan tumbuh meskipun mobile broadband sedang menunjukkan ekskalasi peningkatan yang tinggi.

Menurut dia, peningkatan penggunaan Fixed broadband karena gencarnya pemerintah lokal di Asia Pasifik membangun infrastruktur  seperti proyek broadband kecepatan tinggi Malaysia (HSBB), jaringan broadband nasional Australia (NBN) dan rencana induk iN2015 Singapura.

Berdasarkan analisa yang dilakukan lembaga ini,   pasar fixed broadband di  Asia-Pacific    termasuk Jepang , akan tumbuh sebesar 14.1 persen setiap tahun (CAGR) pada periode 2009-2014 dan akan mencapai 342.9 juta pelanggan pada akhir 2014.

Pada tahun yang sama, penetrasi pemakaian broadband rumah tangga di kawasan Asia Pacific akan bertumbuh sebesar 37.2 persen, dari hanya sekitar 18 persen tahun lalu, dengan estimasi pendapatan akan mendekati 69 miliar dollar AS.

International Telecommunication Union (ITU) juga melansir data terbaru tentang perkembangan fixed broadband lima tahun terakhir di dunia.

Tercatat, hingga sekarang ada 500 juta pengguna fixed broadband dari jumlah 2004 sekitar  150 juta pengguna.

Berdasarkan riset ITU, di  Afrika, hanya ada satu pelanggan  fixed broadband dari seribu orang. Di Eropa, terdapat 200 pelanggan dari setiap seribu orang.

China tercatat sebagai pasar terbesar dari fixed broadband. Pada tahun lalu penetrasi fixed broadband di negeri tirai bambu itu mencapai 6,2 pelanggan dari 100 orang.

Kondisi Indonesia

Di Indonesia, fixed broadband diperkirakan  sekitar 1,5 juta pelanggan. Penyedia jasa ini diantaranya Telkom, Bizznet, First Media, Melsa Net, Indosat,  dan Lintas Artha.

Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Nonot Harsono menjelaskan, di luar negeri pertumbuhan fixed broadband lumayan tinggi karena dipicu oleh pemerintahnya berinisiatif mengondisikan kebutuhan dan infrastruktur jasa tersebut, tingkat pendapatan penduduk yang tinggi, serta konten yang banyak.

“Jasa ini berbeda dengan mobile broadband. Di fixed broadband terdapat jaminan kualitas dan kecepatan yang benar-benar broadband. Jadinya, harga layanan lumayan mahal, tentunya mereka yang benar-benar butuh internet yang akan sanggup membayar,” jelasnya kepada Koran Jakarta, Rabu (7/10).

Berdasarkan catatan, jasa fixed broadband dibanderol lumayan besar. Bisa mencapai 500 hingga 700 ribu rupiah per bulan dengan jaminan kecepatan broadband yang stabil.

Direktur Utama Melsa Heru Nugroho mengakui penetrasi fixed broadband memang masih rendah karena pelanggan sangat sensitif dengan tarif.  “Daya beli pasar rendah sekali. Apalagi  masyarakat belum  tune in denga gaya hidup masyarakat modern yg tidak bisa lepas dari internet. Jika keadaanya begini pertumbuhan jasa ini tak lebih dari 30 persen,” jelasnya.

Ketua Bidang Pengembangan Teknologi Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) Taufik Hasan mengungkapkan minimnya penggelaran infrastruktur   dan konten domestik  yang terbatas adalah pemicu utama. “Akhirnya tarif menjadi mahal  karena harus membayar bandwidth akses ke luar negeri,” jelasnya.

Sementara Praktisi Telematika Suryatin Setiawan tidak setuju dengan tudingan terbatasnya konten lokal sebagai salah satu pemicu rendahnya pertumbuhan fixed broadband. “Tidak benar itu, sekarang ini yang penting adalah akses internet. Konten memang nantinya akan pegang peranan dalam pertumbuhan traffik tetapi sekarang belum,” tegasnya.

Stimulus

Nonot menyarankan, guna mendorong pertumbuhan fixed broadband di Indonesia perlu dilakukan pendataan yang akurat tentang potensi pasar dan memainkan inovasi pemasaran.

“Sudah jelas jasa ini buat segmen atas. Masalahnya ada kecenderungan operator hanya menggarap wilayah yang itu-itu saja karena minim data. Selain itu bisa dipikirkan untuk mengoptimalkan pengguna TV kabel beralih ke fixed broadband karena inilah pasar potensial yang paling bisa digarap,” jelasnya.

Selain itu, tambah Nonot, investasi yang dikeluarkan untuk membangun infrastruktur fixed broadband lumayan besar terutama untuk rute yang belum pernah ada galian. “Membentangka kabel itu tidak gampang walau harga serat optik makin murah. Apalagi jika di wilayah itu sebelumnya tidak ada rute, pekerjaan sipilnya bisa mahal,” jelasnya.

Taufik menambahkan, pemerintah harus bisa menyediakan infrastruktur layaknya di luar negeri untuk mendorong harga menjadi murah. “Selain itu perlu adanya konten yang relevan dengan pengguna yang dibidik. Buat apa jalan tol dibangun kalau tidak ada mobil yang lewat,” katanya.

Suryatin mengakui masalah penyediaan jaringan tulang punggung pita lebar di lingkup nasional mendesak diinisiasi oleh pemerintah. “Penyediaannya bisa oleh operator atau bekerjasama dengan pemerintah. Namun untuk daerah yang belum komersial, selayaknya pemerintah turun tangan atau  memberi imbalan insentif dalam berbagai macam bentuk bagi operator yang sudah mau membangun di kawasan kering,” katanya.

Selain itu, lanjutnya,  pemerintah harus  mulai membudayakan  meng-on-line- kan proses sederhana dan dasar di instansi negara. Misalnya,  kewajiban pelaporan bertingkat tingkat dari daerah ke pusat melalu email dan web serta layanan untuk masyarakat seperti KTP, SIM, STNK, BPKB bisa mudah dilakukan secara online.

“Di luar negeri itu bisa maju jasa fixed broadband karena  pemerintahnya memiliki komitmen pembangunan infrastruktur dan memberikan contoh bagi masyarakat  dalam kehidupan sehari-hari bagaimana bermanfaatnya teknologi broadband,” tegasnya.[dni]

081009 Ponsel Bundling Telkomsel akan Terjual 2 juta Unit

JAKARTA—Telkomsel menargetkan   penjualan ponsel bundling yang diinisiasi dengan vendor bisa laku sebanyak dua juta unit hingga akhir tahun nanti. Saat ini sudah terjual sekitar 1,8 juta unit ponsel bundling dimana umumnya banyak dikuasai ponsel high end.

“Kami memiliki ponsel bundling dari low end hingga high end. Pasarnya lumayan menggiurkan,” ujar GM Device Management Telkomsel, Heru Sukendro  di Jakarta, belum lama ini.

Diungkapkannya, saat ini penjualan ponsel high-end, menguasai sekitar  40-45 persen penjualan. Sedangkan  untuk kelas low-end   dibundling dengan kartu AS dan   ponsel kelas high-end dibundling dengan kartu perdana Simpati.

Selanjutnya dijelaskan, baru-bari ini  Telkomsel menggandeng vendor Micxon untuk menghadirkan ponsel  Qwerty seri S908.
“Langkah ini merupakan komitmen kami untuk memenuhi kebutuhan masyarakat mobile lifestyle,” ujarnya.
Telkomsel memasarkan paket bundling Micxon S908 dengan banderol Rp1,1 juta, beserta kartu Simpati yang bisa gratis akses data 10 MB per bulan selama enam bulan pemakaian.

Micxon S908 merupakan ponsel Qwerty yang didukung trackball untuk kemudahan navigasi dan fitur sensor gerak. Selain itu, ponsel pabrikan Singapura ini menawarkan fitur Google Maps yang berfungsi sebagai penunjuk arah ketika sedang melakukan perjalanan.

GM Sales and Marketing Micxon Mobile Indonesia Miming,  ponsel yang telah dilengkapi teknologi Bluetooth, FM Radio, dan MP3/MP4 ini juga memiliki fitur Office Document yang mampu membaca file dalam bentuk word, excel, dan PDF.[dni]

081009 Saatnya Mulai Menata Serat Optik

Di sejumlah kota besar di Indonesia bukan lagi hal yang aneh ditemui banyaknya galian kabel serat optik dilakukan oleh para kontraktor sipil.

Bagi penyelenggara jasa telekomunikasi, serat optik memang menjadi pilihan utama untuk menyediakan akses ke last mile ketimbang tembaga.

Hal ini karena serat optik mampu menghantarkan data dengan kecepatan tinggi dan harganya lumayan murah. Di pasaran harga serat optik per meternya mencapai tiga dollar AS, angka itu diluar pekerjaan sipil untuk menanamnya.

Sedangkan kecepatan akses data   yang bisa dihantar 10 mbps hingga 1 Gbps, tergantung kepada yang diinginkan oleh penyelenggara.

Penggelaran serat optik yang marak tentunya tak bisa dilepaskan akan datangnya era Fiber To The x  (FTTx) untuk menggantikan xDSL dengan tembaga.

Sayangnya, karena belum adanya penataan dari pembangunan serat optik, terjadilah kesemerawutan di bawah perut bumi akibat rute yang dipakai oleh operator hanya itu-itu saja.

“Jika bisa diteropong ke bawah tanah, akan kelihatan serat optik itu numpuk. Seandainya terlihat di luar akan mengalahkan hutan menara yang didengung-dengungkan regulator,” ungkap Direktur Utama Melsa Net Heru Nugroho kepada Koran Jakarta, Rabu (7/10).

Menurut Heru, terjadinya kesemerawutan pembangunan serat optik karena pemerintah sudah salah langkah sejak awal dalam memberikan izin bagi penyelengara. “Pemerintah tidak pakai   prediksi dan analisis lapangan yang komprehensif. Lisensi penyelenggaraan diberikan secara mudah   kepada banyak ‘players’, tanpa satu grand design terpadu,” sesalnya.

Pemerintah dianggap terlalu mempercayai proses seleksi alam sehingga hanya yang punya modal kuat mampu bertahan.  Akibatnya, semua  pemain  berlomba-lomba untuk perform dan membangun tanpa kendali, tanpa pengawasan lapangan yang terintegrasi.

“Jangan kaget   antara Jakarta-Bandung ada sejumlah tarikan serat optik yang masing-masing  utilisasi   cuma di bawah 50 persen. Malah saya dengar ada serat optik yang idle sampai 90 persen. Itu baru Jakarta-Bandung. Belum lagi yang di dalam kota. Padahal, di daerah tertentu yang tidak komersial  belum ada tarikan serat optik sama sekali,” katanya.

Ketua Bidang Pengembangan Teknologi Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) Taufik Hasan mengakui overlay memang terjadi dalam pembangunan serat optik khususnya yang dijadikan tambahan dari  dari jaringan yang ada, untuk pemain yang berbeda.

Praktisi Telematika Suryatin Setiawan mengatakan, jaringan serat optik  memerlukan redudansi agar robust. Duplikasi dalam batas tertentu masih bisa diterima agar ada juga persaingan tapi duplikasi berlebihan perlu dihindari.

“Misalnya di jalur yang sama dibangun serat optik  lebih dari 2 operator . Suatu saat nanti , tak akan juga bisa dihindari ada serat optik  bersama di kalangan operator. Ini hanya soal waktu saja,” katanya.

Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Nonot Harsono menyarankan, pemerintah harus memiliki perencanaan yang jelas dalam pembangunan serat optik.

“Lebih baik masalah pembangunan serat optik yang menjadi backbone itu ditender dengan pesertanya para kontraktor jaringan. Setelah itu, infrastruktur ditawarkan ke operator yang mau memelihara. Nah, bandwitdh yang dipelihara itu dijual ke penyedia jasa internet, kalau begini baru tarif bisa murah karena investasi bisa ditekan,” katanya.

Menurut Nonot, pembangunan ala Palapa Ring yang memaksa opertaor membangun serat optik tidak akan efisien karena dari hulu ke hilir infrastruktur dikuasai oleh penyelenggara jaringan. “Tren ke depan adalah open access. Ini harus mulai direvisi,” katanya.

Heru mengakui, jika bicara keadaan saat ini sudah dilematis untuk membangun serat optik ala Palapa Ring  karena sudah kadung semerawut. “Semestinya pemerintah bisa menata ulang, meski upayanya  cukup berat dan harus sedikit  otoriter,” katanya.

Taufik menambahkan, idealnya untuk serat optik  yang memerlukan right of way di jalan-jalan, gorong-gorong,  dan polongan yang perlu ijin gali, maka perlu didorong adanya facility based operator yang dapat menyewakan serat optik  kepada yang lain

Palapa Ring sendiri merupakan megaproyek pembangunan tulang punggung (backbone) serat optik yang diinisiasi oleh Pemerintah  yang terdiri dari 35.280 kilometer serat optik bawah laut (submarine cable) dan 21.708 kilometer serat optik bawah tanah (inland cable). Kabel backbone yang terdiri dari 7 cincin (ring) melingkupi 33 provinsi dan 460 kabupaten di Kawasan Timur Indonesia. Dalam waktu dekat, Telkom mulai membangun link yang menghubungkan Mataram dan Kupang.

Untuk tahap pertama, pada Oktober 2009 Telkom akan membangun serat optik Mataram Kupang (Mataram Kupang Cable System), sepanjang  1.041 Km laut dengan 6 landing point di kota Mataram, Sumbawa Besar, Raba, Waingapu dan Kupang, serta 810 Km darat dengan 15 node di kota Mataram, Pringgabaya, Newmont, Taliwang, Sumbawa Besar, Ampang, Dompu, Raba, Labuhan Bajo, Ruteng, Bajawa, Ende, Maumere, Waingapu, dan Kupang.[dni]