071009 Lion Air Batal Layani Rute Jeddah

JAKARTA–Maskapai swasta, Lion Air, memastikan tidak bisa melayani rute Jakarta-Jeddah tahun ini seiring belum lengkapnya administrasi dokumen perusahaan tersebut menurut regulator Arab Saudi.

Sebelumnya, maskapai tersebut menargetkan untuk membuka rute Jakarta-Jeddah pada Juni lalu. Namun, karena pesawat belum ada diundur menjadi sekitar Agustus.

Seiring pesawat sudah tiba, tetapi kendala dihadapi masalah kelengkapan dokumen dengan General Authority Civil Aviation (Gaca) Arab Saudi.

Rencananya jika rute tersebut dibuka, Lion akan membidik umat Islam yang menunaikan umroh dan pebisnis ke Timur Tengah.

“Sebelumnya kami optimistis pada bulan ini bisa keluarnya izin, tetapi seiring adanya dokumen yang diklarifikasi, sepertinya tahun ini Lion batal melayani rute Jeddah tahun ini. Tahun depan baru bisa direalisasikan,” ungkap Direktur Umum Lion Air Edward Sirait di Jakarta, Selasa (6/10).

Diungkapkannya, untuk memaksimalkan satu unit pesawat B 747-400 yang telah dipesan, Lion akan menyewakan untuk penerbangan ke Fukouka, Jepang pada Desember ini. “Kita akan buka rute Denpasar-Fukouka. Ini hanya sewa saja karena di Jepang bulan tersebut sedang musim libur,” katanya.

Ditambahkannya, saat ini Lion telah memiliki 26 armada dan akan menjadi 30 armada pada akhir tahun nanti. “Masalah ketersediaan armada ini berpengaruh pada target penumpang. Kita menargetkan mengangkut 13 juta penumpang, sekarang baru terealisasi 9 juta penumpang,” katanya.

Selanjutnya dijelaskan, untuk meningkatkan keselamatan dari setiap penerbangan yang dilakukan armadanya, Lion Air mengimplementasikan instrumen navigasi pesawat Required Navigation Performance (RNP).

RNP instrumen merupakan salah satu bagian dari global navigation system yang dapat meningkatkan keselamatan penerbangan pada saat pesawat akan melakukan approach dan departure procedures (RNP procedures) di suatu bandara yang sudah dilengkapi juga dengan system navigasi tersebut.

Sistem navigasi ini akan memudahkan pilot untuk melakukan approach secara lebih presisi dengan pattern yang ada sehingga mengurangi kemungkinan pesawat melakukan divert (mengalihkan pendaratan di bandara lain), meminimalkan konsumsi bahan bakar, dan meminimalkan kecelakaan.[Dni]