061009 Gempa Sumbar: Menyadari Arti Pentingnya Komunikasi

IMG_5612Ranah minang pada Rabu (30/9) lalu kembali diguncang gempa setelah pada awal Ramadan mendapatkan goyangan yang sama dari bumi.

Jika pada awal Ramadan gempa berkekuatan 6,8 SR yang menggoyang wilayah tersebut, maka pada pekan lalu kekuatannya lebih dahsyat, yaitu mencapai 7,6 SR.

Akibat goyangan yang besar dari bumi tersebut maka ratusan gedung atau rumah di wilayah Sumbar rubuh atau rusak. Gempa juga ikut merusak infrastruktur dasar seperti penampungan air bersih, listrik, jalan, hingga telekomunikasi.

Di Sumbar sendiri terdapat beberapa operator telekomunikasi seperti Telkom, Telkomsel, Indosat, XL, Natrindo Telepon Seluler (NTS), Hutchinson CP Telecom Indonesia (HCPT), dan Bakrie Telecom. Sesaat setelah gempa terjadi, jaringan operator yang berfungsi hanyalah Telkom Flexi, Esia, dan XL.

“Layanan Flexi sesaat setelah  gempa terjadi masih berjalan. Kita bisa on kira-kira 4 jam, setelah itu drop karena kehilangan catu daya. Soalnya yang digunakan untuk menghidupkan BTS adalah baterai karena listrik padam,” ungkap GM Telkom Sumbar Syahril kepada Koran Jakarta, akhir pekan lalu.

Diungkapkannya, Flexi di Sumbar memiliki 120 ribu pelanggan dimana  60 persen berasal dari Kota Padang. Kekuatan infrastruktur yang mendukung adalah 85 site BTS dimana  26 site  berada di  Padang  dan 11 site di   Pariaman.

“Jika pada beberapa jam setelah gempa terjadi kesulitan berkomunikasi itu karena terjadinya jamm trafik alias disaat bersamaan jumlah panggilan outgoing dan incoming sangat tinggi. Karena BTS menggunakan baterai, makin terkuraslah energinya,” jelasnya.

VP Public Relations dan Marketing Communication Telkom Eddy Kurnia menambahkan, untuk telepon rumah juga sempat terjadi gangguan karena jamm trafik dan Sentral Telepon Otomat (STO) kehilangan daya listrik. “Tetapi STO di pusat gempa seperti padang dan Pariaman berjalan baik.  Total kapasitas STO Sumatera Barat dalam keadaan normal mencapai 180.000 satuan sambungan layanan,” jelasnya.

Syahril menjelaskan, layanan Flexi kembali normal pada Jumat (2/10) malam setelah pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk genset mengalir dari wilayah sekitar Sumbar. “Kendala kami memang di BBM. Kalau bicara teknis, semua tidak ada masalah,” katanya.

Sementara Direktur Korporasi Bakrie Telecom Rakhmat Junaedi mengungkapkan, jaringannya sempat terputus link dari Padang, tetapi dalam beberapa jam bisa recovery seusai gempa. “Kami punya dua link. Beberapa jam saja semua sudah recovery di hari pertama gempa. Untuk memperlancar komunikasi warga, Esia menyediakan 20 unit telepon gratis,” katanya.

Sedangkan VP West Region Xl Agus P Simorangkir mengatakan, jaringan XL bekerja secara normal sesaat setelah gempa terjadi. “Begitu kami mengetahui infrastruktur tidak mengalami masalah, langsung genset dinyalakan. Jadi, semua aman. Apalagi pasokan BBM dari Muara Bungo langsung kita pesan untuk keterjaminan layanan,” katanya.

Saat ini di Sumbar XL memiliki 500 ribu pelanggan dengan kekuatan infrastruktur 258 BTS. Sebanyak 126 BTS berada di Padang, Bukittinggi, dan Pariaman. “Kekuatan XL lainnya adalah back-up untuk  transmisi yang mencapau tiga layer yakni dari Padang ke Medan, Padang ke Pekan Baru menggunakan serat optik, dan Padang-Rengat dengan  microwave,” ujarnya.

Telkomsel Merana

Jika tiga operator di atas infrastrukturnya selamat dari gempa. Tidak demikian dengan pemimpin pasar di ranah minang yaitu, Telkomsel. Operator ini memiliki 3 juta pelanggan di Sumbar dimana 90 persen berada di Padang.

Direktur Utama Telkomsel Sarwoto Atmosutarno mengungkapkan, pemicu utama jaringannya bermasalah di kala gempa terjadi adalah tidak adanya pasokan listrik, perangkat yang bergeser, dan rubuhnya BTS yang berada di atap gedung.

“Hampir 25 persen BTS berada di atap gedung atau (roof top). Inilah yang menjadi kendala kami. Banyak titik BTS yang hilang karena gedungnya rubuh. Terutama untuk layanan di inner jaringan,” jelasnya.

Sarwoto memperkirakan, dua minggu setelah gempa barulah layanan Telkomsel kembali normal. Sedangkan memasuki hari keempat paska gempa, Telkomsel  baru  berhasil mengoperasikan kembali 709 BTS. “Jumat malam kita sudah bisa mulai smooth melayani pelanggan. Untuk titik yang hilang kita sediakan 5   Compact Mobile Base Transceiver (COMBAT) atau mobile BTS ,” jelasnya.

Telkomsel  juga menyiapkan 20 pico BTS via satelit VSAT di daerah terpencil yang sulit dijangkau. Untuk menjaga performansi jaringan dan mempercepat pengoperasian kembali BTS-BTS yang kehilangan pasokan listrik, Telkomsel telah mendatangkan 74 mobile genset dari Jakarta, Palembang, Pekanbaru, Jambi, dan Medan, serta melengkapi BTS dengan baterai rechargeable yang kuat men-supply catudaya hingga 6 jam.

Sarwoto menjelaskan,  beroperasinya 709 BTS tersebut, membuat  coverage layanan Telkomsel telah menjangkau 85 persen inner Padang dan hampir 100 persen wilayah outer seperti Pariaman, Bukit Tinggi, Solok, Payakumbuh, Pasaman, Palangki, dan Painan.

Koran Jakarta yang berada di Padang sejak Kamis (1/10) memang baru bisa berkomunikasi dengan Telkomsel pada Jumat malam. Dan pada minggu akses data sudah bisa digunakan.

Planning Diubah

Secara terpisah, Pengamat telematika Miftadi Sudjai menyarankan, belajar dari bencana alam yang sering terjadi di Indonesia, operator harus berani melakukan restrukturisasi pola pengembangan jaringannya.

“Jangan disamakan pola planning untuk wilayah yang rawan bencana alam seperti gempa dengan yang tidak rawan. Soalnya komunikasi itu merupakan salah satu kebutuhan penting saat ini. Bagi masyarakat untuk mengetahui kondisi keluarganya, sedangkan bagi pemerintah untuk berkoordinasi,” jelasnya.

Miftadi menyarankan, dalam membangun link antarkota, operator harus membuat berlapis agar jika terjadi pergeseran di bawah bumi sehingga membuat salah satu link terputus masih ada cadangan. Sedangkan untuk penempatan BTS di atap gedung harus memperhatikan konstruksi dari gedung.

“Biasanya jika yang ditempatkan berupa radio dan semua sistem itu bisa mencapai 5 ton. Anda bisa bayangkan, jika terjadi gempa gedung harus menahan beban dirinya dan BTS juga. Sebaiknya beban berat penunjang BTS seperti pendingin atau kabinetnya diletakkan di bawah gedung,” jelasnya.

Miftadi juga meminta pemerintah memperhatikan masalah pasokan BBM bagi genset operator ketika gempa terjadi. “Jangan diberikan harga industri. Sudah bukan rahasia lagi masalah BBM ini menjadi kendala utama untuk menjalankan BTS. Kalau begini komunikasi tidak bisa digunakan, dampaknya para korban bencana di wilayah terisolir tidak bisa berkomunikasi,” tegasnya.

Transparan

Secara terpisah, Direktur Kebijakan dan Perlindungan Konsumen Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat Informasi (LPPMI) Kamilov Sagala mendesak operator untuk menjaga transparansi dalam menginformasikan kondisi jaringannya jika terjadi bencana.

“Saya melihat ada arogansi dari operator yang merasa enggan untuk mengakui jaringannya bermasalah, meskipun terjadi   gempa,” katanya.

Menurut Kamilov, sikap arogansi tersebut harus ditinggalkan oleh operator karena masyarakat membutuhkan akses komunikasi dari penyelenggara jasa yang benar-benar berfungsi kala bencana terjadi.

“Rasanya bicara jujur jaringan memang bermasalah itu tidak apa-apa. Mana ada jaringan yang tidak bermasalah jika dihantam gempa sebesar itu. Ini pakai bilang masih aman untuk akses menggunakan jasa tertentulah, padahal memang semua jasa yang dimiliki bermasalah,” sesalnya.

Berdasarkan catatan, sesaat setelah gempa Indosat menyatakan akses data dan internet masih berjalan. Namun, ketika Koran Jakarta melakukan aktivitas peliputan di Padang mulai Kamis (1/10) hingga Sabtu (3/10), koneksi internet dengan modem Indosat tidak bisa dilakukan sama sekali.

Selain itu, Kamilov menyarankan,   masyarakat untuk tidak meng-abuse penggunaan jaringan dikala bencana terjadi karena usaha yang dilakukan oleh operator untuk menyelengarakan layanan membutuhkan biaya lumayan besar. “Hitung saja biaya untuk menghidupkan genset dan menjalankan mobile BTS. Berkomunikasilah seperlunya,” katanya.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s