061009 Antara Melayani dan Mencuri Start

IMG_5795Selalu ada hikmah dikala bencana datang. Idiom ini rasanya tepat sekali digunakan untuk menggambarkan persaingan jasa komunikasi di Sumbar sesaat setelah gempa terjadi.

Tak percaya, lihatlah antrian yang terjadi di kantor XL,  di Padang sehari setelah gempa terjadi. Antrian yang panjang dilakukan warga Padang  seperti ingin mendapatkan sembako terjadi di kantor yang berlokasi di Jaan A. Yani Padang tersebut.

“Saya lagi antri kartu perdana XL. Soalnya hanya XL yang bisa digunakan untuk daerah rumah saya,” ujar Hendra (20) yang mengaku tinggal di Ampang, Padang.

VP West Region XL Agus P Simorangkir mengungkapkan, tidak hanya warga Padang yang mencari kartu perdana XL, tetapi para relawan atau kerabat yang baru masuk Padang pada hari pertama langsung berganti kartu menjadi XL.

“Dalam waktu dua hari saja terjual 110 ribu kartu perdana. Biasanya sangat susah mendapatkan angka itu di Padang. Rencananya akan disediakan tambahans ekitar 500 ribu kartu baru,” jelasnya kepada Koran Jakarta, Jumat (2/10).

Dijelaskannya, pada tanggal 1 Oktober terjadi kenaikan trafik percakapan di Padang sebesar 40 persen. Sedangkan per hari rata-rata terjadi trafik sekitar 100 ribu erlang.

Agus menjelaskan, dalam menjual perdana tidak ada perubahan harga. “Bahkan kami tidak harus menyeleksi itu yang antri adalah distributor atau masyarakat biasa. Bagi kami semangatnya melayani,” katanya.

Menurut Agus, komitmen satu operator melayani pelanggan sebenarnya diuji kala bencana terjadi. “Bayangkan usaha kami menyalakan genset. Kami sampai pesan ke Muaro Bungo dan daerah lainnya. Biaya operasional meningkat hingga 20 persen. Tetapi ini tidak ada apa-apanya dibandingkan kepuasan melayani pelanggan kala dibutuhkan,” jelasnya.

Berdasarkan pantauan Koran Jakarta, kartu perdana di kantor XL memang dijual sesuai harga banderol yakni sekitar dua ribu rupiah. Tetapi ketika berkeliling Kota Padang, di konter penjualan bisa mencapai 35 ribu rupiah.

Ketika hal itu dikonfirmasi ke Agus, dijelaskannya, pihaknya tidak bisa mengontrol penjualan setelah di pasar. “Karena itu kami lebih menghimbau pengguna mengisi pulsa saja. Denominasi yang paling diminati adalah 10 ribu rupiah. Tetapi jika ada pelanggan operator lain yang switch kartu tentu tidak bisa ditolak,” katanya.

GM Telkom Sumbar Syahril menjelaskan, Flexi juga mengalami lonjakan permintaan kartu perdana sehari setelah gempa terjadi karena masayarakat mengetahui jasa milik Telkom itu masih berfungsi. “Sebenarnya itu hanya buahnya saja. Konsentrasi Telkom adalah recovery perangkat,” tegasnya.

Sementara Direktur Utama Telkomsel Sarwoto Atmosutarno mengungkapkan, akibat jaringannya bermasalah selama beberapa hari terdapat potensi pendapatan yang hilang sebesar 2,8 miliar rupiah.

“Kami dalam dua hari  setelah gempa baru menggunakan jaringan sebesar 63 persen. itu berarti ada potensial loss. Padahal sebulan kita bisa mendapatkan 350 miliar rupiah di sini,” jelasnya.

Berdasarkan catatan, di Sumbar Telkomsel memiliki 3 juta pelanggan. Sebanyak 90 persen berada di Padang.

Sarwoto mengaku tidak khawatir kehilangan pelanggan karena jaringannya belum optimal sesaat setelah gempa. “Bagi saya itu hal yang wajar-wajar saja dilakukan kompetitor. Namanya mencuri start. Tetapi jika jaringan kami sudah kembali normal, kita bisa mendapatkan kembali pelanggan yang pindah kartu,” tegasnya

Sarwoto menegaskan, Telkomsel tetap akan fokus pada tiga strategi untuk mendapatkan pelanggan yakni menggarap komunitas, memberikan layanan berkualitas, dan mendapatkan pelanggan yang memberikan pendapatan.

”Kita tidak mau terima pelanggan yang hanya menggosok kartu perdana setelah itu dibuang. Masalah layanan seusai gempa ini hanya soal recovery harus cepat,” katanya.

Berdasarkan pantauan Koran Jakarta, di Padang memang semua operator membuka posko layanan di depan kantornya. Namun, lokasi yang banyak dikunjungi pengunjung adalah milik Telkom, XL, dan Telkomsel.

Tujuannya untuk isi ulang pulsa atau membeli kartu perdana Sedangkan di posko operator lainnya kebanyakan masyarakat menumpang telepon atau men-charge baterai gratis. Hal ini karena di pinggir Kota Padang untuk men-charge baterai ponsel saja dikenakan biaya 6 ribu rupiah per jam karena listrik padam.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s