031009 Evakuasi Tidak ada Koordinasi

PADANG–Evakuasi yang dilakukan bagi korban gempa di Sumbar ternyata tidak ada koordinasi.

Pantauan Koran Jakarta di lapangan menyimpulkan evakuasi hanya difokuskan di titik yang ada korban banyak atau menyedot perhatian media.

Bahkan dari informasi yang dihimpun dari beberapa relawan di lapangan, daerah Pariaman dan Pesisir Selatan yang juga mengalami kerusakan parah tidak mendapatkan sentuhan yang berarti dari tim evakuasi.

“Tim evakuasi hanya fokus di Padang. Padahal, pusat gempa seperti Pariaman bisa dikatakan belum tersentuh. Di Pesisir Selatan banyak rumah runtuh juga belum ada tanda-tanda evakuasi,” ungkap Chairul (42) kepada Koran Jakarta, Jumaat (2/10).

Di pasar Padang Pariaman, lanjutnya, tidak ada evakuasi dilakukan dengan alat modern. “Hanya swadaya masyarakat,” katanya.

Hal lain yang disayangkan oleh Chairul adalah tim evakuasi yang dikoordinir pemerintah lebih, walaupun di Padang, hanya memusatkan tenaga pada titik yang mendapat sedotan perhatian media massa seperti STBA Prayoga, bimbingan belajar Gama, dan hotel Ambacang.

Ironisnya lagi, untuk tempat-tempat yang minim perhatian media massa atau ditempati perorangan, evakuasi dilakukan secara swadaya.

“Lihat saja rumah pribadi di Jalan Ujung Gurun Padang, Eskavator disewa sendiri seharga 200 ribu rupiah perjam. Itu diluar biaya operasional. Kalau begini hanya mereka yang berduit bisa melakukan evakuasi,” katanya.

Pantauan Koran Jakarta juga menemukan titik-titik yang belum tersentuh evakuasi di Padang adalah daerah Pondok (perkampungan warga China), Pasar Simpang Aru, Sentral Pasar Raya, Suzuki Showroom, dan beberapa rumah penduduk di Tunggul Hitam, Tabing, dan Kuranji.

Selain masalah evakuasi, warga Padang mulai berteriak masalah sanitasi dan BBM.

“Air bersih sulit sekali. Air dalam kemasan harga melonjak hingga ribuan persen,” jelas Redo (25).

Untuk BBM berdasarkan pantauan Koran Jakarta, di setiap SPBU masih terjadi antrian. Pembelian masih dibatasi menjadi 50 ribu perliter rupiah.[Dni]

031009 Pencarian di STBA Prayoga Dihentikan

PADANG–Pencarian korban akibat gempa di STBA Prayoga dihentikan oleh tim pencari setelah salah seorang korban yang masih hidup, Suci (25), berhasil diselamatkan dalam proses evakuasi yang memakan waktu 35 jam.

STBA Prayoga adalah salah satu titik pencarian yang diintensifkan selain bimbingan belajar Gama, dan Hotel Ambacang.

“Kami terpaksa menghentikan evakuasi karena dipastikan sisa korban yang ada telah meninggal dunia,” ungkap Letkol Inf Edward Hendrik di Padang, Jumat (2/10).

Namun, tentang jumlah korban Edward tidak bisa memastikan. “Yang bisa kami selamatkan 7 orang termasuk Suci. Namun, jumlah total yang ada di dalam simpang siur. Perkiraan 20 an orang,” jelasnya.

Edward menjelaskan, kendala yang dihadapi adalah terbatasnya jumlah alat berat dan sempitnya lobang untuk memasukkan tim ke dalam. “Kami hanya bisa memasukkan satu anggota untuk menarik korban. Dan dari anggota yang masuk itulah didapat informasi jika semua korban sudah meninggal,” katanya.[Dni]