011009 Mulai Barang Selundupan hingga Perang Mitra

Penggunaan   BlackBerry di Indonesia mulai menunjukkan tren positif sejak tahun lalu.

Pemicunya ada dua. Pertama, munculnya layanan BlackBerry prabayar dengan pola langganan mulai harian hingga mingguan. Kedua, banyaknya beredar barang di luar milik mitra resmi tetapi masih bisa digunakan karena adanya layanan prabayar.

Fenomena penjualan melalui non mitra ini sempat menimbulkan kontroversi seiring RIM melakukan pemblokiran Personal Identification Number (PIN) pada awal tahun ini.

Akibatnya perangkat tidak bisa digunakan untuk aplikasi yang bersentuhan dengan BlackBerry Internet Services (BIS). Tanpa BIS, perangkat tidak ubahnya ponsel kuno yang hanya bisa digunakan untuk SMS dan suara.

Penjualan melalui non mitra atau lebih dikenal dengan Black Market (BM) tersebut memang simalakama bagi para mitra resmi khususnya operator.

Di satu sisi, operator merasa terbantu karena adanya ketersediaan perangkat dengan harga yang lebih murah sehingga potensi penggunaan layanan semakin besar. Di sisi lain, BlackBerry  yang dimiliki oleh para operator justru tidak laku dijual karena kalah bersaing dari sisi harga.

“Isu importir paralel ini belum juga terselesaikan hingga sekarang. Jika ini belum beres, percuma operator berjualan ala pre order jika akhirnya kalah harga dengan milik importir paralel,” ujar pengamat telematika Bayu Samudiyo kepada Koran Jakarta Rabu (30/9).

Bayu bisa jadi benar. Pantauan Koran Jakarta di sentra-sentra ponsel di Ibukota menemukan banyaknya BlackBerry Gemini dijual dengan harga sekitar 3,350 juta rupiah.  Padahal,  pemerintah baru membuka izin impor resmi bagi para mitra RIM  Ramadan lalu.
Pengamat telematika  Ventura Elisawati mempertanyakan cara masuknya Gemini  meski izin impor masih dicekal. “Barang BM  atau pemerintah kecolongan,” katanya.

Menurut Ventura, jika dihitung dari proses dibukanya kembali keran impor varian baru, Oktober nanti baru bisa masuk Gemini resmi.

“Artinya, waktu sertifikat impor Gemini milik RIM dicekal, ada importir lain yang lolos. Sebab, rata-rata barang operator baru ada minggu kedua Oktober, Gemini baru masuk,” katanya.
Direktur Standarisasi Ditjen Postel Azhar Hasyim menjelaskan, pemerintah telah membuka kembali keran impor varian baru bagi RIM pada Ramadan lalu.

“Kami sudah informasikan ke Bea dan Cukai jika barang tidak ada sertifikat jangan diloloskan. Saya rasa yang dijual itu barang tentengan (selundupan),” katanya.

Azhar pun berjanji akan melakukan sweeping ke pasar dengan berkoordinasi bersama Depdag dan Kepolisian. “Belum lama ini sudah ada sweeping barang ilegal di Sumatera dan Jakarta. Pemerintah tentu tidak rela pajak hilang,” tegasnya.

Perang Mitra

Hal menarik lainnya dari penjualan BlackBerry adalah perang antarmitra RIM, khususnya Indosat dan XL dalam berjualan Gemini. Simak saja polah Indosat sesaat setelah mengetahui XL berhasil mendapatkan pre order sebanyak 1.000 pemesan dan meningkatkan kuota menjadi dua kali lipatnya.

Indosat langsung menjawab keesokan harinya dengan mengumumkan telah berhasil menyamai prestasi XL dan ikut-ikutan meningkatkan jumlah kuota setara XL.

Bahkan operator yang sahamnya dikuasai oleh Qatar Telecom tersebut menegaskan telah memiliki kapasitas ke server RIM hingga 100 Mbps untuk melayani 150 ribu pelanggannya.

Untuk diketahui, Indosat di Indonesia adalah pionir dalam menyediakan layanan BlackBerry. Sayangnya, dalam perjalanan operator ini selalu kesalip memberikan inovasi layanan tersebut dibanding Telkomsel atau XL yang datang belakangan.

Bahkan untuk layanan prabayar harian, Indosat baru meluncurkannya menjelang Lebaran lalu dengan harga yang lebih mahal ketimbang XL. Dari sisi kapasitas ke RIM pun Indosat sekarang kalah ketimbang XL yang memiliki besaran 120 mbps karena memiliki dua link.

Namun, Bayu mengingatkan, mitra RIM jangan terlalu jor-joran menggenjot penjualan layanan BlackBerry terutama dengan pola harian. “Berjualan pola harian itu hanya akan membuat bleeding operator karena marginnya tipis,” katanya.

Hal ini karena  utilisasi jaringan meningkat, uang yang didapat kecil. Berbeda dengan berjualan bulanan dimana layanan dipakai atau tidak uang tetap didapat.

“Selain itu, operator harus mulai berfikir bagaiman mendorong maraknya aplikasi lokal bisa berjalan di BlackBerry, ini akan lebih signifikan mendorong industri kreatif ketimbang berjualan perangkat yang hanya menguntungkan RIM,” katanya.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s