011009 Pendapatan Fixed Broadband Capai US$ 44,9 Miliar

JAKARTA—Pendapatan jasa fixed broadband di  Asia-Pacific diperkirakan pada akhir tahun nanti akan mencapai 44,9 miliar dollar AS atau meningkat 13,3 persen ketmbang tahun lalu.

Lembaga konsultan Frost & Sullivan memperkirakan peningkatan pendapatan tersebut karena jumlah pengguna mencapai 182 juta orang atau meningkat    17.3 persen  dibandingkan tahun lalu.

“Bahkan sewaktu mobile broadband tumbuh secara bersamaan, penggunaan Fixed broadband tetap akan naik,” ujar Country Director  Frost & Sullivan  Eugene van de Weerd di Jakarta, Rabu (30/9).

Menurut dia peningkatan penggunaan Fixed broadband karena gencarnya pemerintah lokal di Asia Pasifik membangun infrastruktur  seperti proyek broadband kecepatan tinggi Malaysia (HSBB), Jaringan broadband nasional Australia (NBN) dan rencana induk iN2015 Singapura. Perusahaan telekomunikasi pun dalam rangka mengembangkan pasar akan melanjutkan pembangunan infrastruktur dasar xDSL (Digital Subscriber Line).

“Di tahun depan, disaat sebagian besar proyek pemerintah mulai beroperasi dalam skala penuh, para pemakai broadband di Asia-Pasifik diperkirakan akan menembus angka 200 jutaan mencapai kisaran 212.6 juta pada akhir tahun 2010,” ujarnya.

Diungkapkannya, berdasarkan analisa yang baru dilakukan belum lama ini pasar fixed broadband di  Asia-Pacific    termasuk Jepang , akan tumbuh sebesar 14.1 persen setiap tahun (CAGR) pada periode 2009-2014 dan akan mencapai 342.9 juta pelanggan pada akhir 2014.

Pada tahun yang sama, penetrasi pemakaian broadband rumah tangga di kawasan Asia Pacific akan bertumbuh sebesar 37.2 persen, dari hanya sekitar 18 persen tahun lalu, dengan estimasi pendapatan akan mendekati 69 miliar dollar AS.

“Sebagian besar pertumbuhan bandwidth serta roll-outs jaringan dalam tahun berikutnya akan didorong oleh pemasangan fibre-to-the-node yang didukung oleh belanja negara untuk proyek broadband kecepatan tinggi nasional,” jelasnya.

Menurut dia,  xDSL  bagaimanapun akan tetap menjadi platform dominan di negara-negara sedang berkembang. “Selera Konsumen untuk koneksi broadband akan terlihat dari permintaan yang tinggi untuk Value-Added Services seperti IPTV serta video-on-demand.” Jelasnya.

Pada tahun 2008, enam negara Asia-Pasifik dengan laju penetrasi penggunaan broadband residensial tertinggi adalah Korea Selatan – sebagai salah satu yang tertinggi di dunia – dengan 92.8 persen, Hong Kong – 85 persen, Singapura – 78.5 persen, Taiwan – 66 persen, Australia – 63.7 persen, dan Jepang – 62.7 persen. Delapan negara Asia Pacific  lainnya mempunyai laju penetrasi pemakaian broadband residensial kurang dari 60 persen.

Berdasarkan jumlah pelanggan, pada tahun 2008 China memiliki pengguna broadband sebanyak 83.4 juta (53.8 persen daerah total dasar pelanggan), diikuti oleh Jepang dengan 30 juta dan Korea Selatan dengan 15.5 juta.[dni]

011009 Mulai Barang Selundupan hingga Perang Mitra

Penggunaan   BlackBerry di Indonesia mulai menunjukkan tren positif sejak tahun lalu.

Pemicunya ada dua. Pertama, munculnya layanan BlackBerry prabayar dengan pola langganan mulai harian hingga mingguan. Kedua, banyaknya beredar barang di luar milik mitra resmi tetapi masih bisa digunakan karena adanya layanan prabayar.

Fenomena penjualan melalui non mitra ini sempat menimbulkan kontroversi seiring RIM melakukan pemblokiran Personal Identification Number (PIN) pada awal tahun ini.

Akibatnya perangkat tidak bisa digunakan untuk aplikasi yang bersentuhan dengan BlackBerry Internet Services (BIS). Tanpa BIS, perangkat tidak ubahnya ponsel kuno yang hanya bisa digunakan untuk SMS dan suara.

Penjualan melalui non mitra atau lebih dikenal dengan Black Market (BM) tersebut memang simalakama bagi para mitra resmi khususnya operator.

Di satu sisi, operator merasa terbantu karena adanya ketersediaan perangkat dengan harga yang lebih murah sehingga potensi penggunaan layanan semakin besar. Di sisi lain, BlackBerry  yang dimiliki oleh para operator justru tidak laku dijual karena kalah bersaing dari sisi harga.

“Isu importir paralel ini belum juga terselesaikan hingga sekarang. Jika ini belum beres, percuma operator berjualan ala pre order jika akhirnya kalah harga dengan milik importir paralel,” ujar pengamat telematika Bayu Samudiyo kepada Koran Jakarta Rabu (30/9).

Bayu bisa jadi benar. Pantauan Koran Jakarta di sentra-sentra ponsel di Ibukota menemukan banyaknya BlackBerry Gemini dijual dengan harga sekitar 3,350 juta rupiah.  Padahal,  pemerintah baru membuka izin impor resmi bagi para mitra RIM  Ramadan lalu.
Pengamat telematika  Ventura Elisawati mempertanyakan cara masuknya Gemini  meski izin impor masih dicekal. “Barang BM  atau pemerintah kecolongan,” katanya.

Menurut Ventura, jika dihitung dari proses dibukanya kembali keran impor varian baru, Oktober nanti baru bisa masuk Gemini resmi.

“Artinya, waktu sertifikat impor Gemini milik RIM dicekal, ada importir lain yang lolos. Sebab, rata-rata barang operator baru ada minggu kedua Oktober, Gemini baru masuk,” katanya.
Direktur Standarisasi Ditjen Postel Azhar Hasyim menjelaskan, pemerintah telah membuka kembali keran impor varian baru bagi RIM pada Ramadan lalu.

“Kami sudah informasikan ke Bea dan Cukai jika barang tidak ada sertifikat jangan diloloskan. Saya rasa yang dijual itu barang tentengan (selundupan),” katanya.

Azhar pun berjanji akan melakukan sweeping ke pasar dengan berkoordinasi bersama Depdag dan Kepolisian. “Belum lama ini sudah ada sweeping barang ilegal di Sumatera dan Jakarta. Pemerintah tentu tidak rela pajak hilang,” tegasnya.

Perang Mitra

Hal menarik lainnya dari penjualan BlackBerry adalah perang antarmitra RIM, khususnya Indosat dan XL dalam berjualan Gemini. Simak saja polah Indosat sesaat setelah mengetahui XL berhasil mendapatkan pre order sebanyak 1.000 pemesan dan meningkatkan kuota menjadi dua kali lipatnya.

Indosat langsung menjawab keesokan harinya dengan mengumumkan telah berhasil menyamai prestasi XL dan ikut-ikutan meningkatkan jumlah kuota setara XL.

Bahkan operator yang sahamnya dikuasai oleh Qatar Telecom tersebut menegaskan telah memiliki kapasitas ke server RIM hingga 100 Mbps untuk melayani 150 ribu pelanggannya.

Untuk diketahui, Indosat di Indonesia adalah pionir dalam menyediakan layanan BlackBerry. Sayangnya, dalam perjalanan operator ini selalu kesalip memberikan inovasi layanan tersebut dibanding Telkomsel atau XL yang datang belakangan.

Bahkan untuk layanan prabayar harian, Indosat baru meluncurkannya menjelang Lebaran lalu dengan harga yang lebih mahal ketimbang XL. Dari sisi kapasitas ke RIM pun Indosat sekarang kalah ketimbang XL yang memiliki besaran 120 mbps karena memiliki dua link.

Namun, Bayu mengingatkan, mitra RIM jangan terlalu jor-joran menggenjot penjualan layanan BlackBerry terutama dengan pola harian. “Berjualan pola harian itu hanya akan membuat bleeding operator karena marginnya tipis,” katanya.

Hal ini karena  utilisasi jaringan meningkat, uang yang didapat kecil. Berbeda dengan berjualan bulanan dimana layanan dipakai atau tidak uang tetap didapat.

“Selain itu, operator harus mulai berfikir bagaiman mendorong maraknya aplikasi lokal bisa berjalan di BlackBerry, ini akan lebih signifikan mendorong industri kreatif ketimbang berjualan perangkat yang hanya menguntungkan RIM,” katanya.[dni]

011009 BlackBerry Gemini : Menuju Perangkat Sejuta Umat

Research in Motion (RIM) belum lama ini mengumumkan kinerjanya sepanjang  kuartal kedua tahun fiskal  ini.
Produsen perangkat BlackBerry tersebut mengklaim telah berhasil menambah  3,8 juta pelanggan selama tiga bulan pada kuartal kedua yang berakhir pada Agustus 2009 lalu. Artinya, hingga dengan kuartal tersebut, pelanggan RIM telah berjumlah  32 juta di seluruh dunia.
Pada periode itu  pendapatan  perusahaan asal Kanada tersebut    mencapai  3,53 miliar dollar AS atau  meningkat 37 persen dibandingkan periode sama tahun fiskal lalu sebesar  2,58 miliar dollar AS.
Keberhasilan RIM meraih pendapatan  sebesar itu lebih banyak dikontribusi melalui hasil penjualan perangkat, yang mencapai 81 persen dari total keseluruhan pendapatan. Sepanjang kuartal kedua ini, RIM mengklaim telah berhasil mengapalkan sekitar 8,3 juta perangkat Blackberry.
Sedangkan kontribusi dari layanan dan software, masing-masing hanya memiliki kontribusi 14 persen dan 2 persen. Sisanya diperoleh RIM dari unit bisnis mereka yang lain.
Di Indonesia, RIM sendiri diperkirakan memiliki sekitar 480 ribu pelanggan yang berasal dari empat operator yakni Telkomsel, Indosat, XL, dan Axis.  Selain empat operator itu, RIM juga memiliki  importir dan distributor lainnya yakni  PT Indosat Mega Media (IM2), PT Malifax Indonesia, dan PT Erajaya Swasembada.

Varian Baru

Di Indonesia, diyakini penjualan perangkat milik RIM akan terus tumbuh karena potensi pasar yang lumayan besar. Hal itu bisa dibuktikan dari tingginya   jumlah pemesanan awal (pre order) untuk setiap varian baru yang  dikeluarkan.

Salah satu buktinya adalah pre order untuk   seri Curve 8520 atau lebih dikenal dengan nama Gemini. Produk ini telah lama ditunggu kehadirannya di Indonesia, tetapi karena sejak Juni lalu RIM tersandung kasus pembukaan purna jual yang berujung pada ditahannya  sertifikasi A miliknya, maka diperkirakan pada Oktober nanti Gemini baru masuk ke pasar Indonesia.

Indosat dan XL mengklaim pre order Gemini telah mencapai dua ribu pemesan. Sedangkan Axis mengambil sikap low profile dengan tidak mengumumkan jumlah pemesan. Sementara Telkomsel baru akan membuka pemesanan pada akhir minggu ini. Diperkirakan masing-masing mitra memesan 20 ribu unit Gemini ke RIM untuk tahap awal pemasarannya di Indonesia.

Gemini memiliki keunikan pada   trackpad untuk navigasi menu yang bukan merupakan scrol seperti biji kelereng kecil layaknya seri terdahulu. Ha ini membuat pengguna   hanya perlu menggeser dengan lembut untuk masuk ke menu – menu.

Gemini juga dilengkapi   tampilan QVGA, papan ketik QWERTY dan slot memori microSD yang mudah diganti mendukung hingga kapasitas kartu memori 16GB, Quad band GSM/GPRS/EDGE, WiFi, Bluetooth 2.0 dan Kamera 2 MP.

Terakhir, tentunya harga yang ditawarkan oleh Gemini diperkirakan sangat terjangkau oleh pasar. Meskipun belum ada harga resmi dikeluarkan para mitra RIM, tetapi rentang harga produk ini tak jauh dari 3,4 juta rupiah. Banderol itu lebih murah tentunya ketimbang varian Bold atau Javelin yang bermain di harga 5 hingga 4 jutaan rupiah.

Picu Penggunaan

Praktisi telematika Ventura Elisawati menjelaskan, Gemini memang ditujukan bagi pengguna awal (Entry level) dari masyarakat yang ingin menggunakan BlackBerry. “Ini boleh dibilang BlackBerry  versi ekonomis. Karena dari sisi perangkat tidak ada bedanya dengan generasi sebelumnya.  Dari sisi harga, varian ini  merupakan revolusi dari RIM,” jelasnya kepada Koran Jakarta, Rabu (30/9).

Ventura menyakini, Gemini bisa menjadi BlackBerry sejuta umat (massal) layaknya Nokia kala meluncurkan seri 5110 dengan permainan ularnya. “Untuk menjadi  perangkat sejuta umat ada  beberapa hal yang menunjang yakni  momentum, ketersedian produk dan servis, serta harga.  Momentum dan kebutuhan sudah ada karena jejaring sosial dan komunikasi non suara sedang hype. Tinggal masalah ketersediaan dan harga,” katanya.

Berdasarkan survei yang dilakukan MarkPlus terhadap beban trafik data operator penyedia layanan BlackBerry, 45 persen di antaranya dipergunakan untuk email, 45 persen untuk chatting dan social networking khususnya Facebook dan 10% sisanya untuk browsing.

Penggagas id-blackberry@yahoogroups.com Abul A’la Almaujudy menambahkan, jika harga yang dipatok oleh mitra RIM bisa lebih murah, dipastikan Gemini bisa membuka jalan bagi BlackBerry menjadi perangkat sejuta umat. “Bisa saja nanti anak-anak kecil menggunakan Gemini layaknya Nokia seri 5110 dulu,” katanya.

Menurut Praktisi Telematika Faizal  Adiputra,  Gemini akan banyak digunakan oleh pengguna yang sebelumnya telah menggunakan seri curve. Pemicunya apalagi kalau bukan track pad yang inovatif.

Sudah bukan rahasia lagi dikalangan pengguna BlackBerry, track ball di seri curve lama sangat rentan rusak sehingga paling sering diganti.

“Nanti yang pakai Gemini itu pengguna Curve seri lama dan varian lainnya yang ingin memiliki BlackBerry kedua, guna berjaga-jaga jika layanan dari operator sedang ngadat,” katanya.

Seiring adanya pengguna yang mengganti BalckBerry miliknya, maka akan terbentuk pasar bekas. Di sinilah muncul pengguna baru dari layanan BlackBerry.

“Harga perangkat bekas tentu lebih murah. Jika sudah seperti ini, masyarakat yang sebelumnya tidak bisa memiliki BlackBerry akan mendapatkan harga terjangkau. Bisa kalah itu  ponsel-ponsel China yang meniru BlackBerry,” jelasnya.

Secara terpisah, Chief Marketing Indosat Guntur S Siboro  mengharapkan hadirnya Gemini mampu menambah jumlah pelanggan BlackBerry Indosat pada akhir tahun nanti. “Kami memiliki 150 ribu pelanggan BalckBerry. Tetapi masalah jumlah pelanggan ini menjadi tidak critical lagi karena sekarang mudah sekali berganti layanan seiring adanya BlackBerry prabayar,” katanya.

Sementara Direktur Komersial XL Joy Wahjudi tetap optimistis pada akhir tahun nanti akan 200 ribu pelanggan menggunakan layanannya setelah saat ini memiliki 160 ribu pelanggan. “Tetap ada peningkatan. XL selalu optiistis kalau soal berjualan,” tegasnya.

Pada kesempatan lain, Pengamat Telematika Bayu Samudiyo mengingatkan para mitra RIM berhati-hati dengan gelembung jumlah pre order.

“Di luar negeri Gemini dua minggu setelah dilepas ke pasar responsnya justru tidak bagus, padahal hargnya sudah dibanting. Jika para mitra RIM tidak bisa menawarkan paket bundling yang menarik, maka bisa saja pemesan mundur dan lebih mencari barang di black market,” katanya.

Bayu meragukan Gemini akan menjadi perangkat sejuta umat jika harga yang dibanderol masih  3,4 juta rupiah. “Kalau harganya 1,5 juta rupiah atau diatas sedikit ponsel China yang meniru BlackBerry baru bisa menjadi sejuta umat.  Justru perangkat sejuta umat itu  China-berry, fiturnya lengkap untuk aplikasi gaul (Facebook, chatting) dan harganya relatif terjangkau,” katanya.[dni]

011009 XL Tidak Tertarik Bermain di IPTV

JAKARTA—PT Excelcomindo Pratama Tbk (XL) menegaskan tidak tertarik untuk bermain di jasa  Internet Protocol TV (IPTV) meskipun pemerintah sudah mengeluarkan regulasi terkait layanan tersebut pada 19 Agustus lalu.

IPTV adalah teknologi yang menyediakan layanan konvergen dalam bentuk siaran radio dan televisi, video, audio, teks, grafik, dan data yang disalurkan ke pelanggan melalui jaringan protokol internet yang dijamin kualitas layanannya, keamanannya, kehandalannya, sehingga mampu memberikan layanan komunikasi dengan pelanggan secara dua arah atau interaktif dan real time dengan menggunakan televisi standar.

“Kami tidak tertarik untuk bermain di IPTV. Perseroan masih fokus di jasa suara dan SMS,” tegas Presiden Direktur XL Hasnul Suhaimi kepada Koran Jakarta, Rabu (30/9).

Diungkapkannya, perseroan saat ini justru sedang menunggu nasib dari proposal lisensi Sambungan Langsung Internasional (SLI) yang sudah dimasukkan ke regulator. “Jika SLI, XL memang butuh. Nantinya itu akan digunakan bagi pelanggan XL yang berjumlah 24 juta nomor,” jelasnya.

Diungkapkannya, untuk persiapan mendapatkan lisensi SLI perseroan  sedang mengaji untuk membuat Sentra Gerbang Internasioanl (SGI) di Bali, Jakarta, atau Sulawesi. “Kalau bisa posisinya sama dengan backbone serat optik yang dimiliki perusahaan di Lombok, Kalimantan, atau Sulawesi,” katanya.

Dikatakannya, untuk backbone dimana XL belum memilikinya, rencananya akan menyewa dari penyedia yang sudah ada. “Kemungkinan kita akan sewa rute Surabaya-Hongkong milik Fangbian Iskan Corporindo, minimal 4 core,” jelasnya.

Sedangkan untuk membangun SGI itu tidak mengeluarkan biaya berat karena Mobile Switching Center (MSC) sebanyak 120 buah tinggal diganti gateway-nya.

“Nanti kita tinggal pilih MSC mana yang pantas dijadikan SGI. Harga satu gateway itu biasanya 1,5 juta dollar AS,” katanya.

Ketika ditanya tentang masuknya nama XL sebagai salah satu pihak yang memasukkan pendapat dalam regulasi IPTV, Hasnul mengatakan, hal itu sebatas karena perseroan memiliki pengetahuan tentang jasa tersebut. “Tidak lebih dari itu. Bahkan terpikir membentuk konsorsium pun tidak,” katanya.
Dalam regulasi, operator yang ingin menyelenggarakan jasa IPTV diwajibkan membentuk konsorsium yang terdiri atas penyedia jaringan, penyiaran, dan konten.
Saat ini baru  konsorsium yang dibentuk PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) yang menjalankan uji coba di lima kota yakni   Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, dan Denpasar.

Telkom sendiri menggandeng Indonusa sebagai penyelenggara penyiaran yang terkenal dengan merek dagang Telkomvision.
Telkom mengharapkan  IPTV mampu meningkatkan pendapatan dari telepon kabelnya yang cenderung menurun. Jasa tersebut diyakini akan membuat 8,7 juta pelanggan telepon kabel memiliki layanan yang lebih bervariasi seperti IPTV dan akses internet.[Dni]