300909 Posindo Siap Utilisasi Aset

JAKARTA —PT Pos Indonesia (Posindo) akan memaksimalkan utilisasi aset yang dimilikinya   seiring datangnya era liberalisasi di jasa pengiriman dengan hadirnya UU Pos pada bulan ini.

“Tentunya utilisasi aset harus dimiliki secepatnya. Jika tidak, Posindo bisa tergilas oleh pesaing. Sekarang sudah era pasar bebas,” ujar Direktur Utama PT Pos Indonesia  I Ketut Marjana di Jakarta, Selasa (29/9).

Ketut menjelaskan, selama ini Posindo memiliki tiga lini bisnis yakni mail, logistik, dan keuangan. “Ketiga ini didukung oleh aset bergerak dan tidak bergerak, misalnya kantor cabang yang mencapai tingkat kecamatan,” katanya.

Secara terpisah, Pelaksana Tugas (PLT) Dirjen Postel Basuki Yusuf Iskandar menambahkan, jika Posindo ingin bertahan harus membuka diri menggarap inovasi baru dalam jasa pengiriman.

“PT Pos harus  memperluas unit bisnisnya. Sudah saatnya menggarap  non tradisional bisnis seperti logistik,  supply chain management, atau pergudangan. Tantangan di perusahaan itu adalah  bagaimana aset tidak hanya menjadi kewajiban,” katanya.

Untuk diketahui, seiring telah disahkannya UU Pos maka hak monopoli yang dimiliki oleh Posindo dalam pengiriman dokumen dicabut. Namun, UU tersebut juga mengamanatkan kepada pemerintah untuk menyehatkan Posindo dalam jangka waktu lima tahun. Setelah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tersebut disehatkan, maka program Public Service Obligation (PSO)  akan ditenderkan.

Selanjutnya Ketut mengingatkan, keberadaaan dari Posindo tidak bisa dilepaskan dari kewajian negara untuk memberikan layanan pos bagi masyarakat. “Posindo ini ada dua sisi mata uang. Di satu sisi sebagai lembaga bisnis harus mampu menghidupi diri sendiri, tetapi di sisi lain harus melayani di wilayah-wilayah yang dianggap tidak menguntungkan. Karena itu kami minta tetap diberikan ada margin bagi Posindo,” jelasnya.

Dikatakannya, untuk   merestrukturisasi Posindo diperlukan dana yang lumayan esar mengingat hampir   70 persen kantor cabang masih menjadi  cost center. “ Lima tahun itu untuk menyetarakan kondisi Posindo dengan pesaing.  Harus diketahui dana  operasional masih dibawah rata-rata untuk industri,” jelasnya

Menurut Ketut, dana PSO yang  selama ini dikelola oleh Posindo tidak mencukupi sehingga berujung pada kekurangannya di tutupi oleh perseroan. “Memang sudah tepat PSO itu ditender. Hal ini agar keluar nominal aktual untuk menyelenggarakan PSO,” katanya.

Secara terpisah, Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Jasa Ekspres Indonesia (Asperindo) M. Kaderial menyarankan, sebelum PSO ditentukan, ada baiknya dibuat studi  komprehensif.

“Harus jelas dulu siapa yang akan dapat subsidi, besaran, dan areanya. Jangan sampai subsidi tersebut menjadi salah sasaran seperti sekarang ini. Selain itu harus jelas jenis usaha yang akan ditarik dana untuk PSO. Harus diingat jasa pengiriman itu banyak pengusaha kecilnya,” katanya.

Pada kesempatan lain, juru bicara Pusat Studi Transportasi dan Logistik UGM (Pustral UGM) Danang Parikesit menyarankan, menjalankan tender PSO harus melewati beberapa tahap.

Tahap pertama adalah   pemisahan rekening  PSO dan commercial ventures di Posindo, kedua, melakukan  restrukturisasi layanan pos, ketiga,  “pemutihan” hutang Posindo karena kebijakan masa lalu yang belum berorientasi commercial corporate.

“Setelah itu baru dilakukan trial tender dan dilanjutkan   full tender,” katanya.

Menurut Danang, selama ini terjadi salah pengertian di Posindo dimana PSO malah dijadikan seagai sumber pendapatan. “Selama ini PSO lebih pada pendekatan politis. Itu yang ingin diperbaiki di UU Pos,” katanya.[dni]

300909 Mereguk Keuntungan di Hari Fitri

Tak terasa bulan suci Ramadan sudah usai dijalankan oleh umat muslim dan hari kemenangan melawan hawa nafsu pun dirayakan pada pekan lalu.

Sama dengan umat muslim yang sedang merayakan kemenangan, operator telekomunikasi pun pada pekan lalu menikmati ’kemenangan” dalam bentuk lain yakni berupa melonjaknya trafik penggunaan jasanya yang berujung pada bertambahnya pundi-pundi perusahaan.

Bagi operator,  bulan Ramadan merupakan  lumbung keuntungan   dalam siklus tahunan pendapatan perseroan. Puncaknya adalah pada hari kemenangan dimana trafik bisa melonjak dua kali lipat dibandingkan hari-hari biasa. Jasa yang menjadi andalan adalah SMS, suara, dan akses data.

Biasanya bulan Ramadan berkontribusi hingga   30 persen dari pendapatan satu tahun sebuah operator telekomunikasi. Setelah bulan Ramadan, masa-masa indah bagi operator adalah  Natal dan Tahun Baru yang menyumbang 20 persen bagi total pendapatan, serta   liburan sekolah 15 persen, sisanya operator berharap dari hari-hari biasa.

Data resmi Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo) memperkirakan trafik telekomunikasi jasa pesan singkat (SMS) pada lebaran 2009  dari tiga operator besar akan mencapai 1,283 miliar SMS per menit atau meningkat 31 persen ketimbang lebaran lalu dengan 977 juta SMS per menit.

Sementara untuk jasa suara diperkirakan akan mencapai 2,9 miliar panggilan per  menit atau naik 27 persen dibanding periode sama tahun lalu sebesar 2,28 miliar panggilan per menit. Ketiga operator besar yang dijadikan perhatian adalah Telkomsel, Indosat, dan XL yang menguasai hampir 80 persen pangsa pasar seluler.

Asosiasi Telekomunikasi Seluler (ATSI) sendiri memperkirakan lonjakan trafik percakapan mencapai 30-150 persen,   SMS (30%-200%), dan   data (50%-60%) dibandingkan dengan trafik harian.

Lantas bagaimana kinerja trafik operator di saat-saat hari puncak kemenangan? Berhasilkah keuntungan direguk di hari nan fitri.

Manager Komunikasi Telkomsel Suryo Hadiyanto mengungkapkan, jasa SMS masih menjadi primadona pada lebaran kali ini. Tercatat, 78 juta pelanggan Telkomsel mengirimkan 593 juta SMS pada H-1 dan 594 juta SMS pada hari H. Angka itu naik 65 persen dibanding pengiriman SMS di hari biasa yang mencapai 360 juta SMS

”Sedangkan untuk komunikasi suara,  saat hari H lebaran mencapai 953 juta erlang  atau meningkat 100 juta erlang dibandingkan trafik di hari normal,” katanya di Jakarta, belum lama ini.

Group Head Corporate Communication Indosat Adita Irawati mengatakan, jasa  SMS Indosat yang memiliki 33 juta pelanggan menjelang hari lebaran  atau 19 September 2009  meningkat menjadi sekitar 360,7 Juta  SMS  atau naik 39,5 persen  dibandingkan trafik SMS pada hari biasa di pertengahan Agustus.

Kenaikan tertinggi terjadi di daerah Jawa Barat (73,15%), Jawa Tengah  (57,35%) dan  Jawa Timur (48,50%).

Sementara pada hari H, terkirim   377,9 juta SMS atau naik 46,1 persen dibandingkan   pada hari biasa di pertengahan Agustus.

Sedangkan trafik suara pada   H-1 mengalami penurunan menjadi sekitar 3,05 juta Erlang atau sama dengan   183.309.147,60  menit okupansi jaringan,   atau turun sekitar 81.67 persen  dibandingkan dengan trafik  suara  pada hari biasa.

Adapun  pada hari H Lebaran trafik suara  mencapai 199,3 juta menit atau turun sekitar 11,22 persen dibandingkan dengan hari biasa pertengahan Agustus 2009.

Manager Komunikasi XL Febriati Nadira mengungkapkan, terjadi kenaikan trafik dari sekitar 24 juta pelanggannya mulai H-2 lebaran dengan 210 juta SMS atau naik 40 persen ketimbang hari biasa yang mencapai 150 juta SMS per hari.

Berikutnya pada H-1  terjadi pengiriman 270 juta SMS  dan  pada hari H terkirim 240 juta SMS.

”Kami mengalami trafik percakapan tertinggi pada hari H (20/9) dengan 925 juta panggilan atau naik 66 persen ketimbang hari biasa yang mencapai  555 juta panggilan dengan total durasi 505 juta menit,” kata Ira.

Medioker Bersinar

Tak hanya tiga besar yang bersinar, cahaya kemenangan pun sepertinya ikut dinikmati oleh pemain medioker seperti Mobile-8 dan Bakrie Telecom dengan merek dagang Esia.

Manager Komunikasi Mobile-8 Yolanda Nainggolan menjelaskan, mobile-8  yang memiliki 3,3 juta pelanggan juga mengalami lonjakan penggunaan SMS. Tercatat, pada hari H-1 terkirim 3,664 juta SMS atau naik 21,25 persen dibandingkan hari biasa. Sedangkan pada hari H, mencapai 3,459 juta SMS atau naik 16,8 persen dibandingkan hari biasa yang mencapai 2,885 juta SMS.

Panggilan suara juga mengalami kenaikan pada H-1 mencapai 7,513 juta panggilan atau naik 6 persen dibandingkan hari biasa yang mencapai  7.037 juta panggilan.

Sementara Wakil Direktur Bidang Jaringan Bakrie Telecom M. Buldansyah mengatakan, rta-rata trafik suara pelanggan Esia mengalami kenaikan 40 persen sedangkan  untuk sms kenaikannya rata-rata 20 persen.

Bahkan pada saat puncak yaitu hari lebaran, trafik percakapan telepon dan suara di jaringan Esia mengalami lonjakan sampai hampir 100 persen. „Sedangkan sehari sebelum dan sesudah hari lebaran trafik sms mengalami pertumbuhan hampir 50 persen dari rata-rata trafik sms sebelumnya,“ katanya.

Berdasarkan catatan, Esia dihari biasa mengirimkan 65 juta SMS per hari dan 18 juta panggilan dengan rata-rata durasi  5 hingga 10 menit.

Perkiraan Pendapatan

Jika dihitung pendapatan dari hanya jasa SMS dengan melihat dari trafik tertinggi, pada satu hari masing-masing operator dengan menggunakan asumsi biaya pengiriman SMS sebesar 150 rupiah, maka Telkomsel diperkirakan dalam  mendapatkan dana segar sebesar 89,1 miliar  rupiah, Indosat (56.6 miliar rupiah), XL (40,5 miliar rupiah), dan Mobile-8 ( 549,6 juta rupiah).

Memperkirakan pendapatan dari SMS lebih mudah karena tidak ada biaya interkoneksi yang harus dibagi dua dengan operator lainnya layaknya di jasa suara. Begitu juga untuk akses data, pola langganan dengan unlimited membuat perkiraan perhitungan sulit dilakukan.

Praktisi telematika Ventura Elisawati mengatakan, terjadinya peningkatan jasa basic telephony di hari-hari besar merupakan hal yang biasa..

“Jika pun ada pendapatan yang terkesan masuk lumayan besar bagi operator harus dilihat juga upaya yang dikeluarkan berupa dana promosi dan program retensi. Itu kan juga lumayan besar,“ jelasnya.

Ventura mencatat, terjadi perubahan penggunaan jasa di operator tiga besar seiring arah promosi yang dibuat.

XL mengalami lonjakan di suara karena gencar mempromosikan tarif murah. Telkomsel meskipun ada kenaikan di trafik suara tetapi tidak begitu besar karena program promosi mengincar kualitas layanan.

Terakhir, penggunaan jasa suara Indosat  anjlok karena program promosi fokus di  SMS dan data. “Hal ini karena program promosinya memang menggencarkan produk IM3 yang terkenal murah SMS dan akses datanya,“ jelasnya.

Secara terpisah,  Praktisi telematika Bayu Samudiyo mengakui, momentum Ramadan signifikan menaikkan penjualan. “Dari tahun ke tahun memang begitu. Tetapi dari sisi pendapatan tidak akan setinggi tahun lalu karena sudah terlalu banyak promosi  yang mengikis pendapatan,” katanya.

Promo yang dimaksud adalah   SMS murah unlimited dengan satu harga sepuasnya, paket murah bicara on net, dan bundling SMS atau suara. “Paket itu berarti bayar di depan.  Jangan-jangan malah banyakan SMS gratis yang terkirim lebaran lalu,” katanya.

Pada kesempatan lain, Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi mengungkapkan, meskipun secara umum operator mampu memberikan layanan yang berkualitas selama lebaran lalu, tetapi masih ada catatan penting yang harus diperbaiki.

“Masih ditemukan adanya SMS yang terkirim di atas 3 menit dalam satu jaringan operator. Ini harus diklarifikasi   karena standar regulator itu SMS harus terkirim di bawah 3 menit,” tegasnya.[dni]

300909 Akses Data Mulai Bersinar

Selain jasa suara dan SMS yang beberapa tahun belakangan ini menjadi primadona bagi pendapatan operator, maka pada lebaran tahun ini ada jasa lainnya yang mulai menunjukkan sinarnya. Jasa itu adalah akses data.

Tercatat, di jaringan Indosat   trafik akses  data   pada   H-1   meningkat menjadi sekitar 17,5 Terabyte atau naik 6,7 persen dibandingkan trafik data pada hari biasa di pertengahan Agustus.

Tetapi pada  pada hari H lebaran trafik data hanya  mencapai 15,7 terrabyte atau turun 4,6 persen dibandingkan dengan trafik data hari biasa di pertengahan Agustus 2009.

Keberhasilan akses data pelanggan Indosat lebih dari 99 persen yang berarti tidak ada permasalahan yang signifikan dalam koneksi data di jaringan Indosat. Kenaikan tertinggi terjadi di daerah Sumatra Selatan (32,4%), Sumatra Utara (22,3%), dan Jatim (18,3%).

Sedangkan di XL,  akses data mulai mengalami peningkatan pada H-2  yang mencapai 2,7 terabytes atau  naik 33 persen  dari trafik data di hari biasa.

Mobile-8 pun mengalami kenaikan   akses data melalui teknologi CDMA 1x  dimana terjadi 522 ribu percobaan atau naik 13 persen dibandingkan hari biasa yang mencapai 435 ribu percobaan.

Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI), Heru Sutadi menduga, naiknya pamor jasa data pada lebaran tahun ini karena dipicu penggunaan datacard, smartphone seperti BlackBerry, iPhone dan ponsel canggih lainnya yang memungkinkan pengguna mengucapkan selamat hari raya melalui fasilitas instant messaging BlackBerry Messenger, Yahoo Messenger maupun Facebook

”Seharusnya jika kantor-kantor sedang libur terjadi penurunan trafik data. Secara delta (selisih) itu bisa mencapai 50 persen,” katanya di Jakarta, Minggu (26/9).

Tetapi adanya trafik   hari raya yang meningkat rata-rata 10 persen membuat adanya delta  60 persen.

Praktisi telematika Ventura Elisawati mengatakan, di beberapa operator memang terjadi pergeseran pola trafik dari basic telephony ke Value Added Servicess (VAS) yang membutuhkan akses data.

”Lihat saja di Indosat,  primadona operator itu tahun ini SMS dan data. Ini sejalan dengan  kampanye  yang menonjolkan pemakaian data   di kalangan anak muda. Artinya, arah pasar dan yang ditawarkan perusahaan ini sudah mulai bertemu, tinggal bagaimana jaringan datanya mendukung perkembangan itu,” jelasnya.

Sementara itu Heru menegaskan, seiring meningkatnya trafik data, mulai tahun depan regulator akan lebih memperhatikan kualitas layanan yang diberikan operator untuk jasa tersebut.

”Kami menerima laporan tentang perilaku semena-mena terhadap pelanggan untuk jasa data ini tanpa memperhatikan kualitas layanan menjelang lebaran lalu. Ini harus diklarifikasi,” katanya.

Dicontohkannya, XL yang mengalami gangguan di jaringan BlackBerry selama hampir lima hari menjelang lebaran, Telkomsel yang memotong bandwitdh langganan Telkomsel Flash tanpa pemberitahuan, atau masih memburuknya kualitas akses data IM2 milik Indosat.

”Kami sadar untuk menyelenggarakan akses data itu banyak terlibat pihak ketiga. Misalnya untuk BlackBerry juga tergantung pada akses ke server Research In Motion (RIM). Tetapi itu bukan menjadi permisif kualitas layanan diabaikan. Di industri ini tetap butuh contingency plan,” tegasnya.[dni]