250909 Kenaikan Tarif TolPengusaha Bebankan Kenaikan ke Penumpang

JAKARTA—Para pengusaha yang tergabung dalam Organisasi Pengusaha Angkutan Darat (Organda) berencana akan membebankan kenaikan tarif tol pada 28 September nanti ke penumpang atau pemilik baranng. “Tarif reguler bis atau angkutan itu tidak akan naik. Tetapi jika melewati jalan tol itu biasanya akan ada tarif tarif tambahan. nah, karena tarif tol naik rata-rata 15 persen, kenaikan itu akan dibebankan ke penumpang atau pemilik barang,” ungkap Ketua DPP Organda Murphy Hutagalung di Jakarta, Kamis (24/9). Dijelaskannya, selama ini penentuan dari tarif bis dan tarif tol selalu dipisahkan oleh pengusaha. Biasanya jika ada rute yang melewati tol, maka dikenakan tarif tambahan. Secara terpisah, Ketua Asosiasi Transporter Darat Indonesia (ATDI) Slamet Sutanto menegaskan, tidak mungkin menaikkan tarif kepada pemilik barang walau ada kenaikan tarif tol. “Para pengusaha sudah terikat kontrak. Hal yang bisa kami lakukan adalah mengefisiensikan armada dan manajemen perusahaan. Bahkan, tidak tertutup kemungkinan perusahaan melakukan subsidi ke pemilik barang,” katanya. Senada dengan Slamet, Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Jasa Ekspress Indonesia (Asperindo) M. Kaderial mengatakan, tidak mungkin menaikkan tarif jasanya karena sudah terikat kontrak selama satu hingga dua tahun dengan penyewa. “Tidak mungkin dilakukan kenaikan harga. Yang jelas kenaikan ini membuat ongkos biaya produksi menjadi naik dan adanya potensi kehilangan pendapatan,” katanya. Dijelaskannya, naiknya biaya produksi karena perubahan tarif tol  akan berdampak juga pada tingkat kemacetan yang meningkat. Ini tentunya akan membuat konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) meningkat. “Padahal produktifitas tidak seimbang karena adanya macet. Ini tentu membuat kita kehilangan potensi pendapatan,” jelasnya. Tingkatkan KenyamananSelanjutnya, Slamet meminta pengelola jalan tol untuk meningkatkan kenyamanan penggunanya jika tarif dinaikkan. Contohnya, pembukaan pintu gerbang diperbanyak ketika jam 6 pagi. “Jangan hanya dibuka dua gerbang, Akhirnya terjadi kemacetan dan merugikan pengusaha,” katanya. Sedangkan menurut Kaderial, tarif tol wajar dinaikkan jika infrastruktur tersebut terjadi investasi tambahan atau meningkat kapasitasnya. “Jika tol Bandara Soekarno-Hatta itu wajar dinaikkan karena kapasitasnya naik, Tetapi kalau tol dalam kota itu tidak ada perubahan kenapa dinaikkan,” sesalnya. Sebelumnya, pemerintah mulai Senin depan (28/9), akan menaikkan tarif tol di 10 ruas jalan tol. Kenaikan tarif bervariasi mulai 12,74 hingga 18,56 persen. Sedianya tarif tol akan dinaikkan pada 4 September lalu. Namun dengan alasan akan lebaran kenaikan ditunda.Dengan kenaikan ini maka tarif tol dalam kota Jakarta diperkirakan akan naik seribu rupiah dari  5.500 menjadi  6.500 rupiah.. Begitu   pula tarif Padalarang-Cileunyi naik  1.000 rupiah. Tol Jakarta-Tangerang diperkirakan naik 15 persen menjadi  4..000 rupiah dari sebelumnya  3.500 rupiah. Sedangkan tarif tol Tanggerang-Merak diprediksi naik dari  18.000 menjadi  20.700 rupiah.[dni]

250909 Nilai Investasi MCI Dipertanyakan

JAKARTA— Indonesia Wireless Broadband (Id-wibb) mempertanyakan besaran dari nilai investasi Media Citra Indostar (MCI) di satelit Protostar II atau Indostar II.

“Dari dokumen yang kami dapat hanya dicantumkan besaran kewajiban MCI kepada Protostar sebesar lima juta dollar AS. Padahal, di media massa disebut-sebut MCI berinvestasi sebesar 100 juta dollar AS atau sepertiga  dari total nilai satelit yang mencapai 300 juta dollar AS,” ungkap Sekjen Id-wibb Bambang Sumaryo Hadi kepada Koran Jakarta, belum lama ini.

Bambang mendesak, MCI memberikan klarifikasi ke publik terkait pola investasi dan besaran sebenarnya karena satelit tersebut memanfaatkan slot orbit pemerintah Indonesia dan menguasai frekuensi lumayan besar di spektrum 2,5 GHz yakni selebar 150 MHz.

“Ketika ribut-ribut rencana Protostar akan menjual satelit tersebut banyak yang kaget. Bahkan, rekanannya di Indonesia pun juga kaget. Baiknya transparan saja tentang pola investasinya,” tegasnya.

Secara terpisah, Sekjen Depkominfo/PLT Dirjen Postel Basuki Yusuf Iskandar mengatakan, sejauh yang diketahuinya MCI menyewa secara jangka panjang kepada Protostar untuk satelit Indostar II.

“Tetapi kami memang akan memperbaharui regulasi tentang satelit agar kisruh seperti MCI ini tidak terjadi lagi,” katanya.

Dalam regulasi baru yang merevisi Permenkominfo No. 37/2006 tentang Penyelenggaraan Telekomunikasi yang Menggunakan Satelit disebutkan  pengguna filing satelit Indonesia harus berbadan usaha dalam negeri, sehingga akan dikenai kewajiban pungutan universal service obligation (USO) dan biaya hak penggunaan (BHP) frekuensi.

Peraturan tersebut nantinya   tidak berlaku surut, tetapi untuk pengguna sebelumnya  bisa tidak mengubah bentuk badan usahanya tetapi wajib memenuhi seluruh hak dan kewajiban seperti badan usaha Indonesia .

Sebelumnya diberitakan,    ProtoStar Ltd berencana untuk menjual semua asetnya (Satelit Protostar I dan II) karena terbelit masalah keuangan.  Perusahaan tersebut diperkirakan memiliki hutang total sekitar 495 juta dollar AS.

Protostar adalah  perusahaan yang berdomisili di Bermuda dan beroperasi di Amerika Serikat. Perusahaan ini menyediakan jasa satelit komunikasi geostationary berkekuatan tinggi yang digunakan untuk layanan  direct-to-home (DTH) televisi satelit dan akses internet broadband  di wilayah Asia Pasifik.

Protostar mengoperasikan dua satelit yakni   satelit  Protostar I  (dimiliki oleh Protostar I Ltd) dan satelit  Protostar II (dimiliki oleh Protostar II Ltd). Satelit Protostar I diluncurkan pada 7 Juli 2008 dan menyediakan jangkauan Ku-band untuk layanan digital DTH, Televisi high-definition dan broadband internet di wilayah layanan  Asia Tenggara hingga Timur Tengah, serta transponder C-band  yang menyediakan backhaul selular, traditional last mile telecom dan layanan broadcasting dasar.

Satelit Protostar II diluncurkan pada 16 Mei 2009 dan baru beroperasi pada 17 Juni 2009 menyusul in-orbit testing. Satelit Protostar II  menyediakan pelayanan kepada PT Media Citra Indostar (MCI) dan PT MNC Skyvision, operator layanan televisi satelit DTH terbesar di Indonesia dengan merek dagang Indovision.

Satelit tersebut  menempati slot orbit 107,7 derajat  BT dengan  membawa 32 transponder. Dari 32 tranponder yang.dimiliki, 10 transponder aktif dan 3 transponder cadangan akan difungsikan sebagai penguat gelombang frekuensi S-Band untuk menyediakan jasa layanan penyiaran langsung ke rumah-rumah atau (Direct-To-Home/DTH)

MCI mengharapkan adanya satelit baru tersebut akan membuat  televisi berbayar Indovision  memiliki jumlah saluran (channel) sebanyak 120 channel dari sebelumnya   56 channel.  Meningkatnya jumlah channel juga diharapkan akan membuat angka pelanggan menjadi  satu juta   pada akhir tahun nanti.

Indostar-II juga menggunakan frekeunsi KU-Band yang  didesain untuk layanan  DTH dan telekomunikasi di India. Sedangkan transponder KU-Band lainnya digunakan untuk akses internet berkecepatan tinggi dan layanan telekomunikasi di Filipina , Taiwan maupun Indonesia.[dni]