240909 Musim Mudik Naikkan Pendapatan Maskapai

JAKARTA—Musim mudik lebaran tahun ini diperkirakan mampu meningkatkan pendapatan dari maskapai penerbangan lokal walaupun kenaikannya di setiap maskapai berbeda-beda.

Lion Air memprediksi kenaikan pendapatan selama musim mudik sebesar 5 persen, Sriwijaya Air sekitar 10-15 persen, sedangkan Indonesia National Air Carriers Associtaion (INACA) memperkirakan secara industri akan terjadi kenaikan 40 persen.

Direktur Umum Lion Air Edward Sirait memperkirakan kenaikan pendapatan selama musim mudik lebaran hanya sekitar lima persen karena tingkat isian pesawat tidak seimbang saat pergi dan pulang.

“Waktu pesawat pergi memang penuh, tetapi ketika pulang pesawat itu kosong. Kalau sudah begini tentunya kita untungnya tipis,” katanya di Jakarta, Rabu (23/9).

Diungkapkannya, hingga Rabu  sore, Lion  sudah mengantongi 90 persen pesanan tiket penerbangan untuk keberangkatan 25-26 September 2009.

“Sekarang  sudah 90 persen. Tapi saya meyakini malam ini bisa berubah lagi, kemungkinan sudah penuh. ,” jelasnya.

Dikatakannya, untuk jadwal penerbangan 25-26 September, Lion Air menyiapkan sekitar 80.000-92.000 kursi penumpang tujuan seluruh rute. Untuk diketahui, Lion Air selama musim mudik menyediakan 43 pesawat dengan   26.. rute penerbangan. Di hari biasa, perusahaan ini bisa mengangkut 546 ribu penumpang dengan jumlah penerbangan 278 kali

Juru Bicara Sriwijaya Air Ruth Hanna Simatupang mengungkapkan, selama musim mudik bisa menaikkan pendapatan dari perseroan sebesar 10 hingga 15 persen. “Kami dari H-7 hingga H+7 sudah mengangkut 12 ribu penumpang,” katanya.

Sebelumnya Sriwijaya sudah menambah kapasitas menjadi  15.000 kursi ke sejumlah kota dengan tujuan  domestik.

Pada kesempatan lain, juru bicara Garuda Indonesia Pudjobroto   memaparkan jumlah penumpang terbanyak arus balik akan terjadi pada hari terakhir masa libur panjang, yakni 27 September 2009.

“Sekarang belum ada atau belum terjadi lonjakan arus balik. Di penerbangan, arus balik akan terjadi tanggal 25-26 September 2009, dan puncaknya akan terjadi tanggal 27 September 2009,” kata Pudjo.

Head of Corporate Communication Mandala, Trisia Megawati KD mengatakan  kenaikan tingkat isian penumpang pada arus balik perayaan lebaran kali ini diperkirakan mulai terjadi pada tanggal 24 September dimana load factor Mandala telah mencapai rata-rata lebih dari 90 persen dan secara bertahap terus meningkat dan diperkirakan akan mencapai puncaknya pada tanggal 27 September dengan rata-rata tingkat isian sekitar 97 persen.

Mandala melayani 56 penerbangan untuk incoming dan outgoing Jakarta ke beberapa kota besar di seluruh Indonesia antara lain, Jogjakarta, Semarang, Surabaya, Denpasar, Padang, Medan, Jambi, Bengkulu, Pekanbaru, Pangkalpinang, Batam, Pontianak, Banjarmasin, Balikpapan, Tarakan dan Kupang.

Beberapa rute yang sudah melampaui load factor di atas 92 persen  antara lain Bengkulu, Padang, Jambi, Pontianak, Surabaya, Kupang, Jogjakarta, Balikpapan, Banjarmasin dan Denpasar.

“Bahkan untuk kota-kota tertentu arus balik masih terus berlanjut sampai tanggal 8 Oktober dengan load factor masih stabil di angka lebih dari 90 persen seperti untuk tujuan Jogyakarta, Banjarmasin, Balikpapan dan Surabaya,”  tambah Trisia.

Sebelumnya, Sekjen INACA Tengku Burhanuddin memperkirakan pendapatan maskapai penerbangan nasional selama masa lebaran tahun ini diproyeksikan melonjak hingga 40 persen  dibandingkan dengan perolehan pada hari biasa.

Lonjakan pendapatan itu lebih banyak dipicu kenaikan kapasitas kursi maskapai selama lebaran yang naik 15 persen dibandingkan dengan periode yang sama 2008.[dni]

240909 Aktivitas Overbrengen di Tanjung Priok Dihentikan

JAKARTA—Pengelola Terminal Peti Kemas (TPK) Koja dan Jakarta International Container Terminal (JICT) menghentikan aktivitas pemindahan lokasi penumpukan peti kemas (overbrengen), menyusul rendahnya tingkat isian lapangan penumpukan atau yard occupancy ratio (yor) paska lebaran.

Manajer Perencanaan Lapangan JICT Usman Saroni mengatakan pihaknya sudah tidak mengkhawatirkan ancaman stagnasi lagi, yang sebelumnya diperkirakan terjadi paska lebaran.

“Kami sebelumnya sudah optimistis tidak akan terjadi stagnasi karena upaya yang kami lakukan dalam menekan tingkat yor pada saat sebelum lebaran. Strategi tersebut diantaranya adalah melakukan overbrengen. Saat ini overbrengen untuk sementara waktu dihentikan,” ujarnya di Jakarta , Rabu (23/9).

Dikatakannya,  yor di lapangan penumpukan peti kemas impor JICT paska lebaran adalah hanya 50 persen. Selain overbrengen, JICT juga mengaplikasikan sistem informasi N-Gen dalam mendata peti kemas sehingga memperlancar arus serta pergerakan di lapangan penumpukan.

Selain itu, tuturnya, JICT juga menambah jumlah tumpukan peti kemas di setiap deretan (tier) menjadi 26 peti kemasi per tier dibandingkan dengan sebelumnya hanya 21 peti kemas per tier.

“N-Gen mulai secara penuh kami aplikasikan pada 21 September 2009.  Sistem tersebut membuat  cara pendataan   semuanya sekarang komputerisasi, tidak lagi secara manual,” jelasnya.

Diungkapkannya,  JICT akan terus memantau perkembangan setiap harinya, sehingga apabila diperlukan pihaknya akan kembali melakukan overbrengen.

General Manager TPK Koja Sebulon Butarbutar menuturkan tingkat yor di lapangan penumpukan peti kemas TPK Koja saat ini sebesar 59,5 persen, sehingga pihaknya tidak melakukan overbrengen.

“Pemindahan lokasi penumpukan penumpukan dilakukan apabila nantinya yor mencapai 85 persen. Sampai hari ini tidak ada masalah yor import hanya 59,5 persen dan yor ekspor 5 persen,” katanya.

Direktur Utama PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II R..J. Lino memastikan kondisi Pelabuhan Tanjung Priok aman dari stagnasi paska lebaran, diantaranya karena strategi overbrengen yang dilakukan.

“Tidak ada stagnasi, kami sudah siap. Semua peti kemas sudah dikurangi menjelang lebaran. Tidak ada ancaman,” jelasnya.[dni]