170909 Ketua Umum ATSI Sarwoto Atmosutarno: Ini Bukan Jualan Mobil

Sarwoto1Langkah karir Sarwoto Atmosutarno pada tahun ini bisa dikatakan kembali menemukan sinar terangnya. Setelah lama bergelut mengembangkan infrastruktur milik PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom), akhirnya pada akhir Januari lalu didapuk menjadi orang nomor satu di anak usaha milik operator pelat merah itu,  Telkomsel.

Di sejumlah asosiasi pun nama Sarwoto memegang jabatan. Pria yang pernah bercita-cita menjadi tentara ini menjadi sekjen Asosiasi Kliring Trafik Telekomunikasi (Askitel), Wakil Ketua Bidang Telekomunikasi Kadin, dan terakhir pada Agustus lalu diangkat oleh Munas Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI) menjadi ketua umum untuk periode 2009-2011 menggantikan Merza Fachys.

Lantas apa yang ingin ditawarkan oleh Pria yang terkenal sebagai salah satu pakar satelit di Indonesia itu bagi industri seluler? Wartawan Koran Jakarta, Doni Ismanto, akhir pekan lalu diberikan kesempatan mewawancarainya. Berikut petikannya.

T: Anda baru saja diangkat menjadi ketua umum ATSI, bisa dibagi informasi tentang program yang akan dikerjakan

J: Pertama, ATSI akan membuat  roadmap industri dan teknologi menyambut era konvergensi yang disalurkan melalui Kadin untuk  diserahkan ke Presiden sebelum pemerintah baru efektif berjalan. Kedua, mengaji  hal-hal  yang menjadi kepentingan bersama seperti interkoneksi, penggunaan sim box yang membuat panggilan dari luar negeri disalurkan tidak melalui jalur interkoneksi, BHP frekeunsi, menara, dan lainnya.

T:Pandangan ATSI tentang konvergensi

J: Konvergensi itu tidak hanya terjadi di level services seperti telekomunikasi, informasi, dan penyiaran. Tetapi juga di infrastruktur antara mobile dan fixed. Motornya kovergensi ini adalah telekomunikasi karena akan menjadi backbone.  Dua hingga empat tahun ini akan ada konsolidasi sebagai entitas atau infrastruktur agar konvergensi mulus sehingga   pelaku industri dan pelanggan tidak dikecewakan.

T: Banyak kalangan khawatir Anda akan menyalahgunakan ATSI sebagai corong Telkomsel

J: Saya selalu menegaskan Telkomsel itu tidak mau sendirian di pasar atau menjadi monopoli by the market, itu tidak bagus. Anda harus tahu, industri ini bukan seperti jualan mobil. Dimana masing-masing toko berjualan produk dan tidak ada interkoneksi. Di telekomunikasi itu, produk boleh berbeda dijualnya, tetapi di tengah ada interkoneksi. Nah, lima tahun lagi penetrasi di Indonesia akan mencapai 100 persen. Jika sudah seperti ini akan bicara new services dan infrastruktur sharing. Karena itu saya bilang akan ada konsolidasi di level akses dan transpor.

T: Bagaimana Anda melihat kompetisi saat ini

J: Kami ingin membawa kompetisi ke arah kualitas layanan bukan lagi kuantitas. Di sektor ini ada tiga syarat untuk memenangkan kompetisi. Jangkauan luas, pelanggan , dan  kapasitas besar. Jika tiga hal ini tercapai semua bisa menjadi orang nomor satu di operator. Nah, untuk menuju ke arah itu, ada baiknya operator mulai bermain di kualitas layanan, bermain di kuantitas itu hanya membuat kinerja keuangan berdarah-darah.

T: Harapan Anda kepada regulator

J: Berikanlah kami peluang untuk melakukan self regulation dan kaji kembali pola pemberian lisensi. Industri ini ke depan banyak bicara business to business (B2B). Self regulation itu bagian dari insentif. Selama ini regulasi yang keluar  selalu pro rakyat dan negara. Self regulation itu tidak menakutkan dan mengurangi wewenang regulator. Masalah lisensi, sudah terbukti mengumbarnya tidak baik. Hanya menjadikan industri ini bloody competition.

T: Saat ini pemerintah daerah mulai melirik sektor telekomunikasi sebagai tambang berlian, misal melalui RUU Pajak Daerah dan Retribusi Daerah yang akan menarik retribusi untuk menara, ATSI bagaimana menanggapi ini

J:Kita bisa pahami kalau pemerintah daerah ingin meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Namun, untuk beberapa hal baiknya berkoordinasi dengan pemerintah pusat. Contoh, untuk retribusi menara. Saya rasa untuk formulasi tarifnya harus ditetapkan oleh pemerintah pusat (Depkominfo), karena lembaga inilah yang mengetahui struktur biaya operator dan industri secara holistik. Jika ini tidak dilakukan, Pemda akan mengedepankan kepentingan sendiri sehingga prinsip transparansi, kepastian usaha, dan manfaat tidak tercapai, ujung-ujungnya akan menghambat investasi di masa depan.

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s