150909 Dampak Tender BWA

Tulisan ini adalah tulisan tamu dari Pengamat Telekomunikasi dan Dosen Teknik Elektro FTUI, Gunawan Wibisono

===

Pengumuman pemenang tender broadband wireless access (BWA) 2,3 GHz telah diumumkan, dengan hasil diluar perkiraan banyak pihak, seperti bahwa tender akan diborong oleh operator incumbent tidak terbukti. Pemenang tender BWA dikuasai oleh operator baru yang selama ini kurang terdengar gaungnya. Apalagi untuk zona 4 yang meliputi Jabodetabek dan Banten dimenangkan oleh ISP yang berbasis di luar zona 4. Yang lebih mencengangkan adalah biaya hak penggunaan (BHP) frekuensi yang nilainya hampir 9 kali reserved price yang diusulkan pemerintah. Tujuan pemerintah menyelenggarakan tender BWA 2,3 GHz antara lain, adalah memberikan nilai ekonomis atas sumber daya frekuensi yang terbatas, internet terjangkau, dan mendorong pertumbuhan industri dalam negeri (IDN) perangkat BWA. Hasil tender BWA 2,3 GHz telah berhasil memberi nilai ekonomis atas frekuensi dengan dicapainya harga BHP frekuensi melebihi  harga reserved price. Pertanyaan mendasar adalah apakah kehadiran BWA (dibaca WiMAX) akan menciptakan internet terjangkau dan mendorong pertumbuhan IDN perangkat BWA. Mari kita tunggu jawaban atas pertanyaan ini seiring dengan perjalanan waktu karena penggelaran jaringan  BWA oleh pemenang tender sedang berjalan.

Hasil tender BWA 2,3 GHz yang baru lalu akan memberi dampak pada kondisi telekomunikasi yang sedang berlangsung maupun yang akan terjadi dimasa depan yang meliputi BHP frekuensi BWA, tarif internet, ketersediaan backbone serta pertumbuhan perangkat BWA dan konten IDN.

BHP Frekuensi

Hasil tender BWA 2,3 GHz yang baru lalu pemerintah mendapatkan BHP frekuensi per tahun sebesar Rp. 458 milyar untuk 30 MHz, yang berarti sekitar Rp. 15 Milyar per MHz. Sedangkan pada 3G, besarnya BHP frekuensi adalah Rp. 32 Milyar per MHz. Bila dibanding dengan BHP 3G, BHP BWA 2,3 GHz lebih murah, tetapi bila dibandingkan dengan jenis layanan dan jangkauannya,layanan BWA lebih mahal dari 3G. Hasil tender BWA membuat posisi tawar pemerintah atas BHP frekuensi 3G menjadi tinggi. Ini terlihat bahwa pemerintah bergeming untuk bertahan dengan harga Rp. 160 Milyar. Bagi  operator incumbent yang gagal mendapatkan frekuensi BWA akan segera mengambil frekuensi tambahan 3G untuk meningkatkan persaingan layanan wireless internet 3G yang dimiliki walaupun harganya relatif tinggi. Karena bila operator 3G yang ingin mendapatkan frekuensi tambahan tidak mengambilnya, maka akan ada operator lain yang siap mengambilnya dan belum tentu pemerintah dapat menyediakan spektrum frekuensinya bila tidak diambil tahun ini. Yang ditunggu adalah kebijakan pemerintah dalam menentukan BHP BWA 3,3 GHz, pemerintah harus bijaksana karena berapapun harga BHP BWA 3,3 GHz yang ditentukan pemerintah akan menimbulkan dampak bagi operator BWA. Pemerintah harus mampu menentukan harga BHP yang terjangkau serta menciptakan iklim bisnis yang kondusif bagi operator BWA. Dengan legalitas kehadiran 8 operator BWA 3,3 GHz tingkat persaingan bisnis BWA semakin tinggi. Tender BWA memberikan pengalaman yang berharga.

Internet Terjangkau

Pertanyaan yang timbul apakah dengan BHP yang tinggi mampu membuat harga akses internet terjangkau bisa tercapai? Memang BHP hanya salah satu komponen yang mempengaruhi harga jual dari layanan BWA, harga jual BWA ke user tergantung dari bisnis model dari operator. Ada kekuatiran dengan tingginya BHP menjadikan harga akses internet menjadi mahal sehingga internet  terjangkau sulit terealisasi atau untuk dapat membuat harga internet terjangkau menjadikan  kualitas layanan menurun. Untuk zona 4 sebagai misal dengan BHP sebesar Rp. 120 Milyar, bila operator pemenang mampu menghimpun pelanggan sebanyak 120.000 pelanggan pertahun maka dengan hitungan sederhana besarnya BHP yang harus ditanggung tiap pelanggan adalah sebesar Rp. 1.000.000,- pertahun atau Rp. 100.000,- per bulan. Bila biaya dari BHP digabung dengan biaya yang berasal dari ongkos produksi maka biaya yang harus ditanggung pelanggan semakin besar. Melihat besarnya biaya yang harus ditanggung pelanggan, sepertinya mengharapkan tarif internet terjangkau dari kehadiran BWA perlu perencanaan yang matang. Sudah saatnya regulator dalam menentukan besaran BHP frekuensi memperhatikan besaran tarif yang akan ditanggung pengguna atau disebut sebagai BHP berbasis user. BHP berbasis user memberikan tingkat persaingan tarif yang sama untuk setiap operator, hanya operator dengan biaya operasional yang efisien mampu tumbuh dan berkembang.

Ketersediaan Backbone

Saat ini di Indonesia sangat banyak digelar teknologi akses, dari 2G, 3G, LAN, dan BWA hingga mungkin 4G. Pada saat ini kendala ketersediaan jaringan backbone masih menjadi persoalan yang belum ada solusinya. Untuk wilayah Jawa, Sumatra, dan Bali kendala kapasitas masih dominan sedangkan diluar wilayah tersebut masalah yang terbesar adalah ketersediaan dan kapasitas jaringan backbone. Keterlambatan menggelar jaringan backbone melalui proyek PALAPA Ring, dikuatirkan akan menjadikan penggelaran BWA akan menghadapi kendala. Oleh karena itu ketersediaan jaringan backbone melalui penggelaran PALAPA Ring harus disegerakan, agar mimpi menuju masyarakat broadband  melalui penggelara BWA dapat segera terwujud.

Pertumbuhan IDN perangkat BWA dan konten

Perlu  ada jaminan dari pemerintah kepada operator pemenang tender BWA untuk memanfaatkan hasil produk IDN sesuai dengan yang disyaratkan oleh PM 7/2009. Karena pengalaman membuktikan bahwa pemerintah masih terlalu “lemah” dan “kurang tegas” dalam menjalankan peraturan yang dibuatnya sendiri. Seperti implementasi migrasi dua operator 3,3 GHz yang harus menempati alokasi baru, tapi hingga batas waktu yang ditentukan belum terdengar telah tergelar jaringan kedua operator BWA dengan menggunakan perangkat BWA produk IDN. Ada keengganan dari operator untuk menggunakan produk dengan berbagai alasannya masing-masing. Tetapi disisi lain jangan sampai tidak ada kepastian hukum yang menyebabkan ekosistem BWA IDN yang telah mulai berbunga, kuncup kembali sebelum berkembang. Perlu ada kesadaran bersama untuk mendukung pertumbuhan BWA IDN, harus disadari bahwa kemajuan IDN apapun dimulai dari diri kita sendiri. Kunci suksesnya adalah kebanggaan untuk menggunakan produk IDN oleh bangsa ini. Disisi lain kehadiran BWA harus segera diantisipasi dengan kesiapan konten dan aplikasi yang sesuai untuk berjalan di atasnya. Jangan sampai terjadi konten dan aplikasi asing yang diunduh oleh para pengguna BWA. Oleh karena itu para konten atau aplikasi provider IDN harus ancang-ancang menangkap peluang bisnis dengan kehadiran BWA, jangan sampai dikuasai asing. Kehadiran BWA seharusnya mendorong pertumbuhan pesat konten dan aplikasi.

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s