120909 XL Putuskan Batal Jual Menara

JAKARTA–PT Excelcomindo Pratama Tbk (XL) akhirnya memutuskan untuk membatalkan sama sekali penjualan menara telekomunikasi miliknya karena situasi makro ekonomi tidak mendukung.

“Setelah dilakukan kajian, akhirnya diputuskan dibatalkan sama sekali penjualan menara tersebut,” ungkap Presiden Direktur XL Hasnul Suhaimi di Jakarta, Jumat (11/9).

Dijelaskannya, berdasarkan kajian yang dilakukan internal perseroan, melakukan penyewaan kembali menara setelah dijual ternyata biayanya lebih tinggi ketimbang merawat menara sendiri.

“Jika memiliki menara sendiri malah bisa kita sewakan,” katanya.

Sebelumnya, XL pada tahun ini berencana menjual ribuan menaranya, tetapi tertunda karena situasi ekonomi. Padahal satu calon pemenang sudah dikantongi.

Selanjutnya Hasnul mengungkapkan, berkaitan penerbitan saham baru (right issue) milik perseroan akan diputuskan pada Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) akhir Oktober 2009.

“Kemungkinan right issue akan terlaksana pada November atau Desember nanti,” katanya.

Hasnul menjelaskan, penerbitan saham baru telah mendapat persetujuan Axiata Group Berhad dan Emirates Telecommunications Corporation International Indonesia Ltd sebagai pemegang saham utama XL.

Right issue untuk mengurangi utang perseroan dan memperbaiki struktur modal, sehingga perusahaan leluasa berinvestasi.

Selain itu, dana hasil right issue digunakan untuk membayar utang sehingga biaya bunga bisa ditekan, serta memperkuat neraca XL untuk menumbuhkan investasi.

Menurut keterbukaan informasi XL kepada Bursa Efek Indonesia, nilai right issue direncanakan sebesar 300 juta dolar AS.Rights issue terdiri atas ekuitas dan Mandatory Convertible Notes (MCN).Adapun jumlah ekuitas dan MCN, harga saham dan nilai konversi atas MCN akan ditentukan kemudian.

Berkaitan denganĀ  sisa utang jatuh tempo XL pada tahun 2009 mencapai 8 juta dolar AS pada Oktober dan 400 miliar rupiah pada Desember.

“Jika dana hasil penerbitan saham baru itu diperoleh sebesar 300 juta dolar AS, maka pembiayaan melalui pinjaman perbankan tahun ini tidak diperlukan lagi karena sudah terpenuhi dari kas internal perusahaan,” tegasnya.

SedangkanĀ  untuk membiayai utang jatuh tempo pada tahun 2010 perusahaan mempertimbangkan menerbitkan obligasi.

Tahun depan total utang jatuh tempo operator seluler ke tiga terbesar di tanah air itu mencapai 326 juta dolar AS dan 850 miliar rupiah.

“Perusahaan tetap harus menjaga rasio utang terhadap ekuitas (debt to equity ratio/DER)tidak lebih dari 4,5 kali. Sementara rasio XL pada Juni 2009 terjaga pada level yang rendah sebesar 3,7 kali,” ujarnya.[Dni]