110909 Kasus Carrefour : Dugaan Praktik Monopoli Menguat

JAKARTA—Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) semakin yakin  PT Carrefour Indonesia terlibat praktik monopoli  setelah mengumpulkan bukti-bukti dan mendengarkan pihak-pihak terkait dalam pemeriksaan lanjutan yang segera  selesai pada 29 Sepetember nanti.

“Kami optimistis ada dugaan kuat praktik monopoli dilakukan oleh Carrefour. Rencananya hasil pemeriksaan   akan dibawa ke sidang Majelis Komisi pada awal November nanti,” ungkap Anggota KPPU Deddie Martadisastra, di Jakarta, Kamis (10/9).

Diungkapkannya, selama ini KPPU telah mencari data dari supplier, regulator, dan Carrefour sendiri guna membuktikan adanya indikasi praktik monopoli. Beberapa bukti yang mengindikasikan praktik monopoli adalah terkait trading term.

“Harus diingat, kami ini wasit. Jadi, semua masukan didengarkan, nanti kita putuskan benar tidak ada praktik monopoli atau tidak,” tegasnya.

Sebelumnya, KPPU menduga Carrefour melanggar  pasal 17, 20, 25, dan 28  dari UU No 5/99 tentang persaingan tidak sehat. Praktik ini muncul seiring meningkatnya posisi tawar Carrefour pasca akuisisi supermarket Alfa dengan menguasai 50 persen pangsa pasar, terutama di downstream, dan mengakibatkan kerugian di pihak lain.

Pasal 17 berisi tentang pelarangan menguasai alat produksi dan penguasaan barang yang bisa memicu terjadinya praktik monopoli.

Pasal 25 ayat 1 berisi tentang posisi dominan dalam menetapkan syarat-syarat perdagangan dengan tujuan untuk mencegah dan atau menghalangi konsumen memperoleh barang dan atau jasa yang bersaing, baik dari segi harga maupun kualitas.

Pasal 20 tentang larangan predatory pricing atau menjual rugi dan pasal 28  tentang larangan melakukan penggabungan atau peleburan badan usaha yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat.

Sementara itu, Pengacara Carrefour Indonesia Ignatius Andy juga mengaku optimistis dapat mematahkan semua tudingan dari KPPU tentang praktik monopoli yang dilakukan kliennya.

“Kami optimistis semua dugaan yang dilontarkan oleh KPPU bisa ditepis,” tegasnya.

Menurut Andy, masuknya dua pasal (20 dan 28) tidaklah tepat diarahkan ke Carrefour karena bertentangan dengan kejadian di lapangan. “Pasal tentang predatory pricing itu tidak tepat karena Carrefour memiliki banyak produk yang dijual, hampir 40 ribu item. Item yang mana dulu dimaksud ,” katanya.

Berkaitan dengan masuknya pasal 28, Andy mengatakan, belum ada aturan Peraturan Pelaksana (PP) dari pasal tersebut. “Hanya ada peraturan komisi. Ini bersifat internal KPPU. Tidak bisa dipakai untuk menjerat klien kami. Selain itu, sebenarnya ini tidak berlaku surut,” tegasnya.

Sedangkan tentang tudingan mendominasi pasar, Andy menjelaskan, secara ritel nasional, Carrefour hanya menguasai 7 persen pangsa pasar, sementara untuk pasar modern sebesar 17 persen. “Jadi, tidak benar kami memonopoli pasar,” katanya.

Andy juga membantah adanya pemaksaan trading term atau rabat oleh Carrefour ke pemasok selama ini seperti yang ditudingkan oleh KPPU. “Wajar itu sebelum barang masuk ada trading term. Disitu baru dinegosiasi. Kalau tidak suka kan bisa dipilih ritel lain oleh pemasok,” katanya.

Secara terpisah, Direktur Komunikasi KPPU A. Junaidi mengatakan, tidak tepat jika dikatakan penggunaan Perkom belum memiliki kekuatan hukum dalam persaingan usaha.

“Induknya adalah UU No5/99. Peraturan Pelaksana sendiri sedang digodok oleh pemerintah. Nah, perkom itu untuk mengoptimalkan pasal yang ada. Di hukum itu ada istilah, buat apa pasal itu dibuat jika tidak dipakai. Ini harus disadari oleh Carrefour,” tegasnya.[dni]

110909 2016, Satelit Palapa D Balik Modal

satelitJAKARTA–PT Indosat Tbk (Indosat) mengharapkan investasi membangun satelit Palapa D sebesar 220 juta dollar AS akan kembali pada 2016 atau tujuh tahun setelah mengangkasa pada akhir Agustus.

“Kami harapkan investasinya dalam kurun waktu enam atau tujuh tahun sudah kembali,” ungkap Presiden Direktur/CEO Indosat Harry Sasongko di Jakarta, Kamis (10/9).

Satelit Palapa-D diluncurkan pada Senin (31/8),  pukul 17:28 waktu Xichang, China, guna menggantikan satelit pendahulu milik perusahaan tersebut, Palapa-C2.

Satelit PALAPA-D diproduksi oleh Thales Alenia Space France (TAS-F) yang ditunjuk oleh Indosat sebagai mitra pengadaan. Dengan menggunakan platform Thales Alenia Space Spacebus 4000B3, satelit yang menelan investasi 220 juta dollar AS tersebut  digaransi akan beroperasi selama 15 tahun dan  memiliki kapasitas lebih besar dibandingkan PALAPA-C2, yaitu 40 transponder yang terdiri dari 24 standar C-band, 11 extended C-Band serta 5 Ku-band, dengan jangkauan mencakup Indonesia, negara-negara ASEAN, Asia Pasifik, Timur Tengah dan Australia.

Satelit tersebut akan dimanfaatkan sebagai backbone untuk mendukung layanan Indosat  seperti seluler, telepon tetap dan data tetap.

Layanan dari Satelit Palapa-D yang disediakan Indosat antara lain adalah Transponder Lease untuk layanan broadcasting dan cellular backhaul sebagai basic service, VSAT service, DigiBouquet dan Telecast Service.

“Hadirnya satelit ini akan meningkatkan produktifitas dari perseroan,” katanya.

Selanjutnya Harry mengungkapkan, kinerja perseroan pada semester kedua nanti tidak akan jauh berbeda dengan semester pertama lalu dimana pertumbuhan pendapatan hanya akan tumbuh sekitar dua persen.

“Naiknya sedikit ketimbang periode lalu. Soalnya kami sudah menghentikan penghangusan pelanggan,” jelasnya.

Ditegaskannya, Sekarang Indosat  sudah memiliki pelanggan yang benar-benar produktif. Tetapi itu tidak otomatis meningkatkan pendapatan.

Diharapkannya, seiring tidak ada penghapusan nomor akan terjadi pertambahan pelanggan pada akhir tahun nanti. “Sekarang ada 28 juta nomor, semoga akhir tahun bertambah,” katanya tanpa menyebutkan angka pertambahan.[Dni]