080909 Dua Operator Resmi Dapat Tambahan Frekuensi 3G

JAKARTA—Dua operator pemilik lisensi 3G, Telkomsel dan Indosat akhirnya secara resmi mendapatkan tambahan frekuensi 3G  dengan dikeluarkannya surat Keputusan Menkominfo pada tanggal 1 September 2009 nomor: 268/KEP/M.KOMINFO/9/2009 tentang Penetapan Alokasi Tambahan Blok Pita Frekuensi Radio, Besaran Tarif dan Skema Pembayaran Biaya Hak Penggunaan Spektrum Frekuensi Radio bagi Penyelenggara Jaringan Bergerak Selular IMT-2000 Pada Pita Frekunsi Radio 2.1 GHz.

Direktur Perencanaan dan Pengembangan Telkomsel Herfini Haryono mengatakan, keluarnya surat secara resmi dari Menkominfo tersebut membuat perseroan semakin yakin menggelar jasa mobile broadband.

“Tambahan frekuensi 3G ini  membuat  Telkomsel lebih fleksibel dalam mengembangkan layanan data berkecepatan lebih tinggi berbasis High Speed Data Packet Access (HSDPA), dengan kapasitas lebih besar dan kualitas lebih baik.  Penambahan frekuensi ini  melanjutkan roadmap ke teknologi HSPA dan HSPA+, dimana dengan teknologi terakhir  kemampuan akses downlink data bisa mencapai 40 Mbps,” ungkapnya di Jakarta, Senin (7/9).

Sementara juru bicara Indosat Adita Irawati mengatakan,  alokasi tambahan blok pita frekuensi untuk  Indosat berada pada rentang frekuensi 1935 – 1940 MHz berpasangan dengan 2145-2150 MHz.

Untuk diketahui, Telkomsel berhasil mendapatkan tambahan frekuensi sebesar 5 MHz bagi teknologi 3G setelah menyetujui harga 160 miliar rupiah yang dibanderol regulator..  Saat ini pengguna mobile broadband Telkomsel   mencapai 1,2 juta nomor dengan dukungan infrastruktur  4.000 node B (BTS 3G) yang menyalurkan  trafik komunikasi data kurang lebih 2000 terabit per bulan.

Pada kesempatan lain, induk usaha Telkomsel, Telkom, mulai memperluas pasar jasa broadband dari segmen keluarga ke pebisnis.

“Kami ingin memperluas pangsa pasar. Untuk itu ditawarkan paket berlangganan internet Speedy  paket executive,” ungkap VP Public & Marketing Communication  Telkom Eddy Kurnia.

Dijelaskannya, paket tersebut menawarkan   kecepatan akses 2 Mbps downstream dan 512 kbps upstream serta alokasi kapasitas ke gateway internasional yang lebih besar cocok untuk penggunaan internet yang di-share hingga ke sekitar 20 pengguna dengan tarif bulanan  850 ribu rupiah per bulan.

“Kami harapkan paket baru ini bisa membuat Speedy digunakan  1,2 juta pelanggan pada akhir tahun nanti. Sekarang jumlahnya masih 900 ribu pelanggan ,” tandasnya.[dni]

080909 Inkonsistensi Sebuah Keputusan

Pengumuman dari regulator untuk menambah kanal bagi Telkom dan Bakrie Telecom sontak membuka kembali masalah kebijakan penataan frekeunsi di spektrum 800 MHz tiga tahun lalu oleh pemerintah.

Tiga tahun lalu, saat  Menkominfo  masih dijabat  Sofyan A. Djalil, ditetapkan pembagian kanal   di pita 800 Mhz melalui Keputusan No. 181/Kep/M. Kominfo/12/2006 tentang Pengalokasian Kanal pada Pita Frekuensi Radio 900 MHz untuk Penyelenggaraan Jaringan Tetap Lokal Tanpa Kabel dengan Mobilitas Terbatas dan Jaringan Bergerak Seluler.

Keputusan tersebut dikeluarkan karena pemerintah ingin membersihkan spektrum 1.900 MHz dari operator berbasis teknologi CDMA untuk melanggengkan inovasi 3G.

Akibat penataan itu, layanan Indosat StarOne dan Telkom Flexi yang berada pada pita 1.900 MHz harus pindah ke pita 800 MHz yang telah ditempati oleh Bakrie Telecom dan Mobile-8.

Pita 800 MHz sendiri memiliki lebar 20 MHz atau 14 kanal. Pada spektrum tersebut, sebelumnya Mobile-8 dan Bakrie Telecom masing-masing memiliki tujuh kanal (10 MHz).

Pemerintah kemudian menetapkan layanan Telkom Flexi pada spektrum milik Bakrie Telecom dengan pembagian masing-masing mendapatkan tiga kanal. Sedangkan satu kanal tersisa akan diserahkan kepada salah satu dari dua operator itu yang dinilai berkinerja paling baik 2 tahun setelah ditetapkan peraturan itu.

Sedangkan StarOne akan ditempatkan pada frekuensi milik Mobile-8 dengan pembagian dua kanal untuk StarOne dan empat kanal untuk  Mobile-8. Satu kanal yang tersisa akan diberikan kepada salah satu dari dua operator itu yang dinilai paling agresif 2 tahun sejak ditetapkan peraturan tersebut.

Pembagian dan penempatan frekuensi milik StarOne, dimaksudkan agar kanal itu berdekatan dengan frekuensi yang digunakan untuk layanan GSM operator tersebut.

Dalam perjalanannya, setelah melewati masa  migrasi dan  tenggat waktu penambahan frekuensi   menjelang,  regulator mengeluarkan keputusan yang mengagetkan pada tahun lalu yakni tidak ada penambahan frekuensi bagi keempat operator.

Alasan yang digunakan oleh regulator adalah dua kanal yang tersisa di spektrum 800 Mhz, posisinya tidak begitu strategis. Satu kanal berbatasan dengan frekuensi 1.800 milik GSM Indosat, sedangkan satunya lagi berada di antara kanal milik Bakrie Telecom dan Telkom.

Menurut regulator, kebijakan tidak menambah kanal sesuai keinginan operator yang   ingin   menghindari interferensi dan tidak mau mengeluarkan biaya tambahan yang besar untuk memanfaatkan sisa dua kanal di spektrum 800 MHz.

Herry Nugroho yang masih menjadi Anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) kala itu, mengungkapkan, Indosat meminta kanal yang tersisa menjadi guardband. Sedangkan Bakrie Telecom dan Telkom, khawatir akan mengeluarkan dana yang tinggi untuk memanfaatkan kanal.

”Kanal itu harus dipertebal dulu untuk menghindari interferensi. Biayanya akan tinggi, sedangkan kondisi sekarang mereka belum butuh-butuh amat,” kata Herry yang sekarang menjadi salah satu pejabat teras di Bakrie Telecom.

Dan sekarang, keputusan dari regulator berubah lagi soal penataan frekuensi di spektrum 800 MHz tersebut. Entah kenapa tiba-tiba ditemukan kanal dalam posisi ”nyempil” dan bisa dimanfaatkan oleh dua operator yang kebetulan selama ini agresif dalam menggelar layanan dan melobi regulator untuk menambah kanal.

Hebatnya lagi, penambahan kanal tersebut seperti mengabaikan prosedur yang diinginkan oleh  KM 181 dimana diciptakan kompetisi bagi keempat operator dan  dievaluasi berdasarkan pengembangan teknologi, penambahan pelanggan, dan wilayah layanan.

Lebih aneh lagi, dalam penambahan kanal tersebut terkesan ada ketidakadilan jika dibandingkan dengan frekuensi 3G milik operator GSM belum lama ini. Seperti diketahui, dalam menambah frekeunsi sebesar 5 MHz, operator GSM harus merogoh kocek sebesar 160 miliar rupiah hanya untuk upfront fee.

Sementara kedua operator FWA mendapatkan tambahan frekeunsi sebesar 1,25 MHz terkesan gratis. Padahal, jika mengacu pada harga frekuensi 3G, kedua operator untuk seharusnya merogoh kocek 40 miliar rupiah untuk satu kanal yang didapatnya.

Pengamat telematika dari Universitas Indonesia Gunawan Wibisono menilai, sikap yang dipertunjukkan oleh regulator terkait penataan kanal di 800 MHz sebagai perilaku mencla-mencle dan tidak transparan.

”Jika akhirnya mengabaikan prosedur di KM 181, seharusnya dilelang saja agar menjadi pemasukan bagi negara. Bukankah itu yang terjadi di 3G. Kenapa di FWA ada perbedaan perlakuan,” katanya kepada Koran Jakarta, Senin (8/9).

Gunawan menduga, sebenarnya pembagian yang dilakukan oleh operator dengan menimbang kepada kinerja operator selama ini. Dua operator yang tidak mendapat tambahan kanal memang tidak menggembirakan dari sisi jaringan dan penambahan pelanggan.

Mobile-8 pelanggannya tak lebih dari 3,5 juta nomor dan sedang kesulitan pendanaan. Sedangkan StarOne bagi Indosat hanyalah pelengkap lisensi.

Menanggapi hal itu, Anggota Komite BRTI M. Ridwan Effendi menegaskan, pemberian kanal murni karena masalah teknis dimana hanya dua operator yang mungkin mendapatkan tambahan.

Sedangkan masalah penambahan terkesan gratis, Ridwan menjelaskan, penarikan Biaya Hak Penggunaan (BHP) di FWA masih berbasis Izin Stasiun Radio (ISR) bukan pita. Perhitungan berbasis pita adalah tergantung jumlah BTS yang dibangun oleh operator. Sedangkan berbasis pita, penarikan berdasarkan alokasi pita yang dikuasai.

”Karena itu syarat dalam penambahan kanal itu, lisensi modern milik kedua operator diperbaharui. Kita harus mendapatkan komitmen dari keduanya akan membangun berapa BTS, agar pemasukan tetap terjamin,” tegasnya.

Diungkapkannya, BRTI  telah menerima  proposal dari  Telkom dan  BTEL terkait penambahan

komitmen pembangunan sehubungan dengan pengalokasian kanal 1019 tersebut.

Telkom  mengajukan penambahan kapasitas untuk lisensi modernnya  sebanyak rata-rata 28 perseb  untuk wilayah Indonesia di luar Jawa Barat, Jakarta, dan Banten (JBJB). Sedangkan   BTEL  mengajukan penambahan kapasitas  lebih dari 100 persen di wilayah JBJB.

“Paling lambat Oktober, tambahan  kanal   sudah bisa dialokasikan untuk kedua operator,” ujarnya. [dni]

070909 Tambahan Kanal: Pintu Masuk Bagi Ekspansi

Regulator  pada pekan lalu  memutuskan untuk memberikan tambahan kanal frekuensi di spektrum 800 MHz bagi dua operator pemilik lisensi Fixed Wireless Access (FWA).
Kedua operator yang mendapatkan tambahan kanal adalah  PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) dan Bakrie Telecom Tbk (BTEL).

Keputusan yang dikeluarkan oleh regulator tersebut seperti mengakhiri penantian dari kedua operator yang memang haus akan tambahan kanal setahun belakangan ini guna berekspansi.

Kanal tambahan di pita 800 MHz untuk layanan Flexi milik Telkom  dan Esia milik BTEL  diberikan oleh regulator selebar masing-masing 1,25 MHz.

Esia mendapatkan kanal frekuensi tambahan di wilayah DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten (JBJB). Sedangkan  Flexi mendapatkan tambahan untuk wilayah di luar ketiga provinsi tersebut.

Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) M. Ridwan Effendi menjelaskan, kebijakan penambahan kanal tersebut sesuai dengan amanat Permenkominfo No 181/ 2006 tentang Pengalokasian Kanal pada Pita Frekuensi Radio 900 MHz untuk Penyelenggaraan Jaringan Tetap Lokal Tanpa Kabel dengan Mobilitas Terbatas dan Jaringan Bergerak Seluler.
“Setelah dilakukan kajian  secara teknis, ternyata hanya kedua operator itu yang dapat diberikan tambahan kanal. Sedangkan Indosat dan Mobile-8, terbentur masalah teknis,” katanya di Jakarta, Senin (7/9).
Dijelaskannya, berdasarkan kajian terdapat kanal 160 yang berada diantara kanal milik Bakrie Telecom dan Telkom, sedangkan  kanal 548 berada di antara kanal milik mobile-8 dan  Indosat.

Secara teknis kedua kanal tersebut (160 dan 548)  tidak dapat diberikan ke salah satu operator (Indosat atau Mobile-8).

Namun, regulator menemukan kanal 1019 di sebelah kiri kanal 37 yang secara teknis dapat digunakan oleh operator pemilk kanal 37. Di JBJB Bakrie Telecom adalah pemilik kanal tersebut. Sedangakan di luar JBJB pemiliknya Telkom.
Akhirnya regulator menyetujui   untuk mengalokasikan kanal 1019 selebar 1,23 MHz bagi Bakrie Teelcom di JBJB dan Telkom di luar JBJB. Hal ini secara teknis  kanal tersebut hanya bisa digandeng dengan dua  operator itu. Sekarang ini di Indonesia  kanal 1019 ada di wilayah trunking.
Ridwan menegaskan, kanal yang diberikan bisa dioptimalkan oleh kedua operator setalah dikonfirmasi kepada  Qualcomm sebagai pemilik  chipset Code Division Multiple Access (CDMA).

“Ponsel CDMA juga bisa digunakan di kanal tersebut.   Dan kanal ini juga termasuk alokasi untuk IMT 2000 di International Telecommunication Union (ITU),” jelasnya.
Berdasarkan catatan,  , saat ini Telkom dan Bakrie Telecom memiliki tiga kanal di frekuensi 800 MHz.  Adanya penambahan kanal membuat masing-masing memiliki empat kanal atau lebar pita frekuensi sebesar lima MHz.
Selanjutnya Ridwan mengatakan, setelah mendapatkan lampu hijau dari pemerintah kedua perusahaan harus mengajukan permintaan resmi ke pemerintah. Setelah itu BRTI akan memperbaharui lisensi modern yang dikantongi dengan menekankan pada pembangunan infrastruktur di spektrum tersebut.
“Lisensi pembangunan berbasis infrastruktur itu wajib dilakukan karena penarikan Biaya Hak Penyelenggaraan (BHP) berbasis izin stasiun radio (ISR) bukan pita layaknya di 3G,” katanya.

Sambut Gembira

Secara terpisah, Wakil Direktur Bidang Jaringan Bakrie Telecom Muhammad Buldansyah menyambut gembira kebijakan yang diambil oleh regulator tersebut.
“Kami sudah mengajukan usulan itu sebeleumnya ke pemerintah. Ini akan membuat kualitas layanan dari Bakrie Telecom di wilayah JBJB menjadi meningkat,” katanya.
Diungkapkannya, saat ini di JBJB terdapat sekitar empat juta pelanggan dengan kapasitas jaringan sebesar enam juta pelanggan.

Kondisi itu sangat tidak ideal bagi operator karena biasanya besaran kapasitas dua kali dari jumlah pelanggan. Apalagi untuk menggelar jasa data berbasis Evolution Data Optimized (EVDO). EVDO adalah teknologi jasa data dari CDMA untuk menyaingi 3G milik operator GSM.

“Tambahan kanal untuk sementara bisa membuat Bakrie Telecom menggelar EVDO. Tetapi kalau jumlah pelanggannya bertambah kemungkinan bisa tersendat. Lima MHz itu belum ideal untuk data,” katanya.

Senada dengan Danny, VP Public and Marketing Communication Telkom Eddy Kurnia mengakui tambahan kanal sangat berarti bagi layanan Telkom Flexi.”Sekarang Flexi telah digunakan 13 juta pelanggan. Tambahan kanal akan meningkatkan kualitas layanan dan agresifitas ekspansi,” katanya.

Kecewa

Kedua operator yang mendapatkan tambahan tentu saja gembira, lantas bagaimana dengan Mobile-8 dan Indosat yang memiliki StarOne.

Direktur Utama Mobile-8 Telecom Merza Fachys mengaku kecewa dengan kebijakan regulator yang hanya memberikan tambahan kepada dua operator.

“Jika bicara butuh tambahan kanal, tentu Mobile-8 butuh. Apalagi kanal kami dikurangi oleh regulator walau kompensasinya mendapatkan lisensi FWA nasional,” ujarnya kepada Koran Jakarta, Senin (7/9).

Merza mengatakan, dua lisensi yang dimiliki oleh Mobile-8 (Seluler dan FWA) dengan menggunakan teknologi CDMA tentu akan membutuhkan tambahan kanal di masa depan dan hal itu perlu dicarikan solusinya.

Chief Marketing Officer Indosat Guntur S. Siboro mengungkapkan,  kanal yang akan diberikan kepada  dua operator  harus dipastikan  sesuai dengan standar band CDMA. “Kalau memang benar untuk CDMA, lalu handset-nya pakai band apa?” ujarnya.

Guntur menegaskan, Indosat masih bisa memberikan layanan StarOne secara optimal dengan alokasi frekuensi yang ada dan belum begitu membutuhkan tambahan kanal.

Pada kesempatan lain, pengamat telematika Miftadi Sudjai menyakini, penambahan kanal yang terjadi di Telkom dan BTEL akan membuat kedua operator semakin ekspansif.

“BTEL dengan FWA berkuasa di JBJB. Selama ini kendala operator itu untuk ekspansi adalah penomoran dan kanal. Salah satu masalah sudah selesai, tentunya pada tahun depan akan semakin ekspansif,” katanya.

Menurut Miftadi, tambahan kanal tersebut tidak akan dioptimalkan oleh kedua operator untuk menggelar EVDO mengingat kebutuhan akan jasa suara masih tinggi. “Untuk EVDO itu membutuhkan bandwitdh besar. Tahap awal memang akan dibangun citra menggeber jasa data, tetapi setelah itu pasti akan dialokasikan untuk suara,” katanya.

Miftadi menyarankan, jika operator berbasis teknologi CDMA ingin serius menggeber jasa data maka solusinya adalah menggeber teknologi EVDO Rev A dan B.

Selanjutnya Miftadi mengatakan, masalah kanal yang berasal dari trunking seharusnya tidak perlu dipermasalahkan karena dengan teknologi yang ada, frekuensi bisa diolah sesuai dengan standar yang dibutuhkan.

“Adanya suara-suara yang meragukan kualitas kanal tak lebih dari ungkapan kekecewaan. Teknologi sudah maju kok,” tegasnya.[dni]

080909 Beoscope.com Gandeng Pasarmusik.com

JAKARTA— Dua portal konten milik anak negeri, Beoscope.com dan Pasarmusik.com, berkolaborasi    untuk   mendorong pertumbuhan industri musik kreatif independen di Indonesia.

“Adanya kolaborasi ini membuat industri kreatif di Indonesia bisa menjadikan kedua portal sebagai etalase hasil kreatifitas mereka,” ujar Direktur Beoscope.com  Erik Hartono di Jakarta, Senin (8/9).

Dijelaskannya,   kolaborasi keduanya meliputi   saling mempromosikan kedua portal dan   musik kreatif independent  mengingat kedua portal akan  menjadi etalase bagi para pemusik dan pengarang lagu.

Berikutnya, mensinergikan program loyalty yang diselenggarakan oleh masing-masing portal kepada para penggguna  seperti mensinergikan pemberlakukan voucher elektronik beoscope.com dengan top-up elektronik pasarmusik.com.

Terakhir, bersama- sama mendorong sistem pembayaran on-line yang aman, murah, dan mudah  untuk mendukung sistem transaksi komersial antara produsen konten dan pembeli konten yang dibuka oleh kedua portal

“Kerjasama ini  diharapkan dapat sekaligus memberikan peluang bagi para musisi dan pengarang lagu Indonesia untuk mengetahui dan berpartisipasi pada ”Kompetisi Battle of The Song yang sekarang ini sedang diselenggarakan beoscope.com bersama Telkomsel dan Yamaha Musik sampai 2 Oktober 2009 yang akan datang,” katanya.

Direktur Pasarmusik.com Mochamad James Falahuddin mengharapkan, kedua portal  bisa menumbuhkan ekonomi yang berskala besar dari produk konten Indonesia khususnya musik kreatif independen dimana  potensinya sangat besar.[dni]