010909 Dari Simpanse Hingga Bispak

Persaingan di industri telekomunikasi tidak hanya masalah skema pentarifan atau jasa yang ditawarkan. Tetapi  juga bersaing dari sisi pencitraan melalui komunikasi pemasaran.

 

Banyak cara dilakukan oleh operator untuk menarik perhatian dari calon pelanggannya agar melirik produk yang ditawarkan. Mulai dari cara komunikasi biasa hingga menyerang lawannya secara frontal.

 

Pada tahun lalu, jagat telekomunikasi dihebohkan dengan penggunaan simpanse dan tema kawin dengan kambing oleh XL untuk mengomunikasikan tarif murah yang dimilikinya.

 

Banyak pihak mencaci iklan yang ditayangkan XL. Bahkan Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI)  menghimbau XL menghentikan penayangan iklan karena tidak mendidik dan seirama dengan nafas industri telekomunikasi yang mengedepankan intelektualitas.

 

Tahun ini, nampaknya BRTI akan mengeluarkan himbauan serupa, namun korbannya adalah Bakrie Telecom dengan penggunaan kata Bispak.

 

Di masyarakat, “Bispak” identik dengan istilah prostitusi jalanan. Istilah tersebut berawal dari  idiom  kalangan anak muda  untuk   wanita yang bisa dipakai (Bispak).  Sedangkan bagi Bakrie Telecom, Bispak dijadikan slogan pemasaran yang bermakna Bisa Pakai Tarif Mana Pun.

 

“Persaingan boleh saja keras. Tetapi etika harus dijaga,” tegas Ketua BRTI/PLT Dirjen Postel Basuki Yusuf Iskandar kepad Koran Jakarta, Senin (31/8).

 

Anggota Komite BRTI Heru Sutadi menjanjikan, masalah slogan dari Bakrie Telecom akan dibahas dalam pleno mingguan BRTI pada minggu ini.

 

“Kami memperlakukan semua oeprator sama. Jika slogan tersebut meresahkan masyarakat, tentu akan diminta untuk dicabut,” tegasnya.

 

Heru sendiri menyayangkan, langkah Bakrie Telecom menggunakan slogan tersebut saat bulan Ramadan. “Di bulan suci kenapa mengeluarkan slogan seperti itu. Apa tidak ada yang lebih baik. Saya khawatir nanti pesaing membalas dengan slogan yang nyaris sama. Kalau begini, mau dibawa kemana industri telekomunikasi,” sesalnya.

 

Direktur Kebijakan dan Perlindungan Konsumen Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat Informasi (LPPMI) Kamilov Sagala menambahkan, jika Bakrie Telecom bersikeras menggunakan istilah yang berkonotasi negatif tersebut sama saja perusahaan tersebut ingin mengidentikkan pelanggannya dengan pekerjaan “tertua” yanga ada di dunia.

 

“Komunikasi iklan selalu identik dengan pelanggan. Sebaiknya punggawa Bakrie Telecom mempertimbangkan hal itu sebelum memutuskan membuat suatu slogan,” tegasnya.

 

Sementara Praktisi Telematika  Ventura Elisawati menilai, langkah yang dilakukan Bakrie Telecom seperti merendahkan nilai dari industri.

 

“Padahal telekomunikasi merupakan industri strategis dan menjadi salah satu indikator pertumbuhan ekonomi negara. kenapa malah direndahkan seperti itu,” sesalnya.

 

Ventura mengkhawatirkan, jika para pemain di industri telekomunikasi   saling “berkompetisi” dengan cara yang kurang mendidik dan tidak saling menghargai, akan membuat  industri lain tidak menghargainya. 

 

Praktisi telematika lainnya, Bayu Samudiyo  juga menganggap, komunikasi pemasaran dari Bakrie Telecom cenderung kasar karena sling menjelkkan pesaingnya.

 

“Kenapa dipakai istilah Basmi atau Kartu Asal. Itu kan saling menjelekkan. Tidak sehat bagi industri,” katanya. 

          

Sedangkan VP Marketing Communication XL Turina Farouk mengatakan,  aksi komunikasi pemasaran dari operator semua berasal dari kreatifitas.

 

“Semuanya tergantung dari kreatifitas bagian pemasaran mengemas komunikasinya. Semuanya bertujuan untuk menarik pelanggan ke produk yang ditawarkan. Ada baiknya semua diserahkan ke pelanggan, karena mereka yang menentukan,” katanya.

 

Sementara Chief Of Sales Indosat Syakieb Sungkar menilai komunikasi pemasaran yang ditawarkan Bakrie Telecom seperti sosok yang tidak memiliki kepribadian karena pelanggan diminta untuk mencoba tarif dari pesaing.

 

“Bagi saya aneh saja. Apa tidak percaya diri dengan tarif sendiri, sehingga meminta pelanggan mencoba tarif operator lain,” katanya.

 

Menanggapi hal itu, Wakil Direktur Bidang Pemasaran Bakrie Telecom Erik Meijer menjelaskan,   kata “Bispak” dipakai untuk menunjukkan tarif Esia bisa digunakan untuk jasa operator seluler mana saja.

 

“Istilah itu paling pas menurut internal kami. Kata tersebut menjelaskan fungsional dari fitur yang ditawarkan. Jika ada yang berfikir kata itu identik dengan istilah tidak mengenakkan, itu tergantung masing-masing individu,” tukasnya.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s