010909 Babak Baru Perang Tarif Seluler Vs FWA

 

orang-teleponPT Excelcomindo Pratama Tbk (XL) pada pekan lalu membuat kejutan di kancah industri telekomunikasi.

 

Pemain ketiga terbesar itu mengeluarkan  program pemasaran   “Paket XL Harga CDMA” untuk pelanggan prabayarnya yang berada di Jabodetabek.

 

Paket tersebut menawarkan  tarif telepon lokal ke sesama XL sebesar 72 rupiah per menit. Angka tersebut lebih murah 10 persen  dibanding tawaran  operator berlisensi Fixed Wireless Access (FWA)  yang katanya  80 rupiah  per menit. 

 

Sontak aksi dari XL tersebut membuat terkejut industri. Hal ini karena sejak awal tahun ini perang tarif mulai mereda. Para punggawa operator (termasuk XL) telah menggaungkan akan lebih bermain di kualitas layanan dan retensi pelanggan ketimbang bermain di tarif murah yang berujung pada ‘pendarahan’ kinerja keuangan.

 

Lantas apa pemicu dari aksi XL itu? Direktur Commerce XL Joy Wahjudi mengatakan, aksi itu sebenarnya dilakukan karena perseroan ingin mengoptimalkan kapasitas jaringan yang baru terisi sebesar 60 persen dari yang ada.

 

Berdasarkan catatan,  secara nasional, XL memiliki 24,9 juta pelanggan seluler yang dilayani 18.128 unit base transceiver station (BTS), dimana 1.840 titik di antaranya Node B 3G. Khusus untuk pelanggan XL di Jabodetabek yang berjumlah 8,19 juta, XL memiliki 5.900 unit BTS, dimana  980 unit diantaranya  Node B 3G.

 

Benarkah itu? Selidik punya selidik, ternyata ada alasan lain yang membuat XL nekad melakukan hal tersebut. Pertama, karena operator ini tidak jadi membeli tambahan frekuensi 3G layaknya Telkomsel dan Indosat, sehingga terpaksa masih mengandalkan suara sebagai mesin uang.

 

Kedua, meskipun XL pemain ketiga terbesar secara nasional, ternyata operator ini di Jabodetabek dari sisi pelanggan kalah ketimbang Bakrie Telecom pemilik lisensi FWA yang mengusung Esia.

 

Survei dari Roy Morgan pada kuartal pertama lalu  mengungkapkan, secara pangsa pasar  Esia memimpin di area etalase persaingan itu sebesar  38 persen, diikuti   IM3 dari Indosat  (26.5%),  Telkomsel  (20%), dan XL (11%).

 

Tentu saja langkah yang diambil XL tersebut membuat pemimpin pasar di area itu (Esia) meradang. Sadar kalah dari sisi jaringan, maka Bakrie Telecom membalas dengan program pemasaran yang tergolong ‘nyeleneh’ yaitu Esia Bispak beberapa hari kemudian.

 

Esia Bispak atau Bisa Pakai Tarif Manapun adalah program yang menawarkan bagi pelanggan Esia untuk mencoba tarif seluler manapun   dengan biaya  dua ribu rupiah dan registrasi SMS 50 rupiah. Tarif yang bisa dicoba adalah milik  Telkomsel, Indosat,  XL dengan bonus diskon 10 persen, tanpa harus pakai kartu perdana GSM baru.

 

“Kami hanya ingin menunjukkan pada pelanggan Esia bahwa  tarif seluler itu lebih mahal, bahkan setelah didiskon 10 persen,” ujar Wakil Direktur Bidang Pemasaran Bakrie Telecom Erik Meijer di Jakarta, belum lama ini.

 

Erik mengharapkan, setelah mencoba tarif dari seluler, para pelanggan Esia kembali menggunakan tarif milik Bakrie Telecom karena lebih murah. Klaim mantan punggawa Telkomsel itu,  tarif seluler  lebih mahal tiga kali untuk panggilan lintas operator dan   22 kali lipat  untuk panggilan ke sesama operator.

 

 “Selain itu program ini diharapkan bisa mengakuisisi pelanggan baru di wilayah lainnya dimana Esia belum memimpin,” katanya.

 

Tidak Menguntungkan

Menurut Praktisi telematika Bayu Samudiyo aksi dari kedua operator tersebut tidak menguntungkan bagi industri dan pelanggannya.

 

Ini sama saja membuat episode perang tarif berlanjut setelah sempat terhenti selama satu semester. Secara industri ini akan membuat margin keuntungan tergerus. Sementara bagi pelanggan ini akan membuat kualitas layanan menjadi turun,” katanya kepada Koran Jakarta, Senin (31/8).

 

Bayu mengatakan, program yang ditawarkan oleh kedua operator tersebut  tidak akan berhasil meningkatkan pendapatan karena pelanggan sudah pintar membaca penawaran dari operator.

 

“Mereka itu memperebutkan segmen D dan E yang Average Revenue Per Users (ARPU) kecil. Segmen ini tidak akan  mau membaca skema promosi yag ribet. Salah-salah bisa menjadi bumerang bagi keduanya,” katanya.

 

Dikatakannya, dampak bagi XL karena adanya lonjakan trafik maka kualitas layanan menurun. Sedangkan bagi Bakrie Telecom pelanggan bisa balik menuding operator ini menaikkan tarif secara terselubung karena ditawarkan tarif yang lebih mahal.   Apalagi untuk menikmati tarif seluler ala Esia diharuskan untuk mendaftar yang dikenakan biaya.

 

“Esia tidak akan bisa mengambil segmen seluler yang premium karena tidak selalu pasar ini   mementingkan harga tetapi kualitaslah yang utama. Karena itu jika Esia memaksakan diri mengambil pasar seluler tanpa peningkatan kualitas jaringan yang terjadi nantinya malah ditinggalkan pelanggan,” katanya.

 

Tidak Tergerus

Menanggapi hal itu, Joy menyakini margin keuntungan perseroan tidak akan tergerus karena tarif FWA yang ditawarkan  tidak gratis tetapi dikenakan   per menit. Sedangkan promosi  di seluler  setelah waktu tertentu baru gratis. “Ini belum  tentu mengerus margin. Semua  tergantung dari perilaku  pelanggannya. Jika sukses, kemungkinan program itu akan berlaku nasional,” katanya.

 

Bagi Bakrie Telecom pun sebenarnya  tidak merugikan malah bisa mendatangkan keuntungan. Lihat saja, dari pendaftaran jika setengah dari 8 juta Esia mendaftar maka Bakrie Telecom telah menagguk keuntungan sekitar 8 miliar rupiah hanya dari SMS registrasi.

 

Sementara itu, melihat aksi dari kedua operator tersebut Telkomsel dan Indosat tidak ingin terpancing melakukan serangan balik.

 

“Telkomsel jika diibaratkan adalah pemilik mobil BMW. Nah, jika ada Bajaj menyerempet, apa ada gunanya minta ganti rugi? Ketimbang capek beragumentasi lebih baik kami fokus di kualitas layanan dan pasar data,” ujar  VP Channel Management Telkomsel, Gideon Edi Purnomo.

 

Senada dengan Gideon,  Chief Of  Marketing Indosat Guntur S Siboro menegaskan tidak akan mengikuti aksi kedua pesaingnya. “Program pemasaran Indosat itu bukan merespons pesaing. Kami punya inovasi sendiri. sedangkan masalah klaim Esia berkuasa di Jabodetabe itu harus dilihat dulu kenyataan di lapangan. Sekarang banyak pelanggan yang menggunakan multiple card,” tegasnya.

 

Namun, penegasan dari Guntur itu disangsikan banyak kalangan jika melihat perilaku Indosat selama ini yang terkesan saling berbalas pantun dengan XL.

 

Lihat saja soal penetapan tarif 0,01 dimana XL menawarkan terlebih dulu setelah itu dijawab oleh Indosat dengan angka yang sama tapi beda rasa,

 

Hal yang sama juga terjadi dalam penawaran bundling ponsel China dimana XL telah meluncurkan sebelum Ramadan dan Indosat melakukan hal yang sama akhir pekan lalu.  

Sedangkan Direktur Konsumer Telkom I Nyoman G Wiryanata menegaskan, tidak akan meladeni perang tarif karena penawaran Flexi sudah paling murah ketimbang FWA lainnya yakni   49 rupiah  untuk panggilan on-net  dan  35 rupiah  untuk PSTN lokal. “Tarif itu sudah paling murah dan tidak menjebak. Saya kira pelanggan sudah mulai jeli dalam mencermati tarif,” ujarnya.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s