270809 Improtir BlackBerry Wajib Bangun Purnajual

rim-blackberry-logoJAKARTA —Regulator akan mensyaratkan setiap importir yang memasukkan BlackBerry ke Indonesia harus membangun service center agar  masyarakat mendapatkan jaminan layanan purnajual terhadap produk yang dibelinya.

“Hasil pleno memutuskan setiap importir BlackBerry wajib membangun service center selain yang dimiliki oleh prinsipal. Kebijakan ini diyakini akan membuat jumlah importir dari BlackBerry akan berkurang dari yang ada sekarang sekitar 47 perusahaan,” ungkap Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi kepada Koran Jakarta, Rabu (26/8).

Dikatakannya, jika importir tidak membangun service center maka regulator tidak akan menerbitkan sertifikasi B untuk memasukkan perangkat besutan Research In Motion (RIM) itu.

Sedangkan berkaitan dengan nasib dari service center milik RIM, Heru mengungkapkan, kemungkinan besar infrastruktur tersebut akan lolos dari penilaian regulator sebagai tempat purna jual sesuai dengan regulasi.

“Belum ada pleno soal tempatnya RIM, tetapi kemungkinan besar service center RIM akan lolos. Konsekuensinya pembekuan sertifikasi A untuk varian baru milik RIM akan dicabut secepatnya,” katanya.

RIM sendiri telah mengumumkan akan membuka purnajual pada 26 Agustus ini dan menyatakan hanya menerima perbaikan perangkat yang dibeli dari mitra resmi yakni Telkomsel, Indosat, XL, dan Axis.[dni]

270809 Pelaksanaan SKTT Kembali Molor

JAKARTA—Pelaksanaan Sistem Kliring Trafik Telekomunikasi (SKTT) dipastikan akan kembali molor dari jadwal yang ditentukan karena mesin yang dimiliki oleh PT Pratama Jaring Nusantara (PJN) belum bisa kompatibel dengan sistem penagihan operator.

“Baru dilaksanakan rapat kembali dengan para operator. Sudah dilakukan persamaan istilah untuk beberapa langkah penagihan antara versi PJN dengan para operator. Sepertinya SKTT bisa berjalan pada  September nanti,” ungkap Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) M.Ridwan Effendi kepada Koran Jakarta, Rabu (26/8).

Dikatakannya, tidak tertutup juga kemungkinan jika dalam perjalanannya kontrak antara PJN dengan para operator bisa berubah dalam menjalankan SKTT seandainya mesin milik perusahaan tersebut tak bisa juga bekerja.

Secara terpisah, Sekjen Asosiasi Kliring Trafik Telekomunikasi (Askitel) Rakhmat Junaedi mengungkapkan, akibat tidak bisa dipakainya mesin yang digunakan oleh PJN, maka perusahaan tersebut kemungkinan akan menyewa peralatan  Sistem Otomasi Kliring Interkoneksi (Soki) milik para operator.

“Sudah dicoba beberapa kali dengan para operator. Mesin dari PJN tersebut tidak bisa dipakai,” katanya.

Untuk diketahui, SKTT seharusnya dijalankan pada Juni lalu seiring konsep kerjasama telah diubah oleh regulator. Regulator akhirnya menyerahkan masalah SKTT antara PJN dengan operator. Posisi regulator lebih sebagai pengawas dari berjalannya SKTT.

Kabar beredar mengatakan, Ridwan yang diberikan tanggung jawab sebagai mediator antara PJN dengan para operator kewalahan menghadapi aksi tarik ulur yang dilakukan oleh kedua belah pihak. Akhirnya agenda yang telah dijadwalkan sejak lima tahun lalu itu jalan di tempat.

Padahal, SKTT rencananya akan dijadikan pemerintah sebagai mekanisme check and balance untuk memverifikasi data trafik kliring operator. Data tersebut nantinya akan menjadi acuan dari pemerintah untuk mengeluarkan kebijakan makro telekomunikasi seperti penetapan tarif dan lain sebagainya. Hal ini karena dalam SKTT akan tergambar pola trafik, interest tarif, dan intensitas panggilan di suatu daerah.[dni]

270809 Adu Nasib di Bulan Penuh Berkah

Bulan Ramadan tidak hanya penuh berkah bagi umat Islam yang menjalankannya, tetapi juga bisa menjadi rahmat bagi pelaku usaha di sektor telekomunikasi.

Pasalnya apalagi kalau bukan berubahnya pola konsumsi pelanggan terhadap jasa telekomunikasi yang cenderung lebih konsumtif selama bulan Ramadan.

Inilah yang membuat bulan Ramadan selalu dijadikan sebagai lumbung keuntungan oleh operator dalam siklus tahunan pendapatan perseroan. Biasanya bulan Ramadan berkontribusi hingga   30 persen dari pendapatan satu tahun sebuah operator telekomunikasi.

Setelah bulan Ramadan, masa-masa indah bagi operator adalah  Natal dan Tahun Baru yang menyumbang 20 persen bagi total pendapatan, serta   liburan sekolah 15 persen, sisanya operator berharap dari hari-hari biasa.

Jasa yang diminati oleh pelanggan selama Ramadan  adalah  SMS dan suara. Namun, seiring hype jejaring sosial belakangan ini, maka kemungkinan  layanan data akan bersinar.

Berdasarkan catatan, pada tahun lalu SMS masih menjadi andalan untuk mengeruk keuntungan.

Indosat mulai dari dua hari menjelang Lebaran hingga H+1 pada tahun lalu  dengan 32 juta pelanggan yang dimilikinya    214 juta SMS. Berikutnya  pada H-1 terdapat sekitar 314 juta SMS, saat Lebaran terkirim 312 juta SMS, dan pada H+1 terdapat 225,3 juta SMS.

Sementara XL yang pada Lebaran 2008 memiliki 22,9 juta pelanggan pada hari H-1 dan Lebaran berhasil mengirimkan total lebih dari 200 juta SMS, serta Bakrie Telecom mengirimkan  54 juta SMS.

Sedangkan Telkomsel mengklaim sebanyak 58 juta pelanggannya  mengirimkan 500 juta SMS  dan Telkom   melayani  mengirim 189 juta SMS saat hari Lebaran.

Jika dihitung dengan mengambil tarif rata-rata SMS dari biaya interkoneksi yang ditawarkan berbagai operator maka tercatat Indosat dari jasa SMS  berhasil meraih keuntungan sekitar 147 miliar rupiah, sementara XL mendapatkan pendapatan selama dua hari dari jasa SMS sebesar 27,6 miliar rupiah.

Berikutnya, hanya dalam waktu satu hari Bakrie Telecom berhasil meraup 7,452 miliar rupiah), Telkomsel (69 miliar rupiah), dan Telkom (26,08 miliar rupiah)   hanya dari jasa SMS.

Manfaatkan Momentum

VP Direct Sales XL Junaedy Hermawanto mengakui, operator memanfaatkan momentum Ramadan untuk berjualan dalam meningkatkan pendapatan.

”Biasanya di bulan Ramadan itu ada peningkatan penjualan kartu perdana dan voucer, masing-masing sebesar 14 hingga 15 persen,” katanya kepada Koran Jakarta, belum lama ini.

Presiden Direktur XL Hasnul Suhaimi menambahkan, selama bulan Ramadan memang ditawarkan kartu perdana seasonal yang kental dengan aroma Islam yaitu Ramadan Rame.

“Tetapi kami tidak lagi menggunakan strategi menggeber penjualan kartu perdana yang berujung mendapatkan pelanggan tidak produktif. Kami sekarang mencari pelanggan produktif, karena itu bonus tidak diperbanyak agar harga kartu perdana tidak dibanting oleh dealer,” katanya.

Hasnul menyakini, langkah tersebut akan mendapatkan hasil postif berupa pertumbuhan pendapatan dobel digit pada akhir tahun nanti mengingat jumlag Revenue Generator Subscriber (RGS) akan meningkat.

RGS adalah pelanggan yang dihitung benar-benar aktif menggunakan jasa satu operator. “Sekarang RGS XL mencapai 21 persen dari sekitar 25 juta pelanggan,” katanya.

Division Head Core Product and Branding Smart Telecom Ruby Hermanto mengatakan, bagi operator yang memiliki jumlah pelanggan kecil Ramadan bisa dijadikan ajang untuk berjualan secara agresif.

”Sekarang ada tren memberikan parsel berupa ponsel. Karena itu banyak pemain CDMA menjual ponsel bundling dengan harga murah agar dijadikan pilihan untuk dijadikan parsel,” katanya.

Ruby mengakui, jika dilihat dari jumlah pelanggan yang ada di oeprator kecil maka momentum Ramadan bisa mendongkrak pertumbuhan hingga puluhan persen. ”Maklum saja, pelanggan dari tidak ada jadi ada, tentu besar kesannya,” katanya.

Pada kesempatan lain,  Deputy VP Product Marketing Telkomsel Mark Chambers

mengatakan, momentum Ramadan lebih digunakan oleh perseroan untuk menjaga citra dari perusahaan. “Ramadan dan Lebaran itu lebih berbicara kualitas layanan. Telkomsel sudah  memiliki 72 juta pelanggan, bisa bayangkan bagaimana lonjakan trafiknya di hari lebaran. Karena itu kami fokus pada kualitas layanan,” katanya.

Sementara Chief Marketing Officer Indosat Guntur S Siboro mengaku tidak begitu optimistis dengan kontribusi Ramadan nantinya bagi pendapatan operator.

“Kuartal ketiga ini sangat tergantung dengan  kondisi makro ekonomi pada saat Ramadan. Kalau situasi ekonomi tidak baik maka extra income waktu Ramadhan (THR) akan lebih rendah akibat   banyak orang yang sedang tidak bekerja,” katanya.

Guntur mengungkapkan, pada Ramadan dua tahun lalu  pengeluaran masyarakat meningkat   40 hingga 50 persen untuk konsumsi telekomunikasi dibandingkan bulan biasa. Namun, pada tahun lalu  pengeluaran hanya naik  10 hingga 20 persen.

“Kalau melihat kondisi ekonomi saat ini banyak analis yang memperkirakan pengeluaran untuk Ramadan ini hanyalah single digit,” katanya.

Secara terpisah, Praktisi telematika Bayu Samudiyo mengakui, momentum Ramadan memang signifikan menaikkan penjualan. ‘dari tahun ke tahun memang begitu. Tetapi dari sisi pendapatan tidak akan setinggi tahun lalu karena sudah terlalu banyak promosi  yang mengikis pendapatan,” katanya.

Promo yang dimaksud adalah   SMS murah unlimited dengan satu harga sepuasnya, paket murah bicara on net, dan bundling SMS atau suara.

Bayu memperkirakan, operator yang akan berpesta selama bulan Ramadan tetaplah lima besar dengan jumlah pelanggan terbanyak.”Telkomsel tetap memimpin nantinya. Sedangkan operator kecil akan menikmati pendapatan jika berani menawarkan tarif promosi lintas operator,” katanya.

Menurut Bayu, strategi membanting harga untuk lintas operator tersebut ampuh mengakuisisi pelanggan baru karena masyarakat mulai jeli memilih operator  dengan tarif murah menjelang Lebaran. “Trennya kan memberikan ucapan selamat ke kerabat. Nah, kerabatnya itu pasti menggunakan incumben,” katanya.[dni]

Program Pemasaran Menyambut Ramadan

NO Operator Program
1

2

3

4

5

6

7

8

Telkomsel

Indosat

XL

TelkomFlexi

Bakrie Telecom

Axis

Mobile-8

Smart Telecom

Telkomsel Siaga

Bundling Ponsel Nexian Hikmah

iPhone 3G Ramadan

Mudah Mudik Indosat

Ramadan Rame

Festival Gadget Rame

Paket 500 SMS

Hape Flexi Muslim

Esia Hidayah

Axis Berkah Ramadan

Food for Work

Ramadan Mobile-8

Ramadan Smart

Diolah dari berbagai sumber

270809 Menggeber Jasa Data Melalui Bundling

Ramadan baru berlalu dua hari,  PT Excelcomindo Pratama Tbk (XL) telah mengumumkan kinerja jaringannya dalam menyambut datangnya bulan suci.

Simak data yang diberikan.  Terjadi kenaikan trafik  pada   hari pertama Ramadan (22 Agustus) dengan 690 juta panggilan, naik 24,3 persen ketimbang hari biasa.

Pada hari biasa trafik percakapan XL mencapai 555 juta panggilan dengan total 505 menit, adapun trafik SMS 150 juta SMS, sedangkan data mencapai 1,8 terabytes.

Kenaikan trafik dirasakan jaringan XL dimulai pada H-2 (20 Agustus), namun lonjakan trafik percakapan tertinggi terjadi pada hari H (22 Agt) yakni terdapat  690 juta panggilan atau  naik 24,3 persen ketimbang hari biasa, 200 juta SMS (naik 33,3 persen), dan kejutan pada jasa data yang meningkat 17 persen atau mencapai 2,1  terabytes.

Meningkatknya penggunaan jasa data ditenggarai karena masyarakat mulai keranjingan untuk melakukan chatting atau bersosialisasi melalui situs jejaring sosial.

Operator pun memfasilitasinya dengan menggandeng vendor ponsel. Paket bundling pun ditawarkan mulai dari ponsel kelas tinggi hingga yang low end.

Lihat saja tiga besar seperti Telkomsel, Indosat, dan XL. Tidak puas hanya menggandeng Research In Motion (Rim) dengan BlackBerry, vendor ponsel China pun diajak untuk membuat jasa data bersinar.

XL menggandeng delapan vendor ponsel. Tak cukup disitu, vendor modem dan netbook pun diajak serta demi meningkatkan penggunaan datanya. Sedangkan Telkomsel dan Indosat yang sebelumnya seperti enggan untuk menggandeng vendor ponsel China dalam memasarkan data akhirnya luluh juga.

Keduanya menggandeng nexian yang sukses dengan phoneberry alias ponsel yang sekilas mirip dengan BlackBerry tersebut. Berdasarkan catatan, Nexian telah berhasil menjual ponsel identik dengan BlackBerry tersebut bersama XL selama dua bulan pertama mencapai 70 ribu unit. Seiring dengan banyaknya operator yang digandeng, maka target 400 ribu unit hingga akhir tahun pun dicanangkan.

VP Direct Sales XL Junaedy Hermawanto mengatakan, meningkatnya penggunaan jasa data belakangan ini tak bisa dilepaskan dari adanya ponsel-ponsel murah yag memiliki kemampuan akses terhadap jasa tersebut.

“Selain sedang hype kepada aplikasi, ponselnya pun sekarang lebih mendukung. Apalagi adanya ponsel yang memiliki keyboard qwerty. Ini benar-benar disenangi pasar,” katanya.

Junaedy mengatakan, untuk operator sekelas XL bekerjasama dengan para vendor tidak mengeluarkan dana untuk mensubsidi harga ponsel. “Kami simbiosis mutualisme saja. Apalagi XL sudah memiliki basis pelanggan yang besar. Jadi, saling membutuhkan,” katanya.

Secara terpisah, Praktisi Telematika Bayu Samudiyo mengatakan, untuk kategori ponsel China yang berjaya saat ini adalah Nexian dengan produk NexianBerry.

“Namun, sekarang produk itu banyak mendapat tantangan dari produk China lainnya yang mengeluarkan produk serupa. Tren seperti ini akan berlanjut hingga akhir tahun nanti,” katanya.

Menurut Bayu, meskipun dari sisi tren penjualan ponsel dan trafik terjadi peningkatan di segmen data, namun dari sisi pendapatan tidak akan ada perubahan yang besar karena pola pemakaian yang abodemen. ‘Penagihannya bulanan, harian atau mingguan. Jadi, mau pakai banyak atau sedikit tetap saja bayar sama. Ini tentu tidak besar kontribusinya bagi pendapatan,” katanya.

Sedangkan praktisi telematika lainnya, Ventura Elisawati menilai, program-program yang ditawarkan oleh operator dengan kedok bundling ponsel data dianggap tidak ada yang istimewa.

“Sebenarnya sama saja dengan bulan-bulan biasa. Cuma sekarang bedanya dibikin dengan bungkus Islami,” katanya.

Menurut Ventura, ponsel bundling terlepas untuk data atau suara akan dilirik masyarakat jika dilepas dibawah harga satu juta rupiah. “Soalnya sekarang ada tren memberikan ponsel sebagai parsel Lebaran,” katanya.

Ventura mengingatkan, operator jangan terlalu terpesona dengan penjualan ponsel bundling karena di masyarakat ada kecenderungan untuk berganti-ganti nomor meskipun ponsel sudah dikunci.

”Bukan rahasia lagi jika tidak suka dengan layanan operator tinggal dibawa ke sentra ponsel, maka nomor pun bisa berganti. Kalau sudha begini kasihan operator yang melakukan subisidi harga ponsel. Bagi vendor tentunya happy saja karena barangnya laris,” katanya.[dni]

270809 Esia Bispak Dikecam

logo_esiaJAKARTA—Regulator dan praktisi telematika mengecam program pemasaran baru milik Bakrie Telecom, Esia Bispak, yang dinilai melanggar etika dan berkonotasi negatif.

“Sangat disayangkan sekali Bakrie Telecom menggunakan istilah “Bispak” untuk nama pemasarannya yang baru. Di masyarakat istilah tersebut identik dengan prostitusi jalanan, ini bisa menimbulkan kesam negatif. Apalagi sekarang bulan Ramadan,” kecam Anggota Komite Badan Regulasi Telkomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi kepada Koran Jakarta, Rabu (26/8).

Heru mendesak, Bakrie Telecom untuk mengganti slogan pemasaran terbarunya agar tidak menjadi referensi untuk operator lainnya membalas dengan slogan yang cenderung melanggar norma-norma di masyarakat.

Direktur Kebijakan dan Perlindungan Konsumen Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat Informasi Kamilov Sagala mendesak, Bakrie Telecom secepatnya menghentikan slogan “Bispak” agar tidak terjadi keresahan di masyarakat.

“Masyarakat mengetahui istilah itu untuk menunjukkan profesi tidak terhormat. Apa Bakrie Telecom mau produknya dianggap sama dengan profesi paling tua di jagad ini,” tegasnya.

Sementara Praktisi telematika Ventura Elisawati menilai, kebijakan yang diambil Bakrie Telecom menggunakan kata “Bispak” sebagai bentuk tidak peduli dengan lingkungan dan cenderung mengutamakan keuntungan.

“Di bulan Ramadan restoran saja kalau buka masih pakai gorden. Ini kok perusahaan sekelas Bakrie malah menggunakan idiom yang tidak mengenakkan,” katanya.

Menanggapi hal itu Wakil Direktur Bidang Pemasaran Bakrie Telecom Erik Meijer menjelaskan, kata “Bispak” dipakai untuk menunjukkan tarif Esia bisa digunakan untuk jasa operator seluler mana saja.

“Istilah itu paling pas menurut internal kami. Kata tersebut menjelaskan fungsional dari fitur yang ditawarkan. Jika ada yang berfikir kata itu identik dengan istilah tidak mengenakkan, itu tergantung masing-masing individu,” tukasnya.

Esia Bispak adalah program terbaru dari Bakrie Telecom untuk pelanggan Esia  dengan biaya  dua ribu rupiah dan registrasi SMS 50 rupiah guna   mencoba tarif seluler prabayar milik operator tiga besar, Telkomsel, Indosat, dan Excelcomindo Pratama (XL) dengan bonus diskon 10 persen, tanpa harus pakai kartu perdana GSM baru.

Bispak merupakan singkatan  “Bisa Pakai Tarif Mana Pun”. Tarif yang ditawarkan adalah milik BASMI atau Bebas, As, Simpati, Mentari, dan IM3. Sedangkan di masyarakat kata Bispak identik dengan prostitusi.[dni]

260809 Tiket KA untuk Mudik Masih Tersedia

JAKARTA—Direktur Jenderal Perkeretaapian Departemen Perhubungan Tundjung Inderawan menyatakan tiket perjalanan kereta api (KA) untuk mudik lebaran masih tersedia, khususnya tujuan Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

”Tidak benar tiket kereta sudah habis semua. Masih banyak, kok. Bahkan, tiket kelas ekonomi belum ada yang terjual satu lembar pun, ” tegasnya di Jakarta, Selasa (25/8).

Tundjung meminta kepada media massa baik cetak maupun elektronik untuk tidak memuat pemberitaan- pemberitaan yang tidak secara detail menyebutkan status ketersediaan tiket kereta api sesungguhnya.

“Harus disadari kereta api terdiri dari dua kelompok besar, yaitu kelas komersial dan ekonomi yang tidak bisa disatukan dalam menghitungnya,” jelasnya.

Dikataknnya, untuk kelas komersial yang terdiri dari kelas bisnis dan eksekutif, masyarakat bisa membeli tiket secara online dan menyesuaikan waktu perjalanan sesuai keinginan maksimal 30 hari sebelum pemberangkatan.

Kemudahan sistem transaksi inilah yang membuat tiket beberapa jadwal perjalanan telah habis terjual. Sementara untuk mendapatkan tiket kelas ekonomi, masyarakat wajib melakukan transaksi langsung di loket-loket pejualan di setiap stasiun pemberangkatan.

Tidak ada fasilitas pemesanan online yang disediakan untuk KA kelas ekonomi, melainkan tiket ekonomi hanya akan dijual pada hari kereta akan diberangkatkan.

”Jadi, jangan salah. Yang sudah banyak terjual itu tiket KA komersial, dan itu pun tidak semuanya ludes seperti diberitakan. Hanya untuk hari-hari tertentu dan untuk jadwa kereta tertentu saja,” jelasnya.

Dicontohkannya, untuk KA Argo Bromo Anggrek Pagi jurusan Surabaya misalnya, tiket yang habis terjual adalah tiket untuk jadwal perjalanan tanggal 15-20 Agustus. Sedangkan untuk tanggal-tanggal selain tanggal tersebut, masih banyak tersisa.

Demikian juga halnya KA Argo Bromo Anggrek Malam, tiket yang habis terjual antara tanggal 15-19 September. Sedangkan untuk tanggal selain itu masih banyak tersisa. KA-KA lain yang tiketnya masih banyak tersisa adalah KA Argo Lawu malam (Solo) untuk tanggal 15 dan 20 Sepetember, Argo Dwipangga untuk tanggal 15 September, Argo Sindoro (Semarang) untuk tanggal 16 dan 20 September, Argo Muria (Semarang) tersedia untuk tanggal 15-16 September.

”Tetapi, ada juga tiket kereta komersial yang belum terjual sampai H-1, seperti KA Cireks (Cirebon Ekspress),” paparnya.

Kepala PT Kereta Api Daerah Operasi (Daop) I Jakarta Mulyanta Sinulingga, menambahkan,
selain menyiapkan kereta penumpang, PT KA juga menyediakan satu rangkaian KA Komunitas (terdiri dari 5 gerbong) yang tiap gerbongnya berkapasitas hingga 70 orang penumpang.

” Ini adalah KA khusus tak berkursi (lesehan) yang disediakan bagi penumpang ekonomi untuk tujuan Pasar Senen-Pasar Turi Surabaya, dan akan diberangkatkan pada H-5 Lebaran (12/8),” katanya.

”KA Komunitas akan kita gandengkan dengan gerbong sepeda motor. Selain dengan KA Komunitas, kami juga akan menggandengkan satu gerbong sepeda motor di setiap rangkaian KA ekonomi,” jelasnya.[Dni]

260809 Menkominfo Tunjuk Dua PLT

d JAKARTA —Menkominfo Mohammad Nuh akhirnya menunjuk dua pejabat untuk menduduki posisi Pelaksana Tugas (PLT) Dirjen Postel dan Sarana Komunikasi dan Diseminasi Informasi (SKDI).

Kedua pejabat itu adalah Sekjen Depkominfo Basuki Yusuf Iskandar sebagai PLT Dirjen Postel dan Bambang Subiantoro sebagai PLT Dirjen SKDI.

Basuki sebelumnya menduduki posisi dirjen Postel setelah sebelumnya dirotasi pada Jumat (21/8) menjadi sekjen depkominfo. Sedangkan Bambang menjalankan tugas PLT dirjen SKDI merangkap sebagai Direktur Usaha Penyiaran di Ditjen SKDI.

“Bapak menteri telah mengambil keputusan lebih cepat untuk mengangkat dua PLT mengisi kekosongan dua jabatan tersebut. Ini karena disadari dua jabatan tersebut memiliki peranan penting di industri, sehingga kevakuman tidak boleh terjadi,” ungkap juru bicara depkominfo Gatot S Dewo Broto di Jakarta, Selasa (25/8).

Gatot menegaskan, kedua pejabat PLT telah diberi kewenangan penuh oleh Menkominfo melalui suatu Keputusan Menteri Kominfo dalam menjalankan tugas-tugas pokok dan fungsinya sebagaimana kelazimannya sebagai Dirjen Postel dan Dirjen SKDI dan kedua Pejabat Pelaksana Tugas tersebut berhak memutuskan kebijakan dan regulasi strategis yang harus ditangani. Keputusan penunjukan Pelaksana Tugas dan Pemberian Pelimpahan Penuh ini terhitung berlaku sejak ditetapkan, yaitu pada tanggal 21 Agustus 2009.

Selanjutnya dikatakan, pada saat yang bersamaan Depkominfo sedang memproses penunjukan pejabat struktural definitif untuk jabatan Dirjen Postel dan Dirjen SKDI yang meliputi tahap rektuitmen, penilaian di TPA (Tim Penilai Akhir), pengesahan oleh Presiden RI dan pelantikan, sehingga kedua Pelaksana Tugas Dirjen Postel dan Dirjen SKDI tersebut bekerja sampai dengan adanya pejabat struktural yang definitif untuk kedua jabatan tersebut.

Menanggapi penetapan dua pejabat PLT yang dilakukan oleh Menkominfo, Ketua Komite Nasional Telekomunikasi Indonesia (KNTI) Srijanto Tjokrosudarmo mengatakan, pejabat definitif kedua posisi tersebut akan menunggu hadirnya Menkominfo baru.

“Jelas sudah calon yang diusulkan oleh Pak Nuh ditolak oleh Presiden. Nah, sekarang untuk dua posisi strategis tersebut tentunya harus menunggu datangnya pejabat baru,” katanya.

Sebelumnya, Anggota Komisi I DPR Deddy Djamaluddin Malik mencium ada aroma ketidakberesan dalam pergantian dua pejabat eselon I di Depkominfo karena waktunya terlalu mepet dengan pergantian kabinet.

Menkominfo pun terkesan tergesa-gesa melakukan rotasi, bahkan pada Senin (24/8) sore berencana mengundurkan penetapan nama PLT menjadi seminggu atau dua minggu. Namun, entah kenapa pada malam harinya muncul dua nama pejabat PLT.[dni]