250809 Mengurai Benang Kusut Kepemilikan Satelit Indostar II

Belum lama ini Kantor Berita Reuters memberitakan  ProtoStar Ltd berencana untuk menjual semua asetnya (Satelit Protostar I dan II) karena terbelit masalah keuangan.  Perusahaan tersebut diperkirakan memiliki hutang total sekitar 495 juta dollar AS.

Diungkapkan, pengadilan Amerika Serikat memberikan batas waktu hingga 17 Sepetember 2009. bagi pihak yang tertarik memiliki aset perusahaan tersebut.

Presiden dan  Chief Executive Officer ProtoStar Ltd Philip Father menegaskan, meskipun perseroan sedang terbelit masalah keuangan, tetapi telah didapat kesepakatan dengan kreditur utama untuk tetap menjalankan kegiatan operasional dan melayani pelanggannya.

“Ini adalah masa-masa sulit bagi perusahaan. Tetapi kami yakin semua dapat diselesaikan secara profesional. Menjual aset adalah langkah terbaik untuk keluar dari masalah yang dihadapi saat ini,” ujar Philip dalam keterangan resmi di situs perusahaannya.

Lantas apa istimewanya dari perusahaan  yang dibentuk empat tahun lalu  itu? Protostar adalah  perusahaan yang berdomisili di Bermuda dan beroperasi di Amerika Serikat. Perusahaan ini menyediakan jasa satelit komunikasi geostationary berkekuatan tinggi yang digunakan untuk layanan  direct-to-home (DTH) televisi satelit dan akses internet broadband i  di wilayah Asia Pasifik.

Protostar mengoperasikan dua satelit yakni   satelit  Protostar I  (dimiliki oleh Protostar I Ltd) dan satelit  Protostar II (dimiliki oleh Protostar II Ltd). Satelit Protostar I diluncurkan pada 7 Juli 2008 dan menyediakan jangkauan Ku-band untuk layanan digital DTH, Televisi high-definition dan broadband internet di wilayah layanan  Asia Tenggara hingga Timur Tengah, serta transponder C-band  yang menyediakan backhaul selular, traditional last mile telecom dan layanan broadcasting dasar.

Sedangkan Satelit Protostar II diluncurkan pada 16 Mei 2009 dan baru beroperasi pada 17 Juni 2009 menyusul in-orbit testing. Nah, di satelit Protostar II inilah munculnya kepentingan Indonesia.

Jika merujuk pada keterangan resmi situs Protostar disebutkan satelit Protostar II  menyediakan pelayanan kepada PT Media Citra Indostar (MCI) dan PT MNC Skyvision, operator layanan televisi satelit DTH terbesar di Indonesia dengan merek dagang Indovision.

Satelit Protostar II atau di Indonesia dikenal dengan nama Indostar II menempati   slot orbit 107,7 derajat  BT dan bekerja di pita frekuensi 2,5 GHz selebar 150 MHz. Satelit yang menelan investasi sebesar 300 juta dollar AS tersebut membawa 32 transponder.

Dari 32 tranponder yang.dimiliki, 10 transponder aktif dan 3 transponder cadangan akan difungsikan sebagai penguat gelombang frekuensi S-Band untuk menyediakan jasa layanan penyiaran langsung ke rumah-rumah atau (Direct-To-Home/DTH)

MCI mengharapkan adanya satelit baru tersebut akan membuat  televisi berbayar Indovision  memiliki jumlah saluran (channel) sebanyak 120 channel dari sebelumnya   56 channel.  Meningkatnya jumlah channel juga diharapkan akan membuat angka pelanggan menjadi  satu juta   pada akhir tahun nanti.

Indostar-II juga menggunakan frekeunsi KU-Band yang  didesain untuk layanan  DTH dan telekomunikasi di India. Sedangkan transponder KU-Band lainnya digunakan untuk akses internet berkecepatan tinggi dan layanan telekomunikasi di Filipina, Taiwan maupun Indonesia.

Benang Kusut

Terjadinya aksi penjualan oleh Protostar  sontak memunculkan sejumlah pertanyaan. Pertanyaan utama tentunya tentang nasib dari slot orbit yang menjadi hak milik dari pemerintah Indonesia dan masalah kepemilikan dari satelit itu sendiri.

Sekjen Indonesia Wireless Broadband (Id-wibb) Bambang Sumaryo Hadi mendesak MCI  mengklarifikasi status investasinya di satelit Protostar II. “Jika benar berinvestasi sepertiga di aset tersebut tentunya MCI tahu akan ada penjualan aset. Nah, jika dijual seperti itu bagaimana nasib slot orbit yang notabene hak pemerintah Indonesia,” tegasnya kepada Koran Jakarta, Senin (24/8).

Direktur Kelembagaan Internasional Ditjen Postel Ikhsan Baidirus mengatakan, sejak awal surat yang dikeluarkan oleh pemerintah untuk mengelola slot orbit 107,7 derajat BT adalah kepada MCI.

“Perusahaan tersebut mengatakan akan membangun satelit di Amerika Serikat. Masalahnya pengadaan satelit itu kan bervariasi ada yang bayar kontan atau leasing. Ini yang perlu diklarifikasi lebih jauh ke MCI,” katanya.

Ikhsan menyakini, slot orbit yang menjadi hak milik dari pemerintah Indonesia tetap aman karena telah terdaftar di International Telecommunication Union (ITU). “Jika ditanya satelitmu mana, oleh ITU,  maka kita akan merujuk kepada satelit milik MCI itu. Masalah ada penjualan oleh mitra MCI, itu hal lain. Kita perlu mendalami kerjasama antara MCI dengan mitranya,” katanya.

Untuk diketahui, di mata pemerintah Indonesia MCI adalah pengelola  Indostar II, namun  wewenang dalam pelaksanaan untuk penyiaran mutlak dikendalikan oleh MNC Sky Vision. Kedua perusahaan ini masih dalam genggaman taipan Hary Tanoesudibjo.

Sedangkan Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi lebih berkonsentrasi terhadap nasib dari frekuensi yang dimiliki oleh MCI. “Perusahaan itu menempati spektrum premium untuk wimax mobile. Kami akan memantau penjualan tersebut, jangan sampai, sumber daya alam menjadi mubazir,” tegasnya.

Secara terpisah, Sekretaris Perusahaan MCI Arya Mahendra menegaskan, layanan yang diberikan oleh perusahaannya kepada masyarakat Indonesia tetaplah aman. “Tidak ada hubungannya antara penjualan aset tersebut dengan layanan Indovision. Bahkan, Indovision tetap berekspansi untuk menunjukkan bukti ke masyarakat semua aman-aman saja,” tegasnya kepada Koran Jakarta akhir pekan lalu.

Ekspansi yang dilakukan oleh MCI adalah membeli hak siar Liga Inggris belum lama ini dan berencana akan menambah 30 channel pada November nanti. “Jika kami tidak yakin aset yang dimiliki aman, tentunya ekspansi tidak dilakukan. Anda tahu kan berapa harga Liga Inggris. Puluhan miliar rupiah,” tegasnya.

Arya pun membantah selentingan bahwa perusahaannya menyewa satelit ke Protostar. Hal itu diperlihatkan dengan  nama satelit adalah Protostar II atau Indostar II. “Pakai logika sajalah, jika tidak ada investasi mana mungkin nama satelit bisa disebut sesuai merek yang kita mau,” katanya.

Sayangnya, keterbukaan yang diperlihatkan Arya  ini baru terjadi pada akhir pekan lalu. Ketika Koran Jakarta ingin melakukan konfirmasi pada  Rabu (19/8), Arya menunjukkan sikap tertutup dan cenderung meragukan informasi yang disampaikan.

Pada kesempatan lain, Ketua Asosiasi Satelit Indonesia (ASSI) Tonda Priyanto menduga, sikap optimistis yang ditunjukkan oleh MCI terhadap kepemilikan asetnya karena kerjasama yang dilakukan dengan Protostar berbentuk Condosat.

Condosat adalah kondisi dimana  satu satelit menggunakan beberapa filing. “Kerjasama mengisi filling, tidak membuat kepemilikan slot menjadi berganti. Slot tetap dimiliki negara bersangkutan. Tetapi itu tentunya akan lebih jelas jika pola kerjasamanya dibuka,” katanya.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s