210809 Telkom Akuisisi Perusahaan Penyedia Menara

Jakarta–PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) melalui anak usahanya PT Dayamitra Telekomunikasi (Mitratel) mengakuisisi salah satu perusahaan penyedia menara terbesar di Indonesia, PT Solusindo Kreasi Pratama (Indonesian Tower), tak lama lagi.

“Telah dicapai  conditional agreement antara anak usaha Telkom dengan pemegang saham  Indonesian Tower untuk mengakuisisi 80 persen kepemilikan saham perusahaan tersebut,” ungkap Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah di Jakarta, Kamis (20/8).

Rinaldi mengatakan,  proses transaksi tersebut masih tergantung kepada penyelesaian beberapa kondisi tertentu yang telah disepakati dan disesuaikan.

VP Public & Marketing Communication Telkom Eddy Kurnia menambahkan, nilai penjualan  belum bisa disampaikan karena masih dalam bentuk perjanjian bersyarat.

” Artinya beberapa bulan ke depan ada persyaratan yang harus dipenuhi dulu oleh  kedua belah pihak. Jika transaksinya selesai tahun ini, pembelian rencananya akan memakai belanja modal tahun ini,” ungkapnya. 

Sementara itu, Direktur Utama Mitratel Bambang Subagyo mengungkapkan,  dalam beberapa bulan ke depan, pihaknya bersama Indonesian Tower akan berupaya untuk memenuhi kondisi dan persayaratan yang ditetapkan dalam conditional agreement untuk dapat menyelesaikan transaksi itu.

Dikatakannya, dalam  akuisisi tersebut, Mitratel menunjuk HSBC sebagai financial advisor dan Melli Darsa & Co sebagai legal advisor.

Perkuat Posisi
Selanjutnya Rinaldi mengatakan, aksi korporasi tersebut akan memperkuat posisi Telkom Group mengingat menara adalah infrastruktur strategis bagi perusahaan Teknologi, Informasi, dan Komunikasi (TIK) seperti Telkom.  

Eddy menambahkan, memiliki usaha menara akan menjanjikan dari sisi pendapatan karena harga yang berlaku di pasar lumayan kompetitif sehingga keuntungannya cukup baik. 

“Harus diingat,   Telkom grup adalah  pemain  terbesar di Indonesia sehingga dari grup  saja sudah banyak sekali menara yang diefisienkan sementara sewanya kembali ke anak perusahaan lagi. Belum lagi dari operator lain yang sudah ada dalam pengelolaan Indonesian Tower,” katanya.

Berdasarkan penelusuran, di tahun 2008, Indonesian Tower memiliki 1816 menara  dengan jumlah kolokasi mencapai 2429 unit.
Di industri, nilai sewa satu menara jika diisi oleh empat operator mencapai 2,1 miliar rupiah per bulan. 

Jika dihitung dari jumlah menara milik Indonesian Tower tanpa kolokasi (1816 menara) maka pendapatan perusahaan itu sebulan mencapai sekitar 3,8 triliun rupiah.

Indonesian Tower sendiri memiliki unit bisnis penyedia perangkat Wimax. Sayangnya, dalam akuisisi yang dilakukan Mitratel, unit bisnis ini tidak diakuisisi. Padahal, Indonesian Tower salah satu perusahaan lokal yang berhak menyediakan perangkat Wimax seiring selesainya digelar tender Broadband Wireless Access (BWA) Juli lalu.[Dni]