200809 Bara di Atas Menara II

menara-lagi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Badung kembali menjadi bahan pembicaraan di industri telekomunikasi dua minggu belakangan ini.

 

Masalahnya apalagi kalau bukan tindakan dari Pemkab Badung yang merubuhkan 17 menara milik operator telekomunikasi sepanjang dua minggu ini yang berakibat 90 BTS milik 7 operator tidak berfungsi.

 

Ketujuh operator itu berikut jumlah BTS yang dirubuhkan adalah Telkomsel (22 BTS),  Indosat (6 BTS), XL (8 BTS), Mobile-8 (33 BTS), Bakrie Telecom (6 BTS), Hutchinson CP Telecom (6 BTS), dan TelkomFlexi (6 BTS).
Aksi tersebut lanjutan dari perubuhan menara pada awal tahun lalu dimana 6 menara dirubuhkan. Total jumlah menara di Badung sebanyak 120 unit.

 

Aksi perubuhan sempat berhenti menjelang Pemilu legislatif dan presiden karena adanya surat edaran dari pemerintah pusat yang meminta akses telekomunikasi harus terjamin selama pesta demokrasi berlangsung.  Namun, pada Senin (10/8) dan Selasa (18/8) aksi perubuhan kembali dilanjutkan.

 

Banyak pihak menilai menara milik XL menjadi incaran dari Pemkab karena operator tersebut memiliki unit usaha penyediaan menara sehingga menjadi kompetitor dari rekanan Pemda yakni PT Bali Towerindo Sentra (BTS).

 

Selain itu, XL adalah satu-satunya operator yang berani mengajukan tuntutan pidana terhadap aksi Pemkab  Badung yang merusak infrastruktur telekomunikasi.

 

Proses hukum telah dimajukan ke pihak berwajib dimana Bupati Badung     Anak Agung Gde Agung ikut menjadi tersangka. Regulasi yang digunakan adalah Pasal 38  UU No 36/99 tentang Telekomunikasi    yang memberikan ancaman hukuman 6 tahun kurungan atau denda 600 juta rupiah bagi pihak yang sengaja merusak infrastruktur telekomunikasi.

 

Kabag Humas Pemkab Badung Gede Wijaya mengatakan penertiban terhadap bangunan yang tidak memiliki izin mendirikan bangunan (IMB) bukan hanya terhadap BTS, melainkan juga bangunan lainnya. Hal ini memiliki dasar hukum yakni Perda Provinsi Bali No. 4/1974 tentang Bangun Bangunan.

 

Dampak

Ketua Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI) Merza Fachys mengungkapkan, akibat dari perubuhan yang dilakukan oleh Pemkab Badung   terhadap infrastruktur yang dimiliki anggotanya terjadi kerugian secara finansial, kualitas layanan, dan citra Indonesia di mata dunia internasional.
“Kabupaten Badung adalah etalase Bali karena disitu ada tempat wisata Kuta dan bandara udara Ngurah Rai. Bagaimana pandangan dunia jika disana kualitas layanan telekomunikasi jelek,” katanya kepada Koran Jakarta, Rabu (19/8).
Menurut Merza, akibat perubuhan menara, tingkat kualitas layanan menurun hingga 40 persen. Sedangkan  kerugian operator dari bangunan fisik diperkirakan sekitar  48 miliar rupiah. “Bahkan potensi devisa dari roaming internasional pun menghilang hingga ratusan miliar rupiah,” katanya.
Sementara  para pebisnis yang menjalankan sewa menara juga ikut terkena imbasnya karena asetnya ikut dirubuhkan. Biasanya dari satu menara jika diasumsikan terdapat empat penyewa maka didapat pendapatan satu bulan 2,1 miliar rupiah. Sehingga total kehilangan pendapatan untuk 17 menara adalah 35,7 miliar rupiah.

 

 

 

 

 

 

Melanggar Aturan

Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi menilai tindakan dari Pemkab Badung tersebut sebagai bentuk arogansi pemerintah daerah mengingat masalah menara bersama telah ada acuan yang jelas yakni Surat Keputusan Bersama (SKB) Menkominfo, Menteri Pekerjaan Umum, Menteri Dalam Negeri, dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).

 

“SKB itu jelas mengatur tentang menara yang telah berdiri lama atau baru, serta pengaturan pendirian menara. Pemkab Badung sepertinya mau menjalankan regulasi sendiri tanpa mengindahkan aturan dari pusat,” katanya.

 

Direktur Urusan Pemerintahan Daerah Ditjen Otda Depdagri Made Suwandi mengharapkan, pemerintah daerah lainnya mencoba untuk realistis dalam menata menara telekomunikasi seiring dikeluarkannya SKB.

Made menegaskan, dalam masalah menara pemda  hanya berperan sebagai regulator murni dan tidak diperbolehkan memungut sesuatu selain retribusi dan menetapkan tarif sewa, serta standar pelayanan infrastruktur.

“Seiring sudah adanya SKB, regulasi terkait menara bersama harus mengacu pada kebijakan tersebut. Jika ada pemerintah daerah yang tidak mengindahkan, regulasi yang mereka buat bisa dibatalkan oleh pemerintah pusat,” katanya.

Made mengatakan, tidak ada gunanya pemerintah daerah bersikeras untuk merubuhkan menara jika ternyata masih bisa dioptimalkan.
  

Sementara Penasihat Hukum ATSI Hinca Panjaitan mengatakan, perilaku yang diperlihatkan   oleh Pemkab Badung mencerminkan kurangnya perlindungan terhadap kepastian berusaha dari pemerintah daerah.

 

 

Padahal, sektor telekomunikasi terbukti memberikan kontribusi yang besar bagi pertumbuhan ekonomi nasional di kuartal kedua lalu. 

Berdasarkan catatan BPS,  penyumbang pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2009 dibanding kuartal II 2008 sebesar 4,0 persen terdiri dari berbagai sektor. Sektor terbesar dari sektor industri pengangkutan dan komunikasi yang mencapai 1,4 persen, khususnya

sektor komunikasi dan lebih khusus lagi sektor telepon selular.
“Pemerintah pusat harus membereskan kekacauan ini. soalnya ada indikasi langkah dari pemkab Badung akan diikuti oleh Pemda lainnya. Paling dekat adalah di Sumatera Utara dimana aturannya tinggal menunggu tandatangan DPRD,” katanya.

 

Pada kesempatan lain, Direktur Utama Telkomsel Sarwoto Atmosutarno mengatakan, akan memperjuangkan untuk memberikan layanan secara baik ke pelanggan meskipun terjadi perubuhan BTS.

 

“Kami akan berusaha berdialog dengan Pemda. Tetapi jika tidak ada titik temu, sengketa regulasi ini bisa dibawa ke ranah hukum,” katanya.

 

Sedangkan Direktur Jaringan XL Dian Siswarini menegaskan, solusi hukum adalah paling tepat menyelesaikan kisruh menara bersama.

 

“Soalnya menara yang menanti untuk dirubuhkan itu minggu-minggu ke depan masih puluhan. Lebih baik kita menanti pendapat hukum terkait kasus ini,” katanya.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s