180809 Tak Puas Hanya Sebagai Alat Transportasi

Kisah sukses dari layanan m-commerce beserta evolusinya sudah banyak terjadi di luar negeri.

Negara dan operator  yang sukses mengembangkan layanan tersebut adalah  Kenya (M-PESA),  Afrika Selatan (WiZZIT), dan   Philippina (Smart dan  Globe).

Di Kenya,   M-PESA meluncurkan layanan pada Maret dua tahun lalu dan telah digunakan oleh 50 persen populasinya sebagai alat dari pengiriman uang.

Di Philipina Average Revenue Per User (ARPU) sebanyak    74 persen berasal dari pengguna mobile money ketimbang mereka yang murni menggunakan suara dan SMS.  Tercatat, mereka yang  unbanked menghabiskan pulsa sebulan  9.40 dollar AS per bulan, sedangkan non pengguna  5.40 dollar AS per bulan.

“Di Indonesia m-commerce yang benar-benar jalan adalah mobile banking. Sedangkan layanan lainnya belum diminati,” ujar Wakil Direktur Utama Bidang Pemasaran Bakrie Telecom Erik Meijer kepada Koran Jakart, akhir pekan lalu.

Berdasarkan catatan, pelanggan mobile banking dari Indosat sebanyak tiga juta nomor dengan trafik per bulan sebanyak 5 juta transaksi. Sedangkan XL sebanyak 500 ribu pelanggan.

Dalam menajlankan m-banking, operator bertindak sebagai enabler sehingga pendapatan hanya berasal dari   recover cost transmisi SMS, akses ke sistem  perbankan, dan aktifitas penagihan.

Layanan mobile money sendiri tergolong masih kecil peminatnya di Indonesia. Telkomsel memiliki 120 ribu pengguna. Sementara XL untuk jasa remitansi hanya digunakan lima ribu pelanggan.

Menurut Erik, kurang berhasilnya m-commerce di Indonesia karena  ekosistemnya   belum benar atau  belum ditemukan killer application utk m-commerce.

Ketua Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI) Merza Fachys mengatakan, jika pemerintah menginginkan m-commerce berkembang di Indonesia hal yang harus dilakukan adalah mengakomodasi keinginan dari operator untuk bertindak layaknya lembaga keuangan.

“Regulasi keuangan di Indonesia tidak membuka kesempatan operator menjadi lembaga keuangan. Kita dipaksa untuk bekerjasama dengan lembaga keuangan. Berbeda dengan di Philipina,” ujarnya.

Kondisi tersebut, menurut Merza, membuat operator terbatas ruang geraknya, sehingga akhirnya lebih memilih menjadi alat transportasi trafik saja seperti di  m-banking.

“Padahal ada potensi di m-money. Masalahnya, operator juga tidak rela pelanggannya hanya menjadi pasar dari industri perbankan. karena itu solusinya berikanlah operator izin sebagai lembaga keuangan,” jelasnya.

Untuk diketahui, di dunia terdapat tiga model bisnis mengembangkan m-money yakni operator yang memimpin layanan didukung oleh industri perbankan. Kedua, industri perbankan yang memimpin dengan dukungan operator. Ketiga, ada pihak independen yang menjadi perantara operator dengan perbankan.

Senada dengan Merza,  Erik menyarankan, langkah memberikan izin sebagai lembaga keuangan layak diberikan pada operator agar  tercipta ekosistem yang ideal.

“Soalnya industri perbankan belum tentu bisa dan mau mendukung mengembangkan jasa m-money,” tegasnya.

Ketua Bidang Luar Negeri Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) Koesmarihati Koesnowarso mengakui, tren dari m-commerce di dunia adalah mengembakan m-money. “Jasa ini bisa membantu orang-orang yang tidak memiliki akses ke bank,” katanya.

Menurut Koes, m-money bisa menjadi peluang bagi operator atau perbankan.  Bagi operator, mobile money bisa menjadi sumber pendapatan baru.

Diprediksi jika operator mengenakan biaya   25  sen   per transakasi dan pelanggan menggunakannya seminggu sekali maka ada ekstra pendapatan bagi operator sebesar satu dollar AS per bulan.

Sedangkan bagi perbankan bisa menghemat biaya operasional membangun kantor cabang baru dan menajdi lebih fokus melakukan penetrasi pasar.

Sementara Anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi mengatakan, jika operator mendesak mendapatkan izin menjadi lembaga keuangan dipastikan akan terbentur kepada regulasi yang ada.

“Undang-undang yang mengatur secara jelas tidak memungkinkan operator menjadi lembaga keuangan. Sebaiknya bekerjasama dengan industri perbakan karena masing-masing memiliki keunggulan,” katanya.  [dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s