180809 m-Commerce:Peluang yang Belum Dioptimalkan

Belum lama ini GSMA, CGAP, dan McKinsey & Co mengeluarkan studi tentang potensi dari layanan mobile money untuk tiga tahun kedepan.

Tiga lembaga tersebut memperkirakan pada 2012 jumlah pelanggan seluler yang tidak memiliki akses ke perbankan akan berjumlah 1,7 miliar orang. Angka tersebut meningkat dari posisi saat ini yang berjumlah satu miliar orang.

Hasil riset memperlihatkan sebanyak 290 juta orang yang sebelumnya tidak tersentuh oleh layanan perbakan bisa menjadi pasar yang potensial bagi jasa telekomunikasi bergerak.

Hal itu membuat mobile money berpotensi memberikan pendapatan langsung bagi operator sebesar lima miliar dollar AS dan 2.5 miliar dollar AS dalam bentuk pendapatan tidak langsung per tahunnya.

Sedangkan lembaga riset lainnya, Informa, memprediksi pada 2013 lebih dari 424 juta pengguna seluler akan melakukan transaksi pengiriman uang domestik melalui ponsel dan 73 juta pelanggan melakukannya untuk transaksi internasional. Sebanyak 75 persen transaksi internasional akan dilakukan oleh pelanggan dari wilayah Eropa Barat, Amerika Utara, dan Timur Tengah.

Menurut GSM Association, mobile money adalah layanan yang membuat pelanggan seluler bisa melakukan transaksi keuangan melalui perangkat yang dimiliki. Mobile money memiliki tiga tipe layanan yakni mobile money transfer, mobile banking, dan mobile payment.

Dalam industri telekomunikasi bergerak, mobile money disebut juga bagian dari evolusi mobile commerce (m-commerce). M-commerce adalah semua aktifitas dan transaksi komersial yang digunakan melalui jaringan komunikasi nirkabel menggunakan perangkat mobile.

M-commerce ini secara umum meliputi layanan mobile content seperti ringtones atau mobile games atau transaksi keuangan seperti mobile banking atau belanja.

Peneliti junior dari International Telecommunication Union (ITU) Juhee Kang mengatakan, berkembangnya m-commerce tak bisa dilepaskan dari inovasi teknologi telekomunikasi bergerak di bidang data dan perangkat.

“Tak bisa dipungkiri akses data telah memungkinkan transaksi keuangan bisa dilakukan melalui ponsel. Dan teknologi ponsel yang semakin friendly membuat pelanggan semakin mudah melakukan transaksi,” ujarnya kepada Koran Jakarta, akhir pekan lalu.

Kang menyakini, m-commerce adalah salah satu killer application yang dikembangkan oleh operator ke depannya agar bisa menjaga pendapatan dari perseroan tetap positif seiring makin turunnya kinerja jasa tradisional (Suara dan SMS) bagi keuntungan.

Kondisi Indonesia

Lantas bagaimana dengan kondisi di Indonesia untuk m-commerce? Data dari Bank Indonesia mencatat jumlah e-money atau m-money digunakan oleh 1,4 juta pelanggan hingga Maret lalu.

Sedangkan jumlah transaksi hingga April lalu mencapai 1,4 juta transaksi dengan nilai per transaksi rata-rata 30 ribuan rupiah.

Ketua umum Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) Setyanto P. Santosa pasar m-commerce di Indonesia lumayan besar dibandingkan dengan negara lainnya di Asean.

Setyanto mengutip data per 31 Desember 2008 yang mencatat potensi m-commerce dari 170,21 juta pelanggan telekomunikasi bergerak dan 30 juta pengguna internet. “Sekiatar 61 di antara kedua pengguna jasa itu adalah pasar dari m-commerce. Sayangnya untuk mengembangkan jasa ini di Indonesia masih banyak kendala,” katanya.

Kendala yang besar adalah pengembangan infrastruktur telekomunikasi, teknologi, dan regulasi secara terpadu. “Lambat serta sulitnya akses karena transmisi yang buruk dan masih relatif mahalnya biaya menjadi hal-hal yang membuat konsumen stres dalam mengaplikasikan m-commerce,” ujarnya.

Ketua Bidang Luar Negeri Mastel Koesmarihati Koesnowarso menambahkan, masalah lain dari pengembangan m-commerce dengan evolusi layanannya adalah interoperability antara operator dan lembaga perbankan. “Di Malaysia, mereka sudah punya national payment platform yang dibuat antar bank. Sedangkan di Indonesia operator ada yang memilih ikut menjadi penerbit atau hanya memilih menjadi alat transportasi trafik saja,” katanya.

Kepercayaan

Dirjen Postel Depkominfo Basuki Yusuf Iskandar mengatakan diperlukan kepercayaan dari masyarakat untuk mengembangkan penggunaan m- commerce. Apalagi layanan ini masih awal di Indonesia.

“Kami sudah mengeluarkan UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) untuk memberikan perlindungan bagi pengguna fasilitas ini, tetapi tingkat kepercayaan masyarakat masih harus ditingkatkan,” ujarnya.

Peran pelaku industri juga dinilai sangat penting untuk memberikan jaminan keamanan kepada konsumen, selain memberikan layanan terbaik dengan biaya yang relatif tidak mahal.

Perlu ada keseimbangan antara pemerintah dan pelaku usaha untuk mengembangkan potensi pasar tidak hanya di kota besar, namun juga menumbuhkan kesadaran masyarakat di kota kecil.

Basuki menambahkan, karakteristik konsumen Indonesia antara kota besar (daerah urban) dan daerah rural (pinggiran atau kota kecil) sangat jauh berbeda.

Dia mencontohkan penggunaan kartu kredit yang sudah terbiasa bagi komunitas di kota besar, tetapi di daerah masyarakat lebih memilih transaksi tunai.

Anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi menambahkan, masyarakat juga perlu mengubah budaya berbelanja dari biasanya harus melihat barang dalam wujud aslinya ke hanya foto atau angka saja.

Selain itu, Heru meminta operator untuk menawarkan tarif data yang lebih terjangkau dan pembangunan infrastruktur yang massif agar m-commerce berkembang. .

“Tarif data di Indonesia masih belum terjangkau. Kami mendorong agar infrastruktur broadband tidak dibangun di kota-kota besar. Karena itu diharapkan semester pertama tahun depan sudah ada internet di seluruh kecamatan. Sedangkan tarif layanan m-commerce sendiri belum diatur karena kita memang ingin layanan ini berkembang cepat,” katanya.

Pada kesempatan lain, Chief Marketing Officer Indosat Guntur S Siboro mengungkapkan, posisi operator di m-commerce lebeih sebagai enabler ketimbang pemain utama.

“Operator lebih fokus mengurusi trafik dari transaksi. Hal ini karena bisnis inti dari industri telekomunikasi sendiri sedang mengalami perang harga yang membuat profitabilitas semakin tipis. Jadi, secara industri pemain telekomunikasi lebih berkonsentrasi mengembangkan bisnis inti sebagai penyedia jasa dan jaringan telekomunikasi,” tegasnya.

Sedangkan Ketua Komite Tetap Informatika Kadin Iqbal Farabi meminta, m-commerce lebih dikembangkan karena akan mampu mendukung pengembangan industri konten di Indonesia. “Transaksi pembelian konten akan lebih mudah jika m-commerce berkembang,” katanya. [dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s