180809 Konsorsium Slot 150,5 Derajat BT Segera Tandatangani MOU

JAKARTA—inisiator pengelola slot orbit satelit 150.5 ° Bujur Timur (BT), Telkom dan Indosat, berjanji segera melakukan penandatanganan kesepakatan kerjasama pada triwulan ketiga tahun ini.

“Sudah terjadi pembicaraan yang intensif untuk menggarap slot orbit tersebut. Kuartal ketiga tahun ini akan masuk pada tahap memorandum of understanding (MoU),” ungkap Group Head Satellite and Submarine Cable Indosat, Prastowo M Wibowo, di Jakarta belum lama ini.

Menurut dia, kedua inisiator masih membuka diri kepada pihak lain untuk ikut serta mengelola slot orbit tersebut. “Jika kami berdua saja, tentunya akan 50:50. Namun, jika ada peminat lainnya, porsi Indosat akan berkurang, sedangkan Telkom tetap 50 persen,” ujarnnya.

Dijelaskannya, Indosat akan memanfaatkan   slot orbit satelit tersebut  sebagai seluler backhaul dan komunikasi data, khususnya di remote area seperti untuk kebutuhan perusahaan minyak, gas, dan pertambangan.

Secara terpisah, juru bicara Telkom Eddy Kurnia mengaku telah terjadi pembicaraan dengan Indosat dalam mengelola slot 150,5° BT. “Telkom tetap akan menggunakan setengah kapasitas yang tersedia,” katanya.
Untuk diketahui, slot orbit satelit 150,5º  dititipkan   oleh pemerintah kepada Telkom dan Indosat sejak dua tahun lalu. Slot ini sempat hilang dari filling  International Telecommunication Union (ITU) karena tidak ada aktifitas dari Indonesia mengelola slot tersebut.

Indosat sendiri pada akhir Agustus ini  akan meluncurkan  Satelit Palapa D yang   akan menjadi tulang punggung jaringannya.  Layanan dari satelit yang menghabiskan investasi 230 juta dollar AS  antara lain adalah Transponder Lease untuk layanan broadcasting dan cellular backhaul sebagai basic service, VSAT service, DigiBouquet dan Telecast Service sebagai nilai tambah yang semuanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan korporasi dalam komunikasi data dan broadcasting.[dni]

180809 Operator Seluler Kembangkan Jaringan

Jakarta—Dua operator seluler berbeda teknologi (Smart Telecom dan Telkomsel) belum lama ini mengembangkan jaringannya di dua area yang berbeda.

Smart Telecom yang mengusung teknologi Code Division Multiple Access (CDMA) menghadirkan teknologinya di Mataram, sementara Telkomsel yang mengandalkan teknologi GSM hadir di Desa Mesigit, Kecamatan Lais, Kabupaten Bengkulu Utara.

”Smart hingga akir tahun ini telah ahdir di  di Pulau Jawa, Bali ,Medan, Palembang,  Bandar Lampung, dan Aceh. Minggu lalu kami mengahdirkan layanan di   Mataram,” ungkap Div. Head Core Product and Branding Smart Telecom Ruby Hermanto di Jakarta, akhir pekan lalu.

Dijelaskannya, Smart hadir di Mataram dengan layanan pascabayar, prabayar, dan akses internet. ”Kehebatan yang kami hadirkan mulai dari kualitas suara, fitur layanan, sampai dengan bicara gratis setahun penuh telah kami siapkan untuk masyarakat Mataram,” katanya.

Sementara GM Sales & Customer Service Telkomsel Regional Sumbagsel I Ketut Susila Dharma mengatakan, menggelar jaringan  di Desa Mesigit sebagai bagian dari tender Universal Service Obligation (USO) yang dimenangkan oleh perseroan.

Dijelaskannya, di Desa Mesigit Telkomsel akan menghadirkan layanan Pusat Layanan Telekomunikasi dan Informasi Pedesaan (Pusyantip), Portal Lumbung Desa, serta Desa Pintar yang dilengkapi komputer dan layanan internet.

“Kemenangan di program USO yang diamanahkan pemerintah untuk menggelar jaringan di 24.056 desa membuat  Telkomsel akan menjangkau hampir 100 persen wilayah populasi Indonesia,” katanya.[dni]

180809 Tak Puas Hanya Sebagai Alat Transportasi

Kisah sukses dari layanan m-commerce beserta evolusinya sudah banyak terjadi di luar negeri.

Negara dan operator  yang sukses mengembangkan layanan tersebut adalah  Kenya (M-PESA),  Afrika Selatan (WiZZIT), dan   Philippina (Smart dan  Globe).

Di Kenya,   M-PESA meluncurkan layanan pada Maret dua tahun lalu dan telah digunakan oleh 50 persen populasinya sebagai alat dari pengiriman uang.

Di Philipina Average Revenue Per User (ARPU) sebanyak    74 persen berasal dari pengguna mobile money ketimbang mereka yang murni menggunakan suara dan SMS.  Tercatat, mereka yang  unbanked menghabiskan pulsa sebulan  9.40 dollar AS per bulan, sedangkan non pengguna  5.40 dollar AS per bulan.

“Di Indonesia m-commerce yang benar-benar jalan adalah mobile banking. Sedangkan layanan lainnya belum diminati,” ujar Wakil Direktur Utama Bidang Pemasaran Bakrie Telecom Erik Meijer kepada Koran Jakart, akhir pekan lalu.

Berdasarkan catatan, pelanggan mobile banking dari Indosat sebanyak tiga juta nomor dengan trafik per bulan sebanyak 5 juta transaksi. Sedangkan XL sebanyak 500 ribu pelanggan.

Dalam menajlankan m-banking, operator bertindak sebagai enabler sehingga pendapatan hanya berasal dari   recover cost transmisi SMS, akses ke sistem  perbankan, dan aktifitas penagihan.

Layanan mobile money sendiri tergolong masih kecil peminatnya di Indonesia. Telkomsel memiliki 120 ribu pengguna. Sementara XL untuk jasa remitansi hanya digunakan lima ribu pelanggan.

Menurut Erik, kurang berhasilnya m-commerce di Indonesia karena  ekosistemnya   belum benar atau  belum ditemukan killer application utk m-commerce.

Ketua Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI) Merza Fachys mengatakan, jika pemerintah menginginkan m-commerce berkembang di Indonesia hal yang harus dilakukan adalah mengakomodasi keinginan dari operator untuk bertindak layaknya lembaga keuangan.

“Regulasi keuangan di Indonesia tidak membuka kesempatan operator menjadi lembaga keuangan. Kita dipaksa untuk bekerjasama dengan lembaga keuangan. Berbeda dengan di Philipina,” ujarnya.

Kondisi tersebut, menurut Merza, membuat operator terbatas ruang geraknya, sehingga akhirnya lebih memilih menjadi alat transportasi trafik saja seperti di  m-banking.

“Padahal ada potensi di m-money. Masalahnya, operator juga tidak rela pelanggannya hanya menjadi pasar dari industri perbankan. karena itu solusinya berikanlah operator izin sebagai lembaga keuangan,” jelasnya.

Untuk diketahui, di dunia terdapat tiga model bisnis mengembangkan m-money yakni operator yang memimpin layanan didukung oleh industri perbankan. Kedua, industri perbankan yang memimpin dengan dukungan operator. Ketiga, ada pihak independen yang menjadi perantara operator dengan perbankan.

Senada dengan Merza,  Erik menyarankan, langkah memberikan izin sebagai lembaga keuangan layak diberikan pada operator agar  tercipta ekosistem yang ideal.

“Soalnya industri perbankan belum tentu bisa dan mau mendukung mengembangkan jasa m-money,” tegasnya.

Ketua Bidang Luar Negeri Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) Koesmarihati Koesnowarso mengakui, tren dari m-commerce di dunia adalah mengembakan m-money. “Jasa ini bisa membantu orang-orang yang tidak memiliki akses ke bank,” katanya.

Menurut Koes, m-money bisa menjadi peluang bagi operator atau perbankan.  Bagi operator, mobile money bisa menjadi sumber pendapatan baru.

Diprediksi jika operator mengenakan biaya   25  sen   per transakasi dan pelanggan menggunakannya seminggu sekali maka ada ekstra pendapatan bagi operator sebesar satu dollar AS per bulan.

Sedangkan bagi perbankan bisa menghemat biaya operasional membangun kantor cabang baru dan menajdi lebih fokus melakukan penetrasi pasar.

Sementara Anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi mengatakan, jika operator mendesak mendapatkan izin menjadi lembaga keuangan dipastikan akan terbentur kepada regulasi yang ada.

“Undang-undang yang mengatur secara jelas tidak memungkinkan operator menjadi lembaga keuangan. Sebaiknya bekerjasama dengan industri perbakan karena masing-masing memiliki keunggulan,” katanya.  [dni]

180809 Incumben Mulai Garap Program Ramadan

JAKARTA—Dua incumben di jasa seluler, Telkomsel dan Indosat, mulai menggarap program pemasaran untuk bulan Ramadan sejak minggu lalu.

Telkomsel kembali mengusung Telkomselsiaga, sementara Indosat meluncurkan Mudah Mudik Indosat 2009.

Direktur Utama Telkomsel Sarwoto Atmosutarno mengatakan, TelkomselSiaga merupakan sinergi antara  industri, pemerintah, ATPM kendaraan bermotor, ATPM ponsel, content provider, asuransi, dan badan usaha negara lainnya.

“Telkomsel tidak hanya menawarkan layanannya saja. Tetapi juga membantu ribuan pelanggan dan mitra mudik bersama,” katanya di Jakarta, belum lama ini.

Sedangkan untuk jaringan, lanjutnya, Telkomsel telah menyiapkan kapasitas sebesar dua kali lipat untuk mengantisipasi lonjakan trafik.

Sementara Chief Sales Officer Indosat Syakieb Sungkar  mengatakan, momentum Ramadan dijadikan sebagai alat untuk mendongkarak penjualan.

Hal itu terlihat dengan   menghadirkan Starter Pack (SP) Mudik IM3  yang didukung  fasilitas Gratis nelpon 60 menit ke sesama anggota IM3 grup. Indosat juga menghadirkan SP Mentari dengan program ribuan kali nelpon hanya  1000 rupiah per hari dan program murahnya berani diadu. Program Mudah Mudik Indosat 2009 ini berlaku mulai 18 Agustus hingga 30 September 2009.

Tidak hanya incumbent di seluler, Bakrie Telecom yang juga menjadi pemain utama di jasa telepon nirkabel tetap, meluncurkan  Hape Esia Hidayah dalam menyambut bulan Ramadan.

”Kami adalah operator pertama yang menawarkan kontem muslim. Sekarang menyambut bulan Ramadan, kontennya lebih dilengkapi dengan kedua ponsel ini,” ujar  Presiden Direktur Bakrie Telecom Anindya N. Bakrie.[dni]

180809 m-Commerce:Peluang yang Belum Dioptimalkan

Belum lama ini GSMA, CGAP, dan McKinsey & Co mengeluarkan studi tentang potensi dari layanan mobile money untuk tiga tahun kedepan.

Tiga lembaga tersebut memperkirakan pada 2012 jumlah pelanggan seluler yang tidak memiliki akses ke perbankan akan berjumlah 1,7 miliar orang. Angka tersebut meningkat dari posisi saat ini yang berjumlah satu miliar orang.

Hasil riset memperlihatkan sebanyak 290 juta orang yang sebelumnya tidak tersentuh oleh layanan perbakan bisa menjadi pasar yang potensial bagi jasa telekomunikasi bergerak.

Hal itu membuat mobile money berpotensi memberikan pendapatan langsung bagi operator sebesar lima miliar dollar AS dan 2.5 miliar dollar AS dalam bentuk pendapatan tidak langsung per tahunnya.

Sedangkan lembaga riset lainnya, Informa, memprediksi pada 2013 lebih dari 424 juta pengguna seluler akan melakukan transaksi pengiriman uang domestik melalui ponsel dan 73 juta pelanggan melakukannya untuk transaksi internasional. Sebanyak 75 persen transaksi internasional akan dilakukan oleh pelanggan dari wilayah Eropa Barat, Amerika Utara, dan Timur Tengah.

Menurut GSM Association, mobile money adalah layanan yang membuat pelanggan seluler bisa melakukan transaksi keuangan melalui perangkat yang dimiliki. Mobile money memiliki tiga tipe layanan yakni mobile money transfer, mobile banking, dan mobile payment.

Dalam industri telekomunikasi bergerak, mobile money disebut juga bagian dari evolusi mobile commerce (m-commerce). M-commerce adalah semua aktifitas dan transaksi komersial yang digunakan melalui jaringan komunikasi nirkabel menggunakan perangkat mobile.

M-commerce ini secara umum meliputi layanan mobile content seperti ringtones atau mobile games atau transaksi keuangan seperti mobile banking atau belanja.

Peneliti junior dari International Telecommunication Union (ITU) Juhee Kang mengatakan, berkembangnya m-commerce tak bisa dilepaskan dari inovasi teknologi telekomunikasi bergerak di bidang data dan perangkat.

“Tak bisa dipungkiri akses data telah memungkinkan transaksi keuangan bisa dilakukan melalui ponsel. Dan teknologi ponsel yang semakin friendly membuat pelanggan semakin mudah melakukan transaksi,” ujarnya kepada Koran Jakarta, akhir pekan lalu.

Kang menyakini, m-commerce adalah salah satu killer application yang dikembangkan oleh operator ke depannya agar bisa menjaga pendapatan dari perseroan tetap positif seiring makin turunnya kinerja jasa tradisional (Suara dan SMS) bagi keuntungan.

Kondisi Indonesia

Lantas bagaimana dengan kondisi di Indonesia untuk m-commerce? Data dari Bank Indonesia mencatat jumlah e-money atau m-money digunakan oleh 1,4 juta pelanggan hingga Maret lalu.

Sedangkan jumlah transaksi hingga April lalu mencapai 1,4 juta transaksi dengan nilai per transaksi rata-rata 30 ribuan rupiah.

Ketua umum Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) Setyanto P. Santosa pasar m-commerce di Indonesia lumayan besar dibandingkan dengan negara lainnya di Asean.

Setyanto mengutip data per 31 Desember 2008 yang mencatat potensi m-commerce dari 170,21 juta pelanggan telekomunikasi bergerak dan 30 juta pengguna internet. “Sekiatar 61 di antara kedua pengguna jasa itu adalah pasar dari m-commerce. Sayangnya untuk mengembangkan jasa ini di Indonesia masih banyak kendala,” katanya.

Kendala yang besar adalah pengembangan infrastruktur telekomunikasi, teknologi, dan regulasi secara terpadu. “Lambat serta sulitnya akses karena transmisi yang buruk dan masih relatif mahalnya biaya menjadi hal-hal yang membuat konsumen stres dalam mengaplikasikan m-commerce,” ujarnya.

Ketua Bidang Luar Negeri Mastel Koesmarihati Koesnowarso menambahkan, masalah lain dari pengembangan m-commerce dengan evolusi layanannya adalah interoperability antara operator dan lembaga perbankan. “Di Malaysia, mereka sudah punya national payment platform yang dibuat antar bank. Sedangkan di Indonesia operator ada yang memilih ikut menjadi penerbit atau hanya memilih menjadi alat transportasi trafik saja,” katanya.

Kepercayaan

Dirjen Postel Depkominfo Basuki Yusuf Iskandar mengatakan diperlukan kepercayaan dari masyarakat untuk mengembangkan penggunaan m- commerce. Apalagi layanan ini masih awal di Indonesia.

“Kami sudah mengeluarkan UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) untuk memberikan perlindungan bagi pengguna fasilitas ini, tetapi tingkat kepercayaan masyarakat masih harus ditingkatkan,” ujarnya.

Peran pelaku industri juga dinilai sangat penting untuk memberikan jaminan keamanan kepada konsumen, selain memberikan layanan terbaik dengan biaya yang relatif tidak mahal.

Perlu ada keseimbangan antara pemerintah dan pelaku usaha untuk mengembangkan potensi pasar tidak hanya di kota besar, namun juga menumbuhkan kesadaran masyarakat di kota kecil.

Basuki menambahkan, karakteristik konsumen Indonesia antara kota besar (daerah urban) dan daerah rural (pinggiran atau kota kecil) sangat jauh berbeda.

Dia mencontohkan penggunaan kartu kredit yang sudah terbiasa bagi komunitas di kota besar, tetapi di daerah masyarakat lebih memilih transaksi tunai.

Anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi menambahkan, masyarakat juga perlu mengubah budaya berbelanja dari biasanya harus melihat barang dalam wujud aslinya ke hanya foto atau angka saja.

Selain itu, Heru meminta operator untuk menawarkan tarif data yang lebih terjangkau dan pembangunan infrastruktur yang massif agar m-commerce berkembang. .

“Tarif data di Indonesia masih belum terjangkau. Kami mendorong agar infrastruktur broadband tidak dibangun di kota-kota besar. Karena itu diharapkan semester pertama tahun depan sudah ada internet di seluruh kecamatan. Sedangkan tarif layanan m-commerce sendiri belum diatur karena kita memang ingin layanan ini berkembang cepat,” katanya.

Pada kesempatan lain, Chief Marketing Officer Indosat Guntur S Siboro mengungkapkan, posisi operator di m-commerce lebeih sebagai enabler ketimbang pemain utama.

“Operator lebih fokus mengurusi trafik dari transaksi. Hal ini karena bisnis inti dari industri telekomunikasi sendiri sedang mengalami perang harga yang membuat profitabilitas semakin tipis. Jadi, secara industri pemain telekomunikasi lebih berkonsentrasi mengembangkan bisnis inti sebagai penyedia jasa dan jaringan telekomunikasi,” tegasnya.

Sedangkan Ketua Komite Tetap Informatika Kadin Iqbal Farabi meminta, m-commerce lebih dikembangkan karena akan mampu mendukung pengembangan industri konten di Indonesia. “Transaksi pembelian konten akan lebih mudah jika m-commerce berkembang,” katanya. [dni]

180809 Penumpang Gunakan KA Diprediksi Naik 10 Persen

JAKARTA–Jumlah pemudik yang menggunakan kereta api (KA) melalui area layanan PT Kereta Api Daerah Operasi I (Daops I) diperkiarakan mencapai 846 ribu penumpang atau naik 10 persen ketimbang periode yang sama tahun lalu.

Kahumas Daop I Sugeng Priyono memperkirakan,  puncak keberangkatan penumpang akan padat di H-3 Idul Fitri dimana hampir seluruh karyawan sudah memeroleh cuti bersama untuk libur lebaran yang jatuh pada 22 September mendatang.

“Kami menetapkan bahwa angkutan lebaran 2009 dimulai 11 September sampai dengan dua Oktober 2009 atau selama 22 hari,” ujarnya di Jakarta, akhir pekan lalu.

Sugeng menyarankan,  masyarakat luas yang berencana mudik di libur lebaran nanti sudah bisa mulai membeli tiket kelas komersial sejak H-30 atau bisa dimulai sejak 21 Agustus mendatang.“Pembelian tiket bisa dilakukan dengan online baik di agen-agen maupun di stasiun. Calon penumpang juga bisa membeli lewat ATM (anjungan tunai mandiri),” jelasnya.

Sugeng mengemukakan bahwa pihaknya sudah merencanakan stamformasi untuk angkutan lebaran diantaranya kelas eksekutif sebanyak 201 gerbong, bisnis 147, dan ekonomi 106 disesuaikan dengan daya tarik lokomotif.“Kami juga sudah siap mengusulkan tambahan 14 perjalanan KA lebaran bila sewaktu-waktu dibutuhkan,” ujarnya.

Dikatakannya, perjalanan KA reguler untuk tujuan Bandung sebanyak 13, Solo empat, Yogya lima, Surabaya tujuh, Semarang tujuh, Purwokerto /Kutuarjo enam, Cirebon tujuh, Malang dua, Jombang satu dan Kediri satu.

Tak hanya KA penumpang, menurut rencana seperti yang sudah direalisasikan pada tahun lalu, PT KA juga akan kembali memberangkatkan KA untuk angkutan khusus motor yang akan disandingkan dengan KA penumpang sehingga bagi pengguna motor bisa melanjutkan perjalanannya setelah tiba di stasiun tujuan.[Dni]