150809 Indosat Kembali Kehilangan 3 juta Pelanggan

JAKARTA–PT Indosat Tbk (Indosat) kembali kehilangan sekitar tiga juta pelanggannya pada kuartal kedua tahun ini demi mencari pengguna yang berkualitas.

“Kuartal kedua lalu terjadi lagi penghapusan layaknya kuartal pertama 2009. Angka kehilangannya sama. Tetapi pastinya tunggu laporan keuangan resminya,” ungkap Chief Sales Officer Indosat Syakieb Sungkar kepada Koran Jakarta, Jumat (14/8).

Berdasarkan catatan, Indosat pada kuartal pertama 2009 menghapus 3,2 juta nomor miliknya sehingga hanya menyisakan 33,3 juta pelanggan dari 36,5 juta pelanggan pada akhir 2008.

Jika benar terjadi penghapusan nomor sekitar tiga juta pada kuartal kedua, maka diperkirakan jumlah pelanggan Indosat tersisa 30,3 juta nomor.

Menurut Syakieb, penghapusan nomor dilakukan perseroan karena ingin mendapatkan pelanggan berkualitas. “Kami tidak mau mendapatkan pelanggan yang hanya meng-abuse jaringan. Lebih baik pelanggan seperti itu dihapus agar bisa meningkatkan pendapatan,” katanya.

Dikatakannya, akibat mendapatkan pelanggan berkualitas, Average Revenue Per Users (ARPU) dari perseroan mengalami kenaikan ketimbang kuartal sebelumnya. “Besarannya belum bisa diungkap,” jelasnya.

Berdasarkan laporan kinerja kuartal pertama, Indosat masih mampu meraih pendapatan pada kuartal I 2009 sekitar 4,37 triliun rupiah.Perolehan pendapatan itu turun 13 persen jika dilihat secara per kuartal, namun naik dua persen jika dibandingkan year on year.

Secara terpisah, analis dari BNI Securities Muhammad Alfatih menilai, jika benar tujuan Indosat menghapus nomor yang tidak produktif untuk mengefisienkan biaya operasional seharusnya berdampak kepada kinerja pendapatan perseroan pada kuartal kedua 2009.

“Mengelola satu nomor aktif atau tidak produktif itu biayanya sama saja. Jika benar penghapusan dijalankan dengan tepat, harus terbukti pada kinerja pendapatan,” katanya.

Menurut dia, untuk jangka pendek kebijakan penghapusan nomor terlihat akan menyakitkan bagi perusahaan, tetapi di masa depan akan membuat kinerja semakin positif.

Sebelumnya, Presiden Direktur dan CEO Indosat Harry Sasongko menegaskan, manajemen akan lebih mengefisienkan biaya operasional di masa depan.

“Bukan eranya lagi tersilau oleh jumlah pelanggan yang besar kalau ternyata adalah buble tidak ada gunanya. Kita harus mendapatkan pelanggan yang berkualitas,” tegasnya.[Dni]

150809 Investasi Sektor Elektronik Meningkat 10 Persen

JAKARTA–Investasi di sektor elektronik mengalami peningkatan sebesar 10 persen sejak diterapkannya pembatasan impor lima komoditas pada November 2008.

“Pembatasan impor itu memberikan kepastian investasi bagi para pelaku usaha. Akhirnya investor membuat perencanaan menaikkan investasi,” ungkap Ketua Gabungan Pengusaha Elektronik (Gabel) Rakhmat Gobel 
kepada Koran Jakarta, Jumat (14/8).

Dikatakannya, dari sisi jumlah investor tidak terjadi peningkatan namun yang naik adalah nominal investasi. “Pelaku usaha merasa mendapat dukungan dari pemerintah mengatasi derasnya barang impor ilegal di pasar,” katanya.

Diungkapkannya, barang impor ilegal selama ini telah menguasai 50 persen dari peredaran produk di Indonesia. “Pembatasan jenis impor dan barang masuk berhasil menekan praktik yang merugikan tersebut,” jelasnya.

Berkaitan dengan penjualan dari alat-alat elektronik menjelang Ramadan, Rakhmat memprediksi, akan terjadi peningkatan penjualan sebesar 5 hingga 10 persen.

“Barang yang akan meningkat penjualannya alat-alat rumah tangga seperti AC dan kulkas,” tuturnya.

Sekjen Electronic Marketer Club Agus Soejanto mengungkapkan, jika melihat tren penjualan Ramadan tahun lalu, maka diprediksi akan ada peningkatan penjualan tahun ini sebesar 8 persen.

“Angka pastinya kami belum bisa berikan, karena sore ini mau rapat dulu semua anggota,” katanya.

Secara terpisah, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofyan Wanandi mengatakan,  dampak dari krisis ekonomi global adalah menurunnya kegiatan ekspor dari para pengusaha. 

Agar arus kas dari perusahaan dapat terjaga, jalan keluarnya adalah menggarap pasar dalam negeri. “Namun, pasar di dalam negeri ini juga tidak bisa optimal dimanfaatkan karenabarang selundupan telah menguasai pasar dengan membanting harga,” katanya. 

Sofyan juga meminta pemerintah untuk menertibkan kegiatan dari para importir umum. “Sebaiknya barang masuk ke Indonesia itu melalui importir khusus atau terdaftar. Ini membuat kita bisa tahu barang yang mereka impor. Tentunya akan bisa dideteksi mana yang selundupan atau tidak,” jelasnya.  

Sebelumnya, guna mendukung pengusaha menggarap pasar dalam negeri pemerintah membatasi  jalur masuk komoditi  mainan anak-anak, tekstil, garmen, dan elektronik hanya boleh melalui pelabuhan dan bandara utama. Pelabuhan yang diperbolehkan menjadi  pintu masukadalah   Tanjung Priok, Tanjung Emas, Tanjung Perak, Belawan, dan Makassar.

Sementara untuk bandar udara hanya dibuka pintu masuknya di Soekarno Hatta, Juanda,dan Makassar.[Dni]

140809 Harry Sasongko: Ingin Memberikan Nilai Tambah

Kala nama mantan pejabat tinggi dari  GE Financial ini ditunjuk oleh  pemegang saham mayoritas Indosat, Qatar Telecom  (Qtel), sebagai pengganti Johnny Swandi Sjam untuk menduduki kursi Presiden Direktur PT Indosat Tbk (Indosat) mulai 11 Agustus lalu, banyak pihak yang terkejut. 

Bagaimana tidak, sosok Harry di industri telekomunikasi tidaklah dikenal. Meskipun pria ini menyandang gelar insinyur dari Institut Teknologi Bandung (ITB), namun karirnya banyak dihabiskan di industri keuangan. Hal ini berbeda dengan sosok Johnny yang telah malang melintang selama 25 tahun di industri telekomunikasi dan mengabdikan seluruh karirnya di Indosat grup.

Sontak bermunculan teori konspirasi bahwa Harry adalah orang lokal titipan dari pemilik saham lama yakni Singapore Technologies Telemedia (STT). Hal ini merujuk pada rekam jejak dari karir pria yang memiliki dua buah hati itu, yakni selama tujuh tahun mengabdi di Lippo Grup.Lippo grup adalah rekanan dari Temasek di bisnis properti.

Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Singapura itu adalah induk usaha dari STT. STT sendiri masih memiliki afiliasi dengan Qtel yang terlihat dari kerjasama kedua perusahaan membesarkan Starhub di Singapura.

Harry tercatat bergabung dengan Lippo Grup pada tahun 1998 sebagai  Marketing Director di PT Matahari Putra Prima.  Hanya tiga  minggu   menduduki jabatan tersebut, setelah itu pria ini menjabat salah satu dewan direksi di Lippo Bank karena perusahaan tersebut diikutkan dalam  program rekapitulasi perbankan.

 “Saya adalah orang Indonesia, dan di hati saya masih melekat kepentingan dari negeri ini,” tegas Harry di Jakarta, kala memperkenalkan dirinya pertama kali ke wartawan yang meliput industri telekomunikasi sehari setelah menggantikan Johnny.

Harry sepertinya sadar selama ini ada isu yang tak sedap berkembang di luar. Dan kalimat itu dilontarkan pertama kali untuk menegaskan dirinya bukanlah boneka atau titipan dari para pemegang saham lama atau baru.

Harry mengatakan, Qtel sebagai investor asing harus dilihat sebagai mitra strategis untuk membangun industri telekomunikasi di Indonesia. “Banyak ilmu dan keuntungan yang bisa diserap dari grup besar seperti ini. Investor domestik tidak mungkin mau menghabiskan dana sebesar 23 hingga 24 triliun rupiah untuk membeli Indosat. Nah, sekarang yang harus dikerjakan adalah bagaimana kekuatan modal itu dimanfaatkan untuk membangun negeri,” katanya.

Menurut Harry, Qtel terkesan tidak agresif walau sudah setahun mengakuisisi Indosat karena lebih ingin melihat situasi pasar di Indonesia. “Kemarin masih ribut-ribut, tentu pemegang saham ingin melihat dulu perkembangan dan menyelesaikan transaksi dengan pemilik lama. Tetapi, ke depan saya yakin manajemen Indosat akan diberikan kepercayaan untuk lebih agresif karena di mata Qtel perusahaan ini memiliki nilai strategis,” tegasnya.

Harry boleh menyemburkan optimisme tentang dukungan dari Qtel, sayangnya ketika ditanya akankah dirinya mampu menyakinkan para Sheikh menyuntikkan dana segar dalam memenuhi belanja modal atau membelanjakan biaya operasi bagi manufaktur lokal, pria berkaca mata itu tidak bisa memberikan jaminan.

“Soal itu wewenang pemegang saham. Sebenarnya masalah pencarian pendanaan itu dilihat mana yang menguntungkan. Jika meminjam kepada pemegang saham ternyata bunganya lebih tinggi, kan tidak menguntungkan. Rencana yang pasti, kuartal keempat ini akan diterbitkan obligasi untuk belanja modal dan refinancing hutang tahun depan,” katanya.

Berdasarkan catatan, Indosat sejak dimiliki oleh STT memang sering menerbitkan obligasi atau berhutang kepada sindikasi perbankan. Bahkan, ketika Qtel telah membeli kepemilikan STT sebesar 23 hingga 24 triliun rupiah, kebijakan menerbitkan obligasi masih terus dilanjutkan.

Pada 31 Desember 2008 total hutang perusahaan adalah sebesar 21,76 triliun rupiah dengan komposisi 51 persen dalam rupiah dan sisanya dollar AS. Sedangkan pada  tahun depan  obligasi senilai 234,7 juta dollar AS akan jatuh tempo.

Memberikan Nilai Tambah

Selanjutnya suami dari Rini Maramis ini mengungkapkan, dipilihnya dirinya oleh para pemegang saham untuk menduduki posisi ISAT-1   karena memiliki   nilai tambah dari sisi manajemen keuangan.

“Indosat adalah perusahaan besar. Masalahnya sekarang tidak eranya lagi memiliki kelebihan secara kuantitas, misalnya pelanggan besar, tetapi ternyata tidak seimbang dengan biaya operasional. Nah, ini yang akan diperbaiki agar rasio keuntungan menunjukkan tren positif,” katanya.

Menurut dia, industri telekomunikasi sekarang telah berubah menjadi consumer business sehingga yang memegang peranan adalah pengembangan pemasaran produk. 

“Masalah teknologi tak bisa dielakkkan, itu berjalan dinamis dan Indosat selalu mengikuti kemajuannya. Nah, bagaimana cara menjual dan mengembangkannya, itu yang memegang peranan penting di pasar,” katanya.

Untuk itu, Harry telah menyiapkan tiga strategi yang akan dijalankan oleh dirinya dalam mewujudkan keinginannya memberikan nilai tambah bagi Indosat. Pertama adalah  memfokuskan produk untuk  melayani konsumen.

“Indosat harus mampu   melihat kebutuhan dan minat konsumen, agar bisa  melayani dengan layanan terbaik melalui harga yang terjangkau. Harga yang terjangkau bisa dilakukan jika teknologi dimanfaatkan dengan tepat,” jelasnya. 

Strategi kedua adalah mensinergikan semua unit dan anak usaha agar optimal mencapai tujuan organisasi. “Indosat memiliki semua lisensi mulai dari seluler, telepon tetap, hingga penyedia aplikasi. Anak usaha sepertiLintasarta sudah sukses di industri perbankan, ini harus disinergikan dengan induknya,” katanya.

Strategi terakhir adalah melakukan  keselarasan atau harmonisasi dengan para pemangku kepentingan mulai dari  pemegang saham (QTel, pemerintah, dan publik), media massa, pihak regulator, dan tak terkecuali dengan para karyawan Indosat sendiri. 

“Strategi  inilah yang saya yakini mampu membawa Indosat lebih besar. Karena itu saya bilang, meskipun datang dari industri keuangan, karena menduduki posisi puncak, itu tidak masalah,” jelasnya.

Dijelaskannya, seorang pemimpin yang duduk di kursi puncak sebenarnya lebih bertugas mengoordinasikan semua aspek manajemen dari perusahaan. “Saya kan punya tim dan semuanya memiliki pengalaman di industri ini. tugas saya membuat setiap elemen itu berfungsi agar tujuan perusahaan tercapai. Jadi, tidak perlu didikotomi asal industrinya,” katanya.

Harry boleh optimistis, tetapi fakta di lapangan berbicara lain. Pria asal Bandung ini masa jabatannya hanyalah meneruskan era dari Johnny hingga tahun depan. Setelah itu, para sheikh akan kembali melakukan RUPSLB guna memilih ISAT-1 untuk lima tahun berikutnya.

Sedangkan di  Indosat sendiri, sejak perusahaan ini dijual oleh pemerintah ke investor asing, terjadi tren yang tidak mengenakkan yaitu sosok yang menduduki posisi ISAT-1 tidak pernah menyelesaikan masa bakti  hingga selesai. Umumnya berhenti di separuh perjalanan. Akankah Harry mampu membelokkan tren tersebut dengan strateginya dalam jangka waktu yang singkat? Kita tunggu saja.[dni]