130809 Jasa Data: Bayi yang Harus Dijaga

Laporan keuangan yang dikeluarkan oleh dua operator besar (Telkom dan XL) selama semester pertama tahun ini   menunjukkan fenomena yang luar biasa dari kinerja  jasa data.

PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) mencatat layanan  data, internet, dan teknologi Informatika menghasilkan pendapatan sebesar   497 miliar rupiah akibat adanya kenaikan pelanggan sebesar   107 persen dari 393 ribu menjadi 816 ribu pelanggan.

Sementara  jasa data dari anak usaha Telkom, Telkomsel, berhasil berkontirbusi sebesar 28 persen atau 5,3 triliun rupiah  bagi pendapatan operasional perseroan sebesar

Sedangkan di XL, kontribusi dari jasa data mengalami kenaikan dari 26 persen menjadi 27,8 persen pada semester pertama tahun ini. Bahkan, dari sisi pendapatan, jasa data mengalami kenaikan sebesar 12 persen.

Meningkatknya penggunaan jasa data tersebut membuat XL berencana memperbesar kapasitas  bandwidth internasionalnya  sekitar 640 Mbps menjadi 1 Tbps.

Masih Bayi

Pengamat telematika Ventura Elisawati menilai kinerja dari jasa data yang mulai memberikan kontribusi bagi pendapatan operator masih belum berarti secara keseluruhan.

“ibarat siklus pertumbuhan manusia, jasa data itu seperti bayi yang baru lahir. Operator baru berbicara data sejak tahun lalu. Ini masih prematur,” katanya kepada Koran Jakarta, Rabu (12/8).

Menurut dia, sebagai bayi yang baru lahir ke dunia, ada kesalahan yang dilakukan oleh operator dalam memberikan gizi bagi pertumbuhannya.

Operator dinilai salah menerapkan strategi makro dengan membanting harga jasa data sehingga terjebak dalam perang harga. “Lihat saja dari sisi pendapatan, pertumbuhannya kecil, padahal secara jumlah pelanggan terjadi peningkatan yang eksponensial,” katanya.

Padahal, sebagai masa depan dari bisnis, operator harus menjaga kesehatan dari sang ‘bayi’ agar tidak layu sebelum berkembang.
Menurut Ventura, harga yang ditawarkan oleh operator saat ini tidak rasional sehingga mengecilkan kesempatan mendapatkan margin atau reinvestasi.

“Kondisi ini jika dipaksakan membuat semua pihak menderita. Hal ini karena makin banyak pelanggan, subsidi makin besar. Dan kualitas layanan akan terus menurun,” ketusnya.

Dia menyarankan,  ada kreatifitas dalam menjual jasa ketimbang bertingkah seperti sekarang ini dimana operator melakukan aksi ‘sale’ layaknya pusat perbelanjaan.

Salah satunya adalah dengan menangkap perubahan pola pemasaran dari perusahaan yang mulai bermain di mobile advertising dan marketing. “layanan ini jelas sekali bisa meningkatkan revenue dari data. Baiknya ini yang digarap ketimbang bermain di perang harga,” jelasnya.

Selain itu, lanjutnya,  stakeholder jasa data harus sering berdiskusi dengan regulator untuk membahas pengembangan sang ‘bayi’ agar tercapai saling pengertian di kedua belah pihak.

“Regulator mendesak tarif internet diturunkan, padahal di data tersebut masalah frekuensi memegang peranan sangat penting. Jika regulator masih berparadigma frekuensi sebagai alat mencari setoran, maka bayi ini  tidak akan  tumbuh-tumbuh,” ketusnya.

Sementara itu, Pengamat telematika  Bambang Sumaryo Hadi  menilai operator operator berlomba menggaet pelanggan data dengan tujuan sekadar

mempertahankan average revenue per users (ARPU)  secara keseluruhan.

“Data masih dijadikan sebagai penopang saja. Soalnya pendapatan dari suara dan SMS cenderung turun sejak pemotongan biaya interkoneksi,” katanya.

Dia menilai, operator telah melakukan kesalahan dengan dengan terpaksa  menjual jaringan suara sebagai layanan data. Padahal, seharusnya  layanan data dipenuhi dengan teknologi broadband yang alamiah seperti ADSL, cable modem,

Fiber to the home (FTTH), ataupun  Wimax mobile yang harga teknologinya jauh lebih murah ketimbang  GPRS, 3G atau 3.5G.

Disarankannya, agar jasa data lebih cepat lagi pertumbuhannya pemerintah memberikan stimulus berupa mempercepat  penerapan open access

policy, unbundling layanan, facility sharing,  colocation, dan  mobile

virtual network operator (MVNO).

Sedangkan Praktisi telematika Bayu Samudiyo mengungkapkan, pelanggan data tumbuh akibat adanya fenomena gaya hidup berkat aplikasi chatting atau situs jejaring sosial.

“Ini baru tahap awal karena itu ARPU-nya masih kecil. Hal ini karena untuk aplikasi yang menjadi fenomena sekarang ini tidak membutuhkan pemakaian yang besar. Akhirnya, pelanggan tumbuh, tetapi dari sisi pendapatan masih kecil,” jelasnya.

Menurut Bayu, operator tidak salah menerapkan startegi dalam mengembangkan layanan data karena bertujuan mengedukasi pasar. “Masih ada ketakutan di pelanggan menggunakan GPRS itu mahal. Karena itu ditawarkan paket langganan internet hingga puluhan Mbps, padahal itu tidak akan habis dikonsumsi hingga tenggat waktu karena perilaku pemakaiaan tidak menuntut sebesar itu,” katanya.

Bayu memperkirakan, jasa data baru akan booming pada tahun depan seiring semakin masifnya produksi perangkat untuk konsumen dengan harga murah.

“Kendala selama ini adalah harga perangkat yang mahal. Saya cuma wanti-wanti operator menahan diri agar tidak terjebak di perang harga di jasa data. Jika itu terjadi, bayi ini bisa mati karena prematur,” katanya.

Menanggapi hal itu, Chief Marketing Officer Indosat Guntur S Siboro mengatakan, sangat susah bagi operator untuk berkreasi di jasa data karena sistem penagihannya sangat terbatas. “Di jasa data hanya dikenal per kilo byte atau unlimited. Beda dengan di suara yang bisa menawarkan banyak bonus,” katanya.

Sementara itu, Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi menjamin, jasa data akan didukung pengembangannya oleh regulator.

“Salah satu bentuk dukungannya adalah akan menyediakan ICT Fund bagi pembelian frekuensi. Sekarang pun kami biarkan operator berkreasi di jasa tersebut tanpa diregulasi dengan ketat. Ini karena kami ingin jasa tersebut berkembang dulu,” katanya.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s