130809 Arena Pertarungan Baru

Kehadiran dari perangkat BlackBerry milik Research In Motion (RIM) membuat terjadinya  pergeseran persaingan di operator dalam waktu beberapa bulan belakangan ini untuk jasa data.

Simak saja publikasi yang dilakukan oleh dua  mitra RIM yakni Telkomsel dan XL  yang dikeluarkan terkait jumlah pengguna atau kapasitas yang dimiliki ke server RIM.

XL mengklaim pada Jumat ( 7/8) pagi layanan   BlackBerry-nya telah mencapai 135 ribu pelanggan. Sorenya, Telkomsel tidak terima dengan klaim dari XL, pemimpin pasar ini menyebut angka yang sama untuk perolehan jumlah pelanggan BlackBerry di jaringannya.

Entah ingin berbalas pantun, XL pada Sabtu (8/8) malam mengeluarkan angka 136 ribu pelanggan telah terjerat untuk menggunakan layanan BlackBerry di jaringannya.

Masalah meningkatkan kapasitas ke server RIM,  perilaku yang sama juga ditunjukkan  para mitra RIM. XL mengklaim    dalam waktu dua minggu ke depan akan ditingkatkan kapasitas ke server RIM mencapai 65 Mbps

Tak terima dengan rencana dari XL, Telkomsel pun mengklaim akan meningkatkan kapasitas ke server RIM hingga 100 Mbps. Aksi balas pantun antara Telkomsel dengan XL juga terjadi dalam menyelenggarakan layanan BlackBerry Internet Service (BIS) secara harian.

BIS adalah ruh dari layanan data milik RIM. Aplikasi ini memungkinkan pengguna melakukan browsing atau chatting dengan biaya murah. Jika aplikasi ini tidak berjalan, perangkat tak ubahnya ponsel yang hanya bisa digunakan untuk jasa suara dan SMS.

Telkomsel akhirnya mengikuti langkah XL yang menawarkan berlangganan BIS secara harian dengan banderol lima ribu rupiah. Angka yang sama dengan milik XL.

Bahkan, Telkomsel juga meniru langkah dari XL dengan menawarkan application store BlackBerry. XL memiliki BlackBerry Mall, sedangkan Telkomsel mengusung  Mobilife.

“Sebenarnya susah mengklaim jumlah pelanggan BIS karena yang menggunakan adalah pengguna prabayar. Di prabyar itu semua bisa berubah dalam sekejap. Angka paling sahih adalah data di RIM,” ketus Chief Marketing Officer Indosat Guntur S Siboro kepada Koran Jakarta.

Praktisi telematika Bayu Samudiyo menilai aksi yang dilakukan para mitra RIM dengan gencar mempublikasikan jumlah pelanggan atau kapasitas data ke server RIM tak lebih dari upaya mengangkat citra perseroan.

“Para mitra itu hanya ingin mengejar citra karena layanan BlackBerry sedang hype. Padahal margin menyelenggarakan layanan tersebut sangat tipis,” katanya.

Menurut Bayu, pasar BlackBerry sebenarnya masih kecil di Indonesia karena segmen yang digarap adalah  kalangan menengah atas. “Harga handset masih mahal. Pelanggannya masih seputar di situ-situ saja. Ini kan yang berpindah-pindah layanan adalah pelanggan yang sama,” katanya.

Bayu menyarankan, tidaklah tepat adanya aksi banting harga di jasa BalckBerry terutama dari operator sekelas Telkomsel. “Saya bisa maklumi Telkomsel mengambil langkah tersebut karena tidak tahan juga melihat pesaingnya terus tumbuh jumlah pelanggannya. Tetapi jika sekelas Telkomsel melakukan ini, kejadian di jasa suara dimana terjadi pendarahan pendapatan layaknya tahun lalu bisa terulang,” katanya.

Bayu mengungkapkan,  para mitra RIM yang berasal dari teknologi GSM saat ini masih bisa menguber jumlah pelanggan dengan mengandalkan pola pentarifan karena belum ada pesaing. Namun, jika Smart Telecom yang berbasis CDMA berhasil menggandeng RIM, maka peta persaingan akan berubah.

“Secara teknologi, CDMA itu memang unggul di data. Saya yakin Smart akan banting harga dengan kualitas layanan yang lebih baik. Kalau sudah begini, pemain GSM bisa kedodoran,” katanya.

Pengamat telematika Bambang Sumaryo Hadi menegaskan, secara industri tidak ada gunanya bagi industri manufaktur dalam negeri dari aksi berjualan produk RIM tersebut. “Perangkat itu tidak ada unsur lokalnya. RIM sebagai penjual perangkat dan akses data yang paling diuntungkan dari fenomena ini,”katanya.

Sementara itu, Praktisi telematika Suryatin Setiawan mengatakan, layanan BIS seharusnya lebih banyak digunakan untuk mengakses aplikasi lokal. “Sebenarnya ini peluang berkembangnya konten lokal. Tetapi entah kenapa, masyarakat masih suka mengakses situs luar ketimbang buatan dalam negeri,” tuturnya.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s