130809 D-One Gandeng XL

JAKARTA—Vendor ponsel D-One menggandeng operator seluler   PT. Excelcomindo Pratama, Tbk (XL) untuk memasarkan  ponsel  terbaru seri DG-628 miliknya.

Ponsel yang memiliki keunggulan pada   tombol qwerty dan kemudahan akses data tersebut diharapkan memberikan keuntungan pada kedua belah pihak yakni bertambahnya pelanggan XL dan terjualnya produk D-one.

“Ponsel jenis ini banyak diminati oleh pelanggan saat ini. khususnya mereka yang ingin mengakses situs jejaring sosial seperti Facebook. Hal ini karena aplikasi sudah ditanam di ponsel. Apalagi harganya Cuma dibanderol 999 ribu rupiah,” ujar VP Direct Sales XL, Djunaedi Hermawanto di Jakarta, Rabu (12/8).

Dijelaskannya, untuk memberikan stimulus ke pasar agara ponsel ini diminati oleh masyarakat, XL meberikan gratis  Facebook-an dan chatting selama 5 bulan tanpa pulsa.

“Konsumen akan mendapatkan keleluasaan untuk selalu terhubung dengan teman atau kerabat melalui situs jejaring sosial secara gratis selama 5 bulan. Apalagi, ponsel DG-628 memilik tombol qwerty dan trackball yang memudahkan pengguna untuk berinteraksi melalui Facebook,” katanya.

Konsumen juga dapat menikmati berbagai keuntungan yang ditawarkan oleh XL Priority, antara lain berupa potongan harga bagi pemegang kartu XL pasca bayar dan kartu kredit Mandiri, cicilan selama enam bulan dengan bunga 0 persen, dan nomor cantik XL pasca bayar senilai  1.5 juta rupiah.[dni]

130809 Lintasarta Garap Perguruan Tinggi

JAKARTA—penyedia solusi teknologi informasi (TI),   PT Aplikanusa Lintasarta (Lintasarta), menggarap pasar perguruan tinggi dengan mengenalkan layanan   Lintasartanet-SisfoKampus, l

General Manager Marketing Lintasarta M. Ma’ruf menjelaskan, layanan tersebut dibuat  untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi pengelolaan sistem informasi di perguruan tinggi.

”Di tahun 2009, Lintasarta sangat serius untuk memberikan solusi di industri pendidikan nasional dan saat ini kami membantu implementasi jaringan pendidikan nasional yang menghubungkan lebih dari 300 perguruan tinggi di seluruh Indonesia” ujarnya di Jakarta, Rabu (12/8).

Dijelaskannya, keuntungan dari implementasi aplikasi untuk perguruan tinggi milik perseroannya  adalah perguruan tinggi tidak perlu berinvestasi untuk mengembangkan aplikasi, pengadaan server dan set up sistem, karena semua sudah disiapkan oleh Lintasarta. Keuntungan lainnya adalah sistem berbasis web base, sehingga mudah diakses dan tidak membutuhkan perangkat komputer yang canggih.

Lintasartanet-SisfoKampus mendukung proses otomasi kampus dari mulai penerimaan mahasiswa baru, proses akademis, tugas akhir hingga kelulusan. Seluruh proses otomasi kampus di atas akan terintegrasi ke proses keuangan, yang terhubung ke sistem akutansi dan EPSBED (Evaluasi Program Studi Berbasis Evaluasi Diri).[dni]

130809 Tender USO Akses Internet Segera Digelar

JAKARTA—Balai Informasi dan Informatika Perdesaan (BTIP) akan menggelar tender Universal Service Obligation (USO) untuk akses internet di tingkat kecamatan menjelang tutup bulan ini.

“Akhir bulan ini akan digelar tendernya dan diharapkan selesai pada awl tahun depan. Pagu yang disiapkan sebesar 900 miliar rupiah,” ungkap Kepala BTIP Santoso Serad kepada Koran Jakarta, Rabu (12/8).

Diungkapkannya, BTIP membidik  4.700 kecamatan di seluruh Indonesia. Jumlah kecamatan yang memperoleh akses internet USO ini juga beragam, seperti misalnya di NAD akan sebanyak 220 kecamatan, di Sumsel sebanyak 157 kecamatan, di DIY sebanyak 13 kecamatan, di Bali sebanyak, 40 kecamatan dan lain sebagainya.

Lokasi pengadaan layanan internet di lokasi yang sudah ditentukan   diusahakan di tempat strategis di kecamatan sehingga mudah diakses dan berada dekat dengan lembaga pemerintahan, pendidikan dan lain-lain.

Diharapkannya, adanya  akses internet USO  dapat digunakan menjadi tempat pengenalan internet dan komputer guna meningkat produktifitas dan pemanfaatan untuk peningkatan ekonomi

“Teknologi yang diusung netral dengan kecepatan akses mulai 256 kbps. Pemenang tender minimal menyediakan lima Personal Computer dan akses. Ini untuk mendukung tujuan program yang sustainable selama lempat tahun,” katanya.[dni]

130809 Qtel Belum Ada Sinyal Suntik Dana Segar

JAKARTA —Qatar Telecom (Qtel) sebagai pemilik mayoritas dari PT Indosat Tbk (Indosat) belum ada memberikan sinyal akan menyuntikkan dana segar bagi industri telekomunikasi setelah setahun mengakuisisi operator kedua terbesar di Indonesia itu.

“Pencarian pendanaan kemungkinan masih melalui hutang atau menerbitkan obligasi,” ungkap Presiden Direktur Indosat Harry Sasongko di Jakarta, Rabu (12/8).

Diungkapkannya, untuk belanja modal dari perseroan sebesar 650 juta dollar AS pada tahun ini sudah dalam posisi aman. “Jika pun akan ada penerbitan obligasi, itu rencananya untuk refinancing dan belanja modal tahun depan,” ungkapnya.

Menurut Harry, dalam memenuhi belanja modalnya hal yang wajar pemegang saham mencari sumber yang bisa menguntungkan bagi perseroan. “Jika pinjam ke pemegang saham ternyata bisa lebih mahal tentu tidak dilakukan. Karena itu semua sumber harus dikaji,” katanya.

Harry yang baru saja sehari menduduki posisi nomor satu di Indosat menegaskan, Qtel sebagai pemegang saham mayoritas memiliki komitmen yang tinggi untuk membangun industri telekomunikasi. “Salah satu caranya bisa dengan sharing teknologi atau memanfaatkan jaringannya yang luas. Sebagai grup telekomunikasi besar ada keuntungan yang didapat Indosat berada di bawah Qtel dalam bernegosiasi dengan vendor besar,” katanya.

Selanjutnya Harry mengungkapkan, sebagai nakhoda baru di operator tersebut akan menerapkan tiga strategi guna membawa Indosat ke arah yang lebih baik. Tiga strategi itu adalah fokus kepada pelanggan, sinergi dengan anak usaha, dan harmonisasi bersama stakeholder.

Secara terpisah, Koordinator Komisi Penyelamat Kekayaan Negara (KPK-N) Marwan Batubara mengaku pesimistis dengan sepak terjang Harry membawa Indosat ke arah lebih baik ke depannya.

“Satu hal yang pasti meskipun sosoknya orang lokal, belum tentu suara lokal yang diutamakannya. Saya tidak yakin belanja modal atau dana operasi akan banyak digunakan untuk produk lokal. Sinyalnya sudah jelas, memanfaatkan sinergi dengan aliansi pemegang saham. Kalau begini apa manfaatnya Qtel masuk ke Indonesia . Tidak ada dana segar yang masuk ke sektor riil,” tegasnya.

Marwan menduga, Qtel akan sama saja dengan pemilik lama Indosat yaitu Singapore Technologies Telemedia (STT) yang lebih senang menerbitkan obligasi atau berhuntang dengan perbankan untuk memenuhi belanja modalnya. “Jika demikian itu kan uang masyarakat juga dipakai,” katanya.

Berdasarkan catatan, Indosat sejak dimiliki oleh STT memang sering menerbitkan obligasi atau berhutang kepada sindikasi perbankan. Bahkan, ketika Qtel telah membeli kepemilikan STT sebesar 23 hingga 24 triliun rupiah, kebijakan menerbitkan obligasi masih terus dilanjutkan.

Pada 31 Desember 2008 total hutang perusahaan adalah sebesar 21,76 triliun rupiah dengan komposisi 51 persen dalam rupiah dan sisanya dollar AS. Sedangkan pada  tahun depan  obligasi senilai 234,7 juta dollar AS akan jatuh tempo. [dni]

130809 Arena Pertarungan Baru

Kehadiran dari perangkat BlackBerry milik Research In Motion (RIM) membuat terjadinya  pergeseran persaingan di operator dalam waktu beberapa bulan belakangan ini untuk jasa data.

Simak saja publikasi yang dilakukan oleh dua  mitra RIM yakni Telkomsel dan XL  yang dikeluarkan terkait jumlah pengguna atau kapasitas yang dimiliki ke server RIM.

XL mengklaim pada Jumat ( 7/8) pagi layanan   BlackBerry-nya telah mencapai 135 ribu pelanggan. Sorenya, Telkomsel tidak terima dengan klaim dari XL, pemimpin pasar ini menyebut angka yang sama untuk perolehan jumlah pelanggan BlackBerry di jaringannya.

Entah ingin berbalas pantun, XL pada Sabtu (8/8) malam mengeluarkan angka 136 ribu pelanggan telah terjerat untuk menggunakan layanan BlackBerry di jaringannya.

Masalah meningkatkan kapasitas ke server RIM,  perilaku yang sama juga ditunjukkan  para mitra RIM. XL mengklaim    dalam waktu dua minggu ke depan akan ditingkatkan kapasitas ke server RIM mencapai 65 Mbps

Tak terima dengan rencana dari XL, Telkomsel pun mengklaim akan meningkatkan kapasitas ke server RIM hingga 100 Mbps. Aksi balas pantun antara Telkomsel dengan XL juga terjadi dalam menyelenggarakan layanan BlackBerry Internet Service (BIS) secara harian.

BIS adalah ruh dari layanan data milik RIM. Aplikasi ini memungkinkan pengguna melakukan browsing atau chatting dengan biaya murah. Jika aplikasi ini tidak berjalan, perangkat tak ubahnya ponsel yang hanya bisa digunakan untuk jasa suara dan SMS.

Telkomsel akhirnya mengikuti langkah XL yang menawarkan berlangganan BIS secara harian dengan banderol lima ribu rupiah. Angka yang sama dengan milik XL.

Bahkan, Telkomsel juga meniru langkah dari XL dengan menawarkan application store BlackBerry. XL memiliki BlackBerry Mall, sedangkan Telkomsel mengusung  Mobilife.

“Sebenarnya susah mengklaim jumlah pelanggan BIS karena yang menggunakan adalah pengguna prabayar. Di prabyar itu semua bisa berubah dalam sekejap. Angka paling sahih adalah data di RIM,” ketus Chief Marketing Officer Indosat Guntur S Siboro kepada Koran Jakarta.

Praktisi telematika Bayu Samudiyo menilai aksi yang dilakukan para mitra RIM dengan gencar mempublikasikan jumlah pelanggan atau kapasitas data ke server RIM tak lebih dari upaya mengangkat citra perseroan.

“Para mitra itu hanya ingin mengejar citra karena layanan BlackBerry sedang hype. Padahal margin menyelenggarakan layanan tersebut sangat tipis,” katanya.

Menurut Bayu, pasar BlackBerry sebenarnya masih kecil di Indonesia karena segmen yang digarap adalah  kalangan menengah atas. “Harga handset masih mahal. Pelanggannya masih seputar di situ-situ saja. Ini kan yang berpindah-pindah layanan adalah pelanggan yang sama,” katanya.

Bayu menyarankan, tidaklah tepat adanya aksi banting harga di jasa BalckBerry terutama dari operator sekelas Telkomsel. “Saya bisa maklumi Telkomsel mengambil langkah tersebut karena tidak tahan juga melihat pesaingnya terus tumbuh jumlah pelanggannya. Tetapi jika sekelas Telkomsel melakukan ini, kejadian di jasa suara dimana terjadi pendarahan pendapatan layaknya tahun lalu bisa terulang,” katanya.

Bayu mengungkapkan,  para mitra RIM yang berasal dari teknologi GSM saat ini masih bisa menguber jumlah pelanggan dengan mengandalkan pola pentarifan karena belum ada pesaing. Namun, jika Smart Telecom yang berbasis CDMA berhasil menggandeng RIM, maka peta persaingan akan berubah.

“Secara teknologi, CDMA itu memang unggul di data. Saya yakin Smart akan banting harga dengan kualitas layanan yang lebih baik. Kalau sudah begini, pemain GSM bisa kedodoran,” katanya.

Pengamat telematika Bambang Sumaryo Hadi menegaskan, secara industri tidak ada gunanya bagi industri manufaktur dalam negeri dari aksi berjualan produk RIM tersebut. “Perangkat itu tidak ada unsur lokalnya. RIM sebagai penjual perangkat dan akses data yang paling diuntungkan dari fenomena ini,”katanya.

Sementara itu, Praktisi telematika Suryatin Setiawan mengatakan, layanan BIS seharusnya lebih banyak digunakan untuk mengakses aplikasi lokal. “Sebenarnya ini peluang berkembangnya konten lokal. Tetapi entah kenapa, masyarakat masih suka mengakses situs luar ketimbang buatan dalam negeri,” tuturnya.[dni]

130809 Jasa Data: Bayi yang Harus Dijaga

Laporan keuangan yang dikeluarkan oleh dua operator besar (Telkom dan XL) selama semester pertama tahun ini   menunjukkan fenomena yang luar biasa dari kinerja  jasa data.

PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) mencatat layanan  data, internet, dan teknologi Informatika menghasilkan pendapatan sebesar   497 miliar rupiah akibat adanya kenaikan pelanggan sebesar   107 persen dari 393 ribu menjadi 816 ribu pelanggan.

Sementara  jasa data dari anak usaha Telkom, Telkomsel, berhasil berkontirbusi sebesar 28 persen atau 5,3 triliun rupiah  bagi pendapatan operasional perseroan sebesar

Sedangkan di XL, kontribusi dari jasa data mengalami kenaikan dari 26 persen menjadi 27,8 persen pada semester pertama tahun ini. Bahkan, dari sisi pendapatan, jasa data mengalami kenaikan sebesar 12 persen.

Meningkatknya penggunaan jasa data tersebut membuat XL berencana memperbesar kapasitas  bandwidth internasionalnya  sekitar 640 Mbps menjadi 1 Tbps.

Masih Bayi

Pengamat telematika Ventura Elisawati menilai kinerja dari jasa data yang mulai memberikan kontribusi bagi pendapatan operator masih belum berarti secara keseluruhan.

“ibarat siklus pertumbuhan manusia, jasa data itu seperti bayi yang baru lahir. Operator baru berbicara data sejak tahun lalu. Ini masih prematur,” katanya kepada Koran Jakarta, Rabu (12/8).

Menurut dia, sebagai bayi yang baru lahir ke dunia, ada kesalahan yang dilakukan oleh operator dalam memberikan gizi bagi pertumbuhannya.

Operator dinilai salah menerapkan strategi makro dengan membanting harga jasa data sehingga terjebak dalam perang harga. “Lihat saja dari sisi pendapatan, pertumbuhannya kecil, padahal secara jumlah pelanggan terjadi peningkatan yang eksponensial,” katanya.

Padahal, sebagai masa depan dari bisnis, operator harus menjaga kesehatan dari sang ‘bayi’ agar tidak layu sebelum berkembang.
Menurut Ventura, harga yang ditawarkan oleh operator saat ini tidak rasional sehingga mengecilkan kesempatan mendapatkan margin atau reinvestasi.

“Kondisi ini jika dipaksakan membuat semua pihak menderita. Hal ini karena makin banyak pelanggan, subsidi makin besar. Dan kualitas layanan akan terus menurun,” ketusnya.

Dia menyarankan,  ada kreatifitas dalam menjual jasa ketimbang bertingkah seperti sekarang ini dimana operator melakukan aksi ‘sale’ layaknya pusat perbelanjaan.

Salah satunya adalah dengan menangkap perubahan pola pemasaran dari perusahaan yang mulai bermain di mobile advertising dan marketing. “layanan ini jelas sekali bisa meningkatkan revenue dari data. Baiknya ini yang digarap ketimbang bermain di perang harga,” jelasnya.

Selain itu, lanjutnya,  stakeholder jasa data harus sering berdiskusi dengan regulator untuk membahas pengembangan sang ‘bayi’ agar tercapai saling pengertian di kedua belah pihak.

“Regulator mendesak tarif internet diturunkan, padahal di data tersebut masalah frekuensi memegang peranan sangat penting. Jika regulator masih berparadigma frekuensi sebagai alat mencari setoran, maka bayi ini  tidak akan  tumbuh-tumbuh,” ketusnya.

Sementara itu, Pengamat telematika  Bambang Sumaryo Hadi  menilai operator operator berlomba menggaet pelanggan data dengan tujuan sekadar

mempertahankan average revenue per users (ARPU)  secara keseluruhan.

“Data masih dijadikan sebagai penopang saja. Soalnya pendapatan dari suara dan SMS cenderung turun sejak pemotongan biaya interkoneksi,” katanya.

Dia menilai, operator telah melakukan kesalahan dengan dengan terpaksa  menjual jaringan suara sebagai layanan data. Padahal, seharusnya  layanan data dipenuhi dengan teknologi broadband yang alamiah seperti ADSL, cable modem,

Fiber to the home (FTTH), ataupun  Wimax mobile yang harga teknologinya jauh lebih murah ketimbang  GPRS, 3G atau 3.5G.

Disarankannya, agar jasa data lebih cepat lagi pertumbuhannya pemerintah memberikan stimulus berupa mempercepat  penerapan open access

policy, unbundling layanan, facility sharing,  colocation, dan  mobile

virtual network operator (MVNO).

Sedangkan Praktisi telematika Bayu Samudiyo mengungkapkan, pelanggan data tumbuh akibat adanya fenomena gaya hidup berkat aplikasi chatting atau situs jejaring sosial.

“Ini baru tahap awal karena itu ARPU-nya masih kecil. Hal ini karena untuk aplikasi yang menjadi fenomena sekarang ini tidak membutuhkan pemakaian yang besar. Akhirnya, pelanggan tumbuh, tetapi dari sisi pendapatan masih kecil,” jelasnya.

Menurut Bayu, operator tidak salah menerapkan startegi dalam mengembangkan layanan data karena bertujuan mengedukasi pasar. “Masih ada ketakutan di pelanggan menggunakan GPRS itu mahal. Karena itu ditawarkan paket langganan internet hingga puluhan Mbps, padahal itu tidak akan habis dikonsumsi hingga tenggat waktu karena perilaku pemakaiaan tidak menuntut sebesar itu,” katanya.

Bayu memperkirakan, jasa data baru akan booming pada tahun depan seiring semakin masifnya produksi perangkat untuk konsumen dengan harga murah.

“Kendala selama ini adalah harga perangkat yang mahal. Saya cuma wanti-wanti operator menahan diri agar tidak terjebak di perang harga di jasa data. Jika itu terjadi, bayi ini bisa mati karena prematur,” katanya.

Menanggapi hal itu, Chief Marketing Officer Indosat Guntur S Siboro mengatakan, sangat susah bagi operator untuk berkreasi di jasa data karena sistem penagihannya sangat terbatas. “Di jasa data hanya dikenal per kilo byte atau unlimited. Beda dengan di suara yang bisa menawarkan banyak bonus,” katanya.

Sementara itu, Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi menjamin, jasa data akan didukung pengembangannya oleh regulator.

“Salah satu bentuk dukungannya adalah akan menyediakan ICT Fund bagi pembelian frekuensi. Sekarang pun kami biarkan operator berkreasi di jasa tersebut tanpa diregulasi dengan ketat. Ini karena kami ingin jasa tersebut berkembang dulu,” katanya.[dni]