110809 KNTI Minta Regulator Perhatikan Kompetisi SLI

JAKARTA—Komite Nasional Telekomunikasi Indonesia (KNTI) meminta regulator untukmemperhatikan kompetisi di jasa Sambungan langsung Internasional (SLI) sebelum memutuskan menambah pemain di sektor tersebut.

 

“Regulator jangan buru-buru berencana menambah pemain di SLI. Evaluasi dulu tiga pemain baru diputuskan untuk ada penambahan. Jika dipaksakan, pemain baru seperti Bakrie Telecom tidak bisa kembali investasinya,” ujar Ketua KNTI Srijanto Tjokrosudarmo kepada Koran Jakarta, Senin (10/8)

 

Menurut Srijanto, kebijakan regulator  di  SLI cenderung   selalu berubah-ubah. Hal itu bisa dilihat dari pernyataan Dirjen Postel ketika akan menambah satu pemain di sektor tersebut yang dimenangkan oleh Bakrie Telecom pada dua tahun lalu.

 

“Kala itu disebutkan cukup tiga pemain karena di duni internasional umumnya pemain hanya tiga. Sekarang tiba-tiba ada wacana akan ditambah. Ini seperti menguber setoran untuk penerimaan negara dari lelang lisensi,” ketusnya.
Dikatakannya, SLI sebenarnya sudah turun pamor,  tidak lagi menjadi kue yang menarik, apalagi di tengah konvergensi multimedia yang mengarah kepada IP based. Dengan adanya tiga pemain di sektor layanan tersebut, maka sebenarnya sudah ada persaingan meski masih terlalu pagi untuk melihat hasil dari kompetisi itu.

“Baiknya regulator melihat dulu kinerja ketiga pemain ini. Jika ketiga pemain ini tidak mampu melayani kapasitas pelanggan, baru dibuka keran bagi pemain lainnya,” katanya.

 

Sebelumnya, regulator berencana untuk menambah satu pemain baru di bisnis SLI tak lama lagi. Regulator berkeyakinan jika pemain ditambah maka bisnis SLI akan berbasis kepada pelanggan masing-masing sehingga  interkoneksi tidak begitu dibutuhkan.[dni]

110809 Regulator Peringatkan Operator

brtiJAKARTA—Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) akan mengeluarkan surat peringatan bagi operator telekomunikasi terkait belum keluarnya kinerja kualitas layanan kedua di situs masing-masing pelaku usaha.

“Kami akan mengeluarkan surat peringatan yang meminta operator untuk menghormati regulasi kualitas layanan. Mencantumkan kinerja itu adalah kewajiban, kenapa hingga sekarang tidak ada,” ketus Anggota BRTI Heru Sutadi kepada Koran Jakarta, Senin (10/8).

Dikatakannya, menurut regulasi operator wajib memberika laporan kinerja kualitas layanan per kuartal ke regulator dan mencantumkannya di situs masing-masing perusahaan.

“Hingga sekarang kami belum menerima laporan. Padahal, Ramadan sebentar lagi, kami khawatir jika tidak dievaluasi ada jaringan operator yang tumbang nanti,” katanya.

Secara terpisah, VP Network Operation XL Hermasyah dan juru bicara Telkomsel Suryo Hadiyanto mengaku sudah memiliki laporan kinerja kualitas layanan untuk kuartal kedua, tetapi merasa tidak wajib mengumumkan dalam situs perusahaan.

“Setahu saya itu hanya wajib diberikan ke regulator,” kata Suryo.

Sedangkan juru bicara Indosat Adita Irawati mengakui belum bisa memberikan kinerja kualitas layanan untuk kuartal kedua karena laporan keuangan untuk semester pertama belum selesai diaudit. “Rencananya akan diumumkan bersamaan dengan kinerja keuangan,” katanya.

Sebelumnya, Direktur Kebijakan dan Perlindungan Konsumen Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat Informasi (LPPMI) Kamilov Sagala meminta, laporan kinerja kualitas layanan kuartal kedua diumumkan layaknya periode sebelumnya agar masyarakat tahu operator yang konsisten memberikan layanan terbaik.

Kamilov menduga, data tersebut belum diberikan oleh operator akibat lemahnya infrastruktur BRTI dalam mengawasi sehingga akses ke operator lemah.[dni]

110809 Curi Start Agar Target Tercapai

logo xl baruRamadan belum tiba, tetapi setumpuk program pemasaran dari operator telekomunikasi menyambut datangnya bulan suci sudah diberikan ke pelanggan.

 

Hal ini tentu saja karena operator tidak ingin kehilangan momentum untuk meneruskan kinerja yang baik di kuartal kedua, selain tentunya mengoptimalkan bulan Ramadan sebagai mesin keruk keuntungan utama selama satu tahun operasional. Bulan ini biasanya berkontribusi hingga 35 hingga 40 persen pendapatan satu operator selama satu tahun.

 

Adalah PT Excelcomindo Pratama Tbk (XL) yang memulai aksi curi start tersebut dengan program Ramadan Rame dua minggu lalu. Langkah XL diikuti oleh    Axis dengan Berkah Ramadan, dan Mobile 8 yang menawarkan voucher edisi khusus Ramadan pada minggu pertama Agustus ini.

 

Umumnya tema yang diusung dalam program pemasaran adalah tarif murah untuk SMS, suara, dan data, guna mengisi ibadah puasa dan Value Added Services (VAS) yang bernuansa Islami.

 

Tak puas dengan hanya memberikan program pemasaran, XL pun menggelar aksi pengujian jaringan dengan memilih jalur lintas Batam, Lampung, Merak, Jakarta-Semarang, Semarang Surabaya, Madura.

 

“Saat Ramadan dan Lebaran trafik diperkirakan bisa naik dua kali lipat. Karena itu dari sekarang harus ditunjukkan, XL tidak hanya ingin berjualan, tetapi juga memberikan layanan yang berkualitas,” ujar Presiden Direktur XL Hasnul Suhaimi kepada Koran Jakarta, Senin (10/8).

 

Berdasarkan catatan, trafik percakapan XL saat ini mencapai  hingga 635 juta panggilan  dengan total menit sebesar 560 juta menit. Sementara itu, untuk trafik SMS adalah 150 juta SMS  dan trafik data sebesar 1,45 Terabytes.

 

Saat ini XL  diperkuat lebih dari 18 ribu  BTS 2G dan 3G yang didukung serat  optik  membentang di sepanjang pulau Jawa dan tersambung melalui jaringan kabel bawah laut ke Pulau Sumatra, Batam, Kalimantan, dan Sulawesi guna melayani 24,7 juta pelanggan.

 

Diprediksinya, wilayah yang akan mengalami kenaikan trafik paling besar adalah Jawa Timur dan Jawa Tengah dimana migrasi penduduk dari Jabotabek akan mencapai 30 persen menuju dua wilayah tersebut.

                                                                               

“Saat ini saja di wilayah Jawa Timur jumlah percakapan mencapai 9 juta erlang. Hebatnya, 40 persen datangnya dari Madura yang memiliki 385 ribu pelanggan. Karena itu tim kami fokus uji jaringan ke wilayah tersebut,” katanya.

 

Hasnul mengharapkan, dengan aksi mendahului dua incumbent menawarkan program Ramadan mampu menaikkan jumlah pelanggan pada akhir tahun mencapai 30 juta nomor dan menjaga performa keuangan yang membaik selama kuartal kedua.

 

Sementara itu, Chief Marketing Officer Axis Johan Buse, mengatakan, Ramadan tahun ini sebagai ujian berat bagi perusahaannya karena mulai melayani sekitar lima juta pelanggan yang tersebar di Jawa dan Sumatera. “Kami memiliki 3.700 BTS. Kapasitas masih mampu untuk meladeni kebutuhan komunikasi pelanggan meskipun paket pemasaran ditawarkan,” katanya.

 

Secara terpisah, Chief Marketing Officer Indosat Guntur S Siboro mengaku tidak begitu optimistis dengan kontribusi Ramadan nantinya bagi pendapatan operator.

 

“Kuartal ketiga ini sangat tergantung dengan  kondisi makro ekonomi pada saat Ramadan. Kalau situasi ekonomi tidak baik maka extra income waktu Ramadhan (THR) akan lebih rendah akibat   banyak orang yang sedang tidak bekerja,” katanya.

 

Guntur mengungkapkan, pada Ramadan dua tahun lalu  pengeluaran masyarakat meningkat   40 hingga 50 persen untuk konsumsi telekomunikasi dibandingkan bulan biasa. Namun, pada tahun lalu  pengeluaran hanya naik  10 hingga 20 persen.

 

“Kalau melihat kondisi ekonomi saat ini banyak analis yang memperkirakan pengeluaran untuk Ramadan ini hanyalah single digit,” katanya.

 

VP Public And Marketing Communication Telkom Eddy Kurnia mengatakan, jika melihat kondisi makro ekonomi yang mulai membaik, maka bulan Ramadan akan ikut memberikan berkahnya bagi Telkom.

 

“Kami melihat kondisi bursa dan pesta demokrasi yang sukses. Bagi Telkom ini sinyal Ramdan ini akan penuh berkah. Tentunya prediksi pertumbuhan tidak semelonjak masa jaya, tetapi akan sama dengan industri,” katanya.[dni]

110809 Kinerja Kuartal II: Merasakan Kembali Pesta

grafik-lontDua operator telekomunikasi awal pekan ini mengumumkan kinerjanya selama kuartal kedua 2009. Kedua operator itu adalah PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) dan PT Excelcomindo Pratama Tbk (XL).

Kinerja dari kedua operator tersebut selama kuartal kedua tahun ini bisa dikatakan sebagai cerminan dari kondisi industri telekomunikasi yang kembali merasakan pesta setelah keluarnya kebijakan penurunan biaya interkoneksi setahun lalu dan munculnya krisis ekonomi menjelang tutup tahun 2008.

Telkom pada kuartal kedua tercatat membukukan laba bersih sebesar 2,46 triliun rupiah atau naik 45,9 persen jika dibandingkan kuartal pertama  sebesar 3,95 triliun rupiah. Namun, jika dipotret kinerja semester pertama secara tahun ke tahun (Year on Year), maka Telkom bisa dikatakan baru memulai pesta kecil-kecilan.  

 

Hal itu terlihat dari pendapatan usaha pada semester pertama hanya sebesar 30.673 miliar rupiah atau hanya naik  1,5 persen jika  dibandingkan  periode sama tahun lalu  sebesar 30.211 miliar rupiah. 

 

Anak usaha Telkom, Telkomsel, hanya mampu membukukan pendapatan sebesar  1.349 miliar rupiah  atau naik 11,1 persen  dibandingkan periode sebelumnya. Padahal Minute of Usage (MOU) dari operator tersebut melonjak sebesar 112 persen dari 32,1 miliar menit menjadi   68,1 miliar menit akibat meningkatnya jumlah pelanggan  sebesar 45 persen dari  52,443  mejadi 76,014 juta nomor. Namun, fenomena tersebut tidak mampu menahan laju turunnya Average Revenue Per Users (ARPU) sebesar  25 persen dari 63 ribu menjadi 47 ribu rupiah.

 

Kabar menggembirakan dari Telkom adalah konsistennya layanan  data, internet, dan teknologi Informatika berkontribusi bagi perseroan karena pelanggannya mengalami kenaikan sebesar 107 persen dari 393 ribu menjadi 816 ribu pelanggan sehingga menghasilkan pendapatan sebesar   497 miliar rupiah.

Sementara XL mencatat pendapatan pada semester pertama  6.254 triliun rupiah atau meningkat   7 persen  dibandingkan dengan periode yang sama sebelumnya. Sedangkan  laba bersih XL naik 12 persen dari tahun sebelumnya menjadi  706 miliar rupiah.

Dari sisi jumlah pelanggan terjadi peningkatan sebesar  8 persen dibandingkan  tahun sebelumnya menjadi 24,7 juta pelanggan, yang disertai dengan kenaikan 9 persen pada jumlah pelanggan prepaid revenue generating subscriber base (prepaid RGB), yaitu dari 19,9 juta pelanggan di semester pertama 2008  menjadi 21,8 juta di semester pertama 2009.

Keseimbangan Baru

Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah mengatakan, kinerja perseroan yang menunjukkan performa menggembirakan jika dilihat  per kuartal menunjukkan manajemen secara operasional dan fundammental mampu meningkatkan kapasitas dan kualitas alat produksi,  meskipun tarif pada semester pertama 2009 secara signifikan lebih rendah dibandingkan periode sama tahun lalu.

 

“Penurunan biaya interkoneksi memang menurunkan pendapatan perusahaan. Tetapi sekarang sudah mulai mendapatkan keseimbangan baru. Apalagi nilai tukar rupiah mulai menguat,” katanya di Jakarta, Senin (10/8)

 

Berdasarkan catatan, pada semester pertama 2009 pendapatan Telkom dari interkoneksi  hanya  548 miliar atau turun 12,5 persen ketimbang periode sama tahun lalu. 

Presiden Direktur XL Hasnul Suhaimi mengungkapkan, kinerja yang menggembirakan karena keberhasilan menyeimbangkan sistem pentarifan dan kapasitas jaringan yang dimiliki. 

“Pada kuartal kedua seolah-olah tidak ada krisis ekonomi di masyarakat sehingga konsumsi berkomunikasi tetap eksponensial,” katanya.

Menurut Hasnul, kegiatan pesta demokrasi seperti pemilihan presiden dan anggota legislatif, serta libur anak sekolah berhasil meningkatkan trafik  XL sehingga pendapatan mencapai dobel digit.

Sementara itu, Chief Marketing Officer Indosat Guntur S Siboro mengungkapkan, kinerja operator secara industri sebenarnya belum kembali seperti masa keemasan layaknya dua tahun lalu.

“Pesta demokrasi itu tidak ada apa-apanya meningkatkan pendapatan operator. Libur sekolah yang lumayan menolong,” katanya.

Guntur mengatakan, akibat krisis ekonomi menjelang tutup tahun lalu membuat sumber akuisisi pelanggan baru operator kian terbatas yakni hanya mengandalkan segmen early adopter.

“Sumber dari pembukaan area baru dan masyarakat kelas bawah terhantam krisis. Belanja modal menurun, akibatnya yang diandalkan strategi meningkatkan kapasitas. Masyarakat kelas bawah juga menahan diri untuk menggunakan uangnya,” jelasnya.

Secara terpisah, Anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi menilai, operator yang mampu menunjukkan kinerja positif selama kuartal kedua tahun ini karena mampu menjalankan strategi bersaing di industri yang kompetitif.

“Jadi, tidak benar tudingan  pada tahun lalu yang menuding regulator pemicu turunnya kinerja operator akibat regulatory cost atau biaya interkoneksi yang diturunkan. Seperti saya tegaskan dulu, operator harus mulai belajar berkompetisi secara sehat dan benar, tidak ada lagi  proteksi untuk terus mendapatkan margin tinggi,” tegasnya.

Heru menegaskan, jika masih ada operator yang selalu menyalahkan penurunan biaya interkoneksi pada tahun lalu, tidaklah tepat karena berdasarkan perhitungan masih ada ruang untuk lebih menurunkan komponen tersebut. “Tetapi itu tidak dilakukan karena regulator ingin memberikan margin tersebut bagi operator untuk reinvestasi meningkatkan kualitas layanan,” katanya.

Heru menyarankan, dalam  kompetisi yang  kian ketat operator harus menjalankan usahanya secara  efisien dan aktif   menjemput bola. Beberapa strategi yang bisa dijalankan adalah  kreatif membuka pasar baru, menciptakan ubiqitous services, dan mengembangkan  jaringan broadband dan berbasis Internet Protocol (IP).

“Membuka wilayah baru itu seperti  telur dan ayam. Pilihannya  membuka pasar di area baru atau menunggu permintaan.   Kebiasaan  menunggu permintaan  harus diganti. Bangunlah  infrastruktur, maka permintaan akan tercipta,” katanya.

 

Praktisi telematika Ventura Elisawati melihat, jika diperhatikan secara statistik dan dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, sektor telekomunikasi cenderung mengalami penurunan.

“Namun untuk pertumbuhan hingga akhir tahun ini masih dobel digit,” tegasnya.

Ventura mengungkapkan, strategi yang dikembangkan operator dalam setahun belakangan ini lebih kepada menjaga pelanggan yang dimiliki dengan tujuan meningkatkan pendapatan dari setiap pelanggan. “Alat yang digunakan adalah jasa suara dan SMS. Baru belakangan ini saja mulai di data,” katanya.

 

Menurut Ventura, sekarang ada perubahan perilaku di masyarakat dalam membeli ponsel. Masyarakat lebih melihat kemampuan data dari ponsel karena ingin browsing di situs sosial atau chatting.

 

“Sayangnya operator terjebak perang harga dalam menawarkan jasa data. Harga dibanting murah sejak pertama dikenalkan, padahal belum hype. Ini berbeda dengan suara dan SMS yang sudah menemukan hype-nya, sehingga ketika dikoreksi  masih ada margin dinikmati untuk investasi. Padahal investasi di data ini lumayan besar,” katanya.[dni]

110809 XL Kemungkinan Pinjam ke Sindikasi BNI Rp 1,5 Triliun

AKARTA —PT Excelcomindo Pratama Tbk (XL) kemungkinan akan melakuan pinjaman ke sindikasi perbankan yang dipimpin oleh  PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) sebesar 1,5 triliun rupiah.  
Angka tersebut mengalami kenaikan dari rencana sebelumnya 1,25 triliun rupiah. Padahal, BNI telah memberikan sinyal mampu memberikan pinjaman bagi operator ketiga terbesar itu pinjaman hingga dua triliun rupiah.

 

“Kajian yang kami lakukan sekarang ini  pinjaman bisa mencapai 1,5 triliun rupiah. Tetapi angkanya bisa berubah mengingat proses ini cukup panjang. Penutupannya baru pada September atau Oktober nanti,” ungkap   Presiden Direktur PT Excelcomindo Pratama Tbk Hasnul Suhaimi kepada Koran Jakarta, Senin (10/8). 

Hasnul menuturkan, dengan dukungan pinjaman dari sindikasi perbankan, maka keperluan belanja modal perseroan tahun ini sebesar 600 juta dollar AS sudah terpenuhi. “Kebutuhan capex sudah ada semuanya. Sebenarnya kita sudah punya dana sisa tahun lalu 300 juta dollar AS. Jadi, tinggal mencari setengahnya lagi saja, makanya bisa terpenuhi,” jelasnya.
 

Berkaitan dengan kinerja perseroan selama semester pertama tahun ini, Hasnul mengungkapkan, terjadi  pertumbuhan positif dimana pendapatan usaha mencapai 6.254 triliun rupiah atau meningkat sebesar  7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

 

Laba bersih XL juga mengalami peningkatan sebesar  12 persen  dari tahun sebelumnya menjadi 706 miliar rupiah. Sedangkan EBITDA sebesar  .2.568  triliun rupiah atau turn satu persen jika dibandingkan dengan periode sama tahun lalu.  Namun  EBITDA marjin masih mampu diraih  sebesar 41 persen

 

Menurut Hasnul, pertumbuhan positif  didorong  penggunaan suara yang naik 113 persen dan SMS naik sebesar 170 persen dibandingkan dengan periode sama tahun lalu.

 

Sedangkan pendapatan dari Value Added Services (VAS) dan data services pun juga mengalami lonjakan masing-masing sebesar 46 persen  dan 200 persen.  

 

Berdasarkan catatan, trafik percakapan XL saat ini mencapai  hingga 635 juta panggilan dengan total menit sebesar 560 juta menit. Sementara itu, untuk trafik SMS adalah 150 juta SMS  dan trafik data sebesar 1,45 Terabytes.

 

Saat ini XL  diperkuat lebih dari 18.128 ribu  BTS 2G dan 1.840 BTS 3G yang didukung serat  optik  membentang di sepanjang pulau Jawa dan tersambung melalui jaringan kabel bawah laut ke Pulau Sumatra, Batam, Kalimantan, dan Sulawesi guna melayani 24,7 juta pelanggan.[dni]