060809 Operator Minta Tinjau Ulang Harga Frekeunsi 3G

menara-lagiAwal pekan ini dua konsorsium TV digital berbasis penerimaan bergerak (mobile TV)  telah mulai mengujicobakan layanannya di wilayah Jabodetabek.

Dua konsorsium tersebut adalah Telkom-Telkomsel-Indonusa dan Tren Mobile TV. Mobile TV sendiri berjalan dengan memanfaatkan teknologi Digital Video Broadcast-Handheld (DVB-H) yang memungkinkan siaran TV digital dapat dinikmati melalui ponsel.

Sistem DVB-H ini pada dasarnya bertujuan meningkatkan kemampuan penerimaan sinyal sehingga kondisi penerima yang sedang bergerak tidak mengalami gangguan.

Disinilah letak perbedaannya dengan teknologi Mobile TV yang diusung teknologi 3G dimana kualitas tergantung pada sinyal yang diterima atau TV analog yang banyak ditanamkan pada ponsel China.  Saat ini ponsel yang mendukung DVB-H adalah keluaran Nokia, Samsung, LG, Philips, Gigabyte (G-smart), Sagem, dan ZTE.

Direktur Infokom Elektrindo Susilo H Sumarsono dari Konsorsium Tren Mobile TV mengungkapkan, jika saat ujicoba selesai dan regulasi sudah tersedia, diperkirakan komersialisasi bisa dilakukan kuartal pertama tahun depan.

Berdasarkan catatan, uji coba diperkirakan selesai pada bulan depan atau Oktober, dan regulasi selesai pada November. Setelah itu lisensi akan ditender pada Desember 2009.
Diungkapkan Susilo, guna melakukan uji coba konsorsium mengeluarkan dana sebesar satu juta dollar AS. Sedangkan untuk komersialisasi di kawasan Jabotabek dibutuhkan dana 10 juta dollar AS.
“Jika investasi sebesar itu maka skala ekonomi yang dibutuhkan adalah 300 ribu pelanggan dengan biaya berlangganan sebesar 50 ribu rupiah untuk 10 saluran yang digunakan” katanya di Jakarta, belum lama ini.

Sedangkan untuk penyediaan perangkat bagi konsumen dikaji antara membundel dalam satu layanan atau dijual terpisah. “Di luar negeri ada yang membundel ponsel, mobile TV, dan akses data. Nah, soal ini perlu dipelajari dulu,” katanya.

Senada dengan Susilo, Direktur Utama Indonusa, Rahardi Arsyad mengaku, akan mengenakan biaya tak jauh beda dengan pesaingnya. “Bedanya kami tidak butuh investasi besar karena Telkom grup sudah memiliki semua infrastruktur. Inilah yang membuat selama uji coba tidak perlu keluar dana besar,” katanya.

Menkominfo Muhammad Nuh menegaskan, konsorsium yang diberi lisensi uji coba tidak otomatis mendapatkan izin. “Jika konsorsium gagal dalam uji coba pemerintah akan menggantinya dengan konsorsium atau perusahaan lain,” katanya.

Culture Broadband

Direktur Jaringan Telkom Ermady Dahlan menjelaskan, bagi perusahaan sekelas Telkom yang telah memiliki unit bisnis dan infrastruktur lengkap untuk menjalankan mobile TV ini adalah jalan untuk bertransformasi dari nature broadband menjadi culture  broadband.

Nature broadband adalah operator yang hanya memanfaatkan jaringan tersedia tanpa berinteraksi dengan pelanggan. Sedangkan culture broadband tidak lagi berbicara pemanfaatan jaringan, tetapi interaksi dengan pelanggan dan kreatif dalam menggunakan bandwitdh.

“Telkom grup sebagai perusahaan besar harus memiliki teknologi. Begitu juga dengan IPTV. Dua teknologi ini tidak saling mematikan, tetapi melengkapi. Hal ini karena regulasi menentukan IPTV berjalan di kabel dan mobile TV untuk wireless. Selain itu   IPTV lebih interaktif karena adanya fasilitas video on demand,” katanya.

Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah menambahkan,  Telkom berjanji menjadikan mobile TV  sebagai bagian dari konten agregator. “Industri kreatif nantinya ditampung di sini,” katanya.

Dirjen Postel Basuki Yusuf Iskandar mengatakan, munculnya mobile TV juga menandakan era konvergensi antara penyiaran dan telekomunikasi tidak dapat dihindarkan lagi.

“Teknologi ini mampu mengatasi banyaknya kapasitas jaringan operator yang idle. Tren seperti ini harus diantisipasi secara holistik dengan regulasi konvergensi yang menyatukan ranah telekomunikasi dan penyiaran,” katanya.

Basuki mengatakan,  untuk mengadopsi perkembangan teknologi pada tahap sekarang baru bisa melakukan terobosan regulasi berupa membuat peraturan menteri. “Di Mobile TV pun masing-masing lembaga seperti Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) atau Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) menjalankan fungsi masing-masing,” katanya.

Dikatakannya, BRTI akan mengawasi masalah alokasi frekuensi, sedangkan KPI pada konten penyiaran. “Sebagai ketua BRTI saya sedang mengaji penarikan biaya frekuensi untuk teknologi ini berbasis pita,” katanya.

Sedangkan Dirjen SKDI Freddy Tulung mengatakan, regulasi tentang mobile TV ini beberapa akan mirip dengan TV digital melalui free to air. “Walaupun mirip tetapi kami memisahkan kedua regulasi ini agar tidak terjadi overlap,” katanya.

Dikatakannya, implementasi mobile TV ini akan ikut mengubah lanskap bisnis penyiaran karena stasiun TV tidak bisa lagi menguasai bisnis dari hulu hingga ke hilir. “Tidak ada lagi itu namanya stasiun TV menguasai jaringan hingga konten agregator. Nah, masing-masing unit bisnis baru ini yang akan diatur dalam regulasi nantinya,” katanya.

Menurut Freddy, dalam regulasi yang akan dibuat nantinya akan mengurusi  lembaga penyedia konten, lembaga penyiaran, multiplexing, dan transmitting.

Berkaitan dengan pemberian lisensi, Freddy mengatakan, sedang mengaji akankah berupa tender melalui beauty contest atau price taking. “Ini belum bisa dipastikan. Namun, dua konsorsium ini memiliki keuntungan mereka sudah menguji secara teknis, tentu itu akan menjadi pertimbangan,” jelasnya.

Menanggapi hal itu,  Chief Marketing Office Indosat Guntur S Siboro mengakui  operator DVB-H akan membutuhkan operator seluler, terutama dalam masalah sistem penagihan   karena pemain seluler  sudah memiliki  sistem charging prepaid. “Itulah kenapa Tren Mobile menggandeng Indosat sebagai saluran distribusi,” katanya.

Berdasarkan paparan Tren Mobile, Indosat tidak hanya digandeng dalam masalah penagihan tetapi juga untuk merumuskan model bisnis yang akan diusung oleh konsorsium nantinya.

Sementara Ermady meminta, pemerintah dalam mengeluarkan regulasi terkait Mobile TV tidak memasung unsur kreatifitas dan peluang yang bisa digarap. “Jika mau mengatur masalah SARA, kita tidak keberatan,” katanya.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s