060809 Hambatan Bagi Sejuta Asa

Layanan TV digital berbasis penerimaan bergerak (mobile TV) di Indonesia baru masuk dalam tahap uji coba. Sejuta asa pun disematkan bagi teknologi ini, terutama dalam kemampuannya mendorong industri kreatif di Indonesia.

“Mobile TV ini bertujuan untuk mendorong industri kreatif. Jadikan ini sebagai wadah agar konten lokal menjadi tuan rumah di negeri sendiri,” harap Menkominfo Muhammad Nuh di Jakarta, belum lama ini.

Besarnya harapan Nuh pada teknologi tersebut membantu industri kreatiflah sehingga muncul kesan menafikan masalah Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) dalam menyelenggarakan layanan tersebut.

Lihat saja, dalam penyediaan perangkat bagi konsumen. Entah kenapa regulator tidak menerapkan layaknya di Broadband Wireless Access (BWA) dimana Customer Premises Equipment (CPE) harus memiliki TKDN sebesar 30 persen.

“Layanan mobile TV memang berhasil dikembangkan di Korea Selatan dan Jepang berkat dukungan konten lokal yang sudah siap. Tetapi untuk Indonesia, saya rasa pemain konten belum siap,” ungkap praktisi telematika Michael S Sunggiardi kepada Koran Jakarta, Rabu (5/8).

Menurut Michael, jika mobile TV ingin sukses syarat mutlak yang harus dijalankan operatornya adalah harga berlangganan yang murah, ketersediaan infrastruktur, dan konten yang menarik.

“Masalah harga itu sangat penting karena masyarakat Indonesia itu sensitif harga. Dan untuk infrastruktur, jika bisa murah akan menjadi daya tarik bagi penyedia konten,” katanya.

Presiden Direktur Benang Komunika Iqbal Farabi menyarankan, harga yang dibanderol oleh konsorsium dalam berlangganan lebih murah ketimbang rencana bisnis yang diutarakannya yakni 50 rubu rupiah per bulan.

“Average revenue per user (ARPU) saja sekarang di bawah 50 ribu rupiah, pakai logika sajalah. Sebaiknya menggunakan sistem berlangganan per stasiun TV saja dengan harga yang lebih terjangkau,” katanya.

Iqbal memperkirakan, industri konten lokal untuk tahap pertama hanya akan bermain di iklan SMS, musik atau mobile advertising dalam layanan mobile TV hal ini mengingat investasi untuk mengembangkan konten TV lumayan besar.

“Teknologi ini baru akan berkembang tiga tahun lagi. Pemain konten tidak mungkin jor-joran berinvestasi sekarang karena titik impas saja belum ketahuan. Apalagi dukungan pemodalan dari pemerintah bagi pemain konten juga minim,” katanya.

Sementara itu, Chief Marketing Officer Indosat Guntur S Siboro justru menyoroti masalah daya tahan baterai dari ponsel yang akan menjalankan mobile TV. ”Setahu saya baterainya tidak memiliki daya tahan lama. Ini akan mengurangi kenyamanan pelanggan. Apalagi, layarnya kecil. Kalau begini apa mungkin pelanggan manteng lama di ponsel,” katanya.

Berdasarkan catatat, banyak praktisi memberikan catatan tentang perangkat mobile yang menggunakan baterai sehingga perlu dikembangkan teknologi untuk dapat mengantisipasi masalah daya baterai.

Para pengusung standar DVB-H belum lama ini memperkenalkan teknologi time-slicing yang memungkinkan mengatur setiap konten layanan ditransmisikan sesuai kebutuhan sehingga perangkat penerima hanya aktif pada saat konten tersebut dipancarkan. Hal ini ditujukan untuk penghematan baterai pada perangkat mobile penerima akibat beban kerja yang terus-menerus.

Pada kesempatan lain, Product Marketing Manager Nokia Indonesia Trisnawan Tjipto mengatakan, Nokia hanya memiliki tiga varian untuk bisa digunakan menikmati mobile TV yakni N92, N77, N96 dengan banderol harga mulai tiga juta rupiah.

“Mahalnya harga handset berteknologi DVB – H karena memerlukan chip khusus untuk menangkap siaran TV yang disediakan oleh penyedia layanan konten mobile TV,” katanya.

Sementara Direktur Jaringan Telkom Ermady Dahlan mengatakan, masalah perangkat untuk konsumen tidak perlu dikhawatirkan jika skala ekonomi telah tercapai. “Selain itu kita bisa mengakali melalui Wi-Fi. Cukup terkoneksi dengan Wi_Fi bisa menikmati mobile TV,” katanya.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s