050809 Pencarian Dihentikan Sementara

JAKARTA— Manajemen Merpati Nusantara Airlines (MNA) terpaksa menghentikan sementara pencarian  pesawat Twin Otter miliknya  yang hilang sejak Minggu (2/8) di wilayah Amisibil, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua.

“Pencarian terpaksa dihentikan sekitar jam 12.00 WIT karena cuaca yang tidak mendukung. Pencarian akan dilanjutkan besok pagi,” ujar GM Sekretaris Perusahaan Merpati Sukandi kepada Koran Jakarta, Selasa (4/8).

Dikatakannya, pencarian akan difokuskan di   wilayah Ambisibil, Papua, sesuai penglihatan dari  pilot pesawat Associated Mission Aviation (AMA), Erich Douglas yang mengaku melihat dari kejauhan badan pesawat Merpati naas tersebut  sekitar Pkl.06.25 WIT.

“Begitu mendengar kabar tersebut kami langsung menerbangkan helikopter untuk memastikan keberadaan pesawat. Namun, karena awan terlalu gelap, helikpter susah bermunuver, hingga terpaksa kembali ke bandara,” katanya.

Padahal, lanjutnya, jika cuaca memungkinkan,  Tim SAR beranggotakan 30 orang yang sudah menaiki Helikopter Kamov siap diterjunkan untuk mencari para korban.

“Karena tidak tahu kondisi di lapangan, saya tidak berani memastikan nasib para korban. Kita berdoa saja yang terbaik besok,” katanya.[dni]

050809 Q4, XL Lakukan Right Issue US$ 300 juta

logo xl baruJAKARTA–PT Excelcomindo Pratama, Tbk (XL) akan merealisasikan rencananya untuk menjalankan right issue pada kuartal keempat tahun ini senilai 300 juta dollar AS.

“Tanggal tepatnya menunggu persetujuan dari  Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang akan diadakan dalam tahun ini,” ungkap Presdir XL Hasnul Suhaimi melalui keterangan tertulisnya di Jakarta, Selasa (4/8).

Dikatakannya, pemegang saham utama XL yaitu Axiata Group Berhad dan Emirates Telecommunications Corporation International Indonesia Ltd. telah setuju untuk menggunakan haknya.

Dijelaskannya, right Issue sebesar  300 juta dollar AS  akan terdiri dari ekuitas dan Mandatory Convertible Notes (MCN). Jumlah ekuitas dan MCN, harga saham dan nilai konversi atas MCN akan ditentukan kemudian.

“Seluruh hasil dari Right Issue akan digunakan untuk membayar hutang. Ini akan mengurangi biaya bunga XL dan memperbaiki struktur modal XL sehingga memperkuat neraca XL untuk terus berinvestasi dan bertumbuh,” katanya.

President dan Group Chief Executive Officer dari Axiata Group Berhad Dato’ Sri Jamaludin Ibrahim  menegaskan, sebagai pemegang saham terbesar dari XL, memiliki komitmen yang tinggi terhadap pertumbuhan jangka panjang XL.

” Right Issue ini menunjukkan dukungan penuh Axiata bagi XL dan akan memberikan kemampuan bagi XL untuk dapat terus berinvestasi dalam bisnisnya dan  di masa yang akan datang, Axiata tetap berkomitmen untuk menambah free float ketika kondisi pasar membaik, ” katanya.

Sebelumnya, guna memperkuat belanja modal sebesar 600 juta dollar AS pada tahun ini XL mendapat sinyal dari sindikasi BNI gelontoran dana hingga 2 triliun rupiah. XL sendiri masih mengaji akankah memanfaatkan besaran pinjaman sebesar itu atau cukup sekitar 1,25 triliun rupiah.[Dni]

050809 Regulator Akan Tindak KAI Commuter Jabotabek

JAKARTA —Regulator perkeretaapian berjanji akan menindak tegas PT KAI Commuter Jabotabek mengingat seringnya terjadi insiden di wilayah layanan perusahaan tersebut.

 

“Dalam  jangka dekat ini sudah terjadi dua kali insiden yang melibatkan wilayah layanan perusahaan tersebut. Tentunya sikap tegas akan diambil oleh regulator,” tegas Direktur Jenderal Perkeretaapian Departemen Perhubungan Tundjung Inderawan di Jakarta, Selasa (4/8).

 

Tundjung dimintai pendapatnya berkaitan dengan insiden tabrakan kereta Api Pakuan Ekspress (KA 221) jurusan Jakarta-Bogor dengan kereta kelas ekonomi (KA 549) dalam  jurusan yang sama, Selasa, (4/8).

 

Dalam insiden tersebut, lebih dari 10 korban mengalami luka berat akibat kecelakaan yang terjadi di Kampung Pasir Pondok Rumput, Desa Bubulak, Kecamatan Tanah Sereal, Bogor , Jawa Barat, tersebut. Termasuk di antaranya masinis dan asisten masinis KA 221 mengalami luka parah pada bagian kaki akibat terhimpit pada bagian KA yang ringsek.

 

Dikatakan Tundjung, berdasarkan laporan yang diterimanya  KA 221 menabrak KA 549 yang sedang mogok di tikungan. Posisi KA yang mogok itu tepat di lengkungan. Indikasi awal, KA Pakuan 221 itu melanggar sinyal sehingga tidak sempat mengerem dan akhirnya menabrak dari belakang.  

 

Untuk menyelidiki kecelakaan tersebut, Ditjen Perkeretaapian telah mengutus tiga orang investigator penyidik pegawai negeri sipil (PPNS) ke lokasi kejadian.

 

Atas peristiwa ini pula, Tundjung menambahkan, pihaknya akan lebih keras untuk mengevaluasi sejauh mana standar operasi dan keselamatan dijalankan operator, termasuk kelaikan SDM dan sarana yang dioperasikan.

 

“Evaluasi itu  sebagai tindak lanjut dari  inspeksi mendadak yang pernah dilakukan belum lama ini,” katanya.  

 

Secara terpisah,  Kahumas  KA Daops I Sugeng Priyono menjelaskan, akibat tabrakan  dua KA tersebut, KA 549 mengalami anjlok. Sejumlah roda gerbong bagian belakangnya keluar dari rel. Sedangkan gerbong depan KA 221 yang menabrak, terangkat dari rel.

 

“Jumlah korban pastinya belum diketahui. Informasinya masih berkembang terus. Tetapi sebagian penumpang sudah kami evakuasi untuk melanjutkan perjalanan ke arah Bogor dengan KA lain dari Jakarta . Jadi arus dari arah Jakarta tetap lancar. Hanya yang dari arah Bogor yang tersendat,” katanya.[dni]

050809 Pertumbuhan Penjualan Ponsel Pintar Capai 15%

acer-smartphone-12-50JAKARTA–Pertumbuhan penjualan ponsel pintar (smart phone) di dunia mencapai 15 persen dalam lima tahun terakhir ini. Sedangkan di dunia saat ini tercatat 4 miliar pengguna ponsel.

“Segmen smart phone terus meningkat karena tingginya penggunaan mobile data oleh para pengguna jasa telekomunikasi,” kata Director Business Development & Strategic Partnership Smart Handheld Business Group Kama Kahar, di Jakarta, Selasa (4/8).

Dijelaskannya, saat ini sebanyak 20 persen dari total pengguna menggunakan mobile data dengan mengeluarkan biaya sebesar 50 hingga 70 dollar AS. Kelompok ini dinamakan dengan short tail.

Sementara sisanya adalah kelompok long tail yang menghabiskan dana di bawah 50 dollar AS. “Di masa depan itu jumlah kelompok short tail dan long tail akan berimbang. Ini menjadi peluang untuk menggarap smart phone,” jelasnya.

Diungkapkannya, untuk pasar Indonesia, Acer akan mulai meluncurkan sembilan  produk smart phone pada tahun ini, dimana empat diantaranya akan diluncurkan pada Agustus ini.

“Smart phone Acer akan berbasis sistem operasi windows 6.1 dan 6.5. Harganya dibanderol lima hingga 9 juta rupiah,” jelasnya.

Dikatakannya, untuk menseriusi segmen smart phone, Acer telah mengakuisisi produsen ponsel pintar dari Taiwan, ETen, sejak pertengahan tahun lalu dan diselesaikan pada awal tahun ini. “Nilai akuisisi mencapai 300 juta dollar AS. Itu bagian dari investasi pengembangan smart phone di Acer,” katanya.

Ditegaskannya, Acer tetap optimistis mampu berbicara di segmen smart phone Indonesia meskipun BlackBerry sedang berkibar di pasar lokal. 

“Kami sadar ada produk tertentu yang sedang menanjak. Tetapi, kita sudah persiapkan senjata untuk berkompetisi yakni menawarkan aplikasi yang membantu kinerja pengguna,” tukasnya.

Berdasarkan catatan, pengguna BlackBerry di Indonesia sudah mencapai 400 ribu pelanggan. Masuknya tipe Gemini yang dibanderol dengan harga dua juta rupiah diyakini akan mendongkrak penjualan perangkat milikResearch in Motion (Rim) itu.

Secara terpisah, GM LG Mobile Communications Indonesia Usun Pringgodigdo mengatakan, penjualan ponsel di Indonesia hanya bergairah di dua segmen yakni low end atau high end. 

“Bermain harus fokus di kedua segmen tersebut. Jika setengah-setengah segmen yang dibidik, bisa tidak mendapatkan apa-apa,” katanya.

Sementara itu, berdasarkan penelitian  yang dilakukan lembaga riset  iSuppli  secara global, penjualan ponsel meningkat 4,7 persen menjadi 265 juta unit pada kuartal kedua  dibandingkan kuartal pertama  tahun ini. 

Peningkatan tersebut karena penjualan yang cukup kuat terutama di wilayah Timur Tengah dan Amerika Latin.

Namun, jika dibandingkan kuartal kedua 2008, pasar global justru mengalami penurunan penjualan sekitar 15,1 persen.  

Tahun ini, penjualan diperkirakan masih akan menyusut hingga menyentuh angka 9,9 persen pada pertumbuhan year-on-year (YoY) menjadi 1,1 miliar unit. Dan, ini akan menjadi penyusutan pertama sejak delapan tahun lalu.

iSuppli memprediksi penjualan ponsel perlahan-lahan akan membaik pada kuartal ketiga nanti, diperkirakan penjualan meningkat sekitar enam persen dan merangkak naik ke 8,3 persen pada kuartal akhir tahun 2009.[Dni]

030809 Kuartal Pertama 2010, TV Digital Berbasis Mobile Dikomersialkan

JAKARTA–Konsorsium TV digital berbasis penerimaan bergerak (mobile) berjanji akan mengkomersialkan layananya pada kuartal pertama 2010.

Saat ini terdapat dua konsorsium yang mengujicobakan siaran digital untuk penerimaan bergerak (Mobile TV) di Jabodetabek yakni konsorsium Telkom-Telkomsel-Indonusa dan Tren Mobile TV.

Mobile TV menggunakan teknologi Digital Video Broadcast-Handheld (DVB-H) yang memungkinkan siaran TV digital dapat dinikmati melalui ponsel. Saat ini ponsel yang mendukung DVB-H adalah keluaran Nokia dan Samsung.

“Jika saat ujicoba selesai dan regulasi sudah tersedia, diperkirakan komersialisasi bisa dilakukan kuartal pertama,” ungkap Direktur Infokom Elektrindo Susilo H Sumarsono dari Konsorsium Tren Mobile TV di Jakarta, Senin (3/8).

Berdasarkan catatan, uji coba diperkirakan selesai pada bulan depan atau Oktober, dan regulasi selesai pada November. Setelah itu lisensi akan ditender pada Desember 2009.

Diungkapkan Susilo, guna melakukan uji coba konsorsium mengeluarkan dana sebesar satu juta dollar AS. Sedangkan untuk komersialisasi di kawasan Jabotabek dibutuhkan dana 10 juta dollar AS.

“Jika investasi sebesar itu maka skala ekonomi yang dibutuhkan adalah 300 ribu pelanggan dengan biaya berlangganan sebesar 50 ribu rupiah untuk 10 saluran yang digunakannyan” katanya.

Senada dengan Susilo, Direktur Utama Indonusa, Rahardi Arsyad mengaku, akan mengenakan biaya tak jauh beda dengan pesaingnya. “Bedanya kami tidak butuh investasi besar karena Telkom grup sudah memiliki semua infrastruktur. Inilah yang membuat selama uji coba tidak perlu keluar dana besar,” katanya.

Pada kesempatan sama, Menkominfo Muhammad Nuh menegaskan, konsorsium yang diberi lisensi uji coba tidak otomatis mendapatkan izin. “Jika konsorsium gagal dalam uji coba pemerintah akan menggantinya dengan konsorsium atau perusahaan lain,” katanya.

Nuh mengatakan, Mobile TV adalah sarana untuk mengembangkan konten lokal dan memberikan kemudahan bagi pelanggan. “Ini juga membuat Indonesia tercatat sebagai salah satu implementasi teknologi terbaru ini di dunia,” katanya.

Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah menambahkan, bagi perusahaan sekelas Telkom dijadikan sebagai bagian dari konten agregator. “Industri kreatif nantinya ditampung di sini,” katanya.[Dni]

040809 KNKT Mulai Invetarisasi Dokumentasi Pesawat Merpati yang Hilang

JAKARTA—Tim SAR Gabungan Jayapura terus berupaya melakukan pencarian terhadap pesawat Merpati yang hilang pada Minggu, 2 Agustus 2009, di Papua. Senin (3/8).

Tim yang dipimpin Komandan Lanud Jayapura Kolonel Penerbang Suwandi menyiapkan sedikitnya lima unit pesawat untuk mencari keberadaan pesawat yang membawa 13 penumpang dan tiga awak tersebut.

Kelima pesawat yang disiapkan Tim SAR itu antara lain satu unit pesawat jenis Cassa milik TNI AU, Cessna milik orgnisasi misionaris MAF, Twin Otter milik Merpati, serta dua Pilatus milik maskapai penrbangan swasta.

”Jika cuaca bagus, kelimanya akan diterbangkan mencari pesawat Merpati yang hilang itu. Ada 15 orang Tim SAR itu akan dilibatkan,” jelas Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Tatang Kurniadi di Jakarta, Senin (3/8).

Tatang menambahkan, korodinat lokasi yang akan menjadi fokus pencarian Tim SAR dengan kelima pesawat tersebut adalah 04.15.30 S/14.02.500 E, 04.55.00 S/14.02.500 E, 04.15.00 S/14.04.700 E, 04.15.00 S/14.04.800 E.

”Keempat koordinat itu merupakan wilayah pegunungan, masih sekitar kawasan Oksibil,” katanya.

Menurut perhitungan yang didasari pada konsumsi bahan bakar pesawat, lanjut Tatang, koordinat tersebut diindikasikan menjadi area yang akan menjadi jarak tempuh maksimal pesawat.

Dijelaskan, pesawat bernomor registrasi PK-NVC itu membawa bahan bakar untuk penerbangan selama 2 jam 49 menit. Sedangkan jarak tempuh antara Jayapura-Oksibil hanya 55 menit.

”Menurut perhitungan, jika tepat waktu tiba di Oksibil, pesawat masih punya sisa fuel untuk terbang berputar-putar selama 1 jam 54 menit. Setelah ditunggu sampai waktu persediaan fuel itu habis dan pesawat tak juga tiba, maka status pesawat masuk pada kategori harus dicari,” paparnya.

Tatang menegaskan, hingga sekarang belum ada kepastian pesawat tersebut terjatuh atau benar-benar hilang.

”Kita berharap yang terjadi bukan kecelakaan, tetapi pesawat mendarat darurat di suatu tempat.” katanya.

KNKT sendiri, lanjut Tatang, telah mengutus seorang investigator bernama Nobertus yang berdomisili di Sentani, Jayapura, untuk bergabung dengan Tim SAR.
”Keberadaannya di sana untuk melakukan inventarisasi awal, minimal membuat potret dokumentasi pesawat jika keberadaannya sudah ditemukan. Kalau investigasi untuk mencari penyebab hilangnya pesawat ini, akan kami lakukan nanti setelah pesawat ditemukan. Fokus sekarang masih pada pencarian oleh Tim SAR,” jelas Tatang.

Secara terpisah, Sekretaris Perusahaan Merpati Nusantara Airlines (MNA) Sukandi menjelaskan, akibat kondisi cuaca yang kurang bersahabat, hingga Senin Siang WIB, baru empat pesawat yang diterbangkan untuk mencari pesawat dengan nomor penerbangan MZ 9760 itu. ”Pencarian dilakukan sejak pukul 06.00 waktu setempat,” jelasnya.

Sukandi menambahkan, memfasilitasi penyebaran informasi terkini atas peristiwa tersebut, pihaknya tetap mengoptimalisasikan Crisis Center yang berada di kantor pusat Merpati di Kemayoran, Jakarta Pusat. ”Crisis Center itu untuk memberikan informasi sejelas-jelasnya bagi keluarga dan relasi penumpang pesawat kami. Tetapi hingga saat ini, belum ada pihak keluarga yang menghubungi kami,” pungkasnya.

Pesawat Merpati PK NVC dengan nomor penerbangan MZ 9760 D itu hilang kontak sekitar 20 menit setelah lepas landas dari Bandara Sentani, Jayapura. Pesawat hilang dalam penerbangan dari Jayapura menuju Oksibil. Posisi pesawat terakhir terdeteksi di 40 nautical mile, di atas kawasan pegunungan dan lembah pada ketinggian 9500 kaki. ”Pada posisi tersebut, kapten pilot sempat melakukan komunikasi dengan menara. Setelah itu hilang kontak, mulai pukul 01.30 WIT sampai saat ini,” ujar Kepala Pusat Komunikasi Publik Departemen Perhubungan Bambang S Ervan.

Dipaparkan Bambang, pesawat meninggalkan Bandara Sentani Jayapura pada pukul 11.10 WIT dan dijadwalkan tiba di Bandara Oksibil 55 menit kemudian. Pesawat yang diawaki Pilot Capt. Qadrainova dan kopilot Pramudya, serta teknisi (Engineering On Board/EOB) Supiadih, tersebut mengangkut 11 penumpang dewasa dan 2 bayi.

”Informasi petugas tower Oksibil, saat itu cuaca sangat cerah dengan jarak pandang mencapai 12 KM. Di sana sudah banyak pesawat yang mendarat. Tetapi hanya pesawat Mepati itu yang belum tiba sesuai jadwal,” jelasnya.

Pada kesempatan lain, Dirjen Perhubungan Udara Herry Bakti S Gumay menjelaskan, pihaknya akan melakukan evaluasi secara menyeluruh terkait hilangnya pesawat milik Merpati.

Evaluasi tersebut di antaranya meliputi fasilitas penerbangan, prosedur operasi standar (SOP) maskapai dan awak, serta sistem manajemen operator bersangkutan.

”Semua akan kita evaluasi. Untuk menyelidiki ini, kita telah mengutus dua orang inspektor dari Direktorat Kelaikan Udara dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKUPPU) untuk bekerja sama dengan investigator KNKT (Komite Nasional Keselamatan Transportasi) ,” jelasnya.

Diungkapkannya, kondisi pesawat Merpati yang hilang tersebut dalam kondisi laik terbang. Pesawat diregistrasi dan mulai dioperasikan di Indonesia oleh Merpati sejak 2006, dengan kode registrasi PK-NVC. ”Masa berlaku izin operasinya masih panjang, sampai 2011,” tambah Herry.

Selain pesawat, pilot Capt. Qadrainova merupakan pilot yang tergolong cukup berpengalaman dengan pengalaman terbang mencapai 6000 jam. Sedangkan kopilot Pramudya, sebanyak 2000 jam.

Qadrainova, jelas Herry, juga terbilang cukup menguasai rute penerbangan di kawasan Papua, dan familiar dengan kontur rute yang dilaluinya.

”Pilot Qadrainova sudah sejak 2005 menerbangkan pesawat di Papua, jadi cukup berpengalaman dengan wilayah di sana,” jelasnya.

Ditanya tentang kemungkinan penyebab hilangnya pesawat, Herry Bakti mengaku belum dapat menjelaskan, mengingat belum ditemukannya pesawat tersebut. ”Kalau bicara cuaca, belum tentu juga. Karena informasi terakhir yang diterima, cuaca di rute itu sangat cerah. Sebagai bukti, pesawat Susi Air yang lepas landas setelahnya, bisa tiba lebih dulu di Oksibil dengan selamat. Segala kemungkinan kita akan evaluasi nanti setelah pesawat ditemukan,” kata Herry.

Menurutnya, pesawat Susi Air yang dikatakannya itu adalah pesawat terakhir yang terbang pada rute sama, dari Sentani menuju Oksibil. Pesawat Susi Air itu lepas landas dari Sentani antara 15-20 menit setelah Merpati PK-NVC mengudara.

”Tetapi, pesawat Susi Air itu sampai lebih dulu. Sedangkan Merpati malah tidak kelihatan sampai sekarang. Ini adalah penerbangan kedua pesawat yang hilang itu di hari itu untuk rute yang sama,” tuturnya.

Herry Bakti mengungkapkan, jalur penerbangan wilayah Papua yang dipenuhi pegunungan, merupakan jalur yang paling rawan di Indonesia.

Di wilayah yang kondisi cuacanya kerap berubah-ubah secara mendadak itu pula kecelakaan penerbangan sering terjadi.

Direktorat Perhubungan Udara saat ini sudah menginventarisasi rute-rute penerbangan tetap yang dimiliki operator penerbangan yang beroperasi di wilayah tersebut.

Inventarisasi itu, menurut Herry Bakti, merupakan bagian dari evaluasi untuk menerbitkan standar khusus penerbangan di Papua dalam rangka peningkatan mutu keselamatan penerbangan.

Ke depan, setelah dievaluasi, jalur-jalur penerbangan yang telah ada itu dibakukan sebagai rute induk tetap yang akan menjadi acuan maskapai.

”Hingga saat ini sedikitnya sudah 30 rute komersial yang kita inventarisasi dari sejumlah operator. Kita masih kumpulkan lagi rute-rute lainnya,” sambung Herry.

Selain rute penerbangan, Herry menambahkan, pihaknya saat ini juga tengah mengkaji rencana kebijakan pemasangan alat pemantau pergerakkan dan posisi pesawat udara (Flight Following Monitor/FFM). Perangkat yang terkoneksi dengan satelit itu memiliki kemampuan mengikuti aktivitas pesawat secara aktual.

”Jadi, dengan alat ini (FFM), ke mana pun pesawat bergerak dan telah singgah di manapun bisa terpantau langsung. Satu-satunya maskapai yang sudah mengadopsi perangkat ini adalah maskapai Susi Air,” paparnya.

Pada kondisi seperti yang dialami pesawat Merpati saat ini, setidaknya alat tersebut bisa dimanfaatkan untuk membantu memudahkan proses pencarian. Meskipun pesawat Twin Otter DHC-6 yang digunakan merpati itu sendiri telah dilengkapi Emergency Locator Beacon (ELBA).

ELBA adalah alat pengirim sinyal darurat yang dipasangkan pada setiap pesawat, yang bekerja ketika pesawat mengalami benturan keras maupun terjatuh ke dalam air.

Selain flight following monitor, dia menambahkan, akan dikaji pula kemungkinan menerapkan aturan pemasangan perangkat kotak hitam (black box) secara utuh, yang terdiri dari Flight Data Recorder (FDR) dan Cockpit Voice Recorder (CVR).

”Kalau yang hilang ini hanya dilengkapi CVR, FDR-nya tidak ada. Ke depan, mungkin akan kita rekomendasikan pemasangan FDR untuk memudahkan penyelidikan,” kata Herry.[Dni]