300709 Registrasi Prabayar: Lagu Lama yang Kembali Didendangkan

Ledakan bom yang melanda Kota Jakarta belum lama ini kembali menyentakkan banyak pihak tentang perlunya meningkatkan kewaspadaan dan antisipasi terorisme.

 

Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo) pun tak ketinggalan dengan kembali menghimbau operator telekomunikasi menjalankan   Peraturan Menteri  Komunikasi dan Informasi No.23/M.KOMINFO/10/2005 tentang Registrasi Terhadap Pelanggan Jasa Telekomunikasi. 

 

Hal ini tak bisa dilepaskan dengan kembali munculnya fenomena teror bom melalui telepon seluler baik oleh orang iseng ataupun teroris.  ”Pihak kepolisian mengeluh karena dari temuan di lapangan para peneror itu menggunakan nomor prabayar yang diregistrasi dengan asal-asalan. Ini bukti program registrasi belum serius dijalankan oleh operator,” ujar juru bicara Depkominfo Gatot S Dewo Broto kepada Koran Jakarta, Rabu (29/7).

 

Menurut Gatot, masih munculnya penyalahgunaan nomor prabayar tak bisa dilepaskan dari lambannya proses validasi yang dilakukan para operator.“Kami akan melakukan inspeksi mendadak dan mempublikasikan kepada masyarakat umum tentang hasil-hasil temuannya sebagaimana yang pernah dilakukan tahun lalu,” ancamnya.

 

Gatot mengakui, berdasarkan temuan awal  banyak pelanggan prabayar yang memasukkan identitas secara sembarangan dan bisa mengaktifkan nomor baru tersebut. Hal ini karena proses verifikasi dan validasi hanya dilakukan secara random atau acak dengan jumlah yang tidak signifikan.

 

”Metode tersebut tidak akan menyelesaikan program verifikasi dan validasi sampai kapan pun,” tegasnya.

 

Gatot menyarankan, operator untuk meniru pola pengaktifan yang dilakukan di Singapura dimana  pengecer dalam kategori lapak   memiliki kedisiplinan dalam menjalankan registrasi prabayar.

 

”Di Singapura operatornya memiliki aturan tegas kepada para penjual yang tidak menjalankan registrasi dengan benar. Di Indonesia karena jalur distribusi terlalu panjang, akhirnya operator tidak bisa mengontrol hingga ke lapak-lapak kaki lima,” katanya.

 

Sudah Serius   

Menanggapi hal itu, Wakil Direktur Utama Bidang Pemasaran Bakrie Telecom Erik Meijer mengungkapkan, operator sudah sangat serius menjalankan registrasi prabayar, bahkan telah mengeluarkan investasi yang tidak sedikit agar program tersebut berjalan. Bakrie Telecom mengeluarkan investasi berupa penyediaan  SMS, Call Center , web, dan aplikasi di kartu RUIM hanya agar pelanggan mudah mendaftarkan diri. 

 

” Masalahnya hanya muncul di sisi validasi data karena memang tidak ada alat  dan kewenangan yang bisa digunakan operator untuk memvalidasi data pelanggan,” jelasnya

 

Chief Marketing Officer Indosat Guntur Siboro menambahkan, prabayar memiliki keunikan pada kemudahan pemakaiaan dari sisi administrasi. ”Nah, karena mudah mengaksesnya, masyarakat tidak bisa menerima jika ternyata berubah menjadi rumit. Akhirnya dalam pengisian tersebut, jalan pintas masih dilakukan,” katanya.

 

Hal ini, lanjut Guntur, berbeda dengan kartu pascabayar dimana ada komitmen pemakaiaan yang harus dipenuhi pelanggan sehingga dalam mengisi data pun akan lebih tertib. ”Jadi, tidak pantas disalahkan semuanya ke operator. Kami sudah optimal. Masalahnya ada psikologi pengguna yang harus dipahami juga,” jelasnya.

 

Ketua Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) Bidang Kajian Teknologi Taufik Hasan menilai gagalnya program registrasi karena  tidak bertemunya dua kepentingan yakni negara dan operator. ”Operator ingin memberikan kenyamanan bagi pelanggannya. Sedangkan negara ingin ketertiban. Masalahnya masyarakat merasa tidak nyaman jika harus mendaftarkan diri,” katanya.

 

Menurut Taufik, memaksa operator untuk mengandalkan   jalur distribusi sebagai alat registrasi juga tidak tepat karena saat ini jalur distribusi terlalu besar sehingga pengawasan menjadi longgar. ”Sudah terlambat membuat jalur distribusi menjadi lebih kecil,” katanya. 

 

Praktisi telematika Suryatin Setiawan melihat, kondisi sosial  ekonomi sejumlah besar rakyat indonesia yang secara de facto kadang masih belum mengurus dokumen kependudukan dan tidak punya kejelasan alamat pos serta masih lemahnya pendataan kependudukan adalah pemicu utama   registrasi prabayar tidak bisa berjalan dengan akurasi yang baik.

 

”Sedangkan untuk memaksa lapak mengadministrasikan data  rasanya berat. Wong, mesin foto kopi atau alat administrasi saja masih minim. Jadi, tidak ideallah kita dibandingkan dengan Singapura,” katanya.

 

Melihat hal itu, Gatot menghimbau masyarakat untuk tidak takut mendaftarkan dirinya secara benar dan akurat karena setiap data dilindungi oleh undang-undang. ”Saya akui ada ketakutan di masyarakat datanya disalahgunakan. Tetapi jika memang ada pembocoran data, itu bisa diproses oleh hukum. Kita kan memiliki UU Telekomunikasi,” katanya.[dni]

 

Data Nomor yang Digunakan Operator

 

 

No

Jumlah Nomer Yang Digunakan Tiap Operator

2006

2007

2008

2009

(Maret 2009)

I. Telefon Tetap        
  PT Telkom

8.709.211

8.685.000

8.629.783

8.657.000

  PT Bakrie Telecom

68.359

  PT Indosat

26.632

30.479

42.145

42.145

  PT Batam Bintan Tel

2.500

2.393

2.300

2.300

II. Telefon Mobilitas Terbatas (FWA)

 

 

 

 

  PT Telkom

 

 

 

 

  – Pra bayar

3.381.426

5.535.000

12.568.620

12.715.000

  – Pasca bayar

794.427

828.000

736.561

684.000

  PT Indosat

 

 

 

 

  – Pra bayar

338.435

594.203

681.362

681.362

(Des 2008)

  – Pasca bayar

20.545

33.731

80.227

80.227

(Des 2008)

  PT Bakrie Telecom

 

 

 

 

  – Pra bayar

1.414.920

3.695.817

7.196.518

7.931.221

  – Pasca bayar

64.278

124.884

108.025

98.900

  PT Mobile-8

 

 

 

 

  – Pra bayar

 

 

332.530

332.530

  – Pasca bayar

 

 

 

 

III. Telefon Seluler

 

 

 

 

  PT Telkomsel

 

 

 

 

  – Pra bayar

33.935.000

45.977.000

63.359.619

70.179.000

  – Pasca bayar

1.662.000

1.913.000

1.940.372

1.954.000

  PT Indosat

 

 

 

 

  – Pra bayar

15.878.870

23.945.431

35.591.033

35.591.033

(Des 2008)

  – Pasca bayar

825.859

599.991

919.213

919.213

(Des 2008)

  PT Excelcomindo

 

 

 

 

  – Pra bayar

9.141.331

14.988.000

25.599.297

24.500.000

  – Pasca bayar

386.639

481.000

416.220

392.000

  PT Mobile-8

 

 

 

 

  – Pra bayar

1.778.200

2.920.213

2.552.975

2.552.975

  – Pasca bayar

47.688

92.588

148.939

148.939

  PT Sampoerna Telekomunikasi Indonesia

 

 

 

 

  – Pra bayar

133.746

310.176

784.129

784.129

  – Pasca bayar

967

288

214

214

  PT Natrindo Telepon Seluler

 

 

 

 

  – Pra bayar

10.155

4.788

3.234.800

3.500.000

  – Pasca bayar

2.560

 

 

 

  PT Hutchison CP Telecommunications

 

 

 

 

  – Pra bayar

 

2.036.202

4.490.202

4.490.202

(Des 2008)

  – Pasca bayar

 

3.204

10.407

10.407

( Des 2008)

  PT Smart Telecom

 

 

 

 

  – Pra bayar

 

115.000

1.456.372

1.800.000

  – Pasca bayar

 

 

74.451

75.000

 

Jenis Layanan

2006

2007

2008

2009

PSTN

8.806.702

8.717.872

8.674.228

8.701.445

FWA

6.014.031

10.811.635

21.703.843

22.523.540

Seluler

63.803.015

93.386.881

140.578.243

146.897.112

TOTAL

78.623.748

112.916.388

170.956.314

178.112.097

 Sumber: Ditjen Postel

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s