180709 Jalan Berliku Membuka Purnajual

blackberry-boldResearch in Motion (RIM) sebagai prinsipal dari BlackBerry akhirnya menyerah juga dengan keinginan pemerintah Indonesia pada 14 Juli lalu. Setelah melewati tarik menarik yang cukup alot, perusahaan asal Kanada tersebut bersedia membuka layanan purnajual (Service Center) yang dikelola sendiri untuk perbaikan perangkat yang rusak.

RIM akan membuka purnajual sebanyak enam unit pada 21 Agustus nanti. Dan menjelang Oktober  akan ditambah dua lagi. Tak tanggung-tanggung, tempat tersebut akan setara kemampuannya dengan milik RIM di Singapura yang bisa memperbaiki BlackBerry hingga kerusakan paling parah sekalipun.

Selama ini, kerusakan hanya bisa ditangani untuk level satu seperti permasalahan di firmware. Jika kerusakan makin parah, barang akan di bawa ke Singapura atau diganti langsung oleh mitra lokal RIM. Mitra lokal RIM di Indonesia adalah Telkomsel, Indosat, XL, dan Axis.

Selain membuka purnajual, RIM juga berencana akan menambah distro selain dari unsur para operator.  Diperkirakan akan ada 7 mitra distro nantinya.

“Hal yang paling penting adalah tempat purnajual RIM itu bersedia untuk menerima kerusakan dari barang importir umum, bukan hanya dari milik mitra eksklusifnya,” tegas Anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Danrivanto Budhijanto di Jakarta belum lama ini.

Menurut Danri, diterimanya barang dari non mitra menjadikan regulasi lokal lebih superior ketimbang model bisnis yang dikembangkan oleh satu perusahaan. “Esensi mendesak pembukaan purnajual adalah agar regulasi yang dimiliki oleh Indonesia itu dihormati. Untuk kasus RIM ini menyangkut    Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No. 19/5/2009,” katanya.

Regulasi tersebut mengatur  tentang pendaftaran petunjuk penggunaan buku manual dalam Bahasa Indonesia bagi produk telematika dan elektronika. Selain buku manual dan kartu jaminan garansi purnajual, peraturan Departemen Perdagangan ini juga mengatur bahwa produsen atau importir produsen telematika wajib memiliki paling sedikit enam pusat pelayanan purnajual, yang berada di kota besar dan/atau perwakilan daerah beredarnya produk telematika dan elektronik yang dimaksud dan kartu jaminan garansi purna jual. Selain itu juga ada Permenkominfo No 29/  2008 pasal 8 yang menyatakan importir wajib membuka layanan purnajual.

Danri optimistis, pembukaan tempat purnajual tersebut tidak hanya membuat masyarakat diuntungkan karena perangkat yang dimilikinya dijamin perbaikannya, tetapi mitra eksklusif pun akan senang mengingat tidak perlu mengeluarkan biaya besar untuk memperbaiki produk. “Aneh saja, barang dijual di Indonesia, ketika diperbaiki malah di bawa ke Singapura. Itu kan membuat devisa lari keluar negeri,” katanya.

Sambut Gembira

Penggagas id-blackberry@yahoogroups.com Abul A’la Almaujudy lmaujudy menyambut gembira hasil kerja keras pemerintah tersebut. Tetapi Pria yang akrab dipanggil Uding itu mengingatkan, pemerintah pun harus mengintropeksi diri karena kisruh penjualan BlackBerry belakangan ini dipicu juga oleh kebijakan pemerintah dalam hal ini Ditjen Postel.

““Model bisnis RIM itu  menunjuk mitra  dalam memasarkan perangkat dan layanannya. Tiba-tiba pemerintah  membolehkan importir umum memasukkan BlackBerry ke dalam pasar lokal. Jadilah muncul kisruh ketika RIM melakukan pemblokiran PIN yang di-kloning,” katanya.

Dijelaskannya,  esensi dari bisnis RIM adalah  menjual layanan BlackBerry Internet Services (BIS) dan BlackBerry Enterprise Services (BES) bukanlah perangkat. Hal ini karena melalui   BIS atau BES pengguna bisa mengakses internet tanpa batas. Jika layanan ini dihentikan melalui pemblokiran Personal Identification Number (PIN), BlackBerry  tak ubahnya ponsel biasa yang hanya bisa digunakan untuk basic telephony (SMS dan Suara).

Pemblokiran secara massif belum lama ini terjadi karena pabrikan tersebut ingin menghukum para pembobol gudang salah satu mitranya yakni T-Mobile dimana 36 ribu unit BlackBerry digondol maling belum lama ini.

Berdasarkan catatan, pada tahun fiskal 2009, RIM telah menjual sekitar 25 juta BlackBerry ke 160 negara di dunia dengan pedapatan   sekitar 11 miliar dollar AS. Sebanyak  96,5 persen didapat dari penjualan melalui operator dan  jenis layanan BES masih mendominasi sekitar 80 persen layanan RIM.  Saat ini ada lebih dari 475 operator dan distributor yang menjadi kanal penjualan BB di dunia. Pola ini cukup berhasil dikembangkan di AS maupun Eropa.

“Terbukti ketika Personal Identification Number (PIN) di blokir, banyak masyarakat Indonesia berteriak. Hal itu berarti barang yang digunakan bermasalah. Kalau dari mitra eksklusif tak ada masalah. Ini karena hampir 80 persen dari sekitar 300 ribu BlackBerry yang beredar bukan dari mitra eksklusif RIM,” katanya.

Menurut Uding,  fenomena tersebut memunculkan pertanyaan,  jika RIM sebagai pemegang sertifikasi A satu perangkat, kenapa masih bisa   diurus lagi oleh pihak lain, dalam hal ini  importir umum, untuk memasukkan barang. “Bolongnya disitu. Jadinya, barang yang jelas bermasalah di luar negeri malah menjadi legal di Indonesia,” katanya.

Untuk diketahui, jalur masuk BlackBerry di Indonesia bisa melalui  impor operator yang menjadi mitra RIM, BlackBerry  dari importir umum, dan BlackBerry tentengan alias selundupan.

Uding meminta, jika pemerintah benar-benar konsisten ingin menegakkan regulasi, maka barang yang jelas bermasalah di luar negeri seperti hasil curian tentunya tidak harus diterima di purnajual kelolan RIM nantinya mengingat status barang bermasalah.

“Kalau itu yang dilakukan namanya melegalkan yang ilegal. Citra Indonesia sebagai tukang tadah bisa makin terkenal. Ibaratnya pemerintah membersihkan piring mereka yang berpesta,” katanya.

Uding menyarankan, ketimbang memaksa RIM untuk menerima barang yang bermasalah sebaiknya pemerintah mendukung para pengembang lokal membangun aplikasi untuk BlackBerry.

“RIM banyak mengakui developer lokal dan memasarkan aplikasinya keluar negeri. Hal ini karena bisnis utamanya memang bukan jualan perangkat. Nah, pemerintah harus berfikir seperti itu, katanya membuka lapangan kerja adalah panglima kebijakan,” jelasnya.

Menanggapi hal itu Danri mengatakan, tidak bisa mengontrol asal barang yang masuk ke Indonesia asalkan sudah memenuhi semua dokumen pabean dan lolos uji sertifikasi. “Rasanya tidak mungkin kami mengontrol sampai ke luar negeri bagaimana cara RIM berjualan dan asal barang. Jika memenuhi regulasi dan membayar pajak, berarti itu barang legal,” katanya.

Sementara itu, Direktur Standarisasi Ditjen Postel Azhar Hasyim membantah pihaknya ikut menciptakan kisruh dengan membuka peluang imprtir umum untuk memasukkan BlackBerry selain dari mitra eksklusif RIM.

Azhar menegaskan, regulasi membolehkan semua pihak untuk memasukkan barang dengan syarat memenuhi ketentuan dan lolos uji perangkat. “Harus diingat, adanya barang dari importir umum itu juga untuk menghindari monopoli di pasar. Terbukti harga BlackBerry menjadi kompetitif,” tegasnya.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s